Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Nostalgia


__ADS_3

Adeeva tidak malu mengangguk. Tujuannya memang bukan mau jadi bos. Hanya didorong oleh keinginan balas dendam pada Ezra juga beri pelajaran pada keluarga Ezra yang licik. Kini Pak Jul dan kroninya sudah tak bisa berkiprah di perusahaan karena wewenang mereka telah terkunci. Mereka tak punya akses ke bagian penting kecuali mereka temukan pakar lebih kuat dari Adeeva.


Ntah berapa lama rapat berlangsung. Adeeva merasa kok seperti berabad-abad baru selesai. Adeeva bayangkan Gimanalah kalau seumur hidup harus jalani rapat seperti ini. Bisa keriting bulu matanya pelototi setiap wajah peserta rapat. Adeeva makin sadar dia tak punya bakat jadi seorang bos.


Akhirnya rapat berakhir tanpa Adeeva simak final siapa terpilih jadi pemimpin lagi. Bisa jadi Ezra atau Kurawa yang sangat berambisi.


Adeeva menarik nafas lega bisa terbebas dari rasa bosan kepanjangan. Anak ini merentangkan tangan lebar-lebar tunjukkan rasa muak pada rapat kelas tinggi para pebisnis.


"Kita pulang toh?" tanya Adeeva ceria.


Ezra menggeleng heran ada orang begitu gembira tak perlu ikutan berbisnis padahal posisinya CEO. Ini asli CEO abal-abal.


"Iya...sekarang Miss Adeeva mau ke mana?"


"Kita ke kantor tempat aku kerja dulu. Aku mau jumpa Teh Desi, kang Imron dan pak Judika yang cantik." Adeeva tak sabaran mau jumpa rekan kerja paling solid. Adeeva rindu banget pada mereka. Rasanya sudah berabad tidak jumpa mereka.


"Baiklah Miss Adeeva! Kita nginap di sini atau balik hari ini juga."


Adeeva melihat sekeliling masih ramai peserta rapat. Mereka ngobrol santai lanjut berbincang tentang bisnis atau saling jajak kerjasama. Adeeva tidak tertarik ikut nimbrung. Dia tak sabar ingin jumpa Desi.


"Kita cabut pak Ezra!" Adeeva menyeret Ezra dengan paksa. Sebenarnya Ezra bisa saja melawan namun laki ini nikmati sentuhan istrinya. Adeeva mungkin tak sadar telah sentuh Ezra. Coba kalau sadar pasti akan lontarkan kata jijik.


"Adeeva..." seru seseorang menahan langkah Adeeva.


"Pak Krisna..." Adeeva senang disapa Krisna yang menurutnya baik walau ada sedikit cacat karena telah abaikan adik sendiri.


Krisna hampiri Adeeva dan Ezra dengan senyum lebar. Krisna sudah lama ingin jumpa Adeeva tapi tak tahu harus ke mana cari cewek ini. Syukur jumpa di ajang rapat.


"Kita pergi cari makan?" tawar Krisna Galant seperti biasa. Gayanya cool persis bos sejati.


"Oh terimakasih... kami ada sedikit rencana mau ke kantor. Nanti kita kontak lagi ya! Aku akan hubungi pak Krisna. Kita bisa ngobrol lebih leluasa tanpa bawa soal kerja."


"Oh gitu ya! Ok...aku tunggu telepon darimu nona cantik. Selamat beraktifitas."


"Terima kasih pak Krisna. Kita permisi dulu." Adeeva melangkah pergi diikuti Ezra. Ezra melontarkan tatapan membunuh pada Krisna yang lancang senggol wanitanya. Krisna bukannya takut malah tersenyum sinis. Krisna sudah tahu kalau Adeeva tak suka pada Ezra namun terbelenggu oleh janji jaman baheula. Krisna yakin akan perjuangkan wanita bertalenta itu.


Adeeva yang bawa mobil untuk beri muka pada Ezra di depan umum. Adeeva masih waras tidak bumi hanguskan Ezra sampai gosong. Ada masanya Ezra nikmati masa suram.


Kehadiran Adeeva dan Ezra secara mendadak membuat seisi kantor heboh. Orang-orang yang mengenal Adeeva salut pada pencapaian anak ini. Dari seorang karyawan kecil kini menjadi bos besar Dilangit. Berita cepat tersiar kalau tampuk pimpinan telah pindah ke tangan Adeeva.


Adeeva tak sabar mau jumpa Desi dan Imron. Kedua rekan yang tak pernah sirna dari lubuk hati Adeeva. Mereka berjuang dari bawah merangkak ke atas. Adeeva yang benar-benar capai puncak.


Adeeva tinggalkan Ezra sendirian langsung ngeloyor ke lantai enam tempat dia mengais rezeki dulu. Adeeva tak sabar ingin jumpa Desi.


Adeeva masuk secara diam-diam ke divisi tempat dia bekerja dulu. Suasananya sepi tak ada canda tawa di situ. Tak ada penambahan pegawai baru di tempat itu. Tempatnya tak ada yang tempati. Meja itu dingin membisu menanti majikan lama datang.


"Assalamualaikum..." Adeeva berseru riang beri kejutan pada ketiga rekannya dulu.


Ketiga pasang mata kontan mengarah ke arah suara yang telah lama hilang. Ketiga orang itu terpana tak sangka orang paling konyol sedunia muncul lagi lebih rapi. Pakaiannya tidak asalan seperti dulu. Wajah juga telah bersih tak ada benang kusut.


"Eva..." seru Imron berlari ke arah Adeeva.

__ADS_1


Imron merentangkan tangan ingin memeluk Adeeva saking kangen pada anak itu. Tiap hari Imron berdoa semoga Adeeva mau kembali ke divisi mereka turunkan hawa sejuk. Tanpa Adeeva divisi mereka gersang seperti Padang tandus.


Adeeva mengepal tinju tatkala Imron mau peluk dia. Adeeva sudah harus pandai jaga image karena dia bukan Adeeva yang dulu. Dia adalah bos juga nyonya Dilangit yang resmi.


Imron tertawa masam dapat sambutan keras dari Adeeva. Imron sudah tidak heran dengan tingkah laku Adeeva yang selalu bikin heboh.


"Pulang juga si anak hilang!" kata Judika meneliti Adeeva dari atas hingga bawah. Adeeva tampak lebih dewasa setelah sekian lama menghilang.


"Pulang dong! Di mana lagi ada tempat bisa tidur siang tanpa kena marah. Wuih...pak Judika makin cantik ya!"


Judika sudah rindu sekali gurauan Adeeva. Sayang anak