
Adeeva merasa jijik dengan pernyataan Ezra. Adeeva tidak mendengar apa kata orang di seberang sana tapi punya otak untuk menyambung ke kata orang sana baru Ezra mengatakan hal semestinya.
"Aduh Ezra! Kita sudah bersama cukup lama. Apa salahnya kita hidup bersama layak keluarga? Bukankah kita sudah seperti satu keluarga? Anak aku panggil kamu Daddy. Apa lagi? Kau perlu pelampiasan gairah aku ada kok! Tak perlu kau pakai selir-selir penipu uang kamu!"
Ezra menghela nafas. Rani mewarisi kekayaan suaminya yang meninggal akibat kecelakaan. Wanita angkuh karena punya aset cukup lumayan. Hidupnya banyak tergantung pada Ezra yang dia anggap pengganti suaminya.
"Rani...kuharap kau hormati hak aku! Kita hanya sebatas sahabat. Aku takkan khianati almarhum sahabat aku. Kurasa sakit kepala kamu sudah berkurang. Suaramu cukup kencang." Ezra mengambil selimut tutupi tubuh Adeeva yang menggoda matanya. Ezra hormati Adeeva sebagai isteri. Bukan budak nafsu maka Ezra tak pernah paksa Adeeva untuk layani dia secara terpaksa.
Adeeva tahu diri segera mengambil pakaian dan rapikan diri. Gadis ini tak mau ganggu obrolan Ezra dengan isteri sahabatnya.
"Ezra...kau harus datang! Tanpa kamu aku tak tahu harus bagaimana. Kutunggu kamu di rumah!" Wanita di sana langsung matikan ponsel tanpa tunggu jawaban Ezra.
Ini jurus ampuh bikin Ezra jadi budaknya selama ini. Cukup gunakan mendiang suami untuk tekan Ezra.
Ezra membanting ponsel ke atas ranjang. Adeeva sudah tak ada di ranjang. Ezra menduga gadis itu telah keluar dari kamarnya. Kesempatan emas menjadikan Adeeva sebagai milik pribadi gagal total. Moments yang sudah dia nanti cukup lama raib gara keegoisan seorang wanita.
Ezra segera berpakaian menemui Adeeva di luar sana. Mata Ezra menangkap sosok Adeeva duduk di sofa sambil main ponsel. Gadis ini bersikap pasif tak bertanya apapun mengenai panggilan telepon dari Rani.
"Poni...kau tunggu sini! Aku segera balik. Jangan ke manapun!" Ezra hampiri Adeeva mengacak rambut gadis ini dengan sayang.
Adeeva hanya tersenyum pahit. Ternyata wanita itu lebih berharga dari isteri. Adeeva merasa terlalu bodoh cepat percaya pada Ezra siapa wanita itu! Di dunia ini tak ada persahabatan tulus antara laki dan wanita. Setan siap satukan mereka dalam dosa.
Adeeva merasa harga dirinya terbanting. Dia tidak lebih berharga dari seorang sahabat. Apa ada tempat Adeeva di hati Ezra? Ezra hanya permainkan perasaan Adeeva.
"Pergilah! Aku akan selesaikan tugas terakhir aku!" kata Adeeva dingin.
"Kau tunggu aku pulang! Aku akan segera pulang setelah antar Rani ke rumah sakit."
"Kenapa tidak antar ke hotel saja? Mungkin dia lebih butuh itu." ujar Adeeva sinis.
"Apa maksudmu?" Ezra hentikan langkah akibat kalimat Adeeva yang menghina Rani.
"Maksud aku? Pikir sendiri! Pergi cepat jangan sampai bini sahabat kamu mati akibat tahan nafsu!"
Ezra menarik nafas dengar kalimat tak sopan Adeeva. Jelas sekali Adeeva anggap Rani perempuan murahan. Perempuan penghibur lelaki kesepian.
"Aku sedang malas berdebat! Kau jangan keluyuran!" Ezra segera ambil kunci mobil meninggalkan apartemen.
