Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Sandiwara Untuk Oma


__ADS_3

Ezra cepat membela Adeeva sebelum timbul salah paham lebih besar lagi. Ezra dengan ikhlas berikan perusahaan pada Adeeva agar wanita muda itu tidak ancang kabur lagi. Sudah ada tanggung jawab besar di pundak akan ikat langkah cewek ini untuk sementara. Ezra tidak berpikir untuk ke depan. Biar sementara Adeeva tenang urus kantor.


"Yang benar nak Ezra. Kau pikir abah tak tahu akalan Eva? Segala jurus dia keluarkan wujudkan keinginan dia."


Ezra tersenyum damai tak menyalahkan Adeeva. Cari aman paling penting sekarang. Mengalah untuk menang. Tunggu Ezra kecil sudah nangkring di dalam perut Adeeva semua akan beres. Ezra harus kerja lebih keras mencari penerus Dilangit. Jika perlu pakai sedikit trik kotor untuk giring Adeeva ke tempat tidur. Ezra tak punya pilihan lain selain berusaha.


"Abah suka sekali suudzon. Anak Abah tidak kemaruk harta cuma punya segudang dendam." sahut Adeeva ikutan senyum. Tapi senyum Adeeva penuh kelicikan.


"Astaghfirullah nih bocah! Sejak kapan Abah ajar kamu dendam pada orang. Kamu dan nak Ezra akan segera sidang jadi tak perlu dendam lagi. Nikah baik-baik pisah juga mesti baik-baik." Abah tidak lupa kasus perceraian Adeeva dan Ezra sudah ditindak lanjuti oleh mahkamah agama. Abah dukung Adeeva bila memang ingin pisah dari Ezra. Berpisah secara baik-baik masih bisa jalin tali silaturahmi.


Hati Ezra tercekat ternyata sidang tetap digelar walau Ezra tidak tanggapi panggilan dari pengadilan. Tekat keluarga Adeeva hampir sama dengan Adeeva.


"Abah...Kami takkan cerai! Mohon tarik kembali gugatan cerai Adeeva. Aku berjanji akan perbaiki semua kesalahan aku! Biarkan kami saling mengenal lebih dalam. Aku tak keberatan di bawah perintah Adeeva agar bisa berubah. Abah kan tahu sifat Adeeva kalau sudah marah. Bonyok kita!" Ezra memohon belas kasihan Abah agar tidak lanjutkan persidangan.


Kalau sidang Adeeva pasti menang karena semua bukti ada di tangannya. Ezra tak bisa lari dari kenyataan.


Abah tak bisa jawab karena semua keputusan di tangan Adeeva. Anak itu yang jalani hidup bersama Ezra maka keputusan tetap di tangan bersangkutan.


"Abah serahkan pada Eva. Semua orang memang pernah bersalah cuma nak Ezra bisa jamin kembali ke jalan benar? Berzinah itu dosa tidak terampuni."


"Aku tidak akan cari kebenaran dalam hal ini. Aku memang terlalu angkuh pada kekayaan maka tergelincir. Oleh karena itu aku percayakan semua pada Adeeva. Juga mohon pencerahan dari Abah untuk menjadi suami baik untuk Adeeva. Kalau sudah salah tidak perlu bela diri."


Abah tak bisa omong apa-apa dengar pengakuan Ezra. Ezra manusia biasa tak luput dari kesilapan. Membimbing orang bersalah kembali ke jalan benar merupakan pahala.


Semua berpulang pada Adeeva. Abah juga seorang lelaki tak bisa langsung hakimi Ezra. Berbuat salah adalah sifat manusia dan memaafkan adalah perbuatan mulia.


Adeeva sendiri bingung ambil sikap. Adeeva bukan mau harta Ezra tapi kasih pelajaran pada laki ini bahwa harta belum tentu beli kebahagiaan.


"Tunggu Oma sehat baru kita bincangkan lagi." Adeeva tak bisa beri jawaban tepat saat ini. Dia sendiri sedang galau bagaimana bisa beri keputusan tepat.


