Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Mutasi


__ADS_3

Adeeva ngoceh menolak pekerjaan yang akan mendatangkan pandangan negatif. Jadi Aspri bos selalu dianggap gula-gula para pengusaha kaya. Adeeva masih waras tak mau dijadikan bahan gunjingan orang satu kantor. Mending jadi tembok penderita tempat para manager bersandar. Adeeva yang menahan beban agar mereka berdiri kokoh.


"Kau mau di pecat?" Ezra berkata dingin.


"Pak...cewek model aku tak cocok jadi Aspri. Merusak pasaran bapak sebagai bos kaya. Aspri kok kayak gembel." Adeeva tega menjelekkan diri sendiri untuk hindari jabatan yang jauh dari kata ok.


"Lalu maksudmu Aspri aku harus bagaimana?"


Adeeva memutar otak membayangkan bagaimana sosok Aspri sejati. Mengenakan baju sexy pamer paha mulus, bentuk tubuh gitar Spanyol, rambut Mayang terurai dengan wajah dicat warna warni kayak pelangi. Itu bukan style Adeeva. Terlalu mencolok jadi manusia. Jadi pusat perhatian.


"Ada satu yang cocok buat bapak!" Adeeva menemukan kandidat paling tepat untuk Ezra. Selalu jadi pusat perhatian seantero kantor.


"Jangan bilang Celine ya! Aku alergi cewek jual tampang."


"Apa kubilang? Bapak ini cocok buka praktek peramal. Isi otakku langsung ketebak. Salut deh! Celine itu cantik, bahenol, pinpinbo dan menyebalkan."


"Pinpinbo??? Apa itu?"


"Pintar-pintar bodoh..." jawab Adeeva menguras tawa Ruben. Ezra hanya menahan senyum agar tetap keren di mata Adeeva. Susah jaga image di depan gadis konyol ini.


"Kamu saja rasa dia menyebalkan kenapa rekom ke saya? Mau minta dipindahkan ke Papua?"


"Papua? Jauh amat pak! Kasihan abah dan Umi! Mau jumpa anak sepuluh tahun sekali. Itu sih tak apa cuma takut ketularan hitamnya!"


"Terserah kamu! Jadi Aspri selama aku di sini atau pindah ke Papua urus pertambangan!"


"Oh cuma selama bapak di sini?" mata yang tadi mulai sendu kini bersinar lagi mirip bintang timur baru muncul. Berkilauan berbintang di sana.


"Iya...mau ikut ke pusat juga boleh. Kau akan kuangkat jadi penjaga rahasia perusahaan."


"No thanks...cukup begini saja. Berhubung hanya sementara Kuterima job ini. Apa tugasku?"


"Aspri harus dua puluh empat jam di samping bos. Melayani segala keperluan bos dari pekerjaan hingga mengurus makan minum dan pakaian. Kau harus tinggal di rumahku selama aku di sini."


"Tunggu pak...Aspri atau bini? Itu sih bukan Aspri lagi tapi bapak melamarku secara tak langsung jadi bini." Adeeva goyang tangan berkali-kali menolak pekerjaan yang melecehkan harga dirinya.


Ezra dan Ruben mau tertawa namun di tahan. Apanya mau dilamar, Adeeva memang istri Ezra yang paling bungsu. Adeeva melayani Ezra bukanlah dosa! Mereka sah di mata Allah. Cuma Adeeva tak terpikir sedang bekerja pada suami sendiri. Adeeva selalu visualkan suaminya kakek jompo tinggal tunggu undangan ke alam baka. Anak ini tak tahu suaminya gagah perkasa bikin para perempuan mabuk kepayang.


"Kalau gitu kulamar kamu jadi istriku. Biar kita halal bisa berduaan."


"Tidak terima kasih. Aku belum gila pak! Aku bukan calon bini idaman lelaki. Kasar, jorok, bodoh dan pemalas. Bukan cewek idaman cowok. Bapak jangan mau rugi punya bini model aku! Makan hati..." Adeeva promosi keburukan diri sendiri dengan gaya serius.


