
Adeeva di tempatkan kamar lumayan bagus walau bukan rumah sakit standar internasional. Cukup bersih dan nyaman. Ada satu bed untuk pasien serta satu bed kecil untuk penjaga pasien. Lumayan juga pelayanan rumah sakit ini masih memikirkan nasib penjaga pasien.
Adeeva dipindahkan dengan super hati-hati karena tak boleh ada goncangan pada peranakan wanita muda ini. Kondisi rahim Adeeva sedang dalam masa rentan aborsi.
Abah dan Umi dengan setia menemani Adeeva di dalam kamar. Adeeva adalah harapan Abah dan Umi satu-satunya. Apalagi kini di dalam perut Adeeva ada dua sosok makhluk mungil sedang berkembang. Mereka harus lebih hati-hati lagi menjaga Adeeva.
"Bagaimana keadaanmu nak? Apa perutmu masih sakit?" tanya Abah penuh perhatian.
Adeeva tersenyum tipis untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya. Adeeva juga sangat ketakutan melihat sangat banyak darah mengalir dari tubuhnya. Adeeva takut kehilangan bayinya. Walaupun Adeeva jarang dekat anak kecil namun dia tetap punya hati menjaga bayinya hingga lahiran. Binatang saja ngerti menjaga kandungan apalagi dia manusia.
"Eva sudah enakan kok Bah! Tak perlu kuatir."
"Baguslah! Abah dan Umi ketakutan dengar kau dalam musibah. Untunglah Allah masih sayang ada kita. Eh.. kau harus jaga diri ya! Anakmu kembar lho!" ujar Abah dengan mata berbinar. Sekali kayuh dua pulau terlewati. Sekali lahiran dapat dua cucu.
"What? Kembar? Kata siapa?" Adeeva surprise dengar dalam perutnya ada dua sosok janin. Satu saja dia sudah bahagia apalagi dapat dua. Kayak cetak roti saja. Sekali cetak keluar dua.
"Kata Ezra..."
"Oh...apa dia senang?"
"Ya pasti senang dong! Eva mau makan apa? Umi sediakan untukmu!"
"Ini sudah malam Umi! Besok saja Umi sediakan makanan untuk cucu Umi. Hhhmmm..mereka seperti apa ya?" gumam Adeeva bayangkan betapa repot urus dua anak sekaligus. Apa mereka akan bandel seperti dirinya? Adeeva pasti takkan sabar hajar pantat mereka kalau nakal.
"Yang pasti harus mirip Abah." kata Abah kocak.
"Mirip Umi dong! Umi akan bawa mereka ke Singapura untuk jumpa nenek Uyut mereka. Akhirnya kamu dewasa juga Eva." Umi berdiri di samping Adeeva mengelus pipi anaknya. Harapan besar tumbuh dalam diri Umi mau pamer cucunya pada keluarga di Singapura.
"Iya. Tunggu mereka lahir ke dunia dulu Umi."
Abah dan Umi saling lempar senyum. Adeeva iri lihat keakuran kedua orang tuanya. Mengapa kisah cintanya tidak semulus orang tuanya. Punya suami kaya tapi playboy cap badak.
Ezra muncul dengan wajah sangat lelah. Sudah begini Adeeva jatuh iba. Laki ini mau berubah. Itu katanya. Masih dalam teori. Praktek baru berlangsung. Semoga Ezra mau ikut jejak Abah jadi lelaki bertanggung jawab pada keluarga.
"Hai..sudah enakan?" Ezra tanya dengan pertanyaan standar untuk orang sakit.
"Sudah...senang jadi papi anak kembar?" goda Adeeva mau lihat reaksi Ezra punya anak kembar.
"Senang dong! Papinya kan macho." Ezra pamer kekuatan sebagai lelaki perkasa.
Abah dan Umi tertawa dengar gurauan Ezra. Keadaan jadi rilex karena kondisi Adeeva sudah stabil. Hati Ezra agak tenang situasi kondusif. Kini tinggal tunggu berita dari Ruben cari dalang pelaku kejadian ini.
"Abah dan Umi pulang saja! Malam ini biar aku yang jaga Adeeva. Besok baru gantian." kata Ezra tak enak merepotkan orang tua Adeeva.
