Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Ikan Baru


__ADS_3

Kebaikan Adeeva dan Nunik makin bikin Parmin menyesal telah berbuat curang. Parmin gelap mata tergiur tawaran Pak Siswoyo hancurkan bisnis anak sendiri.


Supono ajak kedua cewek Akbar pulang dengan mobil online. Mereka langsung balik ke peternakan. Motor milik pegawai Akbar di rumah akan diurus oleh sesama pegawai Akbar. Supono tak mungkin beratkan kedua cewek balik ke tempat Parmin ambil motor.


Mata Supono makin terbuka kalau dua cewek di dekatnya ini bukan cewek panggilan materi. Mereka bisa sumbang pada orang lain artinya mereka tidak kekurangan.


Adeeva dan Nunik kembali ke kandang sapi milik Akbar. Supono menjadi pengawal kedua cewek ini. Kalau jumpa preman ntah siapa lindungi siapa? Adeeva yang lindungi Supono atau laki itu yang lindungi kedua cewek ini.


Adeeva dan Nunik kaget melihat sudah ada orang lain berada di peternakan Akbar. Kelihatannya bukan sembarangan pelanggan karena di tengah lapangan rumput nangkring helikopter warna putih dihiasi list warna merah.


Ketiga insan Tuhan berjalan santai ke tempat sapi sakit. Semoga sapinya sanggup bertahan dari racun hasil kebodohan Parmin.


Nunik terbelalak lihat pendatang baru di peternakan Akbar. Seorang cowok keturunan campuran antara bule dan lokal. Lebih dominan darah bule karena matanya keabuan persis mata bule dari luar negeri.


Soal ganteng Nunik langsung coret angka sepuluh. Nunik jatuh cinta pada pandangan pertama. Reaksi Adeeva datar tidak antusias seperti Nunik. Untuk sementara Adeeva alergi pada cowok ganteng. Ezra yang mirip bintang film pujaannya ternyata tak lebih dari penjahat kelamin.


"Wuih..ada tamu nih!" seru Nunik menarik perhatian semua orang.


Semua menoleh ke arah Nunik, Adeeva dan Supono. Dua kelompok saling berpandangan dengan ekspresi wajah beda-beda. Adeeva pilih hindari ramah tamah dengan pendatang baru biar tidak usah basa basi. Cewek ini pilih cek kondisi dua sapi yang tampak masih belum stabil.


Adeeva beranikan diri mengelus kepala sapinya dengan kelembutan seorang ibu.


"Cepat sehat ya! Kalian harus berjuang melawan maut." ucap Adeeva lupa kalau sehat pun maut menunggu mereka. Mereka memang dipersiapkan untuk disembelih jadi makanan manusia.


Kalau bisa bicara sapi itu pasti merepeti Adeeva hanya basa basi hibur mereka. Ujung-ujungnya tetap di sembelih.


Nunik dan tamunya ngobrol akrab sedangkan Adeeva menyingkir tidak mau ikutan sok ramah. Hati Adeeva masih terluka oleh perbuatan Ezra. Untuk sementara ini Adeeva tidak akan dekat dengan lelaki manapun. Tunggu dia selesaikan masalah dengan Ezra baru bisa cari kerja baru. Tak mungkin toh Adeeva balik kerja di kantor musuh bebuyutan.


"Senang sama sapinya?"


Adeeva menoleh mendengar pemilik suara berat di belakangnya. Saking berat suara itu seperti tergantung sebongkah besi baja ukuran raksasa.


Si bule lokal tersenyum perlihatkan betapa tampan dia. Adeeva lagi sensi pada pria ganteng maka tidak terpesona seperti Nunik.


"Sapinya sakit. Mungkin bapak bisa hibur dia!" ujar Adeeva setengah hati.


Lelaki itu tertawa terbahak-bahak dengar jawaban Adeeva seperti lelucon di gendang telinga laki ini.


"Aku ini sebangsa sapi?" Laki itu menunjuk dada sendiri mau ajak Adeeva lirik ke dada bidang miliknya.


"Emang aku ada bilang gitu? Atau bapak merasa sejiwa dengan sapi ini? Silahkan ngobrol!" Adeeva persilahkan laki itu dekati sapi Akbar.