Sepeninggalan Ezra mata Adeeva berembun. Sungguh mati Adeeva tak pernah dihina sedemikian rupa oleh seseorang. Suami tega meninggalkan isteri demi wanita lain. Di mana harga Adeeva di mata Ezra. Alat pelampiasan nafsu?
Adeeva segera buka laptopnya tuntaskan tugasnya pindahkan tabungan orang bermasalah ke rekening Ezra. Adeeva hanya bertugas sampai situ. Selanjutnya biar jadi tanggung jawab Ezra.
Setelah semua beres Adeeva segera berkemas untuk pergi jauh dari Ezra. Hidup bersama Ezra akan perpendek umur Adeeva. Seluruh hari Adeeva akan penuh awan kelabu. Belum apa-apa sudah ada lima saingan dan kini tambah wanita nekat tak kenal kata malu. Adeeva tak biasa hidup dalam dunia penuh kepalsuan dan trik kotor.
Adeeva hubungi Nunik minta tumpangan sebelum ada rencana akan kemana. Pergi kembali ke kota B bukan jalan baik. Ezra pasti akan segera menemukan dirinya.
Adeeva harus bersembunyi satu masa sampai Ezra bosan mencarinya. Lama-lama laki itu pasti menyerah mencari Adeeva.
Nunik cepat tanggap langsung jemput Adeeva agak jauh dari rumah Ezra agar tidak tertangkap CCTV. Di jaman canggih ini semua terpantau oleh kamera pengintai. Ezra punya kuasa ceking CCTV sekitar apartemen maka itu Adeeva harus pintar hindari pantauan kamera itu.
Nunik gunakan mobil abangnya jemput Adeeva di gang kecil yang tak terpasang kamera. Ezra hebat tapi Adeeva lebih pintar.
__ADS_1
Nunik bawa Adeeva pulang ke rumahnya yang kayak istana walau tidak seperti rumah Ezra yang mirip kerajaan. Keluarga Nunik cukup kaya tapi anaknya hidup seperti gembel. Jadi resepsionis di hotel untuk biaya hidup. Apa mau anak ini membuang diri sendiri dari kehidupan mewah.
Nunik langsung bawa Adeeva ke kamar karena di rumah tak ada orang selain pembantu. Abangnya lagi dinas sedang kedua orangtuanya sibuk berbisnis. Jadilah Nunik kesepian sendiri di rumah.
Nunik letakkan tas Adeeva di sudut kamar lalu persilahkan Adeeva duduk di ranjang mungil tempat bersantai dekat jendela kamar. Nunik perhatikan raut wajah sahabatnya yang kusut ikut bersedih.
"Ada apa sayang?" tanya Nunik memeluk Adeeva dari belakang.
"Aku tak mau kembali ke perusahaan Dilangit. Aku di buat seperti sampah." gumam Adeeva muram durja.
"Lalu kau mau pulang ke rumah orang tuamu?"
"Untuk sementara tak bisa. Aku tinggal di sini sementara ya? Nanti aku pikir mau kerja di mana?"
"Dengan senang hati. Gimana kalau kita pergi santai ke Thailand? Ada saudara aku mau ke sana. Kita bisa pergi barengan."
"Jangan! Ezra bisa cek namaku di daftar penumpang."
"Tenang sis! Ini pesawat pribadi! Tak ada yang tahu kapan kau pergi. Kalau ada kamu akan akan ikut pergi. Mereka berpasangan. Kalau aku pergi sendirian jadi kambing bodoh."
"Kau yakin?"
"Yakin. Saudara aku bawa pacar masing-masing. Bulan madu pendahuluan." gurau Nunik bikin Adeeva tersenyum.
"Emang ada bulan madu pendahuluan? Itu bukan bulan madu tapi bulan racun. Syukur kalau jadian. Gimana kalau sudah setor tubuh putus di tengah jalan? Gantung diri di batang tomat?" kata Adeeva kurang suka ada orang menganut kehidupan bebas tanpa ikatan benang merah pernikahan.
"Itu kata kamu nona kuno! Jaman ini mah bebas! Mana ada norma lagi. Pergi mandi biar wajahmu segar. Biar bang Satria kesengsem padamu!"
