
Adeeva tak tahu berapa jam dia tertidur. Tahu-tahu telah terdengar suara adzan membangunkan dia dari tidur cantik. Cewek ini melirik keluar jendela lihat kondisi di luar.
Di luar tampang cahaya matahari telah memudar sisakan cahaya temaram jelang senja. Gadis ini terloncat bangun ingat masih ada orang harus dikuatirkan. Adeeva belum bikin perhitungan dengan Ezra tentang raibnya segel mahal dia. Ada uang pun tak bisa di beli kembali. Pakai apa Ezra akan bayar dia.
Adeeva masih waras ingat tanggung jawab urus Ezra yang buta. Adeeva segera keluar dari kamarnya menuju ke arah kamar Ezra. Selama berapa jam ditinggalkan oleh Adeeva apa yang dikerjakan oleh lelaki itu. Walaupun sedang kesal pada lelaki itu Adeeva tetap harus melaksanakan tugasnya sebagai seorang asisten.
Ezra sudah rapi duduk di tempat biasa menghadap ke jendela dengan tatapan kosong. Melihat lelaki ini dalam keadaan sehat-sehat hati Adeeva terasa plong. Syukurlah tidak terjadi sesuatu pada lelaki ini.
"Pak...sudah mandi?" tegur Adeeva mendekati lelaki yang baru saja membuat ulah merenggut sesuatu yang paling berharga di dalam diri Adeeva.
"Sudah bangun?"
"Sudah..siapa bantu bapak ke kamar mandi?" Adeeva menatap curiga pada Ezra yang bisa sendirian lakukan banyak hal.
"Sendirian..." sahut Ezra tenang. Tak ada tanda dia mengelak kecurigaan Adeeva.
"Hmm...sudah bisa lihat toh? Mau main sandiwara?"
"Apa kau tidak lihat aku hampir mati terbentur dinding kamar? Aku terpaksa pakai baju yang sama karena tak tahu pilih baju."
Ezra memperlihatkan jidat agak merah seperti kejedot sesuatu. Bajunya memang baju yang dipakai pagi tadi. Belum diganti dengan pakaian yang lain.
Patah lah argumentasi Adeeva terhadap sandiwara Ezra. Lelaki ini memang terluka walau hanya luka memar. Itupun hanya memar kecil akan hilang dalam sekejap.
"Makan?"
"Sudah...kenyang makan angin! Nih satu piring penuh." Ezra menepuk perutnya bikin Adeeva tertawa geli. Apa iya makan angin bisa kenyang?
"Maaf aku ketiduran! Aku sangat lelah."
Ezra tertawa dalam hati dengar pengakuan jujur Adeeva. Bagaimana tidak lelah yang dia layani adalah badak jantan yang dengan kekuatan dahsyat. Berkali-kali sang badak menggempur kuda poni yang kecil.
"Kau pesan makanan online saja! Tak usah masak lagi. Aku sangat lapar."
Adeeva meringis tak enak hati tidur sampai melupakan tugas utama. Adeeva memang sangat lelah nyaris tak punya energi untuk lanjut kan hidup. Untunglah telah dicas sebentar maka ada tenaga urus bosnya lagi.
"Maaf pak!" lirih Adeeva.
"Aku juga minta maaf!" ujar Ezra ntah untuk kesalahan apa.
Kali ini terdiam merenungi pernyataan maaf dari Ezra. Adeeva bukan orang bodoh yang tidak mengetahui apa maksud dari perkataan lelaki itu. Tentu saja untuk pernyataan maaf atas kejadian semalam.
"Bapak kok tega?"
"Tega gimana? Kamu sendiri yang datang kepadaku dan menggoda aku. Kamu tahu sendiri aku telah duluan tidur. Aku tak tahu apa yang terjadi padamu sehingga kamu memaksa aku melakukan hal itu. Aku sebagai suamimu tentu saja akan melayanimu dengan sebaik mungkin. Apalagi ini adalah keinginan kamu sendiri." Ezra membela diri tak mau disalahkan oleh cewek ini. Andai kata mau dituruti bisa saja Adeeva menghajar Ezra atas kejadian ini. Cari aman adalah solusi paling tepat.
