Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Kabar Baik


__ADS_3

Ezra mendengus tak senang harus lebih lama lagi di rumah sakit. Ezra masih kepikiran soal stok perangkat bermasalah di gudang. Laki ini tak tahu Adeeva sudah turun tangan tangani masalah ini. Ini adalah bagian Adeeva bila menyangkut perangkat. Dia memang pakar dalam hal ini.


"Bapak tunggu sini ya! Aku cari dokter tanya kondisi bapak. Kok tak ada yang jelaskan pada kita penyakit bapak." Adeeva menepuk punggung tangan Ezra agar sabar.


Adeeva tinggalkan Ezra sesaat untuk cari tahu penyakit bosnya itu. Diberitahu sudah sadar lalu tak ada tindakan selanjutnya. Rumah sakit apa ini? Terlantarkan pasien tanpa ada kepastian tentang penyakitnya pasien.


Di IGD cuma ada dua perawat sedang mencatat sesuatu di atas lembaran kertas. Adeeva segera hampiri kedua perawat yang tampak sedang kasak kusuk sambil mencatat.


"Kasihan ya bapak tadi. Kena kanker stadium empat. Menurut dokter umurnya tak lama lagi." kata salah satu perawat itu.


"Terlambat terdeteksi. Kita tahu kalau kanker otak tak ada obatnya. Operasi pun resikonya terlalu besar. Semua berpulang pada Tuhan. Semoga Tuhan beri mujizat angkat semua penyakitnya." sahut temannya ikut prihatin nasib pasien mereka.


Aliran darah Adeeva kontan berhenti dengar percakapan antara dua perawat itu. Berita yang paling tak ingin dia dengar. Pantesan dari tadi tak ada penjelasan mengenai penyakit Ezra. Ternyata penyakit Ezra tidak segampang dipikirkan. Lelaki itu terkena penyakit mematikan.


Adeeva belum percaya hasil tangkapan kupingnya. Masa hanya demam sudah berubah jadi kanker. Adeeva tak bisa terima harus berjalan sendirian kelola perusahaan sebesar ini sendirian. Dia belum ngerti apa-apa.


Kepala Adeeva menjadi berkunang-kunang langsung terkulai lemas. Cewek ini terjatuh ke lantai menambah daftar pasien baru di rumah sakit ini.


Kedua perawat yang sedang bergosip kaget karena ada orang jatuh tak jauh dari mereka. Insting seorang medis mengarah mereka beri bantuan pada cewek yang terkulai lemas di depan mereka.


"Ya Tuhan...cepat bawa ke ranjang!" seru salah satu perawat itu.


Keduanya saling membahu papah Adeeva ke ruang IGD persis di samping Ezra. Kedua perawat itu baringkan Adeeva di samping ranjang Ezra.


Ezra melirik sekilas pasien baru yang baru tiba. Kayaknya Ezra kenal orang ini. Ezra besarkan mata lihat sekali lagi apa betul orang itu orang dekat dengannya.


"Poni...ini isteri aku!" teriak Ezra terloncat tak peduli tangan masih terpasang selang infus.


Ezra memburu ikut perawat lihat keadaan Adeeva. Mata cewek ini tertutup rapat dengan wajah pucat. Jantung Ezra terasa mau copot saksikan wanita yang telah rajai hidupnya terkapar di ranjang rumah sakit.


"Aduh pak! Bapak tenang saja! Kami akan urus isteri bapak. Dan lagi bapak juga kurang sehat. Silahkan berbaring!" perawat itu memaksa Ezra balik ke ranjangnya untuk lanjutkan pengobatan. Perawat itu perbaiki infus Ezra yang berantakan.


"Kenapa dia?" tanya Ezra panik kelas dewa.


"Dokter akan segera periksa dia! Bapak tenang saja. Ayok tiduran biar cepat pulih!" perawat paksa Ezra tidur kembali untuk habiskan sisa infus. Ezra menolak karena kuatir pada Adeeva. Dia yang sakit mengapa Adeeva yang pingsan.


Seorang dokter wanita datang periksa Adeeva. Dokter itu periksa menyeluruh dengan teliti.


