
Sejujurnya Adeeva kasihan melihat cara Rani ekspresikan rasa cinta pada Ezra. Ini yang namanya cinta membabi buta.
"Rani...kau tahu dari dulu cinta aku hanya untuk bayi yang kucari. Dan orang itu adalah Adeeva. Jangan tambah dosa lagi! Menyerah saja! Mungkin kamu akan dapat pencerahan kembali ke jalan benar."
"Aku akan tobat bila kau bersama aku! Aku akan mulai hidup baru bersama."
"Maaf! Aku punya Adeeva."
Mata Rani menjadi liar dengar Ezra masih ngotot bela cintanya pada Adeeva. Rani tak bisa terima kenyataan Ezra cinta mati pada Adeeva.
"Gimana kalau Adeeva tak ada di bumi ini? Kau akan cinta padaku?" tanya Rani sendu.
"Apa maksudmu?" Ezra bergerak dekati Adeeva takut Rani nekat menyerang Adeeva.
Orang stress macam Rani bisa saja lakukan hal tak terduga. Ezra mesti lindungi Adeeva walau apapun terjadi. Ezra siap berkorban demi Adeeva dan anaknya.
Rani menuding Adeeva sebagai penyebab semua kesialan dalam hidupnya.
"Kau anak setan...kenapa harus ada di dunia ini? Kenapa kau tak mati saja?" teriak Rani sangat keras. Ruben yang kantornya tak jauh dari ruang Ezra mendengar keributan ini segera datang ke ruang Ezra.
Ruben menerobos masuk tanpa ketuk pintu lagi. Ruben tertegun lihat Rani berpakaian hitam menantang Adeeva dengan marah. Rani tak ubah singa betina terluka berat meraung marah.
"Rani ..kau mau apa?" Ruben menarik Rani agar menjauhi Adeeva dan Ezra.
Rani menepis tangan Ruben. Rani makin tak suka kehadiran Ruben menyemarakan keadaan chaos ini.
"Ben...kuharap kau tak ikut campur! Ini urusan aku dan Ezra."
"Rani...sadar kau sedang melawan hukum! Kau bisa ditangkap buat kekacauan di kantor orang. Ayo kita keluar!" bujuk Ruben bermaksud bawa Rani keluar.
"Hukum? Akulah hukum! Aku tak mau bikin onar asal Ezra bersedia ikut denganku. Aku tak peduli dengan perusahaan Dilangit. Silahkan kalian ambil! Aku cuma mau Ezra."
Ruben menghela nafas. Rani terlalu obsesi pada Ezra. Beginilah wanita kalau sudah bucin. Lebih parah dari para lelaki.
"Kita bicara dengan kepala dingin Rani! Kau pulang dulu. Setelah tenang baru kita bahas lagi. Ok? Mari kuantar kamu pulang!" bujuk Ruben dengan suara lembut.
Kejiwaan Rani sedang terganggu maka Ruben pilih cara paling tepat berlalu lembut pada wanita itu. Ruben takut Rani nekat berbuat hal gila bisa sakiti salah satu di antara mereka.
"Aku hanya mau Ezra."
Adeeva muak dengan sandiwara Rani cari perhatian Ezra. Adeeva tak yakin Rani punya rasa malu. Sudah terangan ditolak masih saja ngotot rebut suami orang.
"Tante Rani...anda sudah berumur. Mungkin saja sampai di rumah mati kena serangan pendarahan otak. Kusaran kan Tante pergi ke kutub Utara dinginkan otak. Tante kan banyak duit. Kali aja ada beruang duda siap nikahi Tante. Ezra itu sudah ada isterinya. Lupakan dia!" Adeeva bangkit mulai tak bisa dengar lebih lanjut semua ocehan Rani.
Rani tertawa sumbang dihina oleh seorang gadis muda. Darah Rani makin mendidih lihat betapa tenang Adeeva hadapi dia. Rani sudah gregetan ingin lenyapkan Adeeva biar Ezra bisa fokus padanya.
