
Dokter lucu itu tertawa besar lihat calon bapak si kembar terpancing emosi. Dokter itu hanya suka lihat si raja tambang yang terkenal hebat bertekuk lutut pada anak sendiri.
Di sini Ezra tak ada artinya buat dokter. Tak ada Ezra di pesohor. Hanya ada Ezra si bucin Adeeva.
"Sensi amat nih papi. Bulan depan kita akan bertemu lagi. Setiap bulan rajin cek up lihat perkembangan janin janin di dalam perut istri anda. Sejauh ini semua berjalan lancar cuma ibu muda jangan stress aja! Ok? Ini resep buat ibu muda biar ibu dan janin tumbuh sehat. Tetap semangat ya papi!"
Ezra melengos masih jengkel pada dokter pelawak itu. Seharusnya ikut daftar jadi anggota pelawak di televisi ketimbang meraba perut wanita tiap hari. Lebih banyak cuan dan tenar.
"Terima kasih dok! Kami pasti akan datang setiap bulan. Oya dok...apa aku harus dioperasi atau lahiran secara normal?" tanya Adeeva untuk persiapan mental sambut kehadiran si jabang bayi kelak.
"Jangan jadi beban! Kita lihat perkembangan. Yang penting kamu dan bayi sehat dulu. Yang lain kita bahas nanti."
Ezra puji kebijakan sang dokter tak mau beri beban mental pada Adeeva. Biarlah waktu yang tentukan segalanya! Kali ini Ezra acung jempol pada sang dokter.
Dokter tertawa lucu melihat Ezra si raja tambang tak berkutik hadapi ibu hamil. Dokter merasa Ezra pasti akan pilih hadapi lawan bisnis ketimbang hadapi ibu hamil.
Adeeva termasuk bumil tidak cerewet. Tidak menyusahkan Ezra selama kehamilan. Tidak ada permintaan yang berlebihan membuat Ezra harus susah payah mencari permintaan Adeeva.
Ezra segera lunasi semua biaya dan bawa Adeeva pulang ke rumah Abahnya. Sebelum pulang Ezra tebus obat yang diamanahkan oleh dokter. Semua hanya vitamin untuk janin dan untuk kesehatan Adeeva.
Satu hari berlalu begitu saja. Tak ada riak berarti lagi. Semua aman terkendali. Ezra lebih yakin kelola perusahaan ditemani oleh Adeeva. Mereka berdua seperti amplop dan perangko tidak terpisahkan. Ezra juga tidak mau tinggalkan Adeeva sendirian di rumah walaupun ada Abah dan Umi.
Abah dan Umi tidak ijin Adeeva pindah sampai lahiran. Umi ingin merawat Adeeva secara pribadi selama kehamilan sampai lahiran. Ini cucu pertama buat Abah dan Umi maka semua persiapan harus matang.
Sidang Rani berjalan lancar karena Rani juga sudah lelah melawan hukum. Satria gigih jebloskan Rani ke penjara karena perbuatannya. Rani dituntut penjara seumur hidup dipotong masa tahanan.
Ezra puas dengan tuntutan ini karena Ezra juga tak tega Rani hadapi hukuman maksimal yang akan merenggut nyawanya.
Kenzo dituntut lima tahun penjara karena perbuatannya menggelapkan sejumlah uang Ika. Semua uang yang diambil dari Ika disita dikembalikan pada yang berhak yaitu Ika.
Ika pun kembalikan pada perusahaan karena sadar menjadi orang culas tak ada akhir baik.
Semua berjalan lancar sesuai harapan Ezra. Tak ada rintangan lagi buat Ezra meraih kebahagiaan bersama Adeeva. Tinggal tunggu tanggal kehadiran anak-anak mereka.
Hari itu Adeeva merasa sangat malas tidak ikut Ezra ke kantor lagi. Perutnya makin besar hampir dekati waktu lahiran. Jangan untuk jalan jauh. Bergerak saja Adeeva sudah keberatan. Adeeva pilih istirahat di rumah. Adeeva ditemani oleh Umi yang masih setia menemani anaknya.
