
Akbar sangat bijak tidak masalah Adeeva tidur bersandar di bahunya. Akbar tahu hal ini sangat memalukan bagi seorang wanita dekat dengan seorang lelaki yang bukan pasangannya. Apalagi orang itu adalah Adeeva yang sangat keras hati.
Adeeva mencoba turun dari mobil Akbar melihat kondisi lingkungan baru yang akan jadi tempat tinggalnya untuk sementara. Satu pemukiman yang sangat sederhana karena rumah penduduk rata-rata agak berjauhan dengan halaman yang sangat luas. Rumah di depan mata mereka juga sangat sederhana semi permanen dengan halaman yang sangat bersih. Lingkungan yang sangat asri jauh daripada polusi udara.
Jauh mata memandang hanya melihat kehidupan yang sangat sederhana tanpa bangunan-bangunan besar. Ini artinya taraf hidup orang desa ini masih jauh di bawah rata-rata.
Akbar dan Supono biarkan adeeva melihat lingkungan barunya dengan puas. Kedua lelaki itu tidak mengusik Adeeva sampai dia puas memantau tempat tinggal nya untuk sementara. Akbar dan Supono berdiri di depan pintu menanti Adeeva mendekat.
Mungkin niat hati sudah terpuaskan Adeeva berjalan menghampiri kedua lelaki berbadan tegap itu. Sikap Adeeva sedikit canggung mengingat kejadian di dalam mobil.
"Ini rumah eyang. Ayo masuk! Eyang sedang bikin sarapan untuk kita." Supono persilahkan Adeeva masuk ke dalam rumah. Suasana rumah agak redup karena kurangnya cahaya masuk. Kesannya agak lembab tanpa penerangan.
Kursi juga sederhana dari kayu ukir. Adeeva tak tahu sudah berapa umur kursi ini. Yang pasti sudah tua seperti pemilik rumah.
Akbar pergi keluar mengambil tas Adeeva yang tertinggal dalam mobil. Akbar memang sangat gentle walau tidak sekaya Ezra maupun Krisna. Akbar punya nilai tersendiri di mata Adeeva. Lelaki begini yang bisa dijadikan kapten untuk bahtera rumah tangga.
Adeeva tak berani banyak bergerak di tempat baru. Adeeva belum tahu bagaimana sifat eyang Supono. Sok pandai akan bawa malapetaka buat diri sendiri.
Supono bawa tiga gelas minuman dari dapur. Bau kopi menggoda hidung. Adeeva tak tahu itu kopi jenis apa. Cewek mana ngerti soal minuman warna hitam itu. Yang tahu kopi itu hitam bisa tenangkan kepala kusut.
Supono meletakkan kopi persis di depan Adeeva seakan meminta Adeeva segera cicipi cairan hitam itu agar kepala nyaman.
"Ayo minum! Ini kopi dari kebun eyang. Semua serba asli." Supono promosi kopi buatannya sebagai kopi asli tanpa campuran.
"Terimakasih...di mana eyang? Aku mau kasih salam."
"Ada di dapur. Ayok kukawani salam eyang. Beliau senang kamu mau tinggal di sini temani dia." Supono berjalan duluan diikuti oleh Adeeva dari belakang. Gerakan Supono lemah gemulai beri tanda dia punya jiwa feminim tersembunyi. Dia sembunyikan jiwa feminim di balik tubuhnya yang kekar. Tapi tidak bisa tutupi dia memiliki sesuatu yang ganjil.
Mata Adeeva menangkap satu sosok berpakaian daster batik dengan kepala terbalut kain. Tubuhnya sehat berisi tak tampak dia seorang eyang dari cowok berbadan tegap.
"Eyang... assalamualaikum.." sapa Adeeva dahului Supono.
Eyang balik badan tinggalkan kompor gas yang masih menyala. Eyang tersenyum ramah sambut sapaan Adeeva.
"Waalaikumsalam..." perempuan tua itu senang jumpa anak tahu sopan santun. Semua orang tua harga anak muda yang ngerti hormati orang tua.