"Kau anak kecil bisa apa? Kau belum tahu kekuatan seorang Rani. Aku bisa bunuh kamu tanpa masuk penjara."
"Hebat....artinya kakek moyangmu pakar hukum. Bisa putar balik hukum sesuai keinginan kamu. Tak usah sombong Tante tua. Kita lihat kau lebih kuat atau kuasa Tuhan." Adeeva berusaha tenang walau dalam hati ada rasa takut.
Rani memang perempuan gila. Anggap diri sendiri penguasa dunia.
"Ok...kita lihat seberapa hebat kamu!" Rani merogoh tas mencari sesuatu.
Ruben dan Ezra tercekat melihat gerakan Rani. Mereka tak tahu apa yang akan dikeluarkan oleh Rani. Wanita tanpa otak seperti Rani bisa saja berbuat sesuatu tanpa pikir panjang.
__ADS_1
Ruben dan Ezra langsung berdiri di depan Adeeva lindungi wanita hamil itu. Mereka mau tahu apa yang akan dilakukan oleh Rani kepada Adeeva.
Persis seperti dugaan Ruben dan Ezra. Rani menunjukkan sepucuk senjata api model kecil langsung ditujukan kepada Ezra dan Ruben yang melindungi Adeeva.
"Rani... Jangan lakukan kesalahan lagi! kalaupun kamu membunuh salah satu diantara kami. Aku tetap tidak akan hidup bersama dengan kamu." seru Ezra panik.
Rani tertawa sumbang, "Ezra.. kalau aku ingin sesuatu pasti harus kudapatkan. Kalau aku tidak mendapatkannya maka jangan bermimpi orang lain akan mendapatkannya."
Rani mengacungkan senjata ke arah Ezra. Rani benar-benar hilang akal sehat nekat ingin melakukan tindakan kekerasan. Adeeva tak kalah kaget Rani benar-benar ingin lakukan pembunuhan. Adeeva tak tahu target Rani siapa.
Adeeva bermaksud melindungi Ezra namun laki itu duluan menarik Adeeva untuk tetap berdiri di belakang dia dan Ruben.
Rani makin sakit hati lihat Ezra melindungi rivalnya dengan segenap jiwa.
"Baiklah! Kepalang tanggung. Aku antar kalian berdua sejoli jumpa dewa kematian. Siapa mau duluan? Ach begini saja! Aku mau lihat kau menangis darah lihat orang kau cintai meregang nyawa." kata Rani pada Ezra.
"Rani...jangan bodoh! Kami mati hidupmu juga akan berakhir. Lebih baik kamu tenang kita bicara dengan baik." bujuk Ezra takut senjata di tangan Rani meletus. Sekali meletus pasti akan korban jiwa. Ntah siapa bernasib apes.
Tangan Rani bergetar seolah tak punya keberanian letuskan senjata itu. Hatinya kejam tapi Rani belum pernah turun tangan sendiri. Keberanian Rani belum sampai tahap kritis.
Adeeva melihat cela untuk jatuhkan senjata di tangan Rani. Wanita itu sedang pertimbangan hendak lakukan perbuatan melawan hukum atau menyerah.
Adeeva mengambil hiasan bendul bola besi di meja. Wanita ini mundur beberapa langkah ke belakang cari peluang jatuhkan senjata di tangan Rani. Dengan demikian tak ada yang tersakiti.
Adeeva gunakan segenap tenaga lempar benda di tangan Rani. Semoga saja lemparan Adeeva tidak meleset. Sekali meleset maka semua akan tambah parah.
Rani tak menyangka Adeeva akan lakukan gerakan secepat kilat. Wanita itu menjatuhkan senjata di tangan akibat sabetan benda keras dari Adeeva.
Ruben tak tinggal diam segera mengambil senjata di lantai sebelum Rani kejar benda berbahaya itu. Rani berteriak keras luapkan rasa marah membara dalam dada.
Sekali lagi Adeeva patahkan perjuangan Rani. Rani tak habis pikir mengapa Tuhan ciptakan seorang kawan tangguh ganggu semua rencana yang telah di susun bertahun-tahun.