"Aku ajak ngobrol paling di jawab emoh. Mending ngobrol dengan makhluk terindah ciptaan Tuhan."


Adeeva putar kepala kiri kanan cari makhluk yang disebut oleh lelaki itu. Di sekeliling mereka tidak ada orang lain selain mereka berdua. Apa lelaki ini sedang bercanda menggoda Adeeva?


Adeeva mendesis jijik mendengar rayuan yang tidak tepat pada sasaran. Adeeva tidak ingin mendengar rayuan apapun di kupingnya karena masih ilfil pada lelaki.


"Hei bro sapi...kamu adalah makhluk terindah ciptaan Tuhan. Jadi jawab kalau ditanya oleh tuan ini!" Adeeva lempar tudingan lelaki itu kepada kedua sapi yang tak ngerti apa-apa.


Lagi-lagi kata-kata Adeeva pancing tawa laki itu. Laki itu senang ngobrol dengan orang tidak peduli pada statusnya yang mahal. Adeeva tak anggap laki itu sebagai maharaja. Justru Adeeva sedang sensi pada orang-orang tajir.


"Kau kerja di sini?" tanya lelaki itu masih ingin korek keterangan tentang Adeeva.

__ADS_1


"Tidak...cuma liburan. Bapak datang sini beli sapi? Anaknya mau nikah?"


Lelaki itu membesarkan mata mendengar pertanyaan Adeeva yang mengatakan kalau dia telah memiliki anak yang siap menikah. Apa mata cewek ini sudah katarak tak lihat betapa macho dan ganteng cowok di depan hidung. Adeeva anggap laki ini sudah tua punya anak siap nikah.


"Aku belum punya anak."


"Oh...kalau gitu bapak yang mau nikah? Sapi sini kualitas bagus dan terawat baik. Bapak takkan rugi beli sapi mas Akbar." Adeeva bantu promosi sapi-sapi Akbar. Semoga saja lelaki ini tergerak hati membeli sapinya si Akbar.


"Aku tahu... sebenarnya kedua sapi yang sedang sakit ini adalah sapi yang telah kuberi tanda panjar. Tetapi karena berhubung tiba-tiba saja sakit maka aku akan memilih yang lain."


"Oh...sapi sini masih banyak! Silahkan bapak pilih yang lain!"


"Sudah kupilih yang lain! Mungkin akan dikirim satu dua hari ini. Kau mau bila kuundang ke pesta aku?"


"Mungkin tidak..aku tidak kenal bapak dan tak punya tujuan datang ke pesta bapak." Adeeva kontan tolak sebelum percakapan berlanjut ke arah lain.


"Kalau gitu kita kenalan sekarang! Aku Krisna Lippe." Laki itu mengulurkan tangan agar diterima Adeeva.


Adeeva tak menolak diajak kenalan. Nanti dipikir Adeeva cewek sombong andalkan kecantikan jual mahal.


"Adeeva.." Adeeva menyambut tangan kekar lelaki itu.


"Cuma Adeeva?"


"Masih sepanjang gerbong kereta api maka disingkat saja jadi Adeeva. Nanti bapak bingung. Ok pak. Selamat menempuh hidup baru bersama pasangan. Semoga bapak dan ibu hidup langgeng tanpa munculnya ulet bulu." Adeeva mengucapkan selamat pada Krisna sambil tumpah rasa benci pada wanita pengganggu rumah tangga orang.


"Terima kasih. Yang nikah itu adikku. Pestanya di Semarang. Kau mau datang? Aku sudah undang Akbar dan temannya yang lain. Sekalian undang kamu."


"Oh maaf. Kirain bapak yang nikah! Aku pikir-pikir dulu. Aku permisi mau jumpa teman aku." Adeeva melangkah pergi bikin Krisna bengong. Baru kali ini ada cewek cuek bebek padanya. Cewek antrian mau dekat padanya cuma yang satu ini seperti melihat kuman penyakit di depan mata.


