Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Bongkar


__ADS_3

Adeeva puas setelah cicipi cendol bawaan Ezra. Ntah kenapa hati Adeeva plong nikmati cendol manis yang dibawa Ezra. Rasanya seperti berbeda dengan cendol umum. Apa ini pengaruh janin ingin manja dengan Papinya.


Cendolnya kandas ke perut Adeeva. Adeeva puas Ezra juga senang. Ezra datang hanya ingin menyenangkan wanitanya. Ezra mana berani bertingkah untuk saat ini. Takut kena PHK oleh Adeeva.


Sebenarnya Ezra ingin lebih lama bersama Adeeva namun dia masih banyak pekerjaan harus disiapkan maka dia harus balik kantor. Ezra bersyukur punya mertua siaga dua puluh empat jam jaga kuda Poninya.


"Sayang...sekarang aku balik kantor ya! Kau kan tahu kantor banyak sekali pekerjaan. Om Jul tak bisa kerja dan Ilham juga tidak datang lagi. Semua ku handel bersama Ruben." Ezra membereskan sisa bekas makan Adeeva berniat kembali ke kantor.


Bila sudah mengungkit masalah kantor Adeeva bersemangat karena dialah yang pertama mengubah segala sistem di perusahaan. Berhubung dia dalam kondisi tak sehat maka mau tak mau Ezra sendiri yang harus menyelesaikannya.


"Iya pak! Pergilah! Umi dan Abah akan menjaga aku di sini. Kalau bapak menemukan kesulitan segera hubungi aku."


Ezra tersenyum kecil untuk menyenangkan Adeeva. Dalam kondisi begini Ezra mana tega menambah beban pikiran istrinya itu.


Ezra menepuk pipi Adeeva beberapa kali dengan kelembutan luar biasa. Ezra ingin Adeeva tahu bahwa dia sangat menyayanginya.


"Iya..aku akan hubungi kamu bila ada yang tak dipahami. Banyak istirahat ya! Dedek bayi tidak berulah lagi kan?"


Adeeva menggelengkan karena kondisinya makin membaik. Pendarahan telah berhenti sama sekali. Tidak terdapat flek darah lagi. Secara medis kondisi Adeeva sudah stabil namun dokter masih menganjurkan Adeeva istirahat 1 2 hari lagi di rumah sakit.


"Pergilah pak!" ujar Adeeva halus tak seperti Adeeva biasanya.


"Eva...kau masih panggil suami kamu bapak! Panggil Abi atau Mas gitu!" Kuping Umi panas Adeeva masih jaga jarak dengan Ezra. Dalam perut sudah ada calon anak masih saja anggap Ezra itu musuh dalam selimut.


Ezra bersorak dalam hati Umi Adeeva bantu dia bungkam Adeeva si mulut tajam. Ezra sudah capek minta Adeeva hentikan panggilan pak namun wanita itu malah buat persyaratan menyusahkan Ezra.


Ezra mau lihat jurus apa akan dilontarkan wanita itu menyulitkan Ezra lagi. Adeeva puas tak puas bikin Ezra dalam kesulitan.


"Umi...hanya satu panggilan kok diributkan? Eva malah berniat panggil opa biar keriputnya cepat hiasi wajah jeleknya. Umi tak usah susah. Ada masanya Eva ganti panggilan. Tunggu hidayah dari Allah!"


Ezra meringis tak sangka dalam kondisi hamil masih saja mau bully suami. Kapan penyakit Adeeva bisa sembuh? Mereka buat perjanjian Ezra harus bisa jadi imam yang baik dan sholat layak orang Islam sejati. Persyaratan gampang-gampang susah. Ezra malahan belum sempat cari guru ngaji karena sibuk sekali. Dalam waktu ini Ezra harus bersabar tetap dipanggil bapak oleh Adeeva.


"Eva...tak baik melawan kata orang tua. Mulai sekarang panggil Habibi pada Ezra. Awas kalau Umi masih dengar kamu panggil bapak pada Ezra." Umi beri ultimatum pada Adeeva untuk rubah cara panggilannya.


