
Adeeva bergeser memindahkan kepala ke paha Umi untuk dengar lebih jelas. Cerita Umi menyangkut dirinya menjadi kisah tersendiri di kemudian hari.
Umi mendapatkan kepala Adeeva membelai batok kepala berhias rambut hitam Adeeva. Elusan Umi lembut membuai Adeeva dalam kenangan.
"Menjadi seorang ibu adalah anugerah terindah sebagai wanita. Di luar sana masih banyak wanita tak punya anak karena Allah belum percayakan mereka rawat anak. Ini juga ujian kesabaran. Umi mau tanya gimana kalau kau menjadi seorang ibu?"
Adeeva berpikir sejenak cari jawaban tepat. Belum terpikir olehnya disibukkan oleh seorang bayi. Dengar tangisan bayi saja kepala Adeeva tambah mumet. Belum lagi harus jaga malam bikin susu, ganti popok kencing. Ribet dah!"
"Eva belum kepikiran ke situ tapi kalau nanti ada ya syukuri saja. Anggap bonus dari Allah. Kenapa? Umi pingin cepat punya cucu? Jangan Umi! Cepat tua dipanggil nenek!"
"Isshhh kamu ini! Semua orang tua pingin punya cucu. Anak Umi cuma kamu ya pasti harap cucu dari kamu. Umurmu tak muda lagi. Hampir dua puluh empat lho! Sudah waktunya punya anak."
Adeeva berpikir keras ke mana arah omongan Umi. Mau dia baik-baik dengan manusia cabul lalu beri cucu? Adeeva ogah kwadrat hubungan dengan laki mesum walau janji mau tobat.
"Umi...aku masih belum bisa terima Ezra. Dia menjijikkan!" kata Adeeva masih terkenang video Ezra dan Sonya. Ingat itu perut Adeeva kontan mual pingin muntah.
Ezra sangat menjijikkan bagi Adeeva. Makin diingat makin gelisah sampai keluar keringat dingin.
"Eva...Umi tak paksa kamu harus terima Ezra. Dia memang bersalah tapi jangan hakimi orang terusan. Semua orang tak luput dari dosa. Mungkin termasuk kamu. Kamu kenapa? Kok jadi gelisah?"
Adeeva menghapus keringat dingin di kening gunakan ujung baju gamis Umi. Pakaian Umi jadi multi fungsi, jadi penutup aurat juga jadi kain lap keringat Adeeva.
"Perutku mual Umi! Eva pingin minum teh manis hangat. Umi mau bikinkan untuk Eva?" pinta Adeeva manja.
Umi menarik nafas. Ini gejala lumrah bagi bumil muda. Mual dan ngidam sudah jadi trademark ibu hamil. Adeeva yang perkasa tak mampu lawan kodrat alam. Tahapan jadi ibu hamil tetap harus dilalui.
"Umi ambilkan! Ada ingin makan rujak?"
"Rujak? Wah...kalau ada boleh tuh! Kayaknya segar deh! Apalagi kalau ada kedondong muda." gumam Adeeva tanpa sadar ngaku dirinya sedang ngidam makanan asam.
"Kedondong muda? Apa itu?" Umi baru hari ini tahu ada makanan namanya kedondong muda. Hampir dua puluh lima tahun di Indonesia baru tahu ada barang begitu.
"Aduh Umi cantik! Kedondong itu sejenis buah. Rasanya asam-asam manis! Dagingnya keras dan bijinya berduri. Nanti Eva cari buahnya untuk Umi." jawab Adeeva lupa siapa yang ngidam kedondong.
"Oh gitu ya! Umi ke dapur dulu bikin teh!" Umi pindahkan kepala Adeeva dari pahanya berjalan ke dapur.
Adeeva rentangkan tangan melebar kiri kanan sambil gerakkan badan meliuk seolah sedang berenang di kolam renang. Kalau dia tidak menikah dengan Ezra hidupnya pasti lebih bahagia.
Tenang bekerja kumpul uang lanjut S3. Kapan dia bisa lanjut kuliah bila masalah datang tak berhenti. Adeeva tak suka pada Ezra bukan berarti dia akan abaikan laki itu. Adeeva akan perjuangkan hak Ezra.
