Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Selamat


__ADS_3

Bu Yuni terdiam dengar keluhan Ezra. Bu Yuni tak menyangkal kalau keluarga pihak Humaira sudah masuk terlalu jauh dalam perusahaan Ezra. Boleh dikatakan lebih separuh kekuasaan berada di tangan pak Jul.


"Lalu ibu bisa apa?"


"Awasi mama dan keluarganya. Sekarang penjahatnya sudah di kantor polisi. Sebentar lagi kita akan tahu siapa dalangnya! Bu... sekarang ibu satu-satunya orang bisa kuandalkan! Mohon bantu aku!"


"Hakim...bagi ibu kamu sudah seperti anak sendiri! Ibu juga ada satu permintaan. Kalau masalahmu selesai ibu mau pulang ke pulau Sumatera habiskan masa tua bersama orang yang bisa beri ibu kedamaian."


"Bu...apa maksud ibu?"


"Ibu jumpa kawan lama di reunian. Kami lama ngobrol cerita masa lalu. Isterinya sudah lama meninggal maka dia berniat ajak ibu bangun keluarga di kampung ibu. Kau ijinkan?"


"Asal ibu senang aku ikut senang! Aku dukung bila ibu rasa itu yang terbaik."


"Terimakasih sudah mau ngerti ibu. Kami di sana akan jadi petani sayuran saja karena daerah ibu kan penghasil sayuran terbaik di pulau Sumatera."


"Aku akan bantu ibu kembangkan pertanian. Semoga ibu bahagia."


"Amin..."


"Pokoknya ibu bantu aku perhatikan gerak gerik mama. Jangan sampai mereka rencana sesuatu yang merugikan perusahaan."


"Akan ibu usahakan tapi kadang mereka diskusi di dalam rumah mama kamu. Ibu mana enak ikut masuk."


"Begini Bu! Tempatkan mata-mata di rumah mama."


"Akan ibu coba! Kamu juga harus hati-hati terhadap gerakan Ilham dan Ika. Mereka sudah terbiasa hidup enak. Kau rampas kesenangan mereka bukankah sama saja rampas nyawa orang itu?"


"Akan ku perhatikan Bu! Ibu juga jaga diri! Sudahan ya! Dokter sudah datang. Aku jumpa dokter dulu!"


"Ok..."


Ezra segera menyimpan ponsel cadangan yang bentuknya kecil hanya bisa telepon. Ada bisa buka medsos karena model candy bar. Ponsel utamanya jadi korban Adeeva sewaktu melempari penjahat untuk jatuhkan senjatanya. Ponsel itu pasti sudah remuk kena benturan. Ezra tak masalahkan ponsel melainkan keselamatan Adeeva.


Dokter keluar dari ruang tindakan sambil melepaskan sarung tangan. Dokter laki itu memandangi Ezra dalam-dalam seolah hakimi laki itu tak jaga keselamatan ibu hamil.


"Bapak ini siapanya nona tadi? Abang atau omnya?" tanya dokter itu agak tak bersahabat.


Kalau bukan ingat Adeeva sedang berjuang ingin sekali Ezra sumpal mulut dokter ini dengan aspal. Enak saja bilang Ezra omnya Adeeva. Apa tampangnya setua itu tidak sepadan dengan Adeeva?


"Aku ini suaminya..." ujar Ezra ketus.


"Oh...suami toh! Bapak ini lengah jaga bumil muda. Ini sangat berbahaya karena bisa membuat nona tadi aborsi alami. Bapak sangat tidak bertanggung jawab. Belum pantas jadi orang tua." dokter itu betulkan kacamata terus perdengarkan kata-kata menyudutkan Ezra.


Bukan ini yang ingin didengar Ezra melainkan kondisi Adeeva. Bagaimana nasib anak isterinya saat ini?


"Pak dokter...ceramah nanti di mesjid atau di forum. Gimana kondisi isteri aku?"


"Kamu cuma kuatir isteri kamu? Anaknya tak mau lagi?"


Kesabaran Ezra sedang dapat ujian berat. Jumpa dokter songong pancing emosi Ezra. Seorang dokter seharusnya lapor kesehatan pasien namun yang satu ini mirip guru sedang ajar anak sekolahan.