Adeeva tertawa terpingkal ejek Ezra mendapat kehormatan menjadi Habibi nya Adeeva. Rencana Adeeva panggil hubby karena dalam bahasa Arab berarti cinta. Umi malah ngasih usulan panggilan jauh dari perkiraan Adeeva.


Ezra mengurut dada seolah tak ada nilai di mata Adeeva. Hanya satu panggilan saja susah demikian merepotkan. Gimana kalau mereka tinggal serumah kelak.


"Aduh Umi...jangan Habibi deh! Eva sudah ada panggilan sayang. Hubby.."


"Hubby...bagus juga! Mulai detik ini kamu harus panggil Ezra dengan sebutan Hubby. Titik..." ujar Umi tegas tak mau dibantah. Matanya yang agak sipit dibesarkan biar Adeeva takut. Umi jarang marah, sekali marah singa pun lewat.

__ADS_1


"Iya Umi cantik. Simpan tuh mata! Ntar Abah kaget punya isteri mendadak juling."


"Kamu ini! Dinasehati malah ngeyel. Oya nak Ezra! Kalau mau pergi ke kantor. Eva biar Umi yang kawal."


"Iya Umi! Titip Adeeva ya! Pulang kantor nanti aku singgah. Aku permisi ya! Assalamualaikum." Ezra beranjak pergi karena dia harus segera urus masalah Rani. Ezra tak mungkin cerita pada Adeeva tentang Rani. Ezra takut Adeeva tak bisa tahan diri buat kacau. Lebih baik dia jalan bersama Ruben cari kebenaran.


"Waalaikumsalam.."


Kedua pasang mata milik anak ibu menatap punggung Ezra menghilang di balik pintu. Ezra menutup pintu dengan sopan agar tak timbulkan suara berisik.


Adeeva merasa hatinya kosong setelah kepergian Ezra. Perasaan apa ini? Jangan-jangan dia telah jatuh cinta pada suami sendiri.


Adeeva berusaha kuat menepis bayangan Ezra. Adeeva tak mau jadi bucin akut. Bahaya kalau terpaku seorang lelaki.


Adeeva belum ngerti kalau Dewi Cinta datang tanpa pilih bulu. Semakin ingin menghindar semakin kuat pula dia mencengkeram hari pencinta.


Ezra melarikan mobil ke kantor untuk coba cari tahu tujuan Rani berbuat demikian kejam pada keluarganya. Meracuni mertua dan mencelakai suami sendiri. Terakhir mau habiskan Adeeva demi puaskan nafsu sendiri. Ezra takkan maafkan wanita model begitu.


Ruben masih setia menunggu Ezra pulang untuk urusan kantor pula. Banyak hal urgen harus Ezra turun tangan. Padahal itu tanggung jawab Adeeva selalu CEO perusahaan. Berhubung Adeeva masih dalam perawatan maka Ezra harus turun tangan sendiri.


Suasana kantor banyak perubahan sejak diambil alih oleh Adeeva. Semua takut kena PHK oleh bos baru yang tampak lebih sadis dari Ezra. Tak ada kata toleransi dari Adeeva.


Ruben dan Ezra sibuk mengurus orang luar yang ingin kontrak kerjasama dengan Dilangit namun ngotot ingin jumpai pak Jul. Menurut mereka perjanjian dengan pak Jul harga miring.


Ezra ngotot tidak mau terima kontrak kerja bila tidak mencapai standar harga sesuai permintaan perusahaan. Barang tambang ada kesepakatan internasional. Tak bisa buat harga seenak hati.


Ruben dan Ezra baru saja selesai bertemu dengan orang dari negara Sakura itu. Belum ada titik temu karena mereka minta harga janjian dengan pak Jul. Ezra tidak gubris perjanjian yang merugikan perusahaan. Masih banyak pelanggan dari negara lain bersedia menampung hasil tambang mereka maka Ezra santai saja.