__ADS_1
"Apa aku sudah gila menyerahkan diri kepada bapak? Atau bapak sedang menjebak aku untuk menyerah pada bapak."
"Ya Tuhan Poni... kamu ini istri aku. Untuk apa aku menjebak kamu untuk menyerahkan diri. Kalaupun aku mau aku bisa memaksa tetapi aku ingin kamu menyerah dengan sukarela. Dan itu telah terjadi semalam."
Adeeva menepuk kepala jengkel pada diri sendiri demikian murahan datang pada Ezra. Bukan salah lelaki itu bila melayani istri sendiri. Memang itu yang diharapkan oleh lelaki itu sejak lama. Dalam hal ini siapa yang akan disalahkan kebodohan Adeeva ataupun nafsu besar Ezra.
"Baiklah! Aku tak mau hal ini terulang lagi. Anggap saja aku yang bodoh! Untuk selanjutnya hubungan kita tak boleh lebih dari hubungan bos dan anak buah. Ingat itu!" tegas Adeeva janji takkan terulang lagi tunduk pada nafsu. Ntah nafsu Adeeva maupun Ezra.
"Mana bisa gitu? Aku sudah terlanjur rasakan nikmat punya isteri muda. Kau yang ajar aku menjadi seorang suami perkasa. Maka untuk selanjutnya aku akan menjadi suami yang lebih perkasa dua kali lipat."
Adeeva memajukan bibir dia centimeter ke depan cibir harapan Ezra. Enak saja mau bergelut dengannya lagi. Jangan harap Adeeva akan beri lampu hijau.
"Jangankan berharap! Mimpi saja tidak kuijinkan. Buang angan jelek itu."
"Kok jelek? Orang kawin itu saling mengisi dan menerima. Aku mengisi dan kau terima." olok Ezra sedikit tenang Adeeva tidak kejar fakta sesungguhnya. Kalau cewek ini telusuri fakta pasti akan balas Rani yang tak sengaja antar dia kepada Ezra. Kalau Rani tak bonyok paling babak belur kena tendangan Adeeva.
"Isi saja para selir mu. Tuh ada cabe merah siap tampung air kencing mu!" cetus Adeeva sewot tak terima jadi bahan olokan Ezra. Satu nol untuk kemenangan Ezra saat ini. Adeeva harus berusaha keras untuk balas angka kemenangan dari Ezra.
"Aku mau mandi! Bapak duduk manis di situ kalau tak mau mukanya bonyok sana sini!" Adeeva angkat kaki dari kamar Ezra tanpa tunggu jawaban laki itu.
Ezra menghembus nafas lega berhasil kelabui cewek muda itu. Berkorban dikit bentur kepala ke dinding agar tampak nyata dia memang buta. Siapa sangka Ezra yang sangat ditakuti kalah sama cewek baru tumbuh dewasa.
Pengorbanan tidak sia-sia. Adeeva percaya Ezra memang buta. Akting Ezra makin memukau. Kalau kelak bangkrut di perusahaan bisa casting jadi bintang film.
Adeeva menduga Bu Humaira sedang disibukkan oleh dananya yang raib tak tahu rimba. Tidaklah mungkin Bu Humaira bertanya pada Ezra tentang dana yang hilang di perusahaan. Nampak sekali Bu Humaira sedang risau oleh dana yang sangat besar hilang begitu saja.
Adeeva berlaku sopan menghidangkan minuman lalu menghilang di dalam kamar. Adeeva tak ingin ikut campur urusan Ezra dengan keluarganya. lebih baik Adeeva istirahat di dalam kamar sambil memikirkan rencana ke depan.
Di luar ruangan Ezra duduk persis orang buta tanpa pancaran cahaya di mata. Tatapan mata Ezra kosong tak mengarah ke mana pun. Begitulah kira-kira orang buta melihat dunia.