Dokter ini perintah perawat ambil sampel darah Adeeva untuk cek Labor penyakit apa yang di derita cewek ini.


Ezra menanti dengan tak sabar hasil analisa dokter tentang Adeeva. Hati Ezra tak sabar ingin tahu hasil dari diagnosa penyakit isteri kecilnya.


"Gimana dok?" tanya Ezra setelah lihat dokter menyimpan stetoskop ke baju seragam putih.


"Ini isteri bapak?" tanya dokter itu dengan mata menyipit.


"Iya...apa sakit dok?"


"Secara keseluruhan isteri bapak sehat cuma mungkin dia syok melihat bapak sakit dan satu lagi kecurigaan kami dia sedang hamil. Cuma kami akan cek lebih lanjut."


"Hamil?" Ezra terkesima dengar kata hamil. Anak siapa? Anak dia kah? Mengapa Adeeva tak pernah cerita hal ini dan anak itu juga tak tampak seperti orang hamil.

__ADS_1


Masih garang bisa plonco Ezra. Hadapi soal kerja juga tegas.


"Pak...kenapa bingung? Apa bapak tak merasa bertanggung jawab?" skak sang dokter kurang senang Ezra kurang bahagia isteri hamil.


"Dokter omong apa? Dia isteri aku jadi adalah bapak dari anak itu kalau dia hamil. Cuma kumohon jangan omong apa-apa bila dia hamil. Orangnya reseh tak suka dikekang. Biar aku yang jelaskan padanya bila benar hamil."


"Oh gitu! Kita USG untuk lebih yakin."


"Baik...silahkan!" Ezra serahkan prosedur pada para dokter. Mereka tentu lebih tahu apa yang harus dilakukan.


Peralatan USG disiapkan untuk lihat isi rahim Adeeva apa benar ada Ezra junior. Ezra diminta ikut saksikan monitor yang bisa tunjukkan kebenaran dari dugaan dokter.


Ezra menanti dengan hati berdebar. Mungkinkah percintaan mereka yang tak sengaja itu buahkan hasil. Mereka memang bercinta berkali-kali malam itu. Dan lagi Adeeva masih perawan tulen, apa keajaiban datang begitu saja?


Dokter mengoles gel dingin ke perut rata Adeeva. Ezra ragu apa benar di perut serta ini ada kecebong Ezra?


"Tuan lihatlah! Ini anak kalian. Sudah dua bulan lebih. Selamat ya!"


Ezra tak tahu harus berteriak girang atau menangis terharu. Kalau janin itu berusia dua bulan lebih tidak diragukan itu bayinya.


Adeeva kenal kelompok Akbar baru-baru ini. Ezra juga tak ragu moral Adeeva. Anak itu mampu jaga diri sekian lama tentu tak mudah menyerahkan diri pada laki lain.


"Terima kasih dok! Aku akan jaga dia sebaik mungkin cuma butuh obat penguat janin. Aku takut anak kami akan menderita punya emak model kuli bangunan."


Dokter dan perawat tertawa dengar cara Ezra gambarkan sosok Adeeva. Tak usah di cerita panjang lebar laki ini mau kasih tahu bahwa Adeeva wanita tak bisa duduk manis. Hamil kali ini pasti akan ikat kaki dia.


"Bapak tenang saja! Anak kalian pasti kuat berada di perut kokoh." ujar sang dokter menenangkan Ezra yang kuatir keselamatan anaknya.


"Terima kasih...aku percaya!"


"Kurasa bapak juga sudah sehat. Begitu isteri anda sadar kalian boleh pulang rayakan hari baik ini. Tidak semua rasa sakit berakhir pedih. Sebentar lagi dia akan sadar. Aku akan bikin resep untuk kalian."


Dokter mengundurkan diri untuk menulis resep buat pasangan suami isteri ini. Keduanya sama-sama kurang sehat dengan penyakit berbeda. Ezra demam karena kelelahan sedangkan Adeeva pingsan karena hamil anak Ezra.