Rani menggeliat tak mau diringkus oleh pihak berwajib. Rani meronta-ronta tak mau dibawa aparat. Satria dan rekannya borgol tangan Rani agar jangan banyak bergerak.
"Maaf kami datang terlambat!" kata Satria kepada Ezra dan Adeeva.
Mata Satria tertuju pada Adeeva yang sudah lama tak jumpa. Satria terlambat selangkah didahului Ezra. Satria terlalu sibuk sama tugas sampai lupa kalau dia juga harus cari pasangan.
Sayang wanita yang mencuri hatinya telah direbut laki berkuku lain.
"Anda tepat waktu. Silahkan proses wanita ini sesuai hukum!" ujar Ezra kesal pada Rani yang telah berbuat sesuka hati mengancam jiwa orang.
"Oya ..ini senjata yang dia gunakan ancam kami." Ruben menyerahkan senjata yang dia rebut dari Rani.
Rani sangat marah pada Ezra dan Adeeva. Rani tidak takut dibawa ke kantor polisi karena yakin dia bisa beli kebenaran. Tak ada yang sanggup lawan dia.
"Kalau gitu kami bawa ibu ini dulu. Kuharap kalian bertiga datang ke kantor untuk jelaskan duduk perkara." ucap Satria masih tak bisa move on dari Adeeva.
"Terima kasih pak Satria. Kami akan kerjasama."
"Orang bodoh! Kalian tunggu saja pembalasan aku. Aku Rani...tak ada yang bisa kalahkan aku!"
"Pasti...kau akan menang lawan kecoa dan tikus di penjara. Semoga Tante tua membusuk di penjara. Jangan lupa bawa papan catur main dengan arwah penasaran di penjara. Kali aja ada yang mirip Ezra."
Satria sudah kenal sifat periang Adeeva tak heran Rani kena banyolan Adeeva. Baru saja lewati masa menegangkan wanita muda itu sudah sanggup usilin orang. Orang itu Rani pula.
__ADS_1
"Pak Satria... tante tua ini pasti akan senang tinggal di penjara yang dingin. Tak perlu buang uang bayar uang listrik AC lagi." kata Adeeva lagi.
"Kamu ini kapan dewasanya? Jaga diri baik-baik! Kami permisi dulu. Jangan lupa datang ke kantor!" kata Satria masih perlakukan Adeeva seperti dulu. Tetap anggap Adeeva sama saja dengan Nunik.
"Siap ...." jawab Adeeva dibarengi senyum.
Rani mendesah makin kesal Adeeva mendapat banyak cinta. Rani belum tahu kalau masih ada laki lain tergila pada Adeeva. Ada Krisna dan Akbar.
Satria dan rekannya bawa Rani turun ke bawah. Ezra sudah bisa bernafas lega karena Rani tertangkap tangan lakukan tindakan pidana. Rani tak bisa ngeles lagi.
"Alhamdulillah akhirnya Rani terciduk!" kata Ruben tak kalah lega.
"Kau telepon Satria?" tanya Ezra heran mengapa Satria bisa tiba-tiba muncul padahal tidak tampak Adeeva lakukan percakapan.
"Aku teleponi Satria biar dia dengar percakapan kami. Pertama aku rekam semua percakapan dia namun kupikir lebih baik teleponi Satria. Eh pak polisi cepat tanggap."
Ezra dan Ruben salut pada kecerdasan Adeeva. Dari sini Adeeva sudah tunjukkan kepintaran Adeeva. Ezra dan Ruben tidak terpikir cari bantuan melalui ponsel. Adeeva sudah melakukannya. Ini membuktikan Adeeva lebih gesit dari mereka.
"Hebat kau Miss Adeeva! Angkat salut! Kita harus segera ke kantor polisi beri kesaksian. Miss ikut denganku ya?" gurau Ruben melirik raut wajah Ezra.