Adeeva dekati Nunik dan kelompok Akbar yang sedang diskusi soal sapi pilihan Krisna. Nunik baca kalau temannya kurang suka diusik keasyikannya bersama sapi. Seorang Ezra tak mampu ketuk hatinya apalagi Krisna yang baru dia kenal. Masih kalah jauh Krisna ini.


Segalanya Ezra menang di atas angin. Sudah kaya tampan lagi. Krisna juga tampan tapi kekayaannya belum tentu bisa saingi Ezra.


Kaya harta tapi miskin di moral. Manusia model gitu tak pantas berdiri di antara pencinta moral bagus.


"Gimana? Sudah ada keputusan soal pergantian sapi?" tanya Adeeva langsung ikut nimbrung.


"Sudah...pak Krisna bersedia ganti sapi lain. Bahkan bersedia menambah uang karena sapinya lebih jumbo." sahut Nunik seakan dia adalah pemilik peternakan. Semangat gadis ini berlipat ganda setelah jumpa Krisna. Mungkin gadis ini suka pada Krisna. Ini kabar buruk buat Akbar. Calon bininya sedang incar mangsa baru yang lebih elegan.


"Syukurlah! Oya... kayaknya ada demo besaran dalam perut aku! Aku perlu isi dengan roti untuk redam huru hara di sana." Adeeva memegang perutnya yang belum sarapan pagi. Berbagai kejadian mendadak membuat cewek ini melupakan sarapan yang lewat waktu. Ini bukan waktu sarapan lagi tapi waktu makan siang.


Supono tertawa kecil suka pada gaya adeeva dan Nunik yang tidak sombong. Jelas sekali mereka bukan berasal dari keluarga biasa tetapi mereka tidak bertingkah seperti tuan Putri yang angkuh.


Akbar tersadar telah mengabaikan tamu. Seharusnya mereka makan pagi sebelum matahari tinggi. Waktu setempat telah menunjukkan waktunya makan siang. Kedua cewek ini pasti kelaparan.


"Oh maaf! Kalian pasti kelaparan ya! Ayok kita balik ke rumah." Akbar menjadi tidak enak hati abaikan tamu yang merupakan calon wanita di masa depan.


Krisna sudah tiba di sekitar Adeeva ikut gabung dengan tim Akbar. Krisna penasaran pada sosok gadis angkuh tak open adanya pemuda ganteng sejagat raya. Krisna kelewat pede sampai lupa daratan.


"Aku boleh ikut numpang makan?" tanya Krisna tak malu minta ikut makan. Tujuan Krisna tentu bukan makan siangnya tapi sosok penggoda.


"Oh tentu pak Krisna! Cuma kita harus jalan karena tadi kami datang dengan jalan kaki."

__ADS_1


Supono meringis membayangkan betapa lelah berjalan di bawah sengatan sinar matahari. Kulitnya bisa gosong kena paparan sinar ultraviolet matahari. Padahal kemarin sore dia baru saja mandi scrub dengan bengkoang.


Adeeva mencolek Nunik untuk jalan duluan. Kali ini Adeeva juga tak mau berlari karena perut kosong. Dari tadi berbagai lagu keroncong silih berganti berdendang di sana. Terakhir yang sendu tak bisa keluarkan nada tinggi lagi. Habis energi.


"Isshhh nih cewek! Buru-buru amat! Lapar atau kelaparan?" Nunik menepis tangan nakal Adeeva colek-colek dapur bulatnya.


"Busung lapar. Diajak ke sini untuk menderita." sungut Adeeva berjalan meninggalkan Nunik. Dari belakang menyusul kelompok pria berjalan santai menuju ke rumah induk Akbar. Semoga ibu Akbar peka sediakan makanan lebih untuk tamunya. Betapa malu bila tamu dibiarkan kelaparan.


Adeeva paling duluan sampai di rumah Akbar langsung masuk ke dalam cari air untuk dinginkan kerongkongan kering kerontang. Kayaknya dari pagi tadi belum ada setetes air masuk ke dalam lambungnya.


"Assalamualaikum..." sapa Adeeva sebelum masuk. Pintu rumah dibiarkan terbuka tanpa takut munculnya maling gasak isi rumah. Apa daerah ini termasuk daerah aman.


"Waalaikumsalam.." sahutan dari dalam menyadarkan Adeeva ada ibu duduk di kursi roda.