Teringat nasib Ezra Adeeva buka laptop pantau gerakkan Bu Humaira dan Pak Jul. Adeeva mau lihat apa gerakkan kroni penguntit harta Ezra.
Adeeva tersenyum karena Bu Humaira sibuk mau jebak Ezra. Segala strategis sedang dia rancang untuk hadirkan Ezra di istana.
Adeeva agak kaget dapat kabar kalau pak Jul masuk rumah sakit. Mengapa Ezra tak kabari dia pak Jul masuk rumah sakit. Adeeva tahu dari percakapan antara Renata dan Bu Humaira. Mereka harus segera jebak Ezra masuk perangkap untuk selamatkan anak di perut Renata.
Dasar rubah licik. Segala rencana busuk telah dirancang sedemikian rupa untuk jebak Ezra agar mau tiduri Renata. Nanti ngaku itu anak Ezra. Sungguh licik rencana mereka.
Adeeva pantau juga gerakan ponsel Ika dan Ilham. Ilham tak banyak gerakan cuma Ika ada pergerakan hebat minta kosongkan gudang pada seseorang bernama Kenzo. Adeeva tak tahu siapa Kenzo tapi yang pasti orang berbahaya. Berani bantu Ika sapu bersih gudang tanpa perintah Ezra pasti bukan orang baik.
Adeeva bersumpah takkan biarkan Ika berhasil laksanakan niatnya. Sekarang dia harus segera beraksi cegah Ika berbuat seenak dengkul kuasai gudang. Ika akan menyesal telah berbuat curang.
__ADS_1
Setelah pantau beberapa pergerakan para selir Ezra Adeeva hubungi teman di kota B untuk hadir hari ini juga untuk kawal gudang Ezra. Malam ini juga mereka sudah harus kawal gudang Ezra sebelum didahului oleh tim Ika.
Apapun isinya tak boleh disentuh sebelum Adeeva ceking apa isi gudang. Bisa jadi barang mahal untuk diuangkan karena mereka telah bangkrut.
Adeeva minta tujuh orang datang ke perusahaannya hari ini. Adeeva tak buang waktu segera ke kantor cari Ezra. Ezra harus tahu kelicikan keluarga pak Jul hendak bumi hanguskan Ezra.
Umi kaget lihat Adeeva bersiap keluar rumah. Barusan tadi minta teh manis sekarang hendak kabur. Ezra telah pesan pada Umi untuk jaga Adeeva agar jangan keluyuran di jalan. Anak ini suka berantem bikin Ezra tak enak bila anak ini pergi sendirian.
"Ya Allah nih anak! Minta teh sekarang mau kabur. Emang mau ke mana?" Umi menahan Adeeva untuk pergi.
Adeeva mengecup kening Uminya sambil tertawa kecil. Kata-kata Umi sungguh tak sedap di kuping. Keluar rumah dianggap hendak kabur lagi.
"Ke kantor Umi. Sini tehnya!" Adeeva tak mau kecewakan sang Umi yang terlalu baik hati. Cewek ini minum teh seraya majukan bibir meniup teh yang masih panas. Umi menggeleng heran dari mana sifat nakal Adeeva. Abah dan Umi dasarnya orang kalem dan lembut. Kenapa hasil produksi jauh dari ekspektasi.
"Nak...kau istirahat di rumah saja! Ezra sudah pesan kau tak boleh ke mana sebelum dia jemput. Katanya kau baru sembuh sakit." bujuk Umi tetap lembut.
"Umi...ini masalah besar di kantor. Eva harus tangani secara langsung. Percaya dong pada anak sendiri! Adeeva ini sekuat Gatotkaca versi cewek." Adeeva telah habiskan secangkir teh. Perutnya terasa lebih nyaman. Rasa mual agak berkurang setelah diisi oleh cairan warna coklat muda itu.
"Telepon Ezra dulu nak! Kita sebagai isteri tak baik langgar perintah suami. Kita boleh keras tapi tetap harus dengar perintah suami. Kau duduk dulu biar Umi yang telepon nak Ezra."
