
Adeeva melongo tak percaya cerita Ezra. Desi bukan orang begitu. Adeeva cukup lama berkawan dengan wanita itu tak ada tanda-tanda Desi mau jadi pelakor.
"Hubby bercanda kan?"
"Bercanda? Hubby tutupi hal ini darimu takut kamu sedih. Kau tahu mengapa dia minta pindah ke kantor pusat? Dia dan Judika selingkuh ketahuan tunangan Judika. Tunangan Judika memutuskan hubungan. Kau ingat kejadian ada ibu-ibu tuduh dia selingkuh dengan suaminya? Itu fakta bukan tuduhan. Desi ingin cepat jadi orang kaya tidak ingat betapa sedih orang dia khianati. Dia mau depak kamu agar hubby jadikan dia sebagai isteri. Kau terima itu?" Ezra sedikit keras biar Adeeva sadar tidak semua orang baik hati seperti dirinya.
Ezra tahu betapa hancurnya Adeeva setelah tahu Desi bukanlah seperti yang dia bayangkan. Wanita itu penuh trik busuk menusuk orang dari belakang.
"Aku tak percaya." desis Adeeva tak bisa ngelak dari rasa kecewa. Dia begitu sayang pada Desi namun wanita itu tega lakukan hal licik padanya.
"Kau teleponi Judika maupun Imron. Kau akan tahu kebenarannya. Orang kayak gitu tak perlu kau pikirkan. Biar dia rasakan dinginnya lantai penjara baru bisa sadar kalau dia salah. Hubby akan segera pulang. Kau tunggu di sana." Ezra kuatir menjelang kelahiran Adeeva drop dapat kabar ini.
Tak seharusnya Nunik mengabarkan berita ini kepada Adeeva. Tetapi semua sudah terlanjur tak bisa dihapus begitu saja. Yang sekarang Adeeva sadar Desi bukanlah kawan baik dalam pikiran dia.
Ezra kabari Ruben bahwa dia harus pulang lihat kondisi Adeeva. Berbagai dugaan buruk terselip di benak Ezra. Bulan depan Adeeva akan segera lahiran karena sudah waktunya.
Ezra takut syok membuat masalah baru buat kesehatan anak isterinya.
Ezra bergegas pulang ke rumah Abah tak peduli pada urusan kantor lagi. Kalau punya sayap Ezra ingin terbang sampai ke rumah. Sayang Ezra punya keterbatasan sebagai manusia. Paling ikuti prosedur gunakan kotak besi beroda empat lalui jalanan beraspal.
Rasanya jalan ke rumah Abah sangat panjang berliku. Padahal Ezra sudah sangat hafal rute menuju ke rumah mertuanya. Tapi sekarang kok tak sampai-sampai.
Ezra merasa seabad baru tiba di rumah mertuanya. Laki ini segera masuk dengan kunci cadangan yang diberi oleh mertua lakinya. Abah sudah percaya pada Ezra maka berikan sebagian akses masuk ke rumah. Abah tak ragu pada kesetiaan menantunya itu.
Ezra hampir menangis melihat Adeeva tertunduk sedih. Tak ada air mata di mata indah itu namun jelas terlihat guratan kesedihan terukir di pipi mulai tembem itu.
"Assalamualaikum sayang."
"Waalaikumsalam..." Adeeva angkat kepala menatap suaminya. Mata Adeeva kontan berembun begitu Ezra datang. Tadi tak ada air mata kini air mata bergeming di kolam mata indah itu.
Ezra meraih kepala Adeeva satukan ke perutnya. Adeeva masih dalam posisi duduk maka hanya bisa jangkau di bawah perut Ezra. Pas mendarat di daerah paling sensitif di tubuh Ezra. Tapi saat ini siapa peduli dengan gairah. Ezra pentingkan perasaan Adeeva.
"Hubby...kenapa begini?" tangis Adeeva pecah.
Umi yang berada di dalam kaget dengar putri kesayangan menangis. Wanita ini segera kejar di mana Adeeva berada.
