Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Yang Mana Buta


__ADS_3

Adeeva berubah seratus delapan puluh derajat. Dari Adeeva panas sekarang jadi Adeeva sejuk. Kelucuan Adeeva sirna berubah jadi serius. Jujur Ezra tak suka. Adeeva yang sekarang berkesan munafik. Bertolak belakang dengan sifat aslinya.


Adeeva menuntun Ezra sampai ke meja makan lalu membantu laki itu duduk barulah mengurus makan laki itu. Don perhatikan semua gerak gerik Adeeva berkesan tulus bantu Ezra. Andai saja Adeeva tahu semua hanya sandiwara betapa sedih gadis itu. Niat baiknya disalah gunakan oleh Ezra.


Adeeva memperhatikan Ezra makan takut laki itu belum biasa hidup dalam kegelapan. Rasa kesal pada Ezra berubah jadi rasa iba. Kalau Adeeva berada di posisi Ezra juga belum tentu mampu terima keadaan begini.


"Bapak mau minum kopi?" tawar Adeeva berbaik hati. Laki itu setiap pagi minum kopi untuk luruskan otak yang keriting akibat memikirkan banyak persoalan. Jangan karena buta kebiasaan itu dihilangkan!


"Memang ada kopi?" tanya Ezra tak mencium bau kopi di atas meja.


"Nggak sih! Aku akan pergi belanja untuk isi kulkas. Tak mungkin toh kita order makanan online terusan. Nggak cukup gizi untuk orang sakit. Bapak harus minum jus wortel tiap hari untuk memulihkan penglihatan. Siapa tahu cepat sembuh!"


Don bersorak dalam hati Adeeva telah temukan cara menyiksa penipu macam Ezra. Ezra paling benci jus wortel yang konon katanya bau langu. Don tahu Adeeva bukan sengaja mau siksa Ezra tapi wortel memang sangat baik untuk kesehatan mata. Berhubung laki itu buta maka Adeeva ambil inisiatif meramu jus wortel agar mata Ezra cepat pulih.


Ezra meringis tak berani membantah. Hari-hari mendatang bukan hari baik jika anak gadis itu bersikeras suguhkan minuman menyehatkan itu.


Ezra makan dengan hati-hati khas orang buta. Don puji akting luar biasa Ezra. Don tak sangka Ezra punya bakat terpendam jadi seorang aktor tanpa sutradara.


Adeeva cepat-cepat menghabiskan sisa makanannya agar bisa mengejar belanja. Mumpung masih ada Don temani Ezra di rumah maka Adeeva bisa pergi dengan tenang.


"Hei kenapa terburu-buru makan? Santai saja." tegur Don.


"Aku mau belanja. Mumpung Uda ada di sini kawani pak Alvan. Gimana kalau jatuh dari apartemen? Kan bikin susah bidadari di langit!"


"Apa maksudmu?" tanya Ezra kurang suka cara Adeeva ejek dia.


"Kalau bapak lewat kan jumpa bidadari. Mereka bakal susah hati kedatangan cowok hidung belang. Rayu sana sini! Ribut deh mereka! Kunasehati bapak duduk manis jangan ngelayap biar bikin heboh di alam lain. Ntar sudah uzur baru ke sana ya!" kata Adeeva seperti membujuk anak kecil. Ezra hanya bisa mengelus dada dikerjain anak kemarin. Salah sendiri mengapa bikin cerita sendiri tanpa ada yang sponsori.


Don tertawa ngakak suka cara Adeeva kerjain Ezra. Rasain laki penipu! Rutuk Don cuma bisa dalam hati.


"Kau doain aku cepat mati?"


"Aduh pak! Kalau ajal belum tiba pantang mati. Buta bukan berarti bapak akan mati. Bayar dulu semua dosa termasuk kadalin anak orang. Minta uang! Aku mau belanja." Adeeva kontan tagih uang Ezra untuk penuhi kebutuhan laki itu. Adeeva tak rela gunakan uang pribadi bayar belanjaan Ezra. Dia kaya sedang Adeeva hidup dalam kebatasan.


