Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Jumpa Konco


__ADS_3

Adeeva harus kerja hati-hati agar para tikus tidak curiga Ezra telah tahu akal bulus mereka mencuri uang perusahaan. Kalau Adeeva total capai uang triliunan. Apa Ezra demikian kaya sampai uang triliunan raib dia tidak tahu.


Adeeva catat satu persatu rekening siap diretas olehnya. Kalau Adeeva orang nakal pasti sudah amblas duit Ezra. Tapi Adeeva tak berani lakukan hal itu karena bisa habiskan waktu bersantai di penjara. Makan tidur gratis.


Kejahatan di perbankan cepat terungkap. Kalau tikus-tikus pengerat berani lapor polisi maka kasus ini gampang terungkap. Polisi cukup cari ke mana larinya uang. Itu susah cukup jadi barang bukti jebloskan peretas ke penjara.


Belum sempat Adeeva memindahkan semua dana, Ruben datang bawa seperangkat meubel untuk Adeeva duduk menjadi pembantu Ezra. Meubel nya nyaris sama warna dengan punyaan Ezra. Cuma ukuran lebih kecil. Katakan adik dari meja Ezra gitu. Kursinya juga tak semewah punya Ezra.


Kursi Ezra dari kulit asli sedang punya Adeeva hanya dari kain biasa. Perbedaan sangat menyolok. Adeeva tidak protes karena tak merasa memiliki perabotan itu. Dia hanya numpang sampai uang perusahaan kembali kepada pemilik. Setelah itu dia kembali bergabung dengan tim di kota B.


Ruben melirik Adeeva yang duduk di kursi bos. Di situ Adeeva berubah jadi pemimpin sedangkan Ezra jadi Aspri karena berdiri di belakang Adeeva jadi pengawal.


Dua pekerja kasar juga terkesima melihat ada yang berani duduk di kursi kebesaran raja tambang ini. Biasa Ezra paling alergi orang sentuh barang dia. Gadis baru datang ini seenak dengkul duduk nyaman di kursi seharga jutaan.


"Nona Poni menu makan siang apa?" tanya Ruben sok sopan.


Adeeva bukannya tak tahu laki itu sedang menggodanya. Nada panggilan nona Poni dibuat selembut mungkin bikin bulu kuduk Adeeva merinding. Abahnya pasti sedang menangis darah akibat nama putrinya yang bagus disulap jadi Poni tanpa kenduri.


Adeeva bisa apa karena dia terlanjur masuk perangkap mulut lebar ikan paus. Adeeva hanya berharap Ezra punya rasa belas kasihan bebaskan Adeeva dari pernikahan paksaan ini.


"Tak usah Bendi...Aku ada janji makan siang dengan teman siap Zhuhur nanti. Terima kasih niat anda!" ujar Adeeva tak kalah lembut cuma menekan kata Bendi agar laki itu sadar gimana rasanya panggil orang dengan nama aneh.


Ruben melongo. Sejak kapan dia tumpengan ganti nama. Namanya juga nama keren. Bendi identik dengan kereta kuda.


"Kok Bendi?" tanya Ruben kurang suka nama barunya.


"Ada Poni tentu saja ada Bendi. Ya kan?" ujar Adeeva kalem.


"Mau balas dendam?" tegur Ruben hampiri Adeeva hendak menantang gadis itu.


Adeeva tidak tinggal diam meninggikan badan. Dengan sepatu ada sol tinggi Adeeva menjadi sosok lebih tinggi dari Ruben. Ruben menjadi di bawah Adeeva. Kedua saling berhadapan dengan sinar mata berkilat-kilat memancarkan aura permusuhan.


"Kalian ini preman ya? Mau berantem jangan di kantor aku. Pergi ke lapangan parkiran. Berantem jangan tanggung! Harus ada yang meninggal di antara kalian berdua." geram Ezra melihat dua asistennya ada penyakit jiwa. Ribut dalam kantor.


Dua pegawai yang bantu Ruben urus meja kerja Adeeva mengulum senyum. Ada bos koplak dukung anak buah berantem hingga ada yang tewas. Ini satu kejutan menggelikan.