Umi terpaku lihat Adeeva berada dalam rengkuhan suaminya. Tak ada yang bisa dia lakukan lagi karena pemilik sah anaknya sudah ada di depan mata. Perlahan Umi mundur biarkan Adeeva dan Ezra selesaikan kemelut mereka.
"Sayang...tak ada yang perlu kau tangisi. Desi tak pantas mendapat air matamu. Dia itu sudah nakal dari dulu cuma dia sok suci di depanmu. Hubby sudah sumpah takkan duakan kamu maka hubby marah padanya. Ingat dedek bayi kita. Mereka ikut sedih bila Umi mereka sedih. Ayo hapus air matamu!"
"Aku tak sangka kalau Teh Desi begitu jahat. Aku betul-betul menyayanginya seperti saudara sendiri tetapi dia tega mengkhianati aku."
"Tidak semua orang baik hati seperti kamu. Di sini kamu bisa petik pelajaran bahwa kita harus hati-hati untuk menilai seseorang. Yang kita lihat jahat belum tentu jahat sedangkan yang kita lihat baik belum tentu sebaik penampilannya. Hubby antar kamu ke kamar?" Ezra melirik perut Adeeva yang makin besar. Isinya dua janin maka tampak lebih besar dari kehamilan umum. Ezra sendiri ngeri kalau Adeeva berjalan bertatih-tatih keliaran di sekitar rumah. Takut perutnya jatuh ke bawah.
"Aku ingin menenangkan diri hubby!"
"Kau mau ke mana? Hubby antar kamu. Atau kita pulang ke rumah Cendana. Di sana udara sejuk dan tenang. Hubby akan temani kamu!"
"Tidak usah...di sini saja!"
__ADS_1
"Baik...hubby temani kamu hari ini! Hubby cuma minta kamu jangan berpikiran. Kamu harus ingat anak-anak kita yang sedang menanti waktu untuk bertemu dengan kita. Ingat pesan dokter bahwa kamu harus santai tidak boleh tegang!"
Adeeva mengangguk patuh. Desi memang tak pantas mendapat belas kasihannya bila berbuat begitu. Adeeva harus menerima dengan lapang dada semua perbuatan Desi yang nyaris menjerumuskannya.
"Ayo cuci muka! Mari hubby antar ke kamar mandi!"
Ezra membantu Adeeva bangkit dari kursi malas. Perut segunung membuat Adeeva sulit untuk berdiri. Ezra gunakan tenaga ekstra untuk bantu Adeeva berdiri kokoh.
Setelah berdiri pas Ezra bimbing Adeeva dengan penuh kasih sayang. Adeeva adalah wanita paling bahagia di bumi ini. Punya suami kaya dan cinta mati padanya walau sedikit ada jarak usia mereka.
Ezra lebih tua lebih dari 10 tahun daripada Adeeva. Namun semua itu tidak menghalangi perjalanan cinta mereka.
Umi yang mengintip kegiatan pasangan ini tersenyum sendiri. Ibu mana yang tidak senang melihat anaknya bahagia bersama pasangannya. Abah sudah benar menikahkan Adeeva kepada Ezra. Adeeva sudah berada di tangan yang tepat.
Ezra tidak balik ke kantor temani Adeeva di rumah agar wanita itu tidak terpikir soal Desi lagi. Biarlah Desi memetik pelajaran berharga dari sifat buruknya.
Ezra hubungi Ruben setelah Adeeva tidur. Ezra minta Ruben handel semua masalah kantor pada hari ini. Sekarang Ezra sudah bisa lebih tenang karena Supono bisa diandalkan. Walau gemulai namun otak Supono cukup kokoh untuk diajak bertarung di dunia bisnis. Lambat laun Supono bisa naik pangkat jadi dewan direksi sejajar dengan kepala bagian lain. Ezra akan mendidik Supono agar menjadi lebih maju lagi. Semuanya perlu proses dan memakan waktu.
Malamnya Ruben datang bersama Ika. Ika sudah lebih tenang tinggalkan gaya glamornya. Gadis itu mulai berkarir lagi di dunianya yang asli. Ika kembali terjun di bidang kecantikan. Ika mulai jinak di tangan Ruben. Berkat bimbingan Ruben yang maha sabar Ika menjadi gadis baik.