"Ibu di sini terus?" Adeeva masuk menyalami ibu Akbar cium tangan. Ibu Akbar suka pada cara Adeeva hargai orang tua. Jujur Ibu Akbar lebih suka pada Adeeva ketimbang Nunik. Nunik beri kesan anak manja sedang Adeeva beri kesan kuat mandiri.


"Ibu tunggu kalian dari pagi tadi. Kok tidak pulang sarapan?"


"Oh ada sedikit kejadian. Adik Parmin sakit maka kami pergi melihat adiknya." Adeeva tidak berani cerita kecurangan Parmin gara hasutan mantan suami ibu Akbar. Adeeva takut wanita paro baya ini sakit hati mantan suami tega berbuat jahat pada anak sendiri. Orang tua lain berharap anak sukses jadi orang yang satu ini malah menghancurkan anak sendiri.


"Ibu sudah tahu. Kasihan Parmin uangnya habis obati adiknya. Akbar sudah berusaha bantu semampunya tapi belum juga ada perubahan. Ayok kita makan! Ini sudah siang."


"Mas Akbar ada tamu dari jauh Bu. Kita tunggu mereka saja!" Adeeva mendorong kursi roda ibu Akbar menuju ke depan pintu untuk lihat kehadiran tamu Akbar.


Dari jauh enam sosok manusia hidup berjalan ke rumah Akbar. Akbar, Supono, Nunik, Krisna beserta dua pengawalnya.


Orang kaya memang sok belagu. Kemana-mana pakai bodyguard padahal badan segede ikan paus. Adeeva tidak akan beri julukan ikan paus pada Krisna. Lelaki itu lebih lincah lebih cocok dijuluki ikan hiu. Adeeva sudah kenal dua penguasa samudera. Satu gede tapi lamban sedang satunya lebih kecil dikit tapi lebih hidup.


"Itu nak Krisna. Teman kuliah Akbar dulu. Sekarang sukses jadi pengusaha hebat. Bapaknya orang Jerman sedang ibunya orang kita sini."


"Ibu kenal?"


"Ya kenal...dia kan kerja sama dengan Akbar. Dia ada pabrik susu. Susunya diambil dari kita."


"Oh gitu ya Bu! Kaya dong!"


"Kaya sekali...cuma dia jarang di sini! Dia lebih banyak tinggal di Singapura karena kantor pusatnya di sana. Nah mereka sampai! Ayok kita bereskan meja makan. Tadi ibu cuma suruh sediakan untuk kalian."


"Ibu di sini saja temani tamu. Biar aku yang minta mbak di dapur tambah peralatan makan." Adeeva menepuk bahu ibu Akbar perlahan.


"Sudah merepotkan kamu nak!"


"Ibu omong apa? Aku yang merepotkan ibu datang ke sini."


Selesai omong Adeeva mencari di mana dapur. Pekerjaan sekecil ini tidaklah mungkin merepotkan ibunya Akbar. Tugas ini adalah tugas anak perempuan maka ada Adeeva tidak keberatan melakukan permintaan Ibu Akbar.


Dapur dan ruang makan tidak terlalu jauh maka Adeeva dengan gampang menemukan tempat kesayangan para ibu-ibu pencinta kuliner. Di sana ada perempuan berusia kisaran empat puluhan sedang sibuk menghidangkan makanan ke piring indah. Ibu Akbar hargai kehadiran tamu-tamu maka beri yang terbaik.


"Maaf mbak! Di luar ada tamu mas Akbar. Ibu minta piringnya ditambah empat orang." pinta Adeeva pelan beri kesan dia wanita lemah lembut.


"Iya non! Tunggu saja di luar. Kami akan selesaikan permintaan ibu." sahut salah satu dari dua wanita itu. Bicaranya sopan unjuk dia adalah wanita tulen dari Jawa.


"Terima kasih mbak!"

__ADS_1


Kedua wanita itu angguk lalu tersenyum suka pada kesopanan Adeeva tidak sok cantik maupun sok hebat merasa sudah jadi majikan.


Adeeva kembali ke ruang tamu bergabung dengan yang lain.


__ADS_2