Ezra tidak termakan ocehan Adeeva. Gadis ini sengaja ciptakan rumor negatif agar Ezra mati rasa pada Adeeva. Ezra sudah makan asam garam dunia mana mungkin terprovokasi asalan Adeeva. Hanya orang stress jelekkan diri sendiri.


"Sudah jangan bising! Mulai hari ini kau duduk di kantor ini! Lanjutkan kerjamu di sini! Pulang ikut aku!" Ezra tak mau panjang cerita dengan gadis songong binti konyol. Makin ngobrol makin melenceng ke belahan dunia lain. Tidak ketemu topik utama.


"Pak...kalau bapak sudah tidur aku boleh pulang kan? Kita bukan muhrim tak baik satu rumah. Dosa lho sama bini bapak nyimpan cewek di rumah!" Adeeva belum menyerah perjuangkan nasib tidak masuk ke dalam pusaran permainan para bos.


"Aku tidur sangat malam. Kau mau pulang jam berapa? Tengah malam?"


"No problem...aku bisa pulang jam berapa saja! Ok..deal!" Adeeva keluarkan telapak tangan hendak toast dengan bosnya. Ezra buang muka tak mau ikutan songong kayak Adeeva. Ezra sengaja bawa Adeeva ke dalam hidupnya untuk lindungi gadis itu sekalian mengenal karakter gadis ini. Apa tujuan Adeeva menjadi istrinya padahal dia punya potensi besar. Tidak seperti istrinya yang lain. Jual tampang tanpa otak.

__ADS_1


"Ben...pindahkan barang nona ini ke sini! Mulai detik ini dia Aspri aku! Beritakan pada seluruh kantor kalau nona Adeeva berada di bawah naungan aku!" Ezra perintahkan Ruben memindahkan barang Adeeva dari lantai enam ke lantai atas.


Adeeva mencubit pipinya rasakan ini mimpi atau kenyataan. Tiba-tiba saja diangkat jadi Aspri bos pusat tanpa pemberitahuan dari direktur kantor. Apa Adeeva tidak akan dapat masalah? Adeeva hanya pegawai kecil mendapat perhatian bos. Tentu saja dengungan mulut lebah akan muncul sana sini. Adeeva tak suka difitnah yang bukan-bukan. Adeeva bukan penyabar yang sanggup tutup kuping dengar fitnahan tanpa dasar. Salah-salah Adeeva bisa hadiahkan bogem mentah pada tukang fitnah.


"Maaf pak! Biar kususun sendiri barangku! Ada barang pribadi yang tak cocok disentuh orang lain. Aku bisa bawa sendiri. Barangku tak banyak."


"Baik...segera balik sini setelah beres barangnya!"


"Iya pak!" Adeeva merasa tak guna melawan bos besar. Kalau dia sanggup bawahi ratusan karyawan pasti sanggup tangani Adeeva yang hanya punya modal otak cerdas.


Adeeva kembali ke ruangnya dengan lunglai. Canda tawa di divisi akan vakum selama Adeeva dipindahkan ke ruang bos. Imron dan Desi kehilangan pelawak berbakat alam.


Adeeva melempar pantat ke kursi duduk lemas. Gadis ini mengacaukan rambut sendiri hingga acakan. Tapi tak mengurangi kecantikan alaminya.


Desi dan Imron saling melirik bikin kode pakai mulut. Keduanya mengacu pada Adeeva yang tampak berantakan.


"Ada apa lagi neng?" tanya Imron.


Adeeva menatap Imron dengan mata sedih. Untung Adeeva bukan gadis cengeng gunakan air mata sebagai perisai mencari dukungan.


"Aku dipindahkan ke ruang pak Ezra. Jadi Aspri.." keluh Adeeva


"What? Kok bisa? Kau tak ada tampang jadi Aspri neng!" Imron berseru kaget. Kalau Adeeva pindah divisi mereka akan makin gersang. Adeeva yang bikin divisi mereka terasa nyaman dengan ide dan lawakan lucu.