"Perlu berapa?


"Aku bukan kasir supermarket! Mana tahu habis belanja berapa! Nanti ada struk belanja. Kalau bapak kasih lima ribu boleh juga. Kubeli tusuk gigi doang buat bersihkan gigi setelah makan angin!" ujar Adeeva bikin perut Don yang baru diisi makanan bergejolak. Don tertawa geli dengar ocehan Adeeva bikin kuping tergelitik.


"Ambil kartu ATM di dompet aku! Pergunakan semau kamu!"


"Kurasa itu tak baik. Itu milik pribadi bapak mana boleh kupakai gitu saja! Gini saja! Bapak kasih uang kontan. Berapa aja deh! Aku belanja berdasarkan duit bapak saja. Dapat tempe dan tahu sudah boleh."


"Aku tak pernah bawa uang kontan. Mau belanja atau tidak? Jangan cerewet sekali!" bentak Ezra supaya Adeeva tak banyak adu mulut lagi.


"Iya..." Adeeva malas berdebat nanti dipikir aniaya orang buta. Rusak reputasi baik Adeeva bully orang cacat."Sudah buta masih galak! Dasar hiu ompong!"


"Dengar ya! Kuping aku tak buta." seru Ezra dengar omelan Adeeva.


Don dibuat takjub hubungan dua insan ini. Tom and Jerry di alam nyata. Apa ada bos dan anak buah saling musuhan? Bagaimana bisa kerjasama kalau asyik berdebat.


"Kalian begini tiap hari?" tanya Don tak bisa sembunyikan rasa penasaran.


Ezra mengangguk. Ezra suka Adeeva yang begini. Apa adanya tidak sok imut. Tidak ada rekayasa dalam setiap kelakuan.

__ADS_1


"Itu daya tarik dia! Aku lebih semangat setelah jumpa dia. Cuma dia kurang suka padaku. Aku tak tahu apa sebabnya." kata Ezra lebih mirip mengeluh.


"Kalian datang dari dua dunia berbeda. Dia itu bagai burung tak mau dikurung sedang kamu ini produk setara sama bokap dia. Apa dia bisa tertarik? Berapa umurnya?"


Belum sempat Ezra menjawab Adeeva sudah kembali bawa dompet Ezra. Sekilas dilihat dompet itu terbuat dari kulit asli yang harganya bisa beli motor baru. Bahkan lebih dari itu. Tapi itu bukan urusan Adeeva. Yang kaya Ezra bukan dia.


"Ini dompetnya pak!" Adeeva menyodorkan dompet warna hitam itu ke muka Ezra. Lama Ezra tak beri reaksi membuat Adeeva sadar bosnya itu buta. Adeeva mengambil dompet itu lalu letakkan di telapak tangan Ezra biar laki itu yang ambil isi dalam dompet. Adeeva tak mau tanggung jawab bila terjadi kehilangan dalam benda hitam itu.


"Kau pilih yang mana ATM!" pinta Ezra biarkan dompet itu tetap berada dalam genggaman Adeeva.


"Pak...aku tak tahu kartu mana yang harus dipakai. Aku yakin kartu bapak itu banyak. Nanti ada kesalahan teknis buntutnya ke hotel gratis. Aku masih muda belum mau habiskan waktuku makan tidur gratis." Adeeva tetap bersikeras tak mau buka dompet Ezra. Itu barang pribadi yang tak boleh dilangkahi Adeeva. Hilang uang Adeeva jadi terdakwa utama.


Ezra salut pada sifat keras kepala Adeeva. Karakter kuat sulit digoyahkan. Adeeva makin istimewa di mata Ezra.


Laki ini membuka dompet lalu perlihatkan deretan kartu yang berbaris rapi di dompet. Adeeva menelan air ludah kagum pada nasib Ezra punya banyak lubang untuk gali fulus. Nasib mereka bagai langit dan bumi. Di dompet Adeeva hanya ada satu kartu ATM berisi uang hasil keringat sendiri.


"Ambil yang berwarna hitam. Pasword sandi tanggal lahir kamu!"