Adeeva bergerak menyalami eyang Supono cium tangan. Orang tua itu terkekeh ntah geli atau senang. Tangannya bau bawang karena baru potong bawang untuk masak nasi goreng. Pagi begini dari mana menu lengkap. Disuguhi nasi goreng sudah syukur. Adeeva sudah merepotkan eyang Supono pagi begini.
"Tangan eyang bau lho!" gurau Eyang ramah.
"Itu bau tangan perempuan eyang. Maaf ya pagi-pagi sudah merepotkan."
"Eyang senang direpotkan. Biasa eyang sendirian. Sekarang ada teman berbincang kan senang. Ayok duduk saja di luar! Sebentar lagi juga sudah beres."
"Apa tidak perlu aku bantu?"
"Tenang...ada masanya eyang suruh kamu kerja. Sekarang duduk manis tunggu hasil masakan koki ternama." canda Eyang membuat Adeeva lega jumpa eyang peramah. Rasa kuatir di hati Adeeva sirna takut akan eyang judes.
"Aku tak sabar tunggu hasil karya koki jempol."
__ADS_1
Supono lega juga lihat Adeeva dan ruangnya bisa bergaul baik. Eyangnya memang gampang beradaptasi dengan siapapun. Selalu positif thinking tidak pikir buruk untuk orang.
Supono dan Adeeva tinggalkan dapur beri luang pada eyang selesaikan tugasnya masak sarapan pagi. Di ruang tamu sudah ada Akbar tidur di kursi hanya bersandar pada sandaran bangku kayu. Laki itu tampak ngantuk berat setelah tidak tidur semalaman.
Supono dan Adeeva tidak mengusik Akbar. Biarlah laki itu istirahat sejenak pulihkan stamina. Adeeva beri kode pada Supono untuk cari angin segar di luar.
Laki itu ngerti kode Adeeva tidak ingin ganggu tidur Akbar. Mereka takut suara mereka akan ganggu waktu istirahat Akbar maka lebih baik ngobrol di luar.
Matahari belum bersinar garang malah beri kesan adem. Ada batang kayu mati yang terletak di bawah pohon rindang.
Adeeva berusaha kenali pohon rindang itu sebagai pohon. Tidak ada buah selain berkarang-karang bunga warna putih ungu. Bunga itu bakal buah nanti.
"Itu batang mangga. Katanya mangga harum manis. Buahnya memang sangat manis berserat halus. Cuma belum musim buah. Baru tumbuh bunga." Supono beri penjelasan tanpa diminta Adeeva.
"Oh...aku datang di waktu tak tepat. Mulut ini belum ada rezeki cicipi buah mangga eyang." Adeeva berkata seraya duduk di batang kayu mati. Mata Adeeva mendongak ke atas batang lihat seberapa rimbun batang ini. Kayaknya terawat baik baru punya bunga lebat. Kalau berbuah pasti banyak hasilnya.
"Beginilah hidup di desa! Sepi tanpa hiburan."
"Paling tidak di sini kita temukan kedamaian. Tanpa kemunafikan. Aku anak tunggal yang selalu hidup jauh dari orang tua. Kedua orang tua aku sangat baik namun mereka terlalu kekang aku harus begini begitu maka aku pilih hidup mandiri tanpa ingin nyusahin mereka."
"Kamu anak baik rela korban masa depan demi orang tua." Supono puji Adeeva lebih pentingkan orang tua daripada perasaan sendiri.
"Mereka sudah banyak memberi pada kita. Kita balas sedikit rasanya tidak berlebihan. Kamu gimana? Masa seumur hidup jadi bayangan mas Akbar?" Adeeva beranikan diri tegur Supono
Supono menepuk paha sendiri tak punya ide rencana hidupnya. Laki ini merasa hidup begini sudah cukup. Apa yang mau dia kejar di dalam hidup ini?
"Aku tak tahu. Untuk sementara aku bantu Akbar di peternakan. Aku juga terima membangun rumah orang. Sejenis kontraktor gitu!"