"Nak Ezra besok kan harus ke kantor. Biar Abah dan Umi saja! Nak Ezra bisa istirahat simpan tenaga! Harimu menjaga Adeeva masih panjang. Pulanglah! Umi dan Abah bisa kok!" Umi menolak pergi merasa Adeeva butuh dukungannya sebagai seorang ibu.
"Iya pak Ezra...Bapak pulang saja! Pulang saja ke istana agar aman. Di apartemen sudah tak aman." timpal Adeeva kuatir Ezra kena masalah lagi.
"Tak perlu kuatir! Aku akan jaga diri. Biarlah aku di sini lebih aman sebelum pihak kepolisian dapat dalangnya. Berada di sisimu adalah tempat paling aman!" gombal Ezra bikin Umi baper.
Semua wanita senang digombalin. Umi yang bukan jadi tujuan gombalan Ezra saja merasa tersanjung apalagi orang yang bersangkutan.
__ADS_1
"Di istana pengawalan kan sangat ketat. Kurasa itu paling aman."
"Kau salah sayang! Kau lupa Renata sedang pasang perangkap? Justru di situ tempat paling berbahaya. Aku takut kejadian ini ada hubungan dengan orang-orang di dalam istana." Ezra utarakan kecurigaannya.
Adeeva manggut setuju. Tempat yang dia rasakan paling aman ternyata adalah daerah paling rawan bagi Ezra.
"Ya sudah di sini saja!"
"Terima kasih sayang. Abah dan Umi pulang istirahat. Besok Umi jaga Adeeva biar aku ke kantor lanjutkan kebijakan kamu." Ezra menggenggam tangan Adeeva seperti lelaki umum menyatakan rasa cinta terdalam dari lubuk hati.
Pemandangan indah ini menggugah perasaan Abah dan Umi. Keduanya sudah melihat kasih sayang Ezra pada putri mereka itu nyata. Biarlah malam ini jadi milik pasangan muda ini.
"Baiklah! Abah dan Umi pulang. Kalian jaga diri ya!" Abah mengalah.
"Pasti Abah! Aku akan menjaga Adeeva dengan baik."
"Abah percaya padamu. Ayo Umi kita pulang! Eva...kamu harus patuh jangan berbuat sesuka hati lagi. Ingat di dalam dirimu masih ada dua orang mesti kamu lindungi."
"Iya Abah sayang!"
Umi mengecup kening Adeeva sebelum pergi. Masih tersisa rasa kuatir di hati Umi. Kejadian menegangkan malam ini sudah cukup sport jantung Umi.
"Jaga diri nak! Besok Umi akan bawa nasi uduk kesukaan kamu. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Abah menggandeng Umi dengan mesra. Rasa sayang yang tak dimakan waktu. Ada berapa lelaki seperti Abah sangat sayang dan cinta pada isteri.
Ezra sudah saksikan dengan mata kepala sendiri cinta Abah pada Umi tak lekang dimakan waktu. Apa mungkin dia akan seperti beliau-beliau menyayangi Adeeva sampai tua?
"Iri?"
Ezra tertawa kecil tak sangkal tebakan Adeeva.
"Iya...hati abah sudah capai titik seputih salju. Aku harus giat mengejar ketinggalan. Aku janji akan jaga kamu dan anak kita."
"Kau yakin ini anakmu?"
"Kalau yang hamil itu kamu aku percaya seratus persen. Kau pikir aku tak kenal kamu? Bulu kakimu saja tak bisa kusentuh apalagi laki lain. Sudah tak usah konyol. Fokus pada anak kita saja!"
"Wah satu penghargaan! Aku mau kasih tahu Nunik aku sudah punya bayi. Dia pasti histeris!" Adeeva teringat pada konconya yang sekarang ntah di mana? Apa masih nyangkut pada juragan sapi?
Adeeva teringat ponselnya ntah di mana? Terasa tidak terbawa gara semua serba mendadak. Ponsel Joko juga ntah bagaimana nasibnya. Mungkin sudah pulang Rahmatullah.
"Ponsel aku..."desah Adeeva tak berdaya.
"Besok akan kubawa! Sekarang coba tidur!"
"Gimana mau tidur? Perutku lapar. Kita kan belum sempat makan."
Ezra teringat mereka memang belum makan gara-gara diserang penjahat. Ezra juga merasa perutnya agak melilit karena belum diisi.
__ADS_1
"Mau makan apa biar kupesankan? Jam gini pihak rumah sakit mana ada makanan."