"Kok aku lagi? Emang tanggal lahir aku pasaran ya pak! Semua orang lahir di hari itu juga." sungut Adeeva bukannya senang dijadikan ikon Ezra. Gadis mengambil kartu itu lalu berlalu tanpa kasih tahu ke sana pakai kenderaan apa.


Setelah Adeeva pergi Ezra menghembus nafas lega. Dia tak perlu berakting lagi tanpa Adeeva. Capek juga harus berpura-pura jadi orang lain. Ternyata jadi seorang aktor bukan pekerjaan mudah. Kita harus hayati peranan kita sampai mirip dengan kenyataan.


Don mengetuk meja salut pada pilihan Ezra yang satu ini. Angkuh tak butuh pertolongan orang lain. Wajar Adeeva sombong karena dia mampu. Adeeva punya segalanya kecuali uang.


"Kau lihat dia? Selama ini beginilah dia perlakukan aku! Aku ini tak ada harga buat dia. Malah ngajak berantem." kata Ezra melihat ke arah pintu yang telan Adeeva.


"Ada masa suram lhu juga ya! Berapa sih umurnya?"


"Masih muda banget! Pantes dia panggil aku om. Untung dia mau panggil aku uda. Untung aku dikit! Kau dipanggil bapak kan? Artinya dia itu anak lhu!"


"Cerewet...kau teleponi Ruben katakan kecelakaan ini! Sama cerita katakan aku buta. Aku mau test anak itu juga. Aku mau lihat berapa banyak pengkhianat harus kuhabisin."


"Beres bro! Cuma kumohon jangan kelewatan sama Poni. Dia betul anak lugu belum kena radiasi. Oya tadi kudengar kau panggil dia Ade. Itu nama aslinya?"


Ezra mengecilkan mata heran mengapa Don sangat tertarik pada gadis mudanya. Ezra tak harap Don punya rasa manis pada Adeeva. Cukup Ruben bikin pusing dia minta Adeeva. Jangan tambah satu lagi orang di sekitarnya suka pada gadisnya.


"Kau senang pada dia?"


"Suka...dia lucu dan kuat! Kita ini seperti minta perlindungan dia bila bersama anak itu. Ada rasa aman dan nyaman." sahut Don jujur tak mau berbohong.


"Kunasehati rasa suka itu jangan lewat dari batas! Cukup suka saja. Ok?"


"Kau betul cinta padanya atau hanya penasaran ada gadis banting harga diri kamu."


"Aku tahu batasan perasaan aku! Dia itu susah disegel jadi milik pribadi."


"Sudah kau cicipi?"


"Berdasarkan sifat brutalnya aku bisa apa? Aku akan buat dia menyerahkan diri secara suka rela. Aku tak mau memaksa dia karena dia itu gadis masih ada segelnya. Aku hormati gadis model itu."


"Bagus...Untung kamu masih waras tak merusak masa depan anak orang."


Ezra sengaja tidak kasih tahu kalau Adeeva adalah salah satu isterinya. Orang pasti akan memandang rendah pada status Adeeva jadi isteri ke enam. Orang tak mau tahu apa di balik alasan Adeeva masuk daftar selir-selir Ezra. Orang hanya melihat dari kulit kalau Adeeva piaraan orang kaya.

__ADS_1


Ezra mesti lindungi nama baik Adeeva. Suatu saat Ezra akan perkenalkan Adeeva sebagai satu-satunya istri Ezra Hakim Dilangit.


"Sudahi tentang Poni! Telepon Ruben dulu. Suruh handel kantor hari ini. Besok aku baru ke kantor."


"Semalaman kuteleponi dia tapi tak angkat. Eh bukan.. hpnya tidak aktif! Aku akan coba lagi!" Don mengeluarkan ponsel dari saku mencari kontak Ruben. Nama Ruben memang berada di barisan kedua setelah nama Poni.


Don aktifkan panggilan keluar. Syukurlah ponsel Ruben sudah aktif.


"Halo... pagi-pagi ganggu! Ada apa guy?"


"Ke mana saja kamu semalam? Aku capek telepon kamu tapi tak aktif."