__ADS_1


"Ya Allah pak! Bisa kena serangan jantung aku ini! Bapak senang ya tambah pasien! Aku mau tahu kondisi keluarga aku! Anak isteri aku!"


"Gitu dong! Untuk sementara anak dan isteri selamat. Cuma dia harus bed rest untuk stabilkan kondisi janin-janinnya. Kita takut pendarahan susulan."


"Tunggu pak dokter. Kok janin-janin? Kok kayaknya rame?"


"Itulah bapak tak punya tanggung jawab. Anak dalam kandungan isteri berapa orang saja tak tahu. Aku kok jadi curiga kamu ini bapak dari bayi di perut nona tadi. Ngaku-ngaku ya?" dokter kembali betulkan kacamata yang melorot sampai ke hidung.


Kalau Ezra ikuti amarah bisa lepaskan bogem gratis untuk dokter rada sinting ini. Di dunia ini mana ada orang gila mau akui anak orang sebagai anak sendiri.


"Pak...aku juga baru tahu isteri aku hamil. Kami tak sengaja tahu dia hamil. Cuma cek sekedarnya. Sekarang katakan apa yang terjadi dengan anak aku!"


"Ooo..gitu toh! Baiklah! Sini kubisiki...anak kamu kembar dua. Jenis kelamin belum tahu. Senang toh?"


Ezra terpana sampai mulutnya terbuka. Dapat satu anak saja dia sudah bersyukur. Ini dapat dua sekaligus merupakan berkah bagi Ezra. Ingin sekali Ezra menangis terisak untuk luapkan emosi bergumpal dalam dada.


Dokter itu ayunkan tangan di depan mata Ezra sadarkan laki itu dari luapan emosi.


"Halo...masih hidup?" tegur dokter itu melucu.


"Oh dokter...terima kasih sudah bantu anak isteri aku! Isteri aku itu agak tomboy tak menyadari telah hamil berapa bulan. Apakah mereka sehat?"


"Untuk sementara aman tapi ingat kurangi aktifitas berat. Apa istrimu itu kuli bangunan? Tangannya sangat kasar dan keras."


Kali ini Ezra tidak kesal lagi walau Adeeva diejek seperti kuli. Adeeva selalu berlatih tinju karung pasir bagaimana tangannya tidak keras.


"Dia pelatih taekwondo."


Ezra mengangguk malu. Ezra tak perlu malu pernah dihajar isteri perkasa. Dalam berumah tangga wajar saja terjadi klase. Kebetulan Adeeva yang kuat maka Ezra yang kena sasaran.


"Yang sabar ya pak! Isteri anda akan diantar ke ruang rawat inap. Tunggu saja di sana!"


"Pak dokter...minta ruang VIP ya! Beri perawatan terbaik pada isteri aku."


Dokter itu menyelidiki Ezra apa sanggup bayar harga kamar ruang VIP yang serba mahal? Dari penampilan Ezra saat ini sangat jauh dari kesan orang kaya. Pakaian standar orang biasa ditambah penampilan tak karuan. Rambut riap-riapan seperti tak sentuh sisir dari sepuluh tahun lalu.


"Kamar VIP itu mahal lho!"


"Aku sanggup beli rumah sakit ini jika perlu. Tempatkan saja isteriku di kamar terbaik. Perlu deposito?" Ezra tak bisa sembunyikan rasa jengkel pada dokter kepo ini.


"Yaelah...sensi amat! Ok..ruang super VIP!"


"Terimakasih..."


"Aku tinggal dulu mau bikin catatan tentang riwayat nona cantik itu. Omong-omong kamu paksa nona itu menikah dengan kamu ya? Ada pakai dukun?"


"Pak...catat saja namaku Ezra Hakim Dilangit. Dan itu Adeeva Larasati Dilangit."


"Ok...Dilangit ya?" dokter itu belum kenal siapa Dilangit. Dokter bukan orang berkecimpung dunia bisnis mana tahu yang namanya Dilangit. Tanya soal penyakit mungkin akan lolos dengan nilai sempurna.


Ezra mengurut dada lega setelah dokter itu pergi. Ezra lupa tanya nama dokter itu karena di dada kiri tak ada tertulis nama dokter itu.