Ezra hanya bisa angguk berharap ada keajaiban antara mereka. Berbuat salah itu gampang tapi menebus kesalahan itu sama seperti membangun tangga mencapai langit tingkat tujuh. Susahnya minta ampun. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga buat Ezra.


Selanjutnya semua berdiam diri tenggelam dalam pikiran masing-masing. Harapan mereka sekarang adalah melihat Oma cepat sembuh dan kembali sehat seperti biasa.


Menjelang sore Oma baru bangun. Mata Oma kejap-kejap sebentar barulah kepala dipenuhi rambut putih mencari orang yang bikin jantungnya ngilu. Mata mulai senja itu berembun lihat orang yang dia rindukan tertidur bersandar pada sandaran tempat duduk dengan kepala terkulai ke bawah.


Abah dan Umi yang tak bosan menjaga ibu tua mereka segera berburu dekati orang tua itu. Rasa senang dan gembira bercampur aduk jadi satu. Rasa cemas perlahan pudar karena sang Oma tampak sudah mulai kuat. Bahkan dia berusaha duduk.


Umi segera membantu mertuanya duduk di atas brankar. Uminya Adeeva memegang mertuanya dengan kasih sayang sama dia sayang orang tua kandung.


"Akhirnya dia pulang. Kasihan cucu aku!" keluh Oma tak lekang dari sosok yang tengah tidur.


"Eva baik-baik saja Bu! Dia telah pulang untuk omanya. Eva akan marah bila ibu sakit lagi. Cepat sembuh ya!" Umi Adeeva membujuk mertuanya supaya tidak terlalu sedih ingat nasib Adeeva.


Abah bangga sekali pada isterinya. Walau beda kultur namun bisa adaptasi dengan lingkungan. Umi bahkan lebih baik dari wanita manapun maka abah tak tega poligami walau diijinkan Agama.


Abah bangunkan Adeeva supaya bisa lihat omnya telah sadar. Abah colek anaknya lebih kencang agar bangun jumpa omanya. Orang mau dijumpai sudah bangun sedang yang bersangkutan malah diayun mimpi.


"Bangun nak!" ujar Abah makin kencang karena Adeeva tidur mirip kerbau.


Adeeva bukannya bangun melainkan menguap kencang tak sadar di mana dia berada.

__ADS_1


"Nih bocah!" Abah mendehem lebih keras lagi. Kali ini Adeeva buka mata intip Abah lewat bulu mata lentik.


"Abah...Eva baru saja mimpi sedang makan sop buntut. Belum sempat makan sudah dibangunkan! Padahal baunya sangat enak." omel Adeeva tidak senang kegembiraan di alam mimpi terusik.


"Tuh Oma sudah bangun!"


Adeeva berpikir sejenak berusaha ingat apa yang telah terjadi padanya. Ntah apa yang terlintas di benak anak ini. Tiba-tiba dia terloncat bangun ingat sesuatu.


"Oma..." seru Adeeva baru ingat dia datang ke situ untuk apa.


Abah dan Umi menggeleng tak habis pikir mengapa putri satunya ini bisa pikun dini.


Oma sedikit terhibur lihat Adeeva yang kocak telah kembali menghibur dia.


"Eva...ini Oma!" kata Oma agar Adeeva mau melirik kepadanya.


"Oma... akhirnya!" Adeeva berseru girang lihat wanita tua itu telah sadar. Adeeva segera memeluk omanya lupa kalau wanita tua ini baru lolos dari maut.


Adeeva menciumi pipi Oma berulang kali tak peduli wanita tua ini belum mandi dan bersihkan mulut setelah jatuh sakit. Itu tak penting.


"Kau baik saja nak? Maafkan Oma telah buat hidupmu sengsara."


"Siapa bilang sengsara Oma? Eva baik saja kok! Cuma akhir ini Eva suka berpetualang. Tak ada yang perlu Oma kuatirkan." ujar Adeeva jauhkan badan dari Oma supaya bisa lihat lebih jelas.


"Itu si Ezra! Dia bikin hidupmu tak bahagia."


