
Wanita itu tepuk tangan ntah puji Adeeva atau sindir Adeeva sok alim. Dikasih kartu tanpa limit tak digunakan merupakan kata pemanis di bibir. Mana ada wanita sanggup menahan godaan toko perhiasan, toko tas mewah dan pakaian kelas atas.
"Mau jadi orang sok suci?" yang lain ikut serang Adeeva.
Adeeva tak kenal satupun di antara mereka. Yang mana isteri paling tua sampai ke urutan terakhir. Adeeva berusaha setel emosi ke titik nol agar tidak kena perangkap. Bikin ribut akan memperburuk keadaan. Dia datang dengan baik, pergi juga harus dengan cara baik.
"Suci dalam arti apa? Soal materi aku tidak tertarik. Kaki dan tangan aku masih berfungsi baik. Jadi untuk apa jadi pengerat? Ditaburi bedak mahal tetap saja tikus pengerat." ujar Adeeva dari balik niqab.
Ada satu dari wanita itu tertawa renyah suka cara Adeeva bantai orang sok elite tapi hanya mengandalkan uang pemberian suami.
"Ini wanita cocok untuk Hakim! Tegas tidak munafik. Apa yang dia katakan itu benar! Kita ini memang pengerat. Tiap hari hanya tahu belanja dan foya-foya. Ayo duduk adik bungsu! Tak usah tegang. Kita di sini semua kakak adik. Kau tentu tak kenal kami! Sini kuperkenalkan! Aku sebut nama berdasarkan urutan ya. Itu Renata, aku Dorce dan ini Michelle, Farah dan Soledad. Kau Adeeva bukan?" Adeeva menangkap persahabatan dari orang bernama Dorce. Tampangnya sebelas dua belas dengan yang lain. Bedak ditumpuk ke wajah mirip topeng monyet. Lipstik warna norak jadi pelapis bibir sensual para selir Hakim.
Adeeva merangkap kedua tangan di dada beri salam pada seluruh yang hadir. Adeeva harus main cantik tidak merusak nama baik keluarganya. Adeeva sudah yakin ingin segera hapus nama Dilangit dari belakang namanya. Nama yang bawa sejuta bencana bagi Adeeva. Makin cepat kabur makin baik.
"Assalamualaikum...aku Adeeva. Maaf sudah agak keras tadi! Aku hanya membela diri dari fitnah." Adeeva merendah diri sedalam lautan. Adeeva takkan beraksi bila tidak diserang duluan. Tujuan Adeeva hanya ingin lepas dari ikatan tak sehat ini. Lain tidak.
"Sudah...ayok semua duduk! Hakim segera datang!" kata seorang wanita anggun duduk di ujung meja.
Keenam isteri Hakim duduk keliling meja dengan susunan tiga lawan tiga saling berhadapan. Sedang di ujung meja sebelah kiri duduk dua wanita lebih tua berdampingan dan ujung meja sebelah kanan masih kosong. Adeeva menduga itu tempat duduk maha raja.
Kini Adeeva berpikir ulang. Dua wanita yang paling tua belumlah tua banget! Siapa mereka berdua dan apa pangkat mereka. Ibu suri atau ratu tak bermahkota. Kalau ibu suri belum tua amat berarti suaminya juga belum setua bayangannya. Pusing kepala Adeeva pikir profil suaminya.
Suasana menjadi hening tatkala seorang pelayan berbisik pada wanita di ujung meja. Wanita itu kontan berdiri seperti senang dengar laporan pelayan.
"Hakim sudah tiba!" ujar wanita itu girang.
Jantung Adeeva berdetak sejuta kali lebih kencang dari biasa. Saking kencang sesak jadinya. Oksigen di seluruh ruang seolah sirna memaksa Adeeva tahan nafas. Belum pernah Adeeva gugup dan takut hadapi masalah tapi malam ini Adeeva mati kutu.
Detak sepatu kulit mahal bergema memecahkan keheningan dalam ruangan. Semua terdiam menahan nafas tunggu kehadiran maha raja dari setengah lusin selir.