"Aku mau bubur ayam pakai banyak bawang goreng, lalu strawberry cake dan minumnya jus alpukat."
"Siap laksanakan!" Ezra ingat semua pesanan Adeeva. Bayi dalam perut juga butuh makanan. Apalagi yang makan dua bayi.
Adeeva tersenyum puas sukses perbudak raja tambang yang terkenal kejam. Nyatanya tak lebih macan ompong. Mengaum tapi tak mengigit.
Ezra merebahkan tubuh di ranjang kecil dekat brankar utama. Ranjang itu tak bisa tampung seluruh tubuh Ezra yang termasuk gede. Muat badan kaki terjuntai ke bawah.
Adeeva tertawa geli lihat Ezra menikmati ranjang tak nyaman. Gimana mau nyaman tidur kaki tak tertampung.
"Ranjangnya tak dirancang untuk raksasa."
"Orang rumah sakit pikir orang Indonesia cebol semua." gerutu Ezra mulai rasa kakinya kesemutan akibat digantung ke bawah.
"Aku yang tidur di situ?"
"No...kamu tidur saja! Aku bisa tidur di mana saja. Kau mau ke kamar kecil?"
Adeeva mengangguk. Ezra segera bangkit hampiri Adeeva bantu isteri kecilnya ke kamar mandi. Ezra harus super hati-hati agar tidak ganggu janin yang sedang rapuh.
Ezra membopong Adeeva dengan hati-hati agar tidak berguncang keras. Laki ini perlihatkan gerakan paling gemulai layani isteri tercinta.
Ezra meletakkan Adeeva di kloset duduk warna putih bersih. Kamar mandinya cukup bersih terawat. Tidak rugi dibilang kamar VIP. Memang layak dibilang VIP.
Adeeva malu Ezra berdiri dalam kamar mandi seperti satpam penjaga orang buang air. Minta pungut bayaran kali.
"Bapak di luar saja deh! Ngak bisa keluar kalau dipelototi." ujar Adeeva keberatan Ezra menunggunya buang air.
"Sayang...aku ini suami kamu! Kenapa harus malu?"
"Pokoknya tak boleh lihat!" seru Adeeva sewot anggap Ezra sedang curi kesempatan.
"Iya... aku tutup mata dan balik badan! Jangan banyak gerak! Cepat buang airnya!" Ezra tepat janji putar badan hadap ke pintu. Ezra tak mau bikin Adeeva kesal hanya gara masalah sepele.
Adeeva puas Ezra makin jinak. Wanita muda ini segera buang hajat yang ditahan dari tadi. Ada rasa was-was dalam hati Adeeva takut darah keluar lagi.
Untuk pertahankan janin tak boleh ada darah lagi. Kandungan Adeeva tidak sekuat orang lain. Apa ini pengaruh hamil anak kembar sehingga sangat sensitif. Apapun dia Adeeva harus jaga baik-baik.
Adeeva bersihkan daerah kewanitaan dengan air semprot dari kran. Adeeva lakukan semuanya dengan hati-hati ngeri bayangkan kalau yang keluar darah.
"Sudah sayang?"
"Sudah.." Adeeva menarik celananya pinjaman dari rumah sakit. Pakaian Adeeva motor kena darah maka pihak rumah sakit sediakan pakaian untuk orang sakit. Sejenis piyama nyaman untuk pasien hamil.
Ezra memutar badan hampiri Adeeva. Sebelum tekan air flush Ezra melirik dalam kloset terlihat agak kemerahan. Artinya pendarahan Adeeva belum berhenti total. Masih ada tersisa darah walau tidak sebanyak tadi.
Ezra cepat tekan flush agar Adeeva tidak lihat cairan dalam kloset. Takutnya Adeeva trauma mengira masih ada pendarahan. Ezra mesti jaga emosi Adeeva tetap stabil.
"Ayok kita kembali ke ranjang!" Ezra membungkuk angkat tubuh Adeeva yang lumayan berat.
__ADS_1
Adeeva mengalungkan tangan di leher Ezra meringankan beban laki ini tidak bertumpu pada kekuatan tangan saja. Keduanya tinggalkan kamar mandi menuju ke ranjang pasien.
Adeeva diperlakukan bak putri raja oleh Ezra. Biasa Ezra dilayani kini laki ini melayani.