Adeeva mencubit paha Nunik perlahan karena sahabatnya getol jodohkan dia dengan Satria. Satria cowok baik. Tiga kali pertemuan buat kesan Baik- di hati Adeeva. Sayang Adeeva belum bisa buka hati pada siapa saja. Dia masih berkasus dengan Ezra. Butuh perjuangan untuk bebas dari Ezra. Memang tak mudah tapi Adeeva harus mencoba.
\=Tugasku sudah selesai. Kumohon jangan beri aku kesulitan lagi! Kita tak cocok karena pemahaman kita terhadap hidup berbeda. Aku juga punya harga diri dan nilai. Aku tak ijinkan siapapun hina harga aku! Aku bukan wanita murahan yang menjajakan diri untuk dijadikan sparing partner di tempat tidur. Selamat untuk bapak telah menemukan wanita seharga sampah daur ulang. Jangan cari aku karena dunia kita berbeda. Dunia aku bebas polusi.\=
Ezra meremas surat dari Adeeva. Ezra yakin akan sulit cari Adeeva kali ini. Gadis pasti akan petik pelajaran dari kejadian siang tadi. Gadis ini pasti takkan ulangi kesalahan sama kabur dengan bus. Tujuannya pasti bukan kota B lagi. Di sana dengan gampang dilacak.
Ezra terpaksa teleponi Ruben lagi minta tolong pantau keberadaan Adeeva. Kali tak segampang tugas pertama.
"Halo..."
"Ada apa bos? Ini sudah lewat jam kantor! Uang lembur juga tak ada." omel Ruben waktu istirahat diganggu Ezra.
"Adeeva kabur lagi. Cari dia sekarang juga!" perintah Ezra to the point.
"Kabur lagi? Keturunan belut ya! Licin amat!"
"Jangan cerewet! Coba pantau CCTV sekitar apartemen lihat dia pergi dengan apa!"
"Kau ngapain anak orang sampai ilfil banget sama Abang! Kulihat Adeeva itu anak baik. Reputasinya juga bagus sebelum kau usik dia. Biarkan dia bebas kenapa? Aku kok jadi kasihan padanya!"
"Kau tahu apa? Lakukan saja tugas kamu! Kutunggu kabar darimu!" Ezra matikan ponsel tak mau dengar bantahan Ruben. Makin pusing kepala Ezra bila Ruben meracau panjang.
Ezra masuk ke kamar lihat apa yang ditinggal Adeeva. Hanya ada paper bag baju yang di beli Ezra di butik Madam. Barang pribadi Adeeva tak ada yang tersisa.
__ADS_1
Ezra harus kesal pada siapa? Pada kebodohan sendiri jadi budak Rani? Ezra termakan janji pada teman untuk jaga Rani tapi Rani gunakan kesempatan ini menguasai hidup Ezra. Di mana ada Ezra di situ ada Rani.
Ezra ke kota B dia ikut. Ezra tinggalkan Adeeva sendiri di apartemen karena Rani minta ketemu. Akibatnya Adeeva curi kesempatan keluar berantem dengan orang.
Begitu pulang kota J Rani juga sita waktu Ezra. Setiap hari Ezra harus setor muka pada Rani untuk menyenangkan wanita itu. Sekarang apa akibatnya? Hubungan dengan Adeeva yang baru saja membaik berubah drastis.
Ezra menanti di ruang tamu sambil memijit kepala yang berdenyut. Bukan cuma Rani sakit kepala, Ezra lebih sakit lagi sampai masuk ke jaringan otak.
Sakit kepala hanya alasan Rani paksa Ezra datang ke rumahnya. Sampai di sana Rani sudah membaik. Rani menahannya sampai magrib. Buntutnya minta Ezra nginap di sana. Ezra masih waras tak mau nodai janji pada sahabat.
Ezra harus punya cara terbebas dari Rani. Rani seperti lintah lengket pada kulit Ezra. Sulit di singkirkan. Sekarang Ezra merasakan derita Adeeva ingin lepas dari keterikatan pada seseorang. Sungguh tidak nyaman bikin mood jadi buruk.
Ponsel Ezra kembali berbunyi. Panggilan dari Ruben. Dalam hati Ezra berdoa semoga ada titik terang tentang Adeeva.