Mata Adeeva di balik kacamata nyaris meloncat keluar melihat sosok orang yang disebut Hakim. Untung dilindungi kacamata, kalau tidak sepasang mata indah itu sudah kabur dari rongga mata saking kagetnya.
Pria tinggi tegap melangkah masuk dengan sikap angkuh dan sombong. Matanya memancarkan sinar dingin siap bekukan orang adu pandang dengannya.
Adeeva mencubit paha sendiri coba test ini mimpi atau nyata. Sekali putar daging dalam balutan celana ketat rasa sakit melanda artinya semuanya real. Bukan mimpi buruk.
"Selamat malam...sudah hadir semua?" laki itu berdiri di ujung meja mengedarkan mata ke sekeliling meneliti wajah isterinya satu persatu. Terakhir jatuh pada Adeeva. Adeeva melihat senyum licik samar terukir di wajah orang itu.
Kalau bukan di rumah orang lain ingin rasanya Adeeva hajar setan pembohong itu. Permainkan Adeeva bulat-bulat seperti bola ditendang kanan kiri.
"Hakim sayang...kenapa lama tidak pulang?" tanya wanita yang Adeeva anggap ibu suri.
"Aku sibuk ma! Di kantor banyak masalah. Keuangan perusahaan sedang tidak baik. Dan aku pulang kali ini untuk selesaikan beberapa kekacauan di rumah."
__ADS_1
Adeeva tak duga wanita itu adalah ibunya Hakim. Masih belum terlalu tua. Adeeva tidak peduli dengan semua ini karena rasa ingin bebas makin besar. Dia betul apes terjebak makin dalam.
"Kekacauan apa sayang? Bukankah semua berjalan aman?"
"Kita makan dulu atau kita langsung ke topik?"
"Topik..." usul Adeeva tak bisa menahan diri. Adeeva sudah gregetan ingin hajar laki yang jadi lakinya. Pembohong tukang sandiwara.
"Tak sabar amat nona..." kata Ezra Hakim Dilangit tersenyum ngejek. Laki ini puas melihat Adeeva kesal dipermainkan. Ezra atau Hakim tahu bakal ada perlawanan dahsyat dari gadis ini. Beberapa bersama Adeeva Ezra mulai kenal sifat bengal Adeeva. Pemberontak kelas Wahid.
"Makin cepat makin baik!"
"Baik...sesuai permintaan isteri bungsu aku maka aku buka sidang malam ini! Pertama kuminta mama jangan berikan aku wanita lagi! Sudah cukup enam. Aku tak sanggup biayai para wanita-wanita ini lagi. Setiap bulan perusahaan harus kucurkan dana sampai dua tiga milyar untuk dihambur oleh wanita di rumah ini. Perusahaan mulai tersendat akibat pemborosan berskala besar ini." Ezra to the point buat para selir bungkam tak berani bersuara.
"Sayang...mereka wanitamu harus selalu tampil modis! Apa perusahaan tak sanggup tutupi uang tak seberapa ini?" ibu suri membela para selir. Adeeva ingin berontak lagi namun pilih tutup mulut dulu biarkan Ezra bicara lebih jauh.
Adeeva kasihan juga pada Ezra disikat para selir. Untung dia tidak tertarik pada kartu pemberian Ezra. Dendam kesumat ditunda dulu biar Ezra selesaikan kerugian perusahaan gara-gara uang dihambur tak jelas.
"Ma...sekarang perekonomian sedang hancur. Perusahaan merugi terusan jadi kupikir semua kartu kalian akan diblokir sampai kondisi perusahaan aman. Kalian hanya diberi uang jajan sesuai standard selain uang belanja dapur. Itu saja!"
"Apa? Kartu diblokir? Aku sudah pesan cincin berlian dari Afrika. Barang langka...aduh mas Hakim! Gimana ini?" seru Renata mirip cacing kena minyak panas. Meliuk tak jelas arah.
"Aku mau beli tas Hermes edisi terbaru. Cuma empat ratus juta." timpal wanita bernama Soledad.