"Sengaja kumatikan karena penghuni istana Pak Ezra sedang bikin ulah. Hp aku nyaris meledak diteleponi orang-orang dari sana. Ya kumatikan! Emang ada yang penting?"


"Bos kamu kecelakaan. Dia kehilangan penglihatan untuk sementara. Trauma akibat benturan di kepala. Kata dokter itu tidak permanen cuma kapan bisa lihat lagi kita tak tahu. Bisa hari ini, besok ataupun tahun depan. Aku di apartemen bersamanya. Ezra pesan kau handel kantor dulu. Dia masih ingin menenangkan diri."


"Ya Tuhan...tragedi apa ini? Aku segera ke sana. Kau tolong jaga dia dulu! Nanti aku pikir siapa yang rawat dia."


"Itu tak perlu kau pikirkan! Di sini sudah ada Poni."


"Poni? Di mana kau temukan keledai songong itu? Di cari sampai ke lubang tikus tidak ada. Sekarang malah muncul sendiri!" omel Ruben marah pada Adeeva. Kalau bukan gara Adeeva Abangnya takkan terpuruk sedih. Ezra sedih kehilangan kuda kecilnya.


"Poni bukan keledai. Poni dan keledai beda ras. Aku cuma sampaikan pesan Ezra. Kantor jadi tanggung jawab kamu."


"Aku akan datang lihat kondisi abang aku! Ini bukan soal bos dan bawahan tapi antara saudara. Aku bagaimana bisa tenang kalau terjadi hal sebesar ini. Kantor butuh dia apalagi sekarang sedang kacau. Aku datang. Tunggu aku!"


"Terserah!"


Don mematikan ponsel lalu letakkan di atas meja. Kini Ezra harus matian berakting untuk yakinkan orang sekeliling kalau dia buta. Bukan akting mudah pura-pura buta untuk cari fakta pengkhianat kantor dan rumah.


"Well...kau harus bertahan hingga akhir! Kau yakin mampu?"


"Akan kucoba! Kau hubungi Pangeran tutup mulut! Aku yakin pasti ada yang akan cek di rumah sakit."


"Ok... Oya...apa benar di Poni pintar masak?"


Ezra mengangguk, "Bisa masak cuma kurang pedas! Dia itu serba bisa. Otaknya licin selicin wajahnya. Dia itu S2 mau cari S3. Seumur gitu sudah S2. Apa bukan ada kelebihan?"


Cerita Ezra makin menambah nilai tinggi Adeeva di mata Don. Pantas Adeeva pede dalam segala hal karena dia mampu dan bisa.


"Apa iya dia semiskin itu?"


"Kau percaya pada gayanya? Dia itu pelit campur sombong. Kukasih ATM dan kartu kredit satu sen pun tak mau dia ambil. Dia itu sengaja mau pamer kalau dia itu bukan cewek matre. Tapi aku punya kelemahan dia! Dia tak bisa lari dari aku." Ezra tersenyum licik ingat bisnis Abah Adeeva banyak bergantung pada perusahaan mereka.


Don kuatir Ezra gunakan kelemahan Adeeva jepit gadis itu sampai tak mampu bergerak. Walau baru kenal Don sayang dan suka pada Adeeva. Suka sebatas kagum pada jiwa muda bertalenta.


"Tahu diri ya bro! Lhu udah tua untuk main kucingan dengan Poni."


"Itu tak perlu kuatir! Aku akan jaga dia semampu aku!"


"Apa bukan dia jaga kamu? Badan lhu boleh gede tapi soal skill bela diri kau tidak ada apa-apanya." ejek Don masih kurang suka Ezra cari keuntungan pribadi dari seorang gadis sebaik Adeeva. Don menyayangkan nasib Adeeva harus jumpa laki bar-bar andalkan kekayaan model Ezra.


"Maka itu aku perlu dia! Kau tutup mulut saja bro! Kita lihat sampai di mana dia bertahan sok kuat. Nanti sudah melahirkan anak Dilangit baru ada kisah baru."

__ADS_1


__ADS_2