Adeeva tidak tega saksikan Uminya kebingungan mengawal dia. Umi termakan janji pada Ezra untuk jaga Adeeva maka tak ijinkan Adeeva keluyuran.
Umi selalu bangga dengan ponsel model candy bar produk jadul. Abah tak ijinkan Umi main medsos yang katanya bikin pikiran kotor. Adeeva salut pada Umi tidak membantah minta beli smartphone. Umi adalah isteri idaman para lelaki. Kalau abahnya main gila Adeeva tak segan bantai Abah walau itu orang tuanya. Adeeva pantang lihat lelaki cabul bangga pada status sebagai lelaki aniaya wanita.
Syukurlah Abah sangat mencintai Umi tak lakukan poligami. Ini jadi panutan Adeeva terhadap keluarga sakinah. Adeeva bermimpi punya keluarga harmonis seperti Abah dan Umi.
"Assalamualaikum nak Ezra..." sapa Umi lembut.
"Adeeva baik saja cuma dia mau ke kantor. Umi rasa lebih baik kau jemput dia."
Adeeva besarkan mata dengar permintaan Umi. Sejak kapan Adeeva jadi orang invalid. Hanya ke kantor harus dijemput segala.
"Baik Umi...aku segera datang! Katakan tak boleh ke mana-mana sebelum suami datang."
"Akan Umi usahakan! Cepatlah kemari dan hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Umi menyimpan ponsel kecilnya dibalik baju yang cukup lega. Curi ayam masukkan dalam saku baju mungkin takkan terdeteksi. Baju gamis Umi sengaja dibuat agak longgar untuk tutup aurat tanpa perlihatkan pinggang rampingnya. Di balik baju longgar tersimpan body gol yang bikin Abah tak bisa pindah hati.
"Umi...anak Umi ini kok diperlakukan semena-mena. Ke kantor saja harus ijin Ezra. Kenapa tidak minta ijin kantor imigrasi sekalian?" protes Adeeva pasang wajah jutek.
"Eva sayang... Ezra sudah pesan Umi harus jaga kamu sebaik mungkin. Dia kelewat sayang padamu. Dia itu anak baik cuma salah asuhan. Tugas kita bawa dia kembali ke jalan benar. Kamu dapat pahala bila berhasil tuntun umat murtad kembali ke jalan benar."
"Kalau tak ada Abah sudah kuminta Umi jadi isteri Ezra. Orang cabul kok dibela?" sungut Adeeva tinggalkan Umi berjalan ke arah sofa.
Dengan kasar Adeeva banting tubuh ke sofa. Umi menjerit kecil takut calon cucunya kenapa-kenapa. Adeeva yang banting badan Umi yang merasa ngilu. Terbayang sang cucu menjerit dalam rahim Adeeva. Beginilah punya ibu tukang pukul.
"Adeeva...kapan kau akan berubah lembut? Sayangi tuh badan!" ujar Umi ikutan duduk di samping anaknya.
"Dari dulu emang Eva begini. Eva sudah agak gemuk karena jarang olahraga. Lemak nyangkut sana sini. Gerakan jadi lambat. Eva akan mulai latihan lagi di dojang." Adeeva mencubit perutnya sendiri perlihatkan lemak membentuk lipatan diantara daging perut. Dulu mana ada lipatan ganda. Tubuh ideal kebanggaan Adeeva tinggal kenangan.
__ADS_1
"Eva.. Umi rasa gemuk dikit lebih cantik ketimbang seperti anak busung lapar. Umi tak setuju kau kembali latihan taekwondo. Jaga diri!"
"Ya ampun Umi cantik... harusnya bangga punya anak sehat. Bukan jadi sarang penyakit. Umi sendiri jaga pola makan biar badan bagus. Giliran ke anak disuruh timbun lemak. Syukur kalau laku dijual. Diobral juga tak laku." sungut Adeeva hanya bikin Umi meringis. Apa yang dikatakan Adeeva adalah fakta. Dia sendiri takut gemuk. Jaga pola makan supaya tetap langsing.
"Pernahkah terpikir olehmu suatu saat kau hamil?" tanya Umi tak bisa tunda beritahu Adeeva kalau dia sedang berbadan dua. Bahaya kalau cewek ini masih anggap dia seperti dulu tak ada tanggung jawab.