Belum hilang sakit kepala Ezra tentang kontrak kerja datang pula Ilham dan isteri pak Jul ke kantor.


Ezra tetap setor muka datar pada anak ibu itu. Padahal dalam hati Ezra sudah membara ingat kelakuan pak Jul sangat merugikan dirinya. Manipulasi kontrak, hamili mantan isteri Ezra. Korupsi uang perusahaan. Ntah berapa banyak lagi kejahatan keluarga pak Jul terhadap Ezra.


Ezra persilahkan kedua orang keluarga culas itu. Ezra tidak umbar amarah karena mau tahu apa tujuan kedua orang itu kemari.


Ilham dan Bu Jul duduk di sofa menunggu Ezra bersuara. Bu Jul tampak gelisah tak tahu harus mulai dari mana mau minta bantuan Ezra.


"Datang ke sini hanya ingin bertapa?" Ezra tak sabar menunggu anak ibu itu bersuara.


Bu Jul angkat kepala menatap lurus ke bola mata Ezra. Ezra melihat keputusasaan dalam kolam mata wanita paro baya itu.


"Nak Ezra...begini nak! Kondisi om kamu kurang baik. Jadi kami berencana bawa ke Tiongkok. Katanya pengobatan di sana sangat hebat. Maka kami datang meminta kamu bantu dana!"

__ADS_1


"Maaf Tante.. perusahaan kita sedang dalam masalah. Biaya pengobatan di sini akan kami tanggung jawab tapi ke luar negeri kurasa tak bisa." Ezra langsung menolak permintaan istri Pak Jul dan Ilham.


Ezra bukannya tak mau memberi biaya pengobatan untuk pak Jul melainkan takut orang ini jalan-jalan ke luar negeri menghambur-hamburkan uang perusahaan. Ezra sudah mengenal sifat keluarga ini yang sangat royal dan suka foya-foya.


Mata istri Pak Jul kontan buram karena Ezra telah menolaknya. Ilham terlihat emosi Ezra tega menolak permintaan mereka yang sangat sederhana. Ilham menganggap Ezra telah melupakan jasa mereka di perusahaan.


"Ezra... kamu jangan keterlaluan kepada papa aku! Papa aku turut membesarkan perusahaan ini. Kau pikir tanpa kami kamu bisa membangun perusahaan ini demikian besar?" Ilham menuding Ezra dengan jari telunjuk. Jelas sekali Ilham tak terima Ezra berbuat semena-mena tak peduli pada hidup mati papanya.


"Ilham.. asal kamu tahu kalau aku membuka semuanya kalian sekeluarga akan mendekam di penjara. Aku masih mengingat sisa rasa keluarga di antara kita maka aku tidak ambil tindakan tegas. Papa kamu telah menggelapkan uang perusahaan sampai triliunan dan adik kamu Ika telah merugikan perusahaan sampai beratus-ratus miliar dan kamu belum tahu dosanya apa. Tapi aku akan segera mendapatkannya. Perusahaan nih jatuh karena permainan kalian. Bahkan dana segar di perusahaan tak tahu kemana rimbanya. Aku akan serahkan kepada pihak kepolisian untuk menyelidiki semua kecurangan di dalam perusahaan ini." Ezra tak mau kalah gertak karena sudah kantongi semua tindakan kecurangan keluarga ini.


Ilham menghempas diri ke sofa dengan rasa takut berganda. Ilham tak menyangka Ezra akan balik menyerang mereka. Ternyata Ezra telah mengetahui kecurangan mereka selama ini.


"Dan lagi ya Tante... Om Jul telah menghamili salah satu mantan istri aku yaitu Renata. Mama aku tahu jelas hal ini tapi tutupi dari kalian. Asal Tante tahu...Renata dan Om Jul telah lama berhubungan maka itu aku jijik pada Renata." Ezra buka semua bobrok Pak Jul biar keluarganya tahu sifat asli pak Jul.


Wajah Bu Jul kontan pucat pasi dapat kabar meruntuhkan dunianya itu. Mimpi seribu kali Bu Jul tak sangka suaminya sebejat itu. Main ke rumah adiknya ternyata hanya untuk hambur bibit.