"Siapa yang pindahkan kamu?" Judika ikut syok bakal kehilangan anak buah berpotensi tinggi. Judika tak sangka Adeeva dipanggil bos untuk tempati lahan yang diidamkan para wanita. Siapa tak mau jadi asisten pribadi raja tambang terkaya setanah air. Bahkan masuk daftar orang kaya dunia. Bagi wanita lain ini berkah tapi bagi Adeeva ini musibah.


"Pak Judi yang ganteng. Tolonglah aku! Aku tak mau dicap dompet bos! Aku akan makin rajin kerja tapi pertahankan Adeeva tetap di sini." Adeeva merengek mirip anak SD minta perlindungan.


"Siapa yang pindahin kamu?" tanya Judika serius.


"Orang pusat itu! Songong nya gue harus dua puluh empat jam di sampingnya. Lebih mirip gundik ketimbang karyawan. Gue ogah harus tinggal di tempat bos. Merusak reputasi gue sebagai girl without love. Pak Judika sayangku! Bosku yang paling kucintai..." rengek Adeeva bikin kepala Judika makin puyeng. Gimana mau melawan penguasa mereka. Salah sedikit bisa get out dari perusahaan.


"Nggak ngerayu...tak ada uang receh! Aku akan jumpai pak Dirwan! Aku akan usulkan Celine jadi Aspri bos."


Adeeva menyalami Judika penuh semangat tak sadar kerahkan tenaga dalam membuat Judika meringis kesakitan. Tenaga pelatih taekwondo dilawan.


"Kamu mau bunuh aku ya! Biar kamu naik pangkat gantiin posisi aku!" Judika menarik tangannya korban tenaga inti Adeeva.


"Kerupuk amat pak! Sekarang bapak pergi jumpa direktur. Bilang saja Adeeva itu orangnya kasar, kadang kumat sakit jiwanya suka tinju orang. Hanya divisi ini sanggup kerja sama dengan aku. Pokoknya kuijinkan bapak jadi pengarang bebas. Siapa tahu dipecat dari sini kita bisa jadi pengarang novel." Adeeva kasih semangat pada Judika pertahankan dia di tempat sebelumnya.


"Baru hari ini aku tahu di dunia ini ada orang gila berlagak waras." omel Judika keluar dari ruangan menuju ke lantai atas cari direktur untuk batalkan perpindahan Adeeva.


Adeeva tidak setuju pindah merupakan moments langka. Para karyawan bermimpi bisa dekati bos, yang ini malah lari tunggang langgang dari bos.


Imron dan Desi juga tak rela Adeeva dipindahkan ke tempat lain. Mereka terlanjur nyaman bekerja sama dengan anak gadis rajin itu. Semua tugas selalu kelar di tangan Adeeva. Sedikit apapun tetap ada penyelesaian.


"Eva...kenapa kau tolak kesempatan emas dekati bos?" tanya Desi agak iri.


"Kakak bilang kesempatan emas? Eva bilang jalan menuju jurang. Dalam tak punya dasar. Sekali jatuh takkan lihat dunia ceria lagi. Suram hingga akhir jaman. Eva ogah terjun bebas ke jurang. Eva masih suka kerlingan sama kang Imron. Kalau akang berniat poligami bilang ya!"


"Kau mau jadi bini simpanan aku?" olok Imron.

__ADS_1


"Poligami...enak aja! Gue kerling kang Imron lihat apa mata kang Imron melirik cewek lain. Kalau ada akan kulapor sama teh Uci." ujar Adeeva disambut tawa garing Desi.


Imron mimpi mau jadikan Adeeva wanita piaraan. Sebelum ada niat Imron sudah hancur di gasak Adeeva.


"Nggak asyik...main lapor!"


"Ini kulakukan demi teh Uci dan Emilia.." Adeeva menyebut nama anak Imron dengan pas.


"Iya...terima kasih neng!" geram Imron kalah debat.


"Kang tahu kenapa aku tak mau pindah?"


"Mana kutahu akal kancil mu! Sejuta akal nakal." sungut Imron seraya cek ulang data di laptop.