"Tidak pernah..." sahut Adeeva santai belum terpikir punya bayi.
"Gimana kalau tiba-tiba kamu hamil?"
"Idih Umi...emang anak siapa? Anak hasil hembusan angin mamiri?"
"Umi mau tanya! Kau harus jawab jujur! Apakah kau pernah hubungan intim dengan Ezra?"
Wajah Adeeva memerah ditanya soal paling sensitif oleh Umi. Kejadian memalukan ini telah menutup langkah Adeeva mencari cinta lain. Setengah kakinya terikat pada Ezra. Mau pisah juga tersisa borok.
"Kenapa Umi tanya itu?"
"Dengar sayangku... Ezra itu suami kamu! Tak ada salahnya nafkahi isteri, kita yang berdosa bila menolak suami. Pernahkah terpikir olehmu kejadian itu membuatmu jadi Umi?"
Jantung Adeeva kontan kram dengar kata-kata Umi. Mengapa tidak terpikir kejadian hari itu akan bawa dampak bagi hidupnya.
"Maksud Umi?"
Umi meraih tangan Adeeva menepuknya perlahan jaga anaknya jangan kena serangan jantung bila tahu ada makhluk hidup lain dalam perutnya.
"Kau hamil nak! Hampir tiga bulan.."
Dunia Adeeva serasa runtuh dapat kabar mengerikan ini. Sesuatu yang sangat tak dia harapkan. Tak sekalipun Adeeva terpikir akibat dari hubungan ini sedemikian fatal. Mereka cuma berhubungan malam itu walau berkali-kali lakukan. Apa Ezra sehebat itu? Adeeva langsing hamil setelah itu. Heran Adeeva tak merasa ada perubahan tubuh selain tambah melar.
"Umi bercanda?" tanya Adeeva gugup. Anak ini berharap Umi jawab ini hanya candaan antara ibu dan anak.
"Ezra yang menemukan kamu hamil sewaktu kamu pingsan di kota B. Dia takut kamu nekat berbuat sesuatu maka dia tak berani kasih tahu secara langsung."
Pikiran Adeeva melayang ntah ke mana-mana tahu dia sedang hamil anak Ezra. Mengapa Ezra tak punya anak dengan wanita lain? Mengapa justru harus dia? Adeeva gemetar belum terima kenyataan bahwa dia calon ibu muda.
Umi menepuk tangan anaknya jangan terpaku. Memang tak mudah bagi Adeeva terima kenyataan bahwa mendadak jadi ibu. Tapi itu kenyataan tak bisa dihindari.
"Sayang...menjadi seorang ibu itu tugas mulia. Kau sudah dimuliakan oleh Allah harusnya bahagia. Umi dan Abah harap kamu jaga bayimu dengan baik. Dia itu malaikat dikirim ke dunia untuk jaga kamu di hari tua seperti kamu jaga Umi dan Abah."
Adeeva menatap Uminya tanpa semangat. Rencana ingin ke kantor ambyar karena kejadian luar biasa ini. Kehamilan ini akan ubah seluruh rencana hidup Adeeva.
Adeeva tak bisa sombong pada Ezra lagi. Di tangan laki itu ada kartu truf dia. Apa karena ini Ezra serahkan seluruh perusahaan padanya? Sogokan besar-besaran. Kalau lapor pada KPK Ezra pasti kena tangkap.
"Eva .. kau akan sayang pada anakmu bukan?" tanya Umi dilanda keraguan Adeeva tak mau anak ini. Sifat Adeeva sulit ditebak. Bisa panas bisa dingin tergantung mood.
"Umi omong apa? Kalau benar dia ada tak mungkin kita terlantarkan. Cuma Eva lagi berpikir kenapa takut padaku?"
"Dia takut karena merasa bersalah. Dia sudah janji takkan duakan kamu. Semua Isterinya akan dia cerai. Cuma ada kamu."
"Ya ampun Umi.. ocehan Ezra Umi percaya! Umi tenang saja. Eva tidak merasa hamil nanti kita cek ulang."
__ADS_1
"Apa kau tak merasa mual dan pingin makan asam?"