
Makanan online tiba di ruang rawat Adeeva. Ezra yang urus segalanya tak mau Adeeva terbebani oleh apapun. Dulu Adeeva yang layani Ezra kini sebaliknya Ezra yang layani Adeeva.
Ezra bucin habis. Coba kalau ada rekan bisnis lihat orang sekeras Ezra jadi budak isteri. Bisa geger dunia perbisnisan. Ezra menyuapi isterinya dengan sabar.
Pandai-pandai lah Ezra ambil hati Adeeva agar pikiran tentang skandal Sonya akan luntur dari ingatan. Untuk saat ini Ezra adalah lelaki paling bahagia sedunia. Punya isteri cantik dan bakal anak kembar.
Seusai suap Adeeva makan barulah Ezra isi perut sendiri. Pokoknya Adeeva nomor satu.
Adeeva tidur cepat akibat reaksi obat haruskan wanita ini cepat istirahat agar tenaga cepat pulih. Pendarahan juga harus berhenti total.
Ezra segera tinggalkan Adeeva cari dokter untuk minta penjelasan mengapa Adeeva masih mengeluarkan darah. Hati Ezra belum tenang bila belum mendapat jawaban pasti.
Ezra pergi mencari perawat untuk menanyakan posisi dokter yang merawat Adeeva. Ezra harus bicara dengan dokter tentang kondisi adeva yang ia anggap masih kurang memuaskan.
Ezra diantar ke satu ruang di mana adanya dokter yang merawat Adeeva. Dokter itu bersiap hendak tinggalkan rumah sakit karena jadwal piket ya sudah selesai. Untunglah Ezra datang tepat waktu sebelum dokter sedikit sinting itu angkat kaki dari rumah sakit.
Dokter itu santai saja waktu melihat kehadiran Ezra. Kini dokter itu sadar bahwa Ezra bukanlah sembarangan orang melainkan orang memiliki kuku tajam.
"Ada apa lagi?" tegur dokter itu tetap bersikap acuh tak acuh.
"Boleh bicara sebentar dok?"
"Kalau untuk bertanya soal pasien Aku selalu ada waktu. Tetapi bila bertanya sebab isterimu pendarahan itu aku tak bisa jawab. Kamu lebih ngerti. Takutnya kamu lakukan kdrt!"
Ezra menahan diri untuk tidak emosi jumpa dokter bermulut ember. Bertanya tentang Adeeva tentu saja mengenai pasien dokter. Dasar dokter berpenyakit jiwa.
"Aku datang hanya bertanya mengapa istri aku masih mengeluarkan darah?"
"Oh itu... secara umum pendarahannya telah berhenti. Tetapi pasti akan muncul flek-flek yang tidak berbahaya. Pokoknya secara keseluruhan kondisi isteri anda stabil selama dia ikuti prosedur pengobatan. Untuk sementara Bapak tidak diijinkan main kuda-kudaan dengan istri bapak. Ini akan memicu terjadinya pendarahan susulan. Cobalah berpuasa dulu!"
"Apa tidak berbahaya masih keluar bercak darah?"
"Tidak asal tidak deras. Maka itu Bapak harus menjaga kestabilan kondisi istri anda. Hindari stress...dan satu lagi pak! Selama puasa jangan pergi jajan nasi bungkus ya! Ntar kena penyakit berbahaya!" nasehat sang dokter seolah Ezra itu orang cabul. Faktanya Ezra memang laki cabul barulah Adeeva kabur dari laki itu.
"Bapak ini dokter atau penyuluh birahi orang." ketus Ezra kesal pada dokter gila itu. Seenak dengkul nilai orang tak beriman.
"Lha kok sewot? Ini kan hanya nasehat. Kasihan anak istri anda bila tertular penyakit di organ vital bapak."
"Kepo..." sungut Ezra jengkel pada dokter kepo ini. Herannya kok bisa jadi dokter. Maunya ikut daftar jadi emak-emak tukang gosip. Ngerumpi sesama emak.