"Hari ini aku tidak mood melawan cewek. Kalau tak mau disediakan makan siang ya sudah! Pak bos gimana?" Ruben kalah mental disuruh lawan Adeeva. Laki ini sudah saksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana hebatnya Adeeva kalau bertarung. Sekali kena tinjunya hidung bakal bonyok.


"Aku makan di luar juga. Aku ada janji mau jumpa kawan." sahut Ezra masih menatap layar monitor berisi data para pengerat. Ezra tak percaya uang perusahaan mengalir sedemikian banyak keluar tanpa dia sadari. Begini terus perusahaan bakal bangkrut. Dia harus ambil kembali semua yang menjadi haknya.


Adeeva hentikan misi untuk sementara karena munculnya banyak orang. Dia tak mau jadi tersangka kejahatan perbankan. Dia hanya orang kerja yang mendapat tugas dari atasan.


Ponsel Adeeva bergetar tanpa ada suara musik atau nada panggilan. Adeeva sengaja hilangkan nada panggilan masuk ganti dengan getaran. Adeeva tak ingin kerjanya terusik oleh nada panggilan yang bising.


Senyum Adeeva merekah lihat nama siapa yang tertera di layar. Gadis ini segera geser badan agak jauhi Ezra. Adeeva tak mau Ezra ikut campur urusan pribadinya.


"Assalamualaikum sayang.. kau di mana?"


"Waalaikumsalam...gue tunggu lhu! Gue kirim alamat ya!"


"Lhu sudah di sini? Wah bagus! Kalau rindu tak perlu capek nyetir tiga jam!"


"Lhu betapa di sini? Gue apes tak boleh balik ke kota B. Kalau lhu di sini gue tertolong! Lhu tinggal sama gue ya!"


"Ajak kumpul kebo? Nggak bisa. Gue ada anak asuh yang harus gue pertimbangkan. Maklumlah anak horang tajir. Bayangin...makan dan mandi harus diurus!"

__ADS_1


Kuping Ezra terasa panas diejek Adeeva. Siapa lagi sasaran Aspri songong ini kalau bukan dirinya. Kata kumpul kebo juga mengusik kuping Ezra. Dengan siapa dia mau kumpul kebo.


"Hehehe...asuhan lhu bayi ketelan badak ya! Kita jumpa dulu! Gue rindu plus kangen!"


"Gue juga... jumpa nanti! Eh.. lhu yang traktir ya! Gue lagi miskin! Beli pembalut saja tak ada dana!"


Ruben dan Ezra tak habis pikir di dunia ini masih ada cewek tak segan umbar kekurangan pada teman. Orang yang jadi lawan bicara Adeeva tentu teman sangat dekat baru cewek ini berani asal bunyi.


"Tenang...gue beliin satu kotak. Lhu halangan tiap hari biar cepat habis. Usah ach..kita jumpa nanti. Gue share lokasi ya!"


"Ok darling! Jumpa nanti! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Adeeva menyimpan ponselnya dengan wajah sumringah. Betapa bahagianya Adeeva teman seperjuangan telah tiba di kota yang sama. Dia telah punya teman curhat kalau lagi sumpek hadapi ikan paus.


Ezra perhatikan kegembiraan Adeeva dengan hati galau. Siapa yang akan dijumpai cewek ini. Kebahagiaan tersirat di wajah cantik itu. Jujur Ezra takut Adeeva telah memiliki tambatan hati. Pantas dia matian ingin bebas dari Ezra. Apa ada yang lebih menarik darinya.


"Pak...aku boleh ijin keluar makan siang? Aku ada janji jumpa sahabat di satu tempat." Adeeva berkata pada Ezra pamitan hendak jumpa Nunik sahabat kental.


"Jumpa siapa? Pacar?" Ezra menyipitkan mata menyelidiki ekspresi wajah Adeeva. Ezra berharap gadis ini menggeleng.


"Lebih dari pacar. Pokoknya teman baik dah! Permisi... assalamualaikum..." Adeeva menyambar tas kecilnya tanpa menanti jawaban ijin Ezra.