"Mas Akbar insinyur juga?"
"Dia peternakan. Sesuai dengan pekerjaannya! Ada adik angkatnya kuliah di Semarang. Akbar yang biayai kuliah anak itu. Anaknya agak sombong sadar abangnya kaya. Sering juga dia pulang."
Adeeva tidak ambil hati soal adik Akbar. Mau sombong atau baik itu bukan urusannya. Adeeva hanya tahu soal Akbar. Akbar itu laki baik dan pemurah hati. Punya ayah songong saja dia masih sanggup kendalikan emosi.
"Setiap orang punya masalah sendiri. Oya.. kalian harus balik ke peternakan sebelum ketahuan berada di sini. Nanti orang akan lapor keberadaan aku. Untuk sementara aku belum mau jumpa Ezra. Tunggu mulai sidang baru aku akan pulang hadapi dia."
"Terserah kamu saja! Rumah eyang selalu terbuka untukmu."
Adeeva tersenyum senang dihargai oleh Supono. Cepat atau lambat Adeeva pasti akan jumpa Ezra. Tapi tidak dalam suasana panas begini. Dia masih terbelit oleh Sonya dan selir-selir di istana. Biar laki itu tuntaskan masalah dia dengan para selir dan Sonya. Itu bukan ranah Adeeva hakimi Ezra tentang perempuan itu. Kunci Adeeva hanya satu Ezra itu lelaki cabul tak pernah puas sama satu wanita.
Dari dalam rumah eyang Supono keluar berdiri di pintu. Wanita tua itu melambai pada cucu dan temannya untuk masuk ke dalam rumah.
Supono ngerti kode yang diberikan oleh eyangnya segera bangkit dan mengajak Adeeva untuk masuk. Sarapan pagi tentu sudah tersedia di meja makan menanti mereka mengisi perut.
Baik Adeeva maupun Supono tak sabar ingin segera memanjakan perut keroncongan. Adeeva cukup lapar karena dari semalam makan tidak teratur.
Akbar masih tertidur di ruang tamu. Laki itu. berlayar ntah sampai ke mana. Kelelahan tenggelamkan Akbar dalam tidur sangat nyenyak.
Supono mau tak mau tetap harus bangunkan Akbar untuk makan pagi. Mereka harus segera bersiap balik ke peternakan menanti kelanjutan kisah Adeeva.
__ADS_1
"Hei bangun!" Supono mengguncang tubuh Akbar agak kuat supaya laki itu cepat sadar.
Akbar terbangun dengan muka bodoh menatap Supono agak lama. Akbar sedang mengumpulkan kembali ingatan di mana dia berada. Mungkin Akbar masih linglung tak sadar dia telah berada di tempat lain.
Adeeva ikutan membantu Akbar mengumpulkan ingatan dengan melambai-lambai tangannya di depan mata Akbar. Akbar hanya tersenyum kecil telah pulih ingatan.
"Maaf telah ganggu!" pinta Adeeva merangkap kedua tangan ke dada. Akbar tidak menyalahkan Adeeva malah memberi senyum tidak manis karena masih bau mulut.
"Aku yang minta maaf ketiduran. Kelewat ngantuk sih! Aku cuci muka dulu ya!" Akbar cepat-cepat pergi ke belakang untuk cuci muka biar segar sedikit.
Cukup lama Akbar di belakang ntah sedang lakukan apa. Mungkin sedang buang hajat yang telah dia tahan dari tadi. Rasa ngantuk mengalahkan panggilan alam itu. Sudah tidur sebentar Akbar puaskan diri keluarkan yang menyesak dalam perut.
Supono dan Adeeva sabar menanti biar sarapan barengan. Eyang masih sibuk pindahkan makanan dari dapur ke meja makan. Adeeva ingin bantu tapi ditolak nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun itu. Nenek tua itu masih angkuh sanggup kerjakan sendiri.
Orang yang ditunggu akhirnya muncul dengan wajah cerah. Akbar sudah wangi dan bersih walau masih pakai baju sama. Dengan wajah semangat laki ini bergabung dengan Adeeva dan Supono.