"Jangan kau adu domba keluarga aku Ezra! Jangan fitnah sesuka hati!"


"Fitnah? Kenapa tidak jumpai Renata tanya kebenaran? Kalian akan tahu jawabannya. Kuharap kalian tahu diri apa yang telah kalian lakukan pada perusahaan ini. Kini perusahaan ini hanya tinggal kulit luar. Isinya telah kandas masuk ke kantong kalian sekeluarga. Kita tunggu saja penyelidikan pihak berwajib. Semua akan jelas." ancam Ezra memukul mental Ilham. Manusia model begini tak pantas diberi panggung agar tampil wah! Enaknya dilempar ke kolam buaya jadi mangsa predator sungai itu.


Nyali Ilham menciut. Ezra berani unjuk diri pasti telah mengantongi semua bukti-bukti kesalahan keluarganya.


"Kami semua akan resign. Kami mau lihat kalian bisa apa tanpa kami." ujar Ilham masih belum mau turun dari puncak tertinggi.


Ezra sangat berharap keluarga pak Jul hengkang dari perusahaan. Andai Ilham sendiri punya inisiatif mundur memudahkan Ezra atur semua posisi di perusahaan.


"Silahkan! Jangan lupa ajak semua kaki tangan kalian! Dan Tante...cepat hubungi Renata sebelum wanita itu melakukan hal memalukan kalian. Renata itu wanita nekat." Ezra berkata pada Bu Jul yang tampak lesu. Wanita paro baya ini tak sangka di usia senja akan menemui bencana hancurkan rumah tangga yang sudah terbangun puluhan tahun.


"Kuharap ceritamu itu bohong!" lirih Bu Jul datangkan rasa iba di hati Ezra. Namun Ezra tak boleh tunjukkan rasa iba yang akan meruntuhkan wibawa dia. Ezra harus keras hati biar bisa lebih maju lagi.


"Tante... wanita model Renata itu tak boleh dikasihani. Asal Tante tahu rencana Renata dan Om Jul mau gunakan anak itu untuk menjebak aku. Renata mau aku mengakui anak itu sebagai anaknya dan warisi seluruh harta Dilangit. Mereka sudah lama berhubungan mengapa baru sekarang Renata hamil? Itu karena rencana licik mereka mau jebak aku. Puluhan kali Renata coba rayu aku tapi aku bukan ayam tolol gampang masuk perangkap." Ezra lanjut buka kebusukan Renata dan Om Jul.


"Aku belum percaya Ezra."


"Tante jumpai Renata dulu! Mama aku juga terlibat dalam hal ini. Mereka semua masih bernafas dengan baik. Coba ajak mereka diskusi! Dan kurasa biaya pengobatan om Jul bisa kalian tangani dengan mudah. Dana dari Dilangit sudah hampir setengah masuk kantong kalian. Iya kan Ilham?"


Ilham tergugu. Dana itu pernah masuk ke rekening mereka sekarang sudah raib. Sampai detik ini mereka tidak mengetahui siapa yang menguras harta mereka. Ilham tentu saja bingung untuk menjawab pertanyaan Ezra.


Ezra tertawa hambar lihat keraguan Ilham. Ezra dapat rasakan betapa frustasinya Ilham karena uangnya telah terkuras tak tahu ke mana.


"Kita pulang ma!" ajak Ilham lemah.

__ADS_1


Bu Jul tak kalah loyo mendapatkan cerita lebih buruk dari berita hilangnya dana mereka. Pak Jul berselingkuh dengan Renata cukup lama membuat Bu Jul sakit hati. Ternyata suami yang dia cintai tak lebih buaya darat. Betapa hancur hati Bu Jul.


Kedua anak ibu itu tinggalkan kantor Ezra tanpa pamitan. Ada rasa malu dan benci bercokol di hati mereka. Malu ketahuan curang dan benci Ezra demikian kejam tak open pada Pak Jul.


__ADS_2