Adeeva rebahan di kursi malas hadiah dari Oma untuk ibu muda. Kursi malas terbuat dari rotan dilapisi busa lembut bikin tubuh nyaman. Adeeva santai di ruang tamu ditemani segelas susu hangat.
Hari-hari jelang hari H makin dekat membuat Adeeva malas beraktivitas di kantor. Adeeva juga malu keliaran di kantor bawa genderang gede. Rumah adalah tempat paling nyaman. Home sweet home.
Adeeva merem-merem dengarkan musik dari headset. Alunan musik country meluluhkan pikiran Adeeva.
"Eva...Eva..." panggil Umi menyadarkan Adeeva yang hanyut dalam alunan musik.
Adeeva yang pasang headset mana dengar panggilan Umi. Wanita muda ini masih rilex lanjut warnai dunianya dengan kesenduan lagu.
Umi mencolek Adeeva sodorkan ponsel yang berdering dari tadi. Benda tipis itu menjerit-jerit minta perhatian namun Adeeva tenggelam dalam alunan lagu.
Adeeva buka mata melihat Umi berdiri di hadapan sambil pegang ponsel. Wajah Umi tersirat kekesalan karena Adeeva abaikan panggilan orang tua.
"Ada apa Umi?" tanya Adeeva tanpa dosa. Adeeva melepaskan headset nya.
"Hp kamu sudah capek menjerit. Tuh ada panggilan dari Nunik!"
"Oh..." Adeeva segera menyambut ponsel itu lihat berpuluh kali panggilan tak terjawab. Alamat kena semprot Nunik.
Adeeva tak buang waktu segera telepon balik. Pasti ada sesuatu penting barulah Nunik telepon berkali-kali.
Umi menggeleng meninggalkan Adeeva ngobrol dengan konco baiknya. Umi tahu kalau kedua wanita muda ini sudah ngobrol selalu bikin kesal yang dengar. Mending Umi simpan tenaga untuk hal lain.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikumsalam...aku hampir lapor polisi kehilangan ibu hamil. Ke mana saja kamu ini? Ngumpet di CD Ezra? Atau sembunyi di sarung Ezra" suara petasan Nunik meledak. Adeeva jauhkan ponsel dari telinga biar tidak kena radiasi ledakkan petasan.
"Woi...tadi makan mercon bakar ya?"
"Mercon kekecilan...ini bom atom sisa perang dunia kedua. Ke mana kamu? Hp aku sampai kehausan minta minum akibat menjerit terlalu lama."
"Bukan hp lhu yang jerit tapi hp aku! Hp lhu kan hanya mendesah!"
"Oh gitu ya! Bulan depan aku mau kawin." kata Nunik tak ada manisnya. Kalimatnya kasar tidak cerminan seorang nona manis.
"Nona cantik. Kalau kau omong gitu dengan orang lain terdengar tak sopan. Katakan mau nikah gitu! Eh..jadi juga jadi emaknya para sapi?"
"Mau gimana lagi? Mama aku tetap harap aku ka.. eh.. maksudku menikah dengan Akbar." Nunik hampir keceplosan dengan kata kawin lagi. Untung mulutnya sempat pasang rem pakam.
"Selamat deh! Pestanya di mana?"
"Mas Akbar akan adakan pesta di Jawa sedangkan orang tua aku juga akan pesta di sini. Aku minta konsep pesta rakyat di sana biar semua pegawai dan orang kampung bisa hadir."
"Aku ntah bisa hadir tidak. Kau kan tahu gunung emas aku tinggal tunggu waktu meletus."
Nunik terbahak-bahak dengar kata kiasan Adeeva. Perut sendiri diibaratkan gunung berapi.
"Aku takkan salahkan kamu bila tidak hadir. Yang penting kirim doa restu. Doain aku ya! Kau adalah orang pertama kuberi tahu rencana ini."
"Terima kasih kepercayaanmu! Aku akan rajin berdoa semoga hari baikmu dipenuhi kata bahagia dan gembira. Langgeng hingga anak cucu. Tak ada pelakor di antara rumah tangga kita."
"Amin...Oya aku masih punya kabar Baim untukmu! kau ingat Mina adik si Parmin?"
"Oiya ..gimana dia? Sudah sehat?"
"Alhamdulillah sudah sehat berkat bantuan suamimu. Mina dapat donor sumsum berkat bantuan Ezra. Dia tanggung semua biaya pengobatan Mina. Apa dia tidak cerita?"
"Tidak...cuma dulu sekilas aku ada cerita tentang Mina. Tak kusangka dia tanggap cerita aku. Syukurlah Mina sudah sehat! Usahakan dia sekolah ya."
"Sampaikan saja kami sudah terima rasa terimakasihnya. Aku bahagia semua berjalan lancar. Akhir begini yang kuinginkan. Semua bahagia sesuai porsi masing-masing."
"Ada yang bahagia tentu saja ada yang sedih. Semua seimbang. Besok aku akan usaha kunjungi kamu. Aku akan sibuk sampai hari H. Kau tahu aku tak punya tangan kanan untuk bantu pikul semua rancangan pesta. Kamu sudah tak bisa diharapkan."
"Maafkan aku sayang!"
"Maaf apa? Kau sudah begini bisa apa? Tak usah pikir. Jaga kesehatan saja sampai lahiran. Janji jangan nakal ya!"
"Sip...kamu juga jaga diri! Jangan keluyuran pergi jauh. Calon pengantin tak boleh lasak. Harus anteng di rumah."
"Iya bude...nasehat ibu hamil harus didengar. Ada lagi Eva. Kau ingat Desi teman kerjamu di kota B dulu? Dia dipenjara akibat pukul isteri dari pengusaha asal Malaysia."
"What? Kau bercanda?" Adeeva sangat kaget dengar cerita Nunik. Rasanya Desi bukan orang kasar mengapa sampai lakukan kekerasan. Adeeva tak percaya laporan Nunik.
"Canda apa? Aku dengar dari kedua orang tua aku. Mereka kan kerja sama dengan pengusaha itu."
"Ya Allah mengapa Teh Desi jadi kasar?"
"Desi keluar dari perusahaan kalian kerja pada perusahaan orang Malaysia itu. Ntah bagaimana Desi jadi simpanan pengusaha itu. Ketahuan isterinya maka ribut. Desi merasa lebih berhak dari isteri bosnya maka lakukan kekerasan pada isteri bosnya. Ya berujung laporan polisi! Kata mama aku tangan istri pengusaha patah dihantam sama kursi oleh Desi."
Adeeva tak percaya Desi setega gitu terhadap sesama wanita. Dan lagi yang salah adalah Desi mengapa dia pula yang marah pada orang. Seharusnya dia yang malu rebut suami orang.
Perut Adeeva menjadi mual dengar cerita Nunik. Teman yang sangat dia sayangi ternyata seekor rubah juga.
"Nik...kau yakin itu Teh Desi?"
"Yakin...ada fotonya kok!"
__ADS_1
"Untung dia tak kerja lagi di kantormu. Takutnya nanti dia ganggu Ezra."
"Ngak mungkin dia ganggu suami aku! Aku dan dia sudah seperti saudara. Aku akan cari tahu tentang Desi. Dia di penjara di mana?"
"Woi...kau mau apa? Mau jadi pahlawan kesiangan? Bukti lengkap Desi serang orang. Banyak saksi lagi. Kau sedang hamil sayang! Ini bukan urusanmu. Pelakor itu pantas dapat hotel termahal sedunia. Aku kok senang dia di penjara? Sudah ach...tak usah bahas dia! Kau cukup jaga keponakan aku. Tutup ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.." sahut Adeeva pelan.
Adeeva masih kepikiran pada Desi. Mengapa wanita sebaik Desi berubah total. Jadi simpanan pengusaha dan lukai orang. Itu bukan Desi asli. Mungkin ada orang nama sama tapi bukan Desi temannya.
Adeeva masih penasaran dengan kasus Desi. Adeeva ingin tahu kebenaran cerita ini. Selama bergaul dengan Desi tak tampak sifat bejat Desi. Malah Desi sangat baik padanya.
Pikir punya pikir Adeeva hubungi Ezra mau minta tolong cari tahu tentang kasus Desi. Adeeva tetap tak yakin Desi orang begitu.
Lama baru terhubung pada Ezra. Hati Adeeva membara ingin loncat keluar mengetahui Desi terlibat kejahatan. Adeeva tak rela Desi dicap orang jahat.
Sayang Adeeva tak tahu penyebab Desi dikeluarkan dari kantornya. Kalau saja terbuka cerita Desi merayu Ezra mungkin cara pandang Adeeva akan berubah pada Desi. Sekali ulat bulu selamanya tetap ulat bulu.
"Assalamualaikum hubby!"
"Waalaikumsalam sayang! Bosan di rumah? Hubby akan usaha cepat pulang ya!"
"Hubby dari mana kok lama angkat telepon?" tanya Adeeva curiga Ezra ada affair di kantor. Kasus Desi bangkitkan rasa waspada Adeeva.
"Hubby lagi ngobrol dengan rekan bisnis. Kenapa? Cemburu ya?"
"Isshhh ge ER amat! Bosan cemburu..."
"Tidak cemburu kok suaranya ketus."
"Siapa ketus? Punya suami playboy cap ikan paus. Iya hubby! Tadi Nunik telepon kasih kabar bulan depan dia mau pesta. Dan lagi aku mau ucapin terima kasih sudah bantu biaya pengobatan adik Parmin. Hubby kok ngak bilang bantu adik Parmin?"
"Sayang...tangan kita terulur bukan harap balasan. Hubby rasa selama niat kita baik tak perlu digembar gembor. Biarlah malaikat yang catat niat tulus kita! Puas?"
"Terima kasih sayangku! Ada lagi satu hal ingin kuminta bantuan Hubby." Adeeva berharap Ezra bersedia membantu Desi keluar dari penjara. Adeeva tak sampai hati lihat Desi tersandung kasus.
"Katakan apa maumu? Hubby akan usaha penuhi asal kamu jangan pikiran buruk pada hubby!"
"Hubby ingat Desi teman aku?"
Hati Ezra tercekat Adeeva bahas soal Desi. Cerita soal Desi sudah tamat. Wanita itu sudah tidak muncul di antara mereka menyebabkan suasana aman. Herannya kok tiba-tiba Adeeva bahas wanita itu. Apa Desi kembali teror Adeeva?
"Iya hubby ingat! Ada apa sayang?"
"Desi tersandung kasus kejahatan sehingga di penjara. Hubby harus bantu dia."
"Tunggu...gimana cerita bisa di penjara?"
"Katanya Desi selingkuh sama bosnya lalu ketahuan isteri bos. Teh Desi aniaya istri bos sampai tangannya patah. Teh Desi merasa lebih berhak dari isteri bosnya."
Desi keluar dari perusahaan Ezra bukannya tobat tapi cari mangsa lain. Kena batunya kali ini. Ezra sedikitpun tidak iba dengar Desi di penjara. Wanita model. Desi wajar di hukum.
"Dengar sayang! Desi sudah lakukan penganiayaan maka harus dapat hukuman setimpal. Kau tak perlu kuatir soal ini. Di penjara juga tak lama. Biarlah Desi belajar hormati hak orang."
Adeeva kurang senang Ezra kecilkan nilai Desi. Mengapa Ezra tidak simpatik pada nasib mantan karyawan sendiri. Sudah tidak kerja di perusahaan anggap tak ada hubungan lagi. Kejam amat hati Ezra.
"Hubby...dia itu teman aku dan mantan karyawan kita. Kita wajib tolong dia!"
"Sayang..Desi itu bukan teman yang baik! Kau tak perlu simpatik padanya. Hubby jaga perasaan kamu maka minta dia keluar secara baik-baik dari perusahaan kita."
"Apa maksud hubby? Jadi teh Desi resign karena tekanan Hubby?" seru Adeeva berang.
__ADS_1
"Ya...Kamu ingat makan kita pesta di rumah kebun? Malam itu dia katakan yang bukan-bukan tentang kamu. Dia mau posisikan diri sebagai pengganti kamu. Hubby marah dan minta dia resign atau dimutasi. Dia pilih resign. Itulah teman yang kau anggap malaikat."