Ezra turun dari brankar menatap wajah Adeeva lekat-lekat. Anak ini banyak berubah beberapa waktu terakhir ini. Kegilaannya sembuh sedikit walau belum sepenuhnya.


Ezra harus ekstra jaga Adeeva supaya anak mereka bisa selamat hadir di dunia ini. Adeeva harus total berhenti berantem dan turun naik tangga. Anak ini juga tidak boleh mengendarai sepeda motor lagi.


Ezra meminta perawat buka infusnya karena semua rasa sakit dan demam hilang seketika. Ezra harus kuat karena ada dua nyawa harus dia lindungi. Ezra yakin dia akan pusing sepuluh kali keliling kalau Adeeva hamil. Wanita ini mana bisa disuruh duduk manis jaga kesehatan. Ezra harus ekstra sehat supaya punya tenaga lawan kebrutalan Adeeva.


Ezra menunggu di sisi brankar rumah sakit sampai gadis ini sadar. Orang sekuat Adeeva bisa juga terkapar. Ini buktikan wanita kuat mana sanggup lawan kodrat.


Hampir satu jam Ezra menanti akhirnya Adeeva bergerak buka mata. Wanita muda ini meluruskan mata menatap ke langit-langit serba putih berusaha ingat apa yang telah terjadi. Ada sesaat Adeeva ingat kejadian tadi. Masih terngiang di kuping cewek ini kalau sister katakan lakinya kena kanker otak.


Adeeva langsung bangun ingat Ezra.


"Pak Ezra...." seru Adeeva keras.


"Aku di sini...ada apa denganmu? Kok tiba-tiba pingsan?" tanya Ezra berusaha hangat biar wanita yang sedang hamil anaknya tidak panik.


Perlahan kepala Adeeva berpaling ke arah Ezra lantas mewek. Adeeva menahan tangis di depan Ezra supaya laki itu tak tahu mengapa dia pingsan. Adeeva tidak tega kasih tahu laki itu kalau dia kena penyakit mematikan.

__ADS_1


"Pak Ezra...kau sudah sehat?"


Ezra mengangguk. Laki ini merentangkan kedua tangan perlihatkan pada Adeeva kalau dia sudah sehat. Laki ini tetap gagah cuma sedikit pucat. Tak ada yang berubah.


"Dokter tidak bilang bapak sakit apa?" selidik Adeeva masih belum percaya laki itu dalam kondisi fit. Jelas dia dengar suster bilang Ezra kena kanker. Kupingnya masih belum uzur sampai salah dengar.


"Tidak.. hanya kecapekan. Tak ada hal besar. Dokter akan beri resep dan kita tebus obatnya. Kita bisa pulang. Kata dokter kamu harus banyak istirahat karena kondisi kamu agak lemah. Mulai saat ini kamu tak boleh capek. Aku tak bisa jaga kamu setiap saat jadi harus pandai jaga diri. Soal kantor biar kutangani. Kamu tinggal teken saja. Ok?"


"Tidak ok.. kita harus balik ke kota secepatnya. Kita harus urus perangkat di gudang."


Ezra menghela nafas melihat semangat Adeeva. Laki ini sudah tahu kalau Adeeva tidak akan tinggal diam melihat perusahaan di dalam kesulitan. Ezra tidak meragukan ketulusan Adeeva terhadap perusahaan. Maka itu Ezra tidak ragu menyerahkan perusahaan pada Adeeva.


"Percayalah! Aku akan tangani masalah ini secepatnya. Tidak akan merugikan perusahaan kamu." bujuk Ezra tetap dengan nada rendah takut lukai perasaan Adeeva.


Di lain pihak Adeeva cemas bukan main tentang nasib Ezra. Bukan cuma nasib Ezra tapi nasib ratusan karyawan Dilangit. Adeeva takut Dilangit bakal tamat di tangannya. Gimana nasib semua karyawan bila terjadi sesuatu pada perusahaan di tangan bos amatiran.


Suster mengantar resep untuk kedua orang ini. Ezra cepat-cepat rampas resep ini supaya Adeeva tidak tahu obat yang diberikan kepadanya. Anak cerdas pasti akan tahu obat apa diberikan kepadanya. Ezra tak mau Adeeva cepat tahu dia hamil. Ezra harus jelaskan perlahan supaya anak ini tidak kaget. Mendadak hamil pasti akan syok.


