Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Pendarahan


__ADS_3

Ezra tak tinggal diam segera bergerak memeluk Adeeva membawanya menyamping dari target senjata. Ezra dan Adeeva menjatuhkan diri ke lantai. Keduanya terbanting keras ke lantai.


Ezra tahu itu membahayakan kandungan Adeeva tapi dia tak punya pilihan lain selain gunakan cara ini untuk selamatkan isterinya.


Penjahat itu tak sangka reaksi Ezra cukup bagus. Pria berhati kelabu itu mengarahkan senjata pada pasangan yang masih berada di lantai. Kini keduanya terkunci dilantai. Salah satu di antara mereka pasti akan jadi korban. Ezra memeluk Adeeva erat-erat melindungi tubuh wanita itu dari letusan senjata kedua. Ezra merasa nyawanya tak penting karena di perut Adeeva ada pewarisnya. Adeeva yang harus diselamatkan.


Adeeva bukan orang bodoh cepat menyerah. Wanita ini melihat ponsel di tangan Ezra. Ezra memegang ponsel itu agar Ruben dengar semua keributan di rumahnya. Semoga anak itu cepat tanggap segera datang beri bantuan.


Adeeva tak pikir panjang mengambil ponsel itu lalu lempar ke arah si pemegang senjata. Adeeva kerahkan seluruh tenaga layangkan ponsel mahal Ezra ke arah tangan penjahat yang pegang senjata.


Gerakan Adeeva sukses menjatuhkan senjata pria itu. Pistol kecil itu terpental jauh. Pria itu kaget dapat balasan dari Adeeva. Pria ini tak sangka Adeeva mempunyai kekuatan cukup besar. Sudah terjatuh masih sanggup melawan.


Adeeva tak buang kesempatan segera mengejar senjata yang telah jatuh dekat meja bufet. Pria itu juga mengejar bersama rekannya yang lain. Bertiga mereka merebut senjata di lantai. Adu cepat siapa dapat untuk tentukan pemenang. Adeeva ayunkan kaki menendang wajah pria bertubuh subur membuat pria itu mengerang kesakitan memegangi hidung berdarah.


Kedua temannya hendak menyerang Adeeva namun Ezra tak tinggal diam membantu Adeeva lawan penjahat itu.


Perkelahian jadi seimbang dua lawan dua. Adeeva memang di atas angin karena dia memang ahli berantem. Wanita lupa kalau dia punya tanggung jawab lain lindungi janin di perut. Wanita muda ini mengamuk bagai singa betina kejepit ekor. Tak ada kata belas kasihan pada lawan. Kuda Poni Ezra transformasi menjadi singa lapar kejar mangsa.


Ketiga penjahat lumpuh dan senjata beralih ke tangan Adeeva. Adeeva arahkan senjata ke arah ketiga penjahat dengan tangan bergetar. Seumur hidup Adeeva baru kali ini benda bisa antar orang menemui malaikat maut.


Untunglah tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Tampak beberapa orang berseragam coklat dan satpam gedung masuk. Petugas berseragam coklat memegang senjata arahkan pada ketiga penjahat tersebut. Tanpa melawan ketiga orang itu diborgol oleh petugas keamanan. Setelahnya barulah Ruben muncul dengan wajah pucat. Laki itu ketakutan lihat keadaan rumah Ezra berantakan. Barang-barang berjatuhan akibat duel maut antara pasangan suami isteri dengan ketiga penjahat.


"Maaf aku datang terlambat!" ujar Ruben memeriksa kondisi Ezra dan Adeeva. Adeeva masih mematung sampai petugas mengambil senjata dari tangan wanita itu.


"Nona tak apa?" tanya seorang petugas ngerti Adeeva sedang syok.


"Aku...aku..." Adeeva gagap tak bisa utarakan isi hati.


Ezra segera memeluk isterinya beri rasa aman. Ezra dapat rasakan tubuh Adeeva bergetar setelah semua berakhir.


"Bisakah bapak beri keterangan?" tanya salah satu di antara tiga aparat.


"Baik...kami harap bapak beri keadilan pada kami! Mereka ini suruhan seseorang untuk habisin nyawa isteri aku. Mereka berencana culik isteri aku namun kami melawan. Dan senjata itu milik mereka."