Ezra yang sudah cemburu pada Satria makin keki dibuat Ruben. Mereka baru saja melalui pertarungan hidup dan mati, Ruben masih sanggup bercanda di saat begini.
"Kita berangkat. Katanya Supono masuk kerja hari ini. Mana orangnya?"
"Ada pak! Sudah nunggu dari tadi. Dia mana berani masuk dengar ribut-ribut di dalam ruangan bapak. Biar kupanggil!" Ruben segera membuka pintu untuk memanggil Supono yang sudah menunggu dari tadi. Lelaki KW 12 itu agak ketakutan melihat kehadiran polisi di kantor barunya. Supono paling takut berhadapan dengan pihak yang berwajib.
Ruben berhasil membawa Supono masuk ke dalam ruangan Ezra. Supono tampak gagah dengan pakaian sangat rapi. Kemeja warna biru muda dipadu dengan celana biru tua. Tubuhnya yang kekar tercetak bikin cewek gregetan ingin sentuh dada bidang itu.
Sayang para cewek tak tahu kalau sebenarnya Supono punya sisi feminim.
"Welcome mas Supono! Kau tetap gagah. Pertahankan!" Adeeva menepuk bahu Supono beri semangat agar pertahankan gaya maskulin.
Supono tersipu malu persis anak cewek sedang jatuh cinta. Ada sedikit rona merah menjalar di pipi. Adeeva agak jengkel melihat Supono mulai lagi dengan sifat kemayu nya.
Baru saja sedikit langsung tranformasi ke jiwa feminim. Ruben tersenyum tahu kalau Supono ada sedikit kekurangan. Selama masih dalam batas wajar tidak berbuat hal memalukan masih bisa ditolerir.
"Jangan buat Supono malu Miss! Aku akan ajar Supono semua tugasnya. Tapi sekarang lebih baik kita ke kantor polisi. Pono...kau jaga kantor sebentar. Kami harus ke kantor polisi."
"Baik pak! Aku akan jaga di luar. Kalian harus hati-hati. Kulihat mata orang itu menyimpan dendam sangat kental."
"Tenang saja mas Supono! Kita dilindungi pak polisi kok! Pak polisi itu abangnya Nunik."
"Syukurlah!"
Ezra menggandeng Adeeva berangkat ke kantor polisi. Ezra mau umumkan kalau Adeeva adalah wanitanya. Tak seorangpun boleh merenggut wanita itu darinya.
Ruben menggeleng melihat kebucinan Ezra pada Adeeva. Siapa bisa pisahkan mereka lagi.
Satria hanya mencatat semua keterangan Ezra. Adeeva serahkan hasil rekaman pada Satria. Selanjutnya Satria dengar sendiri semua ancaman Rani. Satria bisa menjadi saksi kalau Rani memang mengancam Ezra dan Adeeva.
Kali ini Rani tak bisa lari dari tanggung jawab sebagai otak kematian bapak Herman dan Herman. Ditambah lagi dalang penculikan Adeeva. Terakhir ingin membunuh Adeeva dan Ezra. Semua bukti memberatkan Rani.
Pengakuan para penjahat juga memberatkan Rani. Kali ini Rani tak dapat lolos dari jeratan hukum. Mungkin saja hukuman mati menunggu wanita itu. Tak ada yang bisa membantu wanita itu bila aparatnya tidak tergiur materi.
Ezra mau lihat kejujuran Satria sampai di mana. Apa laki itu juga mata duitan? Semoga Satria tak bisa dibeli dengan uang. Urusan Rani harus tuntas agar tak ada korban selanjutnya. Ezra takut kalau Rani masih keliaran maka hidup keluarganya takkan aman.
__ADS_1
Dari kantor polisi Ezra langsung bawa Adeeva balik ke istana untuk istirahat. Di sana mungkin akan lebih tenang.
Adeeva pesan pada Ruben untuk bawa Desi ikut pesta kebun mereka. Adeeva juga pesan pada Nunik untuk datang ke pesta mereka. Makin banyak orang pasti meriah. Supono juga diajak untuk beri rasa keluarga pada laki feminim itu.