Adeeva sudah hafal sifat Ezra yang nyinyir. Tunggu ijin bisa sampai lebaran baru dapat cuti libur. Mendingan main koboi nyelonong pergi. Yang penting dia sudah lapor akan pergi.


Ruben surprise lihat cara brutal Adeeva. Bos terganas di dunia tambang tak berkutik hadapi Adeeva. Seberapa kuat Adeeva sampai Ezra mati kutu lawan gadis muda.


Ezra bengong tak kalah surprise dari Ruben. Belum sempat dia jawab kuda Poninya sudah duluan kabur mengejar janji.


"Cerewet...aku ada janji dengan orang! Selesaikan kerja kalian dan jangan tinggalkan kotoran." kata Ezra dingin. Lelaki ini mematikan perangkat komputer karena tahu di kantornya banyak mata-mata mamanya. Silap sedikit ekornya akan ditangkap Bu Humaira. Ezra mesti super hati- hati kalau mau selamatkan perusahaan.


Ezra pergi dengan langkah tegap. Gaya bos besar tersemat dalam sosok tubuh Ezra. Dia pantas jadi bos karena kharismanya memang luar biasa. Tak heran para cewek histeris mau jadi pendamping Ezra walau hanya sebagai isteri simpanan.


Ruben tidak tertarik pada Ezra tapi pada gadis pemberontak bikin Ezra pusing tujuh keliling. Ruben masih ada kesempatan curi perhatian Adeeva selama cewek itu tak suka pada Ezra. Ternyata tak semua cewek gila harta. Masih ada yang pandang cinta di atas tumpukkan dolar.


Di tempat lain Adeeva kabur dengan ojek online menuju ke tempat yang telah ditentukan Nunik. Adeeva tak begitu hafal jalan di kota karena jarang tinggal di sini. Waktunya banyak habis di kota B dan kampung Uminya. Cuma sekedar cari tempat di tuju mungkin bukan hal sulit. Sekarang jaman serba canggih. Tinggal hidupkan ponsel tempat mana jadi rahasia. Semua terjangkau.


Adeeva tiba di depan satu restoran cukup besar. Sekali lihat Adeeva tahu makan di situ harus korek kocek cukup dalam. Untuk Adeeva pribadi tak mungkin buang uang hanya untuk isi perut. Beli nasi Padang di pinggir jalan cukup uang dua puluh ribu.


Adeeva ragu untuk masuk memilih cari aman teleponi Nunik dulu. Kalau sudah masuk keluar lagi tanpa pesan makanan sungguh memalukan.


Adeeva tak mau tanggung resiko bikin malu diri sendiri.


"Halo say... assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam...sudah berangkat? Gue sudah di resto."


"Gue di depan resto tapi gue takut salah. Restonya mahal mbok!"


"Isshhh...tunggu situ! Gue keluar!"


Adeeva pilih patuh agar jangan salah langkah. Udara agak panas menyengat bikin wajah putih Adeeva berona merah. Bukan hasil pulasan blush on tapi hasil ciptaan Tuhan.


"Hei baby..."

__ADS_1


Adeeva menoleh melihat Nunik datang merentangkan tangan minta pelukan Adeeva. Tak usah dilukiskan dengan kata bagaimana kedua gadis ini saling melepaskan kangen. Keduanya seperti terpisah ratusan tahun lalu saking rindunya. Padahal baru pisah beberapa hari.


Di dramatis sedikit biar tampak keren. Seperti dalam cerita film-film dua sahabat jumpa setelah puluhan tahun berpisah. Cipika-cipiki berangkulan penuh kegembiraan. Betul-betul lebay gadis konyol ini.


Puas melepaskan rasa kangen keduanya segera masuk ke dalam restoran. Nunik membawa Adeeva ke salah satu meja yang telah mereka pilih.


Mata Adeeva nyaris keluar lihat siapa yang duduk di meja tempat pilihan Nunik. Orang sudah dua kali dia jumpai. Orang yang telah tanam jasa baik pada Adeeva.