"Baik...kami harap bapak ikut kami ke kantor untuk beri keterangan lebih jelas. Kita akan usut sampai tuntas aktor di balik semua ini."


Ezra melirik Adeeva yang berada dalam rengkuhannya. Ezra ragu bisa tinggalkan Adeeva di saat begini.


"Astaga...lihat!" seru Ruben lihat ada cairan warna merah berada di antara paha Adeeva.


Mata Ezra segera mengarah ke kaki Adeeva. Benar saja kata Ruben. Di antara paha Adeeva mengalir darah walau tak banyak.

__ADS_1


"Bawa ke rumah sakit!" kata petugas panik.


Tanpa ba bi bu Ezra mengendong Adeeva berlari keluar. Hal ini yang paling ditakutkan Ezra. Kekuatirannya akhirnya terbukti. Adeeva alami pendarahan akibat kerahkan tenaga lawan penjahat.


Ezra pergi sampai lupa bawa kunci mobil. Bagaimana bawa Adeeva tanpa transportasi. Otak Ezra auto karatan melihat kondisi adeeva yang kurang menguntungkan.


"Pak Ruben...anda antar bapak tadi! Dia bawa mobil sangat berbahagia. Kami akan urus penjahat ini." aparat polisi lebih bijak beri solusi untuk hindari kecelakaan di jalan.


"Oh iya..terima kasih pak! Nanti kami akan ke kantor polisi buat laporan. Kami tolong isteri Abangku dulu."


"Silahkan! Serahkan semuanya pada kami."


Ruben segera mengejar Ezra yang duluan turun ke bawah gendong isterinya. Ruben tak kalah takut terjadi sesuatu pada keponakan dia di dalam perut Adeeva. Ruben takkan memaafkan orang yang tega nyakitin Adeeva. Nyawa harus di bayar nyawa.


Ezra berada di parkiran bingung mau membawa Adeeva dengan apa. Kunci mobilnya mobilnya tertinggal di atas. Tak mungkin dia kembali ke atas untuk mengambil kunci. sementara Adeeva di dalam pelukan Ezra makin melemah akibat syok dan pendarahan yang barusan terjadi.


"Sabar ya sayang...kau harus kuat untuk anak kita!" Ezra memberi semangat pada Adeeva padahal Ezra sendiri mau mati rasanya kalau terjadi sesuatu pada bayinya. Tanpa bayi mungkin saja Adeeva akan meninggalkan dia. Ezra terancam kehilangan dua buah hati.


Untunglah Ruben datang tepat waktu jawab kebingungan Ezra. Tanpa tanya lagi Ruben buka pintu mobil jok belakang untuk Ezra dan Adeeva.


Ezra bergerak masukkan Adeeva dalam mobil barulah dia sendiri masuk duduk di samping Adeeva. Ezra memeluk adeva erat-erat tak ingin berpisah. Seluruh hidup Ezra sedang dipertaruhkan di sini.


"Sabar ya sayang! Kau harus kuat. Ayo Ben cepat!" teriak Ezra kalap kepada Ruben.


Ruben mencari rumah sakit yang terdekat agar Adeeva cepat mendapat pertolongan. rumah sakit terdekat lumayan besar berada di sekitar tempat kejadian. Tanpa ragu Ruben memasuki halaman rumah sakit tersebut. Yang penting adalah menyelamatkan adeeva dan janin di dalam perutnya.


Ezra segera turun membopong Adeeva dalam pelukan sambil berteriak panik minta pertolongan. Ruben menemukan sosok berbeda dari biasa. Ezra gugup dan panik. Biasa laki itu selalu tampil cool walau apapun terjadi di sekitarnya.


Para medis sigap membantu Ezra pindahkan Adeeva ke brankar untuk mendapat pertolongan. Ezra dan Ruben menyusul dari belakang. Para suster segera memberi pertolongan kepada Adeeva di ruang tindak gawat darurat.


Ezra ingin ikut masuk namun ditahan oleh suster.


"Bapak tunggu di luar saja! Kami akan maksimal bantu ibu ini! Sabar ya pak!"


Adeeva dibawa masuk ke ruangan tertutup untuk dilihat bagaimana kondisi bayinya. Semoga Adeeva dan bayinya selamat.


Ruben dan Ezra mondar mandir di depan ruang tindakan. Ezra menjambak rambut sendiri menyesal tak bisa melindungi Adeeva dengan baik. Suami macam apa tak bisa jaga anak isteri.