Bu Humaira tampak kuatir pada kondisi mata anaknya itu. Bagaimana kalau Ezra tak bisa melihat selamanya. Itu hanya kalimat pemanis di bibir. Dalam hati kenapa tidak sekalian mati biar perusahaan jatuh ke tangannya.
"Hakim... kenapa tidak telepon mama? Mama dengar berita ini dari istri-istrimu di rumah. Katanya semalam kalian berlibur di villa dan pagi-pagi kamu sudah pulang tanpa permisi pada mereka. Mama mau kamu baikan dengan istri-istri kamu karena kamu sekarang sangat bergantung pada mereka." kata Bu Humaira rendahkan nada suara supaya Ezra tahu dia sedang sedih.
"Tak perlu ma! Aku sudah gaji asisten untuk rawat aku. Dia yang urus segalanya."
"Asisten? Gadis muda tadi? Dia bisa apa? Godain kamu di ranjang biar dijadikan wanitamu? Hakim.. dengar mama nak! Biarkan isteri kamu layani kamu. Mereka bisa gantian rawat kamu."
"Tak usah...mereka hanya bikin aku tambah stress. Tiap hari ribut kartu kredit. Dan lagi apa mereka bisa masak? Nyuci dan bersihkan rumah? Asisten aku itu kerjakan semuanya. Dia tak pernah minta lebih dari gajinya. Apa menantu mama yang segudang itu bisa kerjakan semuanya?" tukas Ezra menohok bungkam Bu Humaira. Wanita di samping Bu Humaira yang biasa dipanggil bunda tertawa kecil salut pada pendirian Ezra yang sekarang berubah kokoh.
"Kak Maira...biarkan Hakim memilih asisten! Wanita di rumah mana mau layani Hakim yang pasti merepotkan." Bunda bantu Ezra tentukan pilihan. Wanita ini paham Ezra bukan hanya butuh teman tidur tapi lebih butuh orang mau pahami kondisinya.
"Begini saja! Selama kamu sakit biar perusahaan mama dan om Jul yang kelola. Cuma kamu harus beri kuasa pada kami untuk ambil keputusan. Untuk sementara kau alihkan perusahaan pada mama. Setelah kamu sehat mama akan kembalikan padamu." Bu Humaira mulai keluarkan isi hati yang sudah lama terpendam mau kuasai harta Ezra. Belang Bu Humaira perlahan nyembul jelas buat Ezra makin yakin untuk singkirkan kerikil perusahaan.
"Aku masih sanggup handel perusahaan dibantu Ruben. Aku ada rencana berobat keluar negeri. Ada teman rekom dokter bagus di Jepang. Aku akan ke sana!"
__ADS_1
Bu Humaira agak gelisah dengar Ezra berniat cari kesembuhan di luar negeri. Mungkin saja mata anak itu bisa sembuh kembali. Saham perusahaan makin menjauh dari mereka.
"Kapan rencana pergi?"
"Belum tahu karena lagi hubungi dokter itu cerita tentang riwayat kebutaan aku. Doakan saja aku cepat pulih!"
"Tentu Hakim. Bunda tetap support kamu! Bunda siap dampingi kamu bila butuh teman."
"Terimakasih bunda! Aku akan pergi dengan asisten aku. Dia tahu semua kebutuhan aku." Ezra menoleh ke arah bunda karena suara bunda terdengar tulus beri semangat.
"Ok...semoga cepat pulih! Katanya perusahaan sedang macet ya. Bunda harap kamu sehat untuk stabilkan perusahaan. Itu peninggalan papa kamu maka kamu harus perjuangkan jangan sampai jatuh."
"Maunya begitu Bunda. Aku minta maaf harus menyusahkan semuanya akibat perusahaan kena krisis. Lebih parah lagi menurut om Jul kita kehilangan sebagian besar dana segar. Ini makin bahayakan posisi perusahaan kita. Aku benar terpuruk dengan keadaan kita maka aku ingin kurangi beban. Aku bersedia bebaskan wanita di istana dengan kompensasi setimpal. Aku tak sanggup tanggung pola hidup mereka yang kelewat mewah."