"Gampang saja tidak tertebak. Kalau aku pergi kang Imron pasti ngelaba asyik turun ke lantai bawah. Ada neng Pipit si rambut pirang.." ejek Adeeva seolah tahu Imron mulai tidak setia pada anak istri.


"Kualat lhu ejek orang tua! Akang doain sepatu lhu hilang di bawa tikus."


"Tenang kang! Sepatu aku sudah jaman kakek moyang. Tikus kekinian mah ogah curi sepatu bolong sana sini. Tikus kini pintar cari mangsa. Cari yang sepatunya berhak runcing. Semoga akang bukan termasuk tikus nakal."


"Doa apa itu?"


"Doa anak sholeha!" ujar Adeeva dibarengi tawa lepas.


Desi dan Imron ketawa terkekeh-kekeh lihat gaya Adeeva. Andai Adeeva dipindahkan duduk satu meja dengan bos maka divisi mereka akan mati suri. Takkan beda dengan suasana di kuburan. Tak ada canda tawa penghibur di kala duka lara.


Judika kembali tak kalah loyo dengan Adeeva. Judika tak perlu mengeluarkan kata sudah ada jawaban tepat. Judika gagal misi pertahankan Adeeva. Gitulah bunyi berita dibawa Judika.


Adeeva tidak buang waktu lagi membereskan barangnya masuk dalam tas kresek. Tak banyak barang Adeeva hendak dipindahkan. Yang utama adalah laptop dan dokumen yang sedang dia kerjakan. Beberapa barang pribadi cukup dimasukkan dalam tas kresek.


Judika menatap Adeeva dengan putus asa. Siapa yang akan keluarkan ide brilian bila sedang dalam keadaan dead lock. Siapa yang akan hibur mereka di kala hampir mati tenggelam dalam pekerjaan.


"Sori BESTie...aku tak berhasil bujuk bos. Sudah kurekom Celine tapi keputusan ya tetap kamu. Katanya kamu cerdas bisa menjawab tantangan masa kini."


"Pak Judi percaya?"


"Mana kutahu...kan bos yang minta kamu ke sana! Kamu harus jaga diri jangan sampai terjerumus dalam materi. Itu akan menempelkan jidatmu dengan kata obral."


Tangan Adeeva bergerak malasan memasukkan barang ke tas kresek. Kerja Adeeva lamban kayak siput merangkak ke sawah. Dari sini ke sawah butuh waktu satu abad. Belum tiba di sawah siputnya sudah jadi fosil.


"Va...kalau kami jumpa dead lock kau harus siap ya!" pinta Judika masih berharap Adeeva mau kerja sama.


"Siap pak! Aku pasti akan rindu pada Omelan bapak. Rindu pada umpatan kang Imron, rindu pada nasehat kak Desi. I love you all!" Adeeva berkata lebay seakan pergi jauh padahal masih satu kantor cuma pindah lantai.


"Kami yang akan rindu padamu! Jangan lupa pulang sini kalau dipecat bos besar!" kata Desi baru merasa sedih karena Adeeva harus pindah divisi.


"Dipecat pasti get out dari sini! Pokoknya setelah bos pulang ke pusat gue akan pulang kandang. Di sini tempat cocok bagiku. Adeeva pamitan ya! Kalau selama ini Adeeva ada salah harap di maafkan!" Adeeva membungkukkan badan beri salam hormat kepada senior yang telah membimbing nya selama bekerja di situ.


Suasana haru menyelimuti divisi yang telah membesarkan Adeeva. Pertama kali di kantor di sinilah tempat Adeeva. Di mutasi secara mendadak membuat Adeeva merasa ganjil. Lebih banyak sedih ketimbang bahagia.


"Jaga kesehatan ya! Ingat akan dosa supaya kau tidak terjerumus dalam kebodohan."

__ADS_1


"Ngerti kak!" Adeeva mengingat semua nasehat Desi. Desi lebih senior dari Adeeva wajar beri nasihat. Adeeva masih hijau di biarkan keluyuran di antara hamba nafsu. Desi tak rela Adeeva dijadikan mainan orang kaya.


__ADS_2