Dokter itu tertawa lihat Ezra sewot padanya. Sebagai sesama lelaki dokter itu tahu kebutuhan pria apalagi Ezra terlahir dengan tampang plus. Tidak sulit cari wanita penghangat ranjang. Dokter ini tak tahu gara hal ini dia hampir kehilangan buah hati. Ezra pilih pensiun jadi playboy cap kutu kupret.
"Pokoknya isteri anda aman sentosa bila dijaga dengan baik. Kujamin itu."
Ezra bernafas lega setelah sesak dikerjain dokter songong itu. Akhirnya ada juga kalimat manusiawi keluar dari mulut dokter rada sinting itu.
"Kalau gitu terima kasih dok!"
"Tak perlu terima kasih. Itu tugas aku sebagai dokter. Aku juga dokter penyakit kelamin bila dibutuhkan."
Ezra bunyikan gigi menahan geram. Baru saja berdamai kini ajak perang lagi. Kalau bukan ingat Adeeva masih butuh perawatan ingin sekali Ezra pinjam bogem mentah Adeeva hadiahkan ke wajah dokter songong itu.
"Aku permisi..." ketus Ezra tinggalkan ruang praktek dokter kandungan itu. Makin lama berdiri di situ nyawa Ezra akan makin singkat. Belum jumpa anak dalam perut Adeeva duluan tewas tahan emosi.
Ezra tidak segera kembali ke ruang rawat Adeeva melainkan cari tempat nyaman teleponi Ruben cari tahu kasus penyerangan ke rumahnya.
"Halo...sudah ada kabar?"
__ADS_1
"Ketiganya bersikukuh hanya ingin menculik minta tebusan."
"Cari tahu tentang keluarga ketiga gentong nasi itu. Gunakan keluarga mereka ancam mereka buka mulut. Logikanya mana ada orang menculik sampai ke rumah. Apa mereka pikir kita anak SD tak tahu apa-apa."
"Pihak kepolisian juga sependapat denganmu. Tujuan mereka hanya Poni. Ini sudah malam. Aku mau pulang dulu. Biarlah pihak aparat interogasi mereka! Besok pagi aku akan balik lagi."
"Baik...kau balik ke apartemen ambil ponsel Adeeva dan ponsel aku. Kalau hancur kau beli yang lain. Tetap aktifkan nomor simcard sekarang."
"Baik...aku antar sekarang!"
"Tak usah...besok saja sekalian baju ganti aku! Aku ke kantor dari sini saja! Oya...cari rumah lain! Jual saja apartemen sekarang! Aku tak mau Adeeva pulang ke situ lagi. Nanti dia trauma!"
"Yaelah yang bucin... Adeeva bukan wanita lemah. Dia takkan keberatan tinggal di sana karena bukan bawa kenangan buruk. Yang buruk tempat lama kamu."
"Mutasi ke Papua masih berlaku. Ada rencana?"
"Lagu lama dinyanyikan lagi! Sudah tak merdu bang! Besok pagi aku datang. Abang juga harus hati-hati karena kita belum jelas motif penjahat itu."
"Aku tahu. Kamu minta pengawalan untuk Poni selama di rawat di sini. Berjaga lebih baik dari kecolongan."
"Siap bos. Gimana kondisi Poni?"
"Untuk sementara terkendali. Kamu juga hati-hati."
"Beres itu...aku tutup dulu. Aku mau ke apartemen kamu dulu."
"Ya... hati-hati!"
Ezra menutup ponsel jadulnya dengan sedikit lega. Penjahat itu pasti dibayar mahal maka melindungi majikannya setengah mati. Ezra harus gunakan cara sendiri untuk paksa penjahat itu akui siapa dalang penculikan ini. Ikuti prosedur pihak aparat belum tentu dapat hasil maksimal. Ezra bukannya tak percaya pada kinerja kerja pihak berwajib namun mereka terkesan kaku. Proses hanya berdasarkan keterangan. Faktanya jauh dari harapan.
Ezra kembali ke ruang rawat Adeeva mau lihat kondisi isterinya. Hari ini mata Ezra makin terbuka bahwa hidup ini tidak bisa hanya mengandalkan kekuasaan. Ezra punya kekuatan untuk menekan orang tetapi tidak mampu membendung niat busuk seorang manusia.