"Aiya Oma...itu cuma salah paham! Ezra itu baik kok! Dia ada di sini. Mana dia?" Adeeva edarkan mata ke ruangan cari sosok tinggi besar itu. Tak tampak bayangan laki cabul itu.


"Mana Ezra bah?" tanya Adeeva tak menemukan Ezra.


Yang berada dalam kamar menanti Abah bawa terdakwa pembawa sejuta bencana itu. Adeeva masih memegang tangan Oma beri semangat pada Oma bahwa semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Benar kata Abah kalau Ezra ada di luar menunggu Oma sadar. Lelaki itu keluar mungkin karena bosan berada di kamar tanpa melakukan apapun. Ezra masuk berbarengan dengan Abah. Lelaki ini tersenyum senang lihat Oma telah sadar dan tampak baik-baik saja. Ini akan mengurangi rasa bersalah Ezra terhadap Oma sekeluarga.


"Oma sudah sadar? Maafkan aku ya Oma." Ezra duluan minta maaf sebelum disemprot wanita tua itu.


"Kau menyusahkan cucu kesayangan kami. Kalau sudah tak suka pada Eva kami silahkan buat surat pisah. Tak perlu pamer punya hubungan dengan perempuan lain."


"Oma...itu bukan salah Ezra. Wanita itu yang ingin cari nama gunakan nama Ezra. Semua tidak seperti yang Oma bayangkan! Oma tak usah kuatir kalau Ezra akan nakal lagi. Eva sudah punya jurus mutakhir bikin dia patuh. Ayo janji pada Oma takkan berulah lagi." potong Adeeva tak mau Ezra jujur. Adeeva takut Ezra mengaku punya hubungan khusus dengan Sonya.


Ini akan melukai hati Oma lebih dalam. Biarlah Oma mendapat kabar baik saja supaya cepat pulih.


Ezra sangat berterima kasih pada Adeeva telah bersedia membantunya bicara baik di depan Oma. Ezra tahu Adeeva lakukan hal ini bukan untuk dia melainkan demi menjaga perasaan Oma. Apapun yang dilakukan oleh adeeva tetap saja menaikkan derajat Ezra di depan Oma..


"Apa yang dikatakan Adeeva itu benar. Para wanita itu numpang tenar. Tapi Oma tidak usah kuatir mulai besok semua kekuasaan saya serahkan kepada Adeeva. Para wanita itu tidak akan memiliki kesempatan menumpang tenar dengan namaku lagi karena aku bukan siapa-siapa." Ezra berkata dengan serius agar agar Oma yakin pada janjinya.


Oma tidak segera percaya melainkan melirik ke arah Adeeva yakinkan bahwa itu bukan khayalan semata. Demi menjaga perasaan Oma adeeva mengangguk berkali-kali.


Oma mengembus nafas dengan lega bahwa keadaan tidak seburuk yang dia bayangkan. Orang tua manapun tetap kuatir pada kehidupan anak cucunya.


"Kalian tak bohongi Oma kan?" Oma masih waspada trik anaknya bikin dia senang. Padahal di dalam ulat-ulat busuk sedang keliaran ciptakan bau busuk lebih dahsyat.

__ADS_1


"Ya ampun Oma.. ngapain bohong? Dapat hadiah apa?"


Oma menepuk punggung tangan Adeeva lega kalau hanya rumor bikin keluarga Ezra berantakan.


"Kalau gitu Oma lega. Hari ini juga Oma mau pulang. Lebih enak istirahat di rumah."


"Jangan dong Oma! Nginap berapa hari di sini. Tenang Oma.. aku ini sudah kaya raya sanggup biayai Oma berobat!" Adeeva menepuk dada sok mendadak kaya. Oma tertawa senang lihat rumah tangga cucunya tidak Segawat dibayangkan.


"Baiklah...besok kita pulang! Sekarang kau pulanglah! Istirahat dengan baik biar mukanya tidak pucat. Nak Ezra tolong jaga Eva ya! Eva orangnya keras tapi baik hati." Oma menghadap Ezra menaruh harapan pada cucu mantunya rawat cucu kesayangan yang konyolnya minta ampun.