__ADS_1


Ezra berucap syukur Adeeva dan anaknya lolos dari maut. Tak sampai di situ Ezra dapat bonus anak kembar. Apa bibitnya sangat bagus sampai cetak anak kembar. Ezra belum percaya pada dokter songong itu? Apa betulan dokter? Tampaknya lebih mirip pelawak ketimbang dokter kandungan.


Kedua orang tua Adeeva tiba perlihatkan tampang orang susah hati. Wajar kedua orang tua Adeeva kuatir pada nasib anak mereka. Bukan cuma itu saja, nasib cucu mereka juga dipertaruhkan.


Ezra menyambut mertuanya sopan menyalami mereka seperti permintaan Adeeva. Dia harus bisa jadi imam baik untuk Adeeva baru betulan mau diakui sebagai suami. Ezra harus makin semangat untuk merebut hati Adeeva. Di dalam perut adeeva tersimpan 2 bayi yang diidamkan Ezra selama ini.


"Bagaimana Eva?"


"Alhamdulillah aman! Kedua bayinya juga selamat."


Abah dan Umi saling berpandangan tak sangka Ezra akan jadi pria perkasa persembahkan dua sosok cucu untuk mereka.


"Dua? Bayi kalian kembar?" tanya Abah tak kalah girang.


"Kata dokter sih gitu! Cuma sewaktu periksa di kota B tidak bilang dua bayi. Nanti kita pastikan sekali lagi. Atau kita pindah rumah sakit lebih canggih!"


"Tak usah. Dokter itu telah berhasil selamatkan Eva dan anakmu harus kita hargai. Sabar saja! Di mana bisa jumpa Adeeva?"


"Mau dibawa ke ruang perawatan. Kita tunggu saja. Aku akan cari perawat khusus rawat Adeeva. Aku kan harus ke kantor."


"Tidak perlu. Ada Umi kok! Kita rawat bersama. Eva anaknya kuat kok!" sahut Umi.


"Tapi jaga orang sakit itu susah. Aku takut Umi bakal capek!"


"Tidak capek untuk dua bayi. Umi sanggup rawat Eva. Umi tak sabar mau jumpa Eva."


"Sebentar lagi datang. Aku pergi urus administrasi dulu ya! Nanti pihak rumah sakit pikir kita mau minta perawatan gratis."


"Pergilah!" kata Abah tak sabaran mau cepat jumpa Adeeva.


Umi berkhayal jadi Oma dari dua cucu ganteng atau cantik? Cewek cowok tak jadi soal yang penting terlahir sehat dan sempurna.


Adeeva disorong keluar dari ruang tindakan penyelamatan. Wanita itu sudah sadar tampak tegar tidak syok maupun mewek seperti wanita lain. Bagi Adeeva bisa selamat sudah syukur. Untuk apa pakai acara drama melankolis. Itulah Adeeva di gadis besi.


"Eva..." buru Umi begitu lihat Adeeva di atas brankar. Umi tak sabar ingin peluk anak semata wayang.


"Umi...Umi datang?"


"Tentu nak! Ezra yang teleponi kami untuk datang. Kau enakan?" Umi menggenggam tangan Adeeva erat-erat tak ingin berpisah.


"Eva tak apa Umi." sahut Adeeva berusaha tenang supaya Uminya tidak berpikiran.


"Syukurlah!"


"Bu...kita antar ibu muda ini ke ruangan agar lebih nyaman! Nanti kita ngobrol di ruangan ya!" perawat yang tangani Adeeva sudah tak sabar laksanakan tugas antar pasien ke tempat perawatan. Mereka bisa ditegur bila abaikan kesehatan pasien.


"Oh maaf! Aku terlalu gembira jumpa putri aku! Silahkan sus!"


Adeeva didorong ke lift khusus untuk orang sakit yang lebih luas. Lift itu hanya boleh digunakan oleh orang sakit. Tak bisa digunakan untuk umum.


Kedua orang tua Adeeva terpaksa cari lift lain untuk naik ke lantai di mana Adeeva bakal dirawat. Peraturan tetap peraturan. Peraturan dibuat untuk dipatuhi bukan dilanggar.

__ADS_1


__ADS_2