Adeeva heran mengapa Ezra cepat sekali rebut resep. Adeeva yakin Ezra tahu sesuatu tapi mau tutup dari dia. Berbagai dugaan buruk melayang di kepala Adeeva. Mau tanya langsung takut Ezra terbebani.


"Kita pulang ya sayang!" Ezra membantu Adeeva turun dari brankar dengan super hati-hati. Rasanya bukan Ezra yang sakit melainkan Adeeva. Ezra auto sembuh setelah tahu Adeeva hamil anaknya.


"Pak...yang sakit itu anda! Kok aku yang jadi pasien?"


"Kamu baru pingsan. Kau datang sini dengan siapa?" Ezra mencari teman atau pendamping Adeeva. Tak mungkin cewek ini gotong Ezra sendirian sampai ke rumah sakit. Sekuat apa Adeeva takkan sanggup gotong Ezra yang jauh lebih besar.


"Aku datang bersama bang Juan. Pelatih taekwondo aku!" jawab Adeeva jujur.


"Oh...ayo kita jumpa mereka! Aku akan bayar biaya perawatan dulu. Kau tunggu bersama mereka. Mari kuantar!"


Ezra membimbing Adeeva tinggalkan ruang IGD mencari bang Juan dan kedua rekannya. Ezra membawa isterinya dengan telaten. Dalam hati Ezra makin merasa bersalah telah berkhianat pada Adeeva. Bukan hanya berkhianat pada Adeeva tapi juga pada calon anak mereka. Anak itu sudah ada sewaktu Ezra main gila. Cuma Adeeva belum sadar sedang hamil.


Wanita badak macam apa? Hamil saja tidak tahu. Ezra tak tahu bagaimana Adeeva bisa tumbuh sebesar ini. Besar ditiup angin ada rasa tapi tak bisa disentuh.


Juan dan kedua rekan Adeeva masih setia menanti di dekat meja resepsionis. Mereka menunggu kabar dari Adeeva walau tak ada kabar. Inilah arti persahabatan tulus tanpa pamrih.


"Dek Adeeva??? Kok pucat?" buru Bang Juan kaget lihat Adeeva dibimbing oleh Ezra. Keadaan kok sudah terbalik? Bukan Ezra yang sakit melainkan Adeeva.


"Perkenalkan saya Ezra Dilangit suami Adeeva! Kalian tentu teman baik isteri aku ya!" Ezra duluan perkenalkan diri sekalian unjuk gigi dia pemilik Adeeva. Laki lain harus mundur kalau sudah ada yang klaim Adeeva milik pribadi.


"Oh iya...saya Juan pelatih Dek Adeeva! Dan ini rekan Dek Adeeva di klub! Senang kenalan!" bang Juan salami Ezra dengan galant tanpa ada sedikitpun gelagat mau rebut perhatian Adeeva.


"Adeeva pernah cerita tentang klub dia latihan dulu. Anda tentu pemilik motor gede yang dipinjam Adeeva dulu!"


Bang Juan ketawa renyah Ezra sebut motor kesayangan yang sering dipakai cewek ini sewaktu di klub. Bang Juan tak pernah larang Adeeva pakai motor dia karena Adeeva punya kharisma kendarai motor gede kendatipun cewek.


"Bapak tahu juga kenakalan Dek Adeeva! Kami sudah biasa hadapi anak ini. Sekarang kita pulang atau masih ada prosedur harus diikuti?"


"Kalian jaga dia sebentar! Aku akan selesaikan administrasi."


"Oh tentu..."

__ADS_1


Ezra membawa Adeeva ke salah tempat duduk kosong tak ijinkan wanitanya berdiri lama. Ezra takut bayinya keluar sendiri bila berdiri lama. Pokoknya sekarang harus super waspada.


Sementara kedua perawat yang barusan rawat Adeeva dan Ezra iri banget pada nasib Adeeva dapat suami ganteng dan galant.


__ADS_2