"Mama dengar rengekan ini? Ini sebab aku malas pulang sini. Malam ini aku panggil kalian semua karena aku punya solusi buat kalian." kata Ezra sambil berdiri tegak di ujung meja. Adeeva akui Ezra sangat keren dalam keadaan begini.
Kakek bangkotan hanyalah ilusi ciptaan Adeeva. Dari awal Adeeva suudzon pada suaminya. Tak sedikit Adeeva sangka bos dan suami satu orang. Dasar dia yang tolol tidak peka sehingga dijadikan mainan oleh Ezra.
"Solusi apa mas Hakim sayang?" kata Farah manja. Wanita ini juga kebat kebit menanti keputusan Ezra cabut kartu kredit mereka.
"Aku takkan pulihkan kartu kredit kalian. Kalau kalian keberatan silahkan ajukan tuntutan pisah dariku! Aku akan beri kompensasi setimpal. Kalian bisa lanjutkan hidup di luar sana dengan sejumlah uang kuberi." kata Ezra tenang.
Adeeva bersorak dalam hati. Akhirnya jalan kebebasan telah terbuka. Ezra sendiri tawarkan perpisahan tanpa syarat. Senyum penuh kemenangan terukir di wajah tersembunyi di balik cadar.
"Aku betah di sini. Aku adalah istrimu selamanya." tukas Farah cepat.
Yang lima lain tak bersuara. Adeeva sudah pasti akan ajukan tuntutan pisah. Kapan lagi ada kesempatan ini kalau bukan dari sekarang.
"Terserah kalian...aku sudah bilang apa adanya! Tak ada lagi kartu kredit. Uang jajan lima juta sebulan asing yang belanja untuk dapur. Itu saja!"
"What? Cuma lima juta? Bisa beli apa?" seru Renata sang calon ratu karena dia bini pertama.
"Terserah beli apa! Ku beri waktu kalian berpikir. Hubungi aku kalau ada ingin tinggalkan rumah ini! Aku tak larang. Dan ada satu lagi. Orang yang sudah kunikahi secara hukum tak boleh tuntut pisah karena dia sah isteri resmi." kata Ezra melirik Adeeva. Ezra pingin sekali lihat reaksi gadisnya di balik cadar niqab. Berubah hitam atau putih semua.
__ADS_1
Ibu suri terloncat bangun tak sangka anaknya secara diam-diam telah nikahi satu di antara wanita-wanita ini jadi isteri sah tanpa koordinasi dengan dirinya. Siapa yang beruntung menjadi ratu sudah bermahkota.
"Kau...kau menikah tanpa ijin mama?" seru ibu suri berang merasa tak dihargai. Perihal sangat penting tidak diskusi dengan dirinya dulu.
"Mama jangan lupa! Aku sudah menikahi mereka cuma belum secara hukum. Aku sudah pilih satu untuk jadi isteri resmi." kata Ezra tenang tanpa melirik siapapun biar mereka saling curiga siapa yang beruntung dapat durian runtuh.
"Ini bukan masalah kecil. Bukankah kamu bilang siapa yang hamil itu yang akan jadi isteri sah." bentak ibu suri yang lebih dikenal Bu Humaira.
"Ada kok yang hamil!" sahut Ezra sambil tersenyum kecil bayangkan Adeeva mengamuk dalam hati.
Hati Adeeva pasti seperti ombak pecah di bibir pantai. Berulang-ulang dengan gelombang tinggi capai ubun kepala. Ezra sangat senang bisa bermain dengan gadis berdarah panas itu. Hidupnya jadi bervariasi jumpa gadis koplak bertemperamen membara.
Semua saling berpandangan dengan iri. Siapa yang berhasil membawa Ezra bergumul di ranjang. Tentu moments paling bahagia bisa berada dalam pelukan kokoh Ezra. Jangankan berharap bermimpi saja terasa mahal bagi wanita-wanita Ezra. Mereka dinikahi untuk jadi pajangan. Tak sekalipun Ezra menyentuh mereka. Kapan bisa hamil?