"Halo....gimana?"
"Adeeva keluar dari apartemen seorang diri langsung ke jalan besar. Sampai tikungan dia menghilang karena daerah itu tak ada CCTV. Sudah lacak terminal dan stasiun kereta api tak ada tanda Adeeva. Aku duga dia masih berada di kota. Cuma ngumpet."
"Sialan...namanya harus diganti lagi. Moa..." kata Ezra dengan kesal.
"Lacak dari ponselnya."
"Kau pikir gampang sadap ponselnya? Dia belum sadap kita sudah syukur. Kau belum kenal dia. Ini semua gara Rani."
"Bang..kenapa tak biarkan dia hidup bebas? Dia itu anak periang dan lucu. Sayang kalau kita rampas kebebasannya."
"Berkali kubilang dia itu tunangan aku dari belum lahir. Aku punya tanggung jawab moral padanya. Bertahun cari dia tapi endingnya kacau." keluh Ezra seperti curhat. Ruben baru kali ini dengar Ezra putus asa hadapi seorang wanita. Wanita mana tidak ingin berada di samping Ezra. Jadi gula-gula saja boleh apalagi jadi wanita dua puluh empat di sisi laki itu.
"Sekarang gimana? Ponselnya juga tak aktif. Dia tak mungkin pulang ke rumah orang tuanya. Dia pasti tahu kita akan lacak dia di sana."
"Kau lacak temannya!"
"Temannya ya orang klub taekwondo! Yang paling akrab ya teman satu kontrakan."
"Ya aku ingat! Dia makan bersama dua orang. Coba lacak CCTV restoran siapa kedua orang itu! Cek siapa mereka!"
"Siap..."
Ezra agak lega temukan sedikit clue tentang teman Adeeva. Adeeva sangat lugu dalam hubungan pria wanita. Ezra takut Adeeva ditipu orang masuk perangkap.
Ezra agak kesal pada Rani telah mengacaukan kemesraan dia dan Adeeva. Padahal selangkah lagi dia akan kuasai seluruh hidup Adeeva. Adeeva gadis setia pasti takkan berpaling dari Ezra bila telah jadi milik laki itu seutuhnya.
Sampai kapan Ezra akan bayar hutang janji pada Herman. Apa dia harus menjaga Rani seumur hidup? Betapa pelik hidup Ezra. Bos kaya raya tapi berantakan gara wanita. Seperti kata Adeeva dia punya koleksi wanita seperti tangga. nada. Do re mi fa sol dan la. Untung tidak harus sampai ke si.
Sampai jam sepuluh malam Ezra tak mendapat laporan dari Ruben. Artinya Ruben mendapat kesulitan melacak CCTV restoran. Keamanan cctv restoran mungkin sangat ketat tak bisa dibuka oleh sembarangan orang. Oleh sebab itu Ruben tak mendapat akses melacak siapa teman Adeeva di restoran. Pelacakan Adeeva terputus di restoran.
Ezra habiskan waktu di pub untuk cuci otak agar tidak sumpek. Di sana dia bisa minum dengan para relasi yang rata-rata orang kaya kelebihan uang. Minum ditemani wanita licin tentu jadi satu sensasi tersendiri.
Ezra datang langsung dikerubuti semut-semut imut pendamba saweran laki berkantong tebal. Syukur dibawa pulang ke rumah untuk jadi hiasan tempat tidur.
Suara hingar-bingar musik house menggelegar menambah kesemarakan pub. Lampu-lampu aneka warna kedap kedip menerangi ruang yang remang-remang. Puluhan pasangan bergoyang bebas ikuti hentakan irama musik.
__ADS_1
Ezra pilih tempat agak sudut untuk nikmati kehidupan malam bagi pencinta dugem. Di belakang Ezra telah ikut beberapa cewek berbusana minim. Sebisa mungkin pamer perabotan untuk jerat para pemilik perusahaan besar.
Pemilik pub menangkap sosok Ezra segera bergabung melayani bos besar itu. Kehadiran Ezra menjadi berkah karena laki itu terkenal kaya dan pemurah pada cewek.