Malam berlalu begitu saja membawa pergi hari buruk Ezra dan Adeeva. Semoga begitu fajar menyingsing semua akan berubah menjadi lebih baik. Ezra mendapatkan apa yang dia harapkan untuk bekal membangun keluarga lebih baik.
Pagi sekali Ruben datang mengantar permintaan Ezra. Pakaian serta ponsel Adeeva. Mungkin dengan adanya benda itu Adeeva akan terhibur ngobrol dengan teman atau sekedar nonton di layar ponsel. Di rumah sakit adalah tempat paling membosankan. Ezra jujur tak nyaman tapi berhubung yang sakit adalah buah jantung mau tak mau dia harus sabar.
Pagi Adeeva mendapat sarapan dari rumah sakit khusus untuk pasien. Makanan untuk pasien pasti sudah lalui ahli gizi demi jaga kesehatan pasien. Ezra tetap setia mengurus isteri tercinta sebelum pergi ke kantor.
Pertama-tama bawa Adeeva ke kamar mandi untuk bersihkan diri sekaligus lakukan panggilan alam. Ezra dengan sabar layani Adeeva tanpa rasa jijik. Ezra justru takut terjadi sesuatu bila Adeeva banyak bergerak. Kandungan Adeeva butuh perlindungan ekstra.
Ezra was-was takut Adeeva mengeluarkan darah lagi. Bila pendarahan berlanjut artinya janin Adeeva bermasalah. Untunglah pagi ini kondisi Adeeva makin kondusif.
Wajah wanita ini juga tidak berkerut-kerut lagi. Sudah lebih cerah. Ini merupakan kabar terbaik buat Ezra. Tak ada berita lebih bagus dari kesembuhan Adeeva.
Ezra tersenyum tatkala melihat kondisi Adeeva hampir pulih hampir mencapai delapan puluh persen.
"Aku pergi ke kantor hari ini. Kau bisa ditinggal sama Umi bukan?" tanya Ezra setelah Adeeva selesai sarapan. Obat juga sudah ikut masuk untuk pulihkan stamina wanita ini.
"Bisa dong! Aku juga tak suka punya suami pengangguran. Aku akan baik-baik saja." sahut Adeeva beri senyum manis supaya Ezra yakin dia dalam kondisi fit.
"Terima kasih. Aku bersihkan badan dulu ya! Kau tiduran saja!"
Adeeva mengangguk walau rasa bosan mulai hinggapi diri wanita ini. Biasa dia lincah kayak kancil. Kini harus meringkuk seperti kura-kura dalam cangkang. Ini penyiksaan alami.
Abah dan Umi datang sewaktu Ezra berada dalam kamar mandi. Kedua orang tua ini senang lihat anaknya telah segar tak seperti orang sakit.
"Assalamualaikum.." sapa Umi begitu masuk ruangan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.. pagi sekali?"
"Iya dong! Kan kangen pada cucu." sahut Abah melucu.
"Idihhh Abah...cucunya masih tidur! Bawa apa?" mata Adeeva jatuh pada tas besar di tangan Uminya. Pasti sesuatu untuk isi perut Adeeva biar cucunya sehat.
"Coba tebak Umi bawa apa?"
"Cakwe dan susu tahu." tebak Adeeva sok yakin.
"Lha kok tahu? Hidung ibu hamil sudah mirip hidung anjing pelacak. Ini Umi bawakan sarapan favorit kamu. Juga buahan biar kamu sehat. Mau makan sekarang?"
"Nanti saja! Baru makan dan minum obat. Abah dan Umi sudah sarapan?"
"Belum...rencana sarapan bersama kamu!" Umi meletakkan semua bawaan ke meja kecil tak jauh dari brankar tempat Adeeva berbaring.
"Oh maaf! Eva tak tahu kalau Umi dan Abah mau sarapan di sini. Ezra paksa terus sih! Dia takut anaknya kelaparan."