"Wah raja sapi ganteng banget! Ceria bener. Pasti dapat durian runtuh dalam mimpi ya?" gurau Supono goda Akbar.
Bukan Akbar yang malu melainkan Adeeva. Cewek ini teringat dia tidur bersandar manja pada Akbar. Pipi Adeeva berona sendiri tanpa diminta.
"Udara pagi bagus. Aku sedikit semangat. Oya mana eyang? Kita makan bareng."
"Eyang di sini. Ini eyang bawa kerupuk sebagai kawan nasi goreng." Eyang muncul dari dapur bawa satu stoples kerupuk sudah siap digoreng.
"Wah...lezat sekali! Ayo bismillah!" ajak Supono tak sabar ingin cicipi masakan eyang yang sudah lama tidak dia cicipi.
Kini semua tak malu-malu lagi. Malu hanya bawa sengsara. Perut lapar jika gengsi santap olahan koki kampung.
"Enak banget eyang!" puji Adeeva setelah beberapa siap lolos ke mulut. Pengalaman orang jaman tak bisa dilawan. Jaman ini banyak jenis nasi goreng namun tak bisa lawan nasi goreng penuh bawang goreng ala eyang.
"Masakan eyang selalu tokcer. Kamu belum makan sate buatan eyang. Sate terenak yang pernah kumakan." Akbar masih ingat sate yang dibakar oleh Eyang untuk dia dan Supono. Sudah lama berlalu tapi rasanya masih melekat di lidah.
"Akbar pintar ngerayu eyang. Eyang sudah tua tak sanggup kerja berat lagi." Eyang sudah tak mampu memasak kayak dulu karena faktor usia. Bikin sate bukan gampang karena harus duduk cukup lama untuk menusukkan daging ke lidi satu persatu.
"Eyang bikin bumbu biar Adeeva yang kerjakan yang lain. Nanti kalau Nunik sudah balik ke peternakan ajak dia ke sini. Kita pesta sate di rumah eyang." usul Adeeva pingin juga makan sate Blora yang sangat terkenal lezat.
"Asal kalian mau bantu eyang setuju. Eyang kan sudah rapuh."
"Siapa bilang eyang rapuh. Adeeva rasa eyang super keren. Masih bisa tinggal sendirian di desa tanpa bantuan orang lain." Adeeva memuji kesehatan eyang di atas rata-rata. Biasa seumuran eyang kena penyakit rematik, kolesterol, asam urat, bahkan penyakit jantung. Ini eyang tidak tunjukkan gejala penyakit yang di sebut.
"Sehat atau sakit itu datang dari kita sendiri. Kita jangan merusak pikiran dengan dendam dan amarah. Otak kita kacau akan undang semua jenis penyakit. Selalu dekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dan tawakal. Itu saja." Eyang beri resep hidup sehat dan awet muda.
Adeeva manggut-manggut salut pada pola pikir Eyang. Jauhi segala yang bebani pikiran. Buang pikiran negatif supaya hidup selalu ceria. Dari sini Adeeva mendapat pelajaran berharga. Hidup sehat tanpa dendam dan amarah.
Sekarang inilah bertahta di hati Adeeva. Amarah dan dendam pada Ezra yang telah hancurkan hidup Adeeva. Ezra telah merebut masa ceria Adeeva.
"Eyang...bagaimana kalau ada orang lukai hati kita sangat dalam?" tanya Adeeva minta pencerahan dari eyang.
"Kalau terluka harus ada obat. Obatnya adalah dari orang yang lukai kita. Cari dia dan minta penjelasan biar kita hapus semua luka dan dendam di dada. Kita simpan terus tanpa diobati maka luka itu akan membusuk. Akan bawa akibat fatal."
__ADS_1
Adeeva termenung dengar nasehat eyang. Mungkin eyang betul tak ada guna Adeeva simpan amarah yang bikin hidupnya sengsara. Dia harus berani melawan Ezra minta kejelasan agar mereka bisa hidup normal lagi.