Ika membawa martabak terang bulan sebagai buah tangan untuk ibu hamil. Ibu hamil pasti suka makan manis.
Adeeva tersenyum melihat Ruben datang bersama musuh bebuyutan dia dulu. Dulu wajah Ika seperti nek lampir di mata Adeeva kini kok seperti putri malu kena lindungan pohon besar. Jadi teduh bikin adem.
Ika memeluk Adeeva beri ciuman persahabatan. Semoga ini bukan seperti Desi beri madu lalu tebar racun.
"Sudah dekat ya?" Ika mengelus perut Adeeva geli dengan kondisi perut yang sangat gede.
"Operasi? Tidak lahir normal?"
"Dokter tak mau ambil resiko karena anaknya kembar. Dan lagi kata dokter anaknya gede-gede ikut postur tubuh ayah mereka. Ayo duduk! Masa berdiri terus!"
Ika menggandeng Adeeva perlahan bimbing wanita hamil itu menuju ke sofa ruang tamu.
Dari belakang Ezra dan Ruben ikut. Ezra bersyukur Ika telah banyak berubah. Gadis ini juga telah keluar dari kubangan lumpur yang tenggelamkan dia.
"Kalian ngobrol lah! Kami ada sedikit bahas masalah kantor." Ezra ajak Ruben ke belakang untuk bahas masalah kerja. Ezra tak mau ganggu kegembiraan para wanita.
Ezra ajak Ruben ke ruang tempat mertuanya bekerja. Ruang itu jarang digunakan karena mertuanya tak pernah gunakan ruang itu. Pekerjaan Abah tak butuh ruang khusus bahas pekerjaan yang hanya siapkan barang tinggal kirim.
Ezra menunjuk bangku dari kayu agar Ruben duduk di situ. Ezra sendiri duduk di kursi tunggal. Kini mereka berdua lebih rilex bicara dari hati ke hati. Di sini Ezra bukan sebagai bos melainkan sebagai abang yang siap lindungi adik. Ezra lihat Ruben dekat dengan anak pak Jul. Ezra mau tahu apa tujuan Ruben dan Ika.
"Ben...kau serius sama Ika?" Ezra todong Ruben tanpa tanya apa hubungan mereka.
Ruben seperti ragu untuk akui perasaan sendiri. Mereka memang jalan bersama tapi belum ada bahas masalah lebih intim. Ruben sendiri. elu. tahu akan ke mana arah hubungan mereka.
"Kami hanya jalan tidak bahas soal perasaan. Aku cuma nyaman saja lihat Ika sudah berubah."
Ezra manggut-manggut paham perasaan Ruben belum bisa memastikan diri untuk jalin hubungan lebih jauh dengan Ika.
__ADS_1
"Kau harus terima semua kekurangan Ika. Kau tahu dia berhubungan cukup lama dengan Kenzo. Aku takut mereka sudah melangkah terlalu jauh. Kau hanya dapat sisa Kenzo. Apa sudah kau pikir itu?"
Ruben tak pernah berpikir ke arah itu. Sejauh ini Ika sopan tidak umbar aurat goda Ruben. Ruben juga tak tahu sejauh mana hubungan Kenzo dan Ika. Ruben hanya butuh kejujuran Ika tentang hal ini. Semua manusia pasti punya titik kelemahan. Ruben harus belajar menerima kekurangan serta kelebihan Ika.
"Jalani dulu bang! Bagi aku asal Ika mau jujur aku tak masalah. Dia terbius oleh Kenzo. Bisa jadi mereka sudah lakukan hal tak pantas. Kita tunggu saja perkembangan hubungan kami. Kalau aku tanya sekarang kurasa sangat tak pantas."
Apa yang dikatakan Ruben adalah hal benar. Ruben belum mempunyai hak mengorek masa lalu Ika. Kalau mereka sudah lebih serius maka Ruben akan meminta kejujuran Ika. Semoga saja apa yang dipikirkan oleh Ezra dan Ruben tidak menjadi kenyataan.