Disebut nama Ezra orangnya tak ada. Bayangan lelaki besar itu tak tampak sama sekali. Begitu tak bertanggung jawab tinggalkan isteri tanpa kawan?
"Mana Ezra?" tanya Abah sedikit ilfil.
"Di kamar mandi. Bersiap mau ke kantor." Adeeva menunjuk ke arah kamar mandi gunakan bibir.
"Oh.." Abah malu sendiri telah salah sangka pada Ezra.
"Umi dan Abah sarapan dulu! Ini sudah telat. Nanti sakit lambung Umi kumat. Eva sudah sehat kok!"
Umi mengeluarkan semua bekal makanan untuk mereka sekeluarga. Makanan sehat untuk sarapan pagi. Umi memiliki darah keturunan Tiongkok maka sarapan ada mengarah ke sana cuma ini serba halal. Umi yang masak sendiri.
Umi memberi secangkir air tahu untuk Adeeva karena putrinya itu memang suka susu kedelai. Adeeva terpaksa duduk dibantu oleh Umi. Kalau Ezra melihat Adeeva lasak pasti akan merepet kurang senang.
Adeeva tak mungkin tiduran terusan. Tubuh akan jadi kaku tanpa ada sedikit gerakan.
Ezra keluar dari kamar mandi melihat mertuanya sudah ada di ruangan. Ezra mengangguk sopan pada mertua walau belum bisa salam secara takzim. Ezra masih harus banyak belajar tata Krama hormati orang tua. Ezra tak pernah dididik dengan baik oleh Bu Humaira maka tak tahu adat.
"Nak Ezra mau ikut sarapan? Ini ada susu kedelai untuk hangatkan perut. Masih panas!" Umi mengajak Ezra ikut sarapan ala keluarga Adeeva. Ntah Ezra berselera atau tidak.
"Boleh..." Ezra tak enak hati menolak niat baik mertuanya. Kini apapun dikatakan keluarga Adeeva akan jadi acuan buat Ezra merebut hati Adeeva. Ezra takut sekali isteri nakalnya kabur-kaburan lagi.
Umi dengan senang hati berikan secangkir susu kedelai untuk mengisi perut kosong Ezra. Laki ini harus terbiasa ikuti pola hidup sehat ala Umi. Tidak terlalu banyak makan lemak dan hindari makanan terlalu asin.
Ezra cepat habiskan susu suguhan Umi karena dia harus kejar waktu tidak terjebak macet. Ezra harus lanjutkan kebijakan Adeeva mutasi sebagian pegawai. Kalau ada yang mau resign Ezra takkan menahan karena memang waktunya berantas bibit penyakit.
"Maaf...aku harus segera ke kantor! Adeeva.. kau harus ingat tak boleh banyak gerak dan patuhi dokter ya! Siang nanti aku akan datang. Mau minta apa?" Ezra menghadap Adeeva ingatkan juga memanjakan.
"Kalau aku minta pulang. Boleh?"
Ezra besarkan mata kurang senang Adeeva permainkan kesehatan. Pancaran mata Ezra mengancam akan lumatkan wanita itu bila masih banyak tingkah aneh.
"Ok...kalau kau mau pulang terpaksa kubeli rumah sakit ini biar jadi rumahmu!"
"Wow...mungkin anda lupa aku yang pegang kuasa. Uang perusahaan tak bisa cair tanpa ijin aku. Mau beli pakai apa?" ejek Adeeva merasa di atas angin.
"Kau lupa aku punya rekening pribadi. Kau kan yang isi rekening aku. Pokoknya kamu tak boleh macam-macam. Umi tolong jaga Adeeva ya! Kalau nakal teleponi aku."
"Nak Ezra tak perlu kuatir! Abah dan Umi akan jaga Eva dengan baik."
__ADS_1
"Terima kasih Umi. Kalau gitu aku permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..." sahut Umi dan Adeeva serentak. Adeeva tersenyum melihat Ezra mulai belajar kesopanan umat muslim. Adeeva yakin Ezra pasti bisa karena otaknya sangat encer.