"Siapa dia? Mama mau tahu siapa yang jadi ibunya pewaris Dilangit? Apa sudah pantas jadi seorang ibu dari anak trah kita?" Bu Humaira ngotot Ezra harus jujur.
Ezra menurunkan badan duduk di kursi enggan menjawab. Ezra bukan orang bodoh menempatkan gadis nakal itu di pinggir jurang. Tim mamanya bisa saja tendang Adeeva masuk jurang. Lenyap selamanya tanpa bekas.
"Biar saja dulu! Nanti juga akan tahu. Diskusi kita cukup sekian. Kalau ada keluhan atau ingin terima kompensasi silahkan hubungi Ruben."
Adeeva teringat Ruben. Asisten itu ikutan permainkan Adeeva. Nyamar jadi asisten Hakim ikut bersandiwara. Anak itu harus rasakan tendangan berantai Adeeva. Adeeva takkan pelit bagi bogem dan tendangan buat Ruben secara gratis.
Berbagai rencana buruk terlintas di benak Adeeva balas kekalahan dia. Adeeva benar-benar kesal dicundangi Ezra. Dasar ikan paus tak punya hati. Mamalia tak punya perasaan.
"Hakim...mama mohon pertimbangkan rencana kamu pangkas uang isteri kamu. Apa kata orang bila tahu orang dari Dilangit seperti gembel?"
"Semua sama ma...jatah mama juga aku pangkas! Untuk sementara kita semua harus berhemat. Aku tak sanggup tanggung biaya luar biasa ini! Perusahaan merugi terus." ujar Ezra santai.
"Apa? Mama juga dapat jatah lima juta? Bukankah jatah mama unlimited?"
"Dulu iya...sekarang tak bisa! Apa mama mau lihat perusahaan gulung tikar? Kalau gulung tikar jangankan lima juta. Lima ratus ribu juga tak mampu kuberi. Maka itu aku beri solusi siapa yang mau mengundurkan diri. Aku akan talak dia dengan kompensasi cukup. Ada yang tertarik?" Ezra mengedar mata ke wajah para selirnya. Belum ada yang beri kepastian. Wajar mereka ragu karena hidup di bawah naungan nama besar Dilangit merupakan satu kebanggaan.
"Apa yang kau beri pada mereka?" tanya perempuan di samping ibu suri. Wanita ini lebih kalem tidak begitu bergebu menantang Ezra.
"Sudah pasti rumah lengkap fasilitas dan mobil. Serta sejumlah uang. Pikirkan baik-baik! Mau membusuk di sini atau hidup normal di luar. Dan lagi kucing-kucing liar numpang makan di sini akan segera aku basmi. Aku takkan beri toleransi pada orang yang beri umpan pada kucing liar. Hidup mewah di rumah aku dan ikut nikmati hasil jerih payah aku. Jika perlu ku cincang kucing kurang ajar yang doyan sepotong daging orang lain." yang ini Ezra berkata dengan suara kejam.
Adeeva tak begitu paham maksud Ezra. Hanya seekor kucing dia begitu marah. Nggak punya empati pada hewan.
Di sisi lain selir-selir Ezra pucat pasi. Ternyata Ezra tahu bahwa mereka piara berondong untuk memuaskan nafsu mereka yang tak tersalurkan. Ezra tak pernah beri nafkah sebagai suami isteri maka mereka ambil jalan pintas piara laki muda untuk hangatkan ranjang dingin.
Wanita di samping Bu Humaira tertawa lepas. Wanita ini senang Ezra berlaku tegas saat ini. Mengapa tidak dari dulu Ezra lakukan hal ini sehingga tidak terbuang uang sia-sia sampai beratkan perusahaan.
"Bunda rasa kau sudah benar Hakim...Saatnya kau tata keluarga besar ini. Bunda terima semua peraturan baru kamu. Bunda sudah tua tak perlu banyak biaya hidup. Jatah yang kau beri sudah lebih dari cukup."
__ADS_1