"Baiklah! Satu lagi...kuminta kalian jangan bahas soal Desi lagi di depan Adeeva. Wanita itu sangat mengerikan."
"Aku tahu. Ini jadi satu pukulan buat Adeeva. Dia begitu sayang pada Desi namun cewek itu kecewakan Adeeva. Adeeva terlalu baik untuk berteman dengan orang senakal Desi."
"Kau teleponi Nunik agar jaga mulut. Berita ini datang dari mulut Nunik. Nunik tak tahu betapa dahsyat berita ini buat Adeeva. Nunik pikir Adeeva sekuat dulu. Dia sedang berjuang hadirkan keponakanmu maka kau harus lakukan sesuatu agar Adeeva sehat sampai lahiran."
"Iya bang...sekarang keadaan makin tenang! Kita abaikan saja mereka yang tak penting. Kalau aku ada jodoh Abang yang jadi orang tuaku. Aku tak butuh orang lain."
"Aku janji bila kau dapat jodoh baik aku akan beri salah satu perusahaan padamu. Kau tinggal pilih mau bergerak di bidang apa. Aku juga tak mampu lagi tangani sangat banyak perusahaan. Adeeva sudah pasti tak bisa sepenuhnya berada di kantor. Dua bocah cilik akan menyita waktunya."
Ruben tertawa dengar Adeeva bakal urus anak. Anak diajar berantem atau ikuti sifat konyolnya. Ruben lagi berpikir anak Ezra bakal mirip siapa? Pintarnya boleh mirip Adeeva tapi sifat nakalnya semoga tak menurun.
"Bang...anak kalian laki atau perempuan?"
"Menurut dokter keduanya cowok. Tak apa...tahun depan kami cetak kembar cewek pula."
"Emang adonan bisa dicetak sesuka hati? Aku tak sabar ingin segera lihat maha karya Abang."
"Tunggu saja tanggal mainnya. Ayo kita gabung lagi dengan para cewek! Kita sudahi masalah Desi. Banyak hal baru menunggu kita."
Ezra bangkit hendak keluar dari ruang kerja Abah tapi Ruben masih belum beranjak bangun. Kelihatannya masih ada ingin disampaikan oleh anak itu.
Ezra menahan langkah tunggu apa yang akan muncul dari mulut Ruben.
"Bang...dua hari lalu ayahnya Krisna ada telepon aku!"
Ezra berpaling tancapkan mata ke wajah Ruben. Mau apa ayah kandung Ruben cari anak yang telah dia buang.
"Lantas?"
"Mereka mau ajak aku kerjasama dengan mereka soal tambang. Mereka sudah dengar aku sudah jadi wakil Adeeva maka mau gunakan moments ini perluas bisnis."
"Menurutmu?"
"Aku tak bisa ambil keputusan karena semua tergantung padamu."
"Kamu merasa menguntungkan kita atau mereka? Sewaktu kamu cuma asisten mereka ada cari kamu? Di saat kamu sudah melejit ke atas baru datang. Kusarankan kau tolak saja. Kita masih banyak klien lain bisa kerjasama. Kau tak perlu mengemis pada mereka. Perlihatkan tanpa mereka kau bisa berdiri kokoh di atas kaki sendiri."
Ruben merenungi semua perkataan Ezra. Ezra tidak salah menilai keluarga ayah kandungnya. Dia dan ibunya didepak keluar tanpa apapun. Kini Ruben mulai sukses maka mereka hadir. Ruben tak boleh lemah hati menerima mereka yang hatinya sangat kejam.
"Iya bang! Aku setuju. Kita lebih baik cari klien lain. Terima kasih pengarahan Abang. Hatiku mantap untuk maju tanpa ingat masa lalu. Aku bukan siapa-siapa bila tanpa Abang."
__ADS_1
"Bagus kalau kau sadar. Kita ke depan. Ingat juga soal Ika! Kalau kau yakin tak perlu bertele-tele. Lamar saja."