Ezra bersumpah takkan maafkan orang yang kejam ingin melenyapkan Adeeva. Adeeva tak bersalah dalam kelola perusahaan karena Adeeva ingin tegakkan keadilan di perusahaan.


"Ben...kau ke kantor polisi cari tahu siapa dalang di balik semua ini. Buat kantong beras itu mengaku siapa yang bayar mereka. Apapun caranya!"

__ADS_1


"Apa tidak tunggu ada stabil dulu? Kamu demikian pucat Dan panik. Kurasa biar ku temani kamu sampai segalanya aman."


"Tidak perlu... aku akan menelepon orang tua Adeeva untuk datang ke sini. Kamu cukup fokus pada tugas yang kamu harus kamu laksanakan. Pergilah!"


Ruben ingin menemani Ezra di saat sulit begini. Tapi laki itu terbakar api dendam pada dalang pengacau tak sabar mau tahu semuanya. Ruben pilih pergi ke kantor polisi untuk cari info tentang serangan ini.


Ezra meneleponi Abah Adeeva setelah Ruben pergi ada. Ezra wajib mengabarkan kejadian ini kepada kedua orang tua Adeeva. Adeeva adalah anak mereka maka mereka berhak tahu segalanya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...nak Ezra. Ada apa dengan Eva? Dia buat masalah lagi?" Abah yang mengangkat telepon Ezra.


"Oh tidak Abah.. Adeeva mengalami musibah dan sekarang dirawat di rumah sakit."


"Astaghfirullahaladzim. Gimana kondisinya?"


"Masih dalam perawatan dokter. Nanti aku kirim alamat Abah dan Umi datang ke sini ya!"


"Ya...ya... assalamualaikum." terdengar suara Abah begitu panik langsung menutup telepon.


Sambungan telepon terputus. Ezra kembali merasa sendiri. Baru kali ini Ezra tahu arti rasa takut. Kata yang sudah lama hilang dari kehidupannya. Ezra takut setengah mati bila terjadi sesuatu pada Adeeva. Lebih baik dia yang terkena musibah dari pada musibah itu menimpa Adeeva.


Ezra butuh orang bisa menenangkan dia saat ini. Siapa bisa di ajak diskusi karena orang di sekeliling Ezra rata-rata musang berbulu domba. Tampak baik tapi ingin menghancurkan Ezra.


Lama berpikir Ezra teringat ibu tirinya Bu Yuni. Wanita itu lebih baik daripada Bu Humaira. Mungkin wanita itu bisa beri masukkan padanya cara tangani Adeeva bila terjadi sesuatu.


"Halo..Bu Yuni?"


"Iya sayang. Siapa lagi? Kok suaranya kusut?"


"Adeeva Bu.."


"Isteri nakal kamu? Kenapa? Kabur lagi?"


"Dia sedang dirawat. Sebenarnya dia itu sedang hamil tapi ku rahasiakan demi menjaga keselamatan Adeeva dan anakku. Barusan ini ada orang bersenjata serang kamu mau nyawa Adeeva. Ibu punya pendapat?"


"Hakim...bukan ibu mau banyak mulut. Caramu tangani masalah perempuan di istana sudah salah. Seharusnya kamu datang sendiri dan selesaikan secara langsung. Bukan melalui ibu atau Ruben. Mereka mana puas belum dengar kata dari mulut kamu."


"Aku tak berani pulang takut jebakan. Ibu tahu Renata hamil anak om Jul. Sekarang om Jul sekarat. Dia tentu sibuk rancang rencana jebak aku. Aku tak mau masuk perangkap mereka."


"Ibu ngerti. Farah, Soledad, Dorce dan Michelle sudah menyerah. Mereka tunggu talak darimu serta uang kompensasi. Apa yang akan kau berikan pada mereka?"

__ADS_1


"Rumah dan sejumlah dana. Aku tak mungkin biarkan mereka hidup tak layak di luar nanti. Cuma aku tidak bisa memberi banyak karena perusahaan sedang mengalami kemunduran. Perusahaan kita digerogoti oleh keluarga om Jul cukup hancur. Aku sudah pecat Ika yang semena-mena membuat kebijakan yang merugikan perusahaan."


__ADS_2