"Tiang listrik?" seru Adeeva surprise jumpa Satria di sini.


Nunik menaikkan alis dengar panggilan aneh Adeeva pada laki yang duduk tenang di kursi. Laki itu tersenyum kalem cukup senang lihat siapa sahabat adiknya. Satria tak sangka akan jumpa Adeeva lagi di sini. Teman dekat adiknya pula. Jodoh takkan ke mana lari.


"Hei ..ini mas Satria! Kok berubah jadi tiang listrik? Papi aku pasti akan bikin perhitungan dengan kamu seenak dengkul ganti nama anaknya."


Adeeva tak peduli pada omelan Nunik. Adeeva lebih tertarik pada Satria yang mendadak berubah jadi abang Nunik. Mimpi seribu kali Adeeva tak duga si tiang listrik Abang dari sahabat kentalnya.


"Mas ini benaran abangnya si Nunik? Kok beda amat ya? Abangnya waras kok adiknya kurang dikit!" Adeeva duduk tanpa ijin Nunik.


Nunik jewer kuping Adeeva her diejek kurang akal. Mulut Adeeva kapan baru bisa ditertibkan. Sekali ngoceh bikin sakit hati.


"Tuh lihat mas! Ada kurang segaris kan? Kuping aku yang indah jadi korban pelecehan adik mas!" Adeeva mengelus kupingnya korban keganasan Nunik.


"Kamu yang stress.. pergi tanpa pamitan! Kau harus tinggal bersama aku jadi jongos aku." Nunik menarik kursi duduk di samping abangnya biar lebih jelas pelototi wajah cantik Adeeva.


"Ogah...tak ada gaji paling diumpan dedak!"


"Dasar gila! Lhu pikir gue ini penggembala bebek? Gue umpan lhu cacing tanah!"


"Emang gue ikan? Sudah cukup ada ikan paus dalam hidup gue. Catatan hitam paling buruk dalam sejarah Adeeva. Eh...lhu balik ke tempat Bu Sulis?"


Ditanya begitu Nunik langsung muram durja. Kelihatannya Nunik tak bisa kembali tekuni olahraga keras yang dia geluti selama ini. Dia harus kembali pada keluarga karena cukup lama jadi buronan.


"Mungkin tidak...kau akan jadi duda deh!" kata Nunik murung.


Adeeva manggut berusaha paham. Semua orang punya kesulitan sendiri. Nunik pasti kena tekanan dari keluarga baru tak berkutik tak bisa hidup merdeka seperti dulu.


"Tak apa...Kita kan masih bisa Videocall! Jarak bukan halangan bagi sahabat. Walau kita dipisahkan oleh lautan, ombaknya takkan membelah wajahmu!" Adeeva sok puitis membuat Satria yang dari tadi nyimak menahan tawa.


"Emang Kota J dan kota B dipisah oleh lautan? Gunung kali.." protes Nunik karena puisi Adeeva tak tepat sasaran.


"Nggak romantis amat! Gimana kalau pacar lhu ngerayu kamu? Dibilang secantik bulan lhu mau protes bulan sudah tak perawan karena sudah diinjak kaki cowok? Dasar kanibal..." sungut Adeeva.


"Aku tak suka cowok tukang gombal. Langsung to the point saja! Orang suka gombal itu biasanya playboy tidak laku."


"Ok...tak suka tukang gombal mungkin suka tukang las."


"Jauh amat angan lhu!"


"Lha tak perlu gombalan! Langsung las hati kalian menyatu tak terpisahkan!"


Nunik tertawa renyah dengar ide sahabatnya. Satria sadar kalau dua gadis ini sangat akrab. Tak ada rasa iri atau dengki. Selalu berdebat tapi ujungnya bikin ngakak.


"Kalian mau makan atau berdebat sampai magrib?" tegur Satria kalem buyarkan debatan songong.


Adeeva dan Nunik tertawa renyah ditegur oleh Satria. Mereka kapan serius bahas sesuatu. Ketawalah sebelum ketawa itu dilarang. Itu motto mereka

__ADS_1


__ADS_2