"Kau serius ingin talak mereka?" tanya Bu Humaira bergetar. Wanita ini tak sangka perusahaan beneran kolaps akibat pengeluaran terlalu besar. Lebih besar pasak daripada tiang. Apa tidak tubuh?
"Iya ..mama mungkin tak tahu kalau mereka foya-foya dengan uang perusahaan. Bayarin berondong untuk puaskan nafsu mereka. Belanja yang tak penting. Katakan aku akan beri rumah, uang dan mobil kalah mau keluar dari istana kita."
"Bukankah kau bilang dana sedang tak tahu rimba? Dari mana uang bayar mereka?"
"Aku akan lepas sebagian saham pada teman untuk dapat dana segar tutupi anggaran harta cerai. Sekarang mama tahu kan akibat punya banyak isteri? Bujuk mereka menyerah sebelum perusahaan benar kosong."
Bu Humaira hanya punya satu pilihan untuk hemat uang perusahaan. Bantu Ezra singkirkan para ulat bulu. Ini akan menguntungkan posisi dia di rumah. Kini Bu Humaira tak butuh dukungan para selir. Tak ada yang akan rebut posisi dia sebagai ratu.
"Baiklah! Mama akan ajak mereka ngobrol. Lalu bagaimana isteri mu yang kerja di kota B."
"Anak itu tak usah dipikirkan. Dia juga tak suka padaku. Selama ini dia tak pernah gunakan uang aku satu sen pun. Aku tak kuatir tentang dia. Urus yang ada di sini."
Bu Humaira mengangguk walau tahu Ezra tak bisa lihat. Itu hanya gerakan reflek orang paham permintaan Ezra.
"Bunda sarankan kau ajak semua istrimu bicara termasuk yang ada di kota B. Berpisah bukan arti bermusuhan. Siapapun yang pilih pisah itu hak mereka. Dan kau harus jaga mereka bila pilih tinggal." ucap Bunda lebih bijak.
"Iya...kalian urus dulu siapa mau pisah. Jangan sampai aku menangkap trik kotor mereka. Aku akan talak tanpa kompensasi. Terutama Si Renata. Dia itu bikin malu berhubungan dengan klien perusahaan. Aku punya bukti usir dia sekarang juga." Ezra sengaja tekan Bu Humaira lewat Renata wanita andalan dia. Bu Humaira menaruh harapan Renata bisa kuasai Ezra untuk memuluskan niat kuasai perusahaan. Kalau Ezra terbius oleh Renata segalanya akan gampang diurus.
"Mama tak tahu itu nak! Besok mama akan kasih kabar. Kami permisi dulu nak! Kau bisa istirahat. Oya hati-hati dengan asisten kamu! Jangan masuk perangkap anak kecil itu. Tampangnya licik!"
"Aku tahu...dia itu anak baik! Setia dan patuh."
"Ya sudah mama permisi pulang ya! Jaga diri!" Bu Humaira hampiri Ezra. Wanita itu beri usapan lembut di kepala Ezra. Bu Humaira sudah tampil sebagai sosok ibu sayang pada anak. Kasih sayangnya tidak usah diragukan.
"Iya ma...kalian hati-hati di jalan. Aku akan baik-baik saja." Ezra tidak bangkit dari posisi semula karena orang buta tak bebas bergerak. Akting tak boleh tanggung bisa timbulkan rasa curiga.
"Bunda pulang ya Hakim! Bunda selalu ada untukmu!" Bunda juga usap kepala Ezra sebagai ibu juga. Harusnya Hakim senang punya dia ibu sambung. Namun justru itu jadi beban Ezra saking banyak wanita di sekelilingnya.
Kedua wanita paro baya itu keluar dari apartemen Ezra setelah pamitan. Tinggal Ezra merenungi nasib di bawah kontrol sang mama tiri. Kepercayaan Ezra pada Bu Humaira runtuh sudah. Kini Ezra harus berjuang lawan ibu tirinya.
__ADS_1