"Oma tak usah kuatir. Aku pasti jaga Adeeva melebihi jaga nyawa aku sendiri." janji Ezra.


Oma angguk-angguk senang. Wajah perempuan tua berangsur memerah tanda darah mulai lancar beredar. Tekanan berita Ezra main gila buat Oma syok berat. Oma tak sangka Ezra demikian bejat. Sudah ada beberapa isteri di rumah masih berzinah dengan wanita lain. Laki model apa itu?


"Syukurlah! Eva pulanglah nak! Oma sudah tak apa-apa. Asal kalian bahagia Oma juga bahagia."


"Oma yakin?"


Oma angguk pasti. Abah dan Umi ikut lega ibu mereka telah kuat kembali. Ternyata kehadiran Adeeva jadi kekuatan Oma mereka.


Adeeva mana tega pergi gitu saja begitu Oma sadar. Adeeva ingin habiskan sedikit waktu lagi bersama Oma. Tidak gampang pulang maka Adeeva ingin bermanja pada keluarga.


"Sayang...pulanglah! Oma sudah sehat. Kau dan Ezra ngobrol masalah kalian. Apapun pilihan mu Oma tetap dukung. Jangan karena Oma kau memaksa diri!"


"Aduh Oma..masalah apa? Tak ada apa selain salah paham. Kami sudah ngobrol kok! Ikan paus..eh maksud Adeeva Ezra berjanji takkan biarkan wanita dekati dia lagi. Oma kan tahu kekuatan aku. Sekali lepas jadi perkedel."


"Kamu ini selalu andalkan tinju! Oma percaya padamu saja! Oma sudah tak apa. Kau jangan kabur lagi! Semua harus dihadapi bukan lari. Sejauh apa kau lari persoalan takkan selesai. Sudah selesai baru lari.."


Adeeva teringat nasehat eyang Supono. Nasehatnya hampir sama. Harus tegas hadapi masalah bukan main kabur. Kabur juga tak ada guna karena pokok masalah masih ada.


"Iya Oma...kalau gitu Eva balik dulu. Nanti malam Eva datang sini lagi."


"Tak usah...kau banyak istirahat! Oma lihat kamu juga sudah sangat kurus. Makan yang banyak ya!"


"Tenang Oma...Eva akan sikat semua makanan biar jadi pegulat sumo."


Oma tertawa kecil anggap persoalan Adeeva telah tuntas. Oma tak tahu ini adalah awal Adeeva lancarkan aksi perang lawan keluarga Ezra dan Ezra sendiri. Adeeva sudah persiapkan semuanya bikin Ezra melepaskan dia secara suka rela.


"Nak Ezra...Oma titip Eva ya! Bimbing dia karena dia masih muda."


Ezra meringis bukannya senang Oma titip Adeeva. Justru Ezra ngeri hadapi kebrutalan Adeeva bila naik darah. Ezra sudah pernah rasanya tendangan cewek ini. Pedas bikin badan takkan lupakan tendangan ini seumur hidup.


"Iya Oma..kami permisi dulu! Nanti kami balik lagi."


"Hati-hati di jalan!"


Adeeva mengecup pipi Oma lalu salami Abah dan Umi pamitan. Sebenarnya Adeeva malas pergi dengan Ezra namun dia harus bersandiwara tunjukkan pada Oma bahwa dia dan Ezra tak ada masalah.


Beriringan Ezra dan Adeeva keluar dari rumah sakit menuju ke parkiran mobil. Ezra bermaksud ajak Adeeva pulang ke apartemen tempat dia tinggal.


Mobil melaju di tengah jalan raya sarat mobil. Puluhan mobil bahkan ratusan ikut merayap tembus kemacetan kota. Mobil Ezra juga begitu. Mau tak mau harus antri sepanjang jalan.

__ADS_1


"Kita ke apartemen ya?"


"Tidak...tempat maksiat! Sampai mati aku tak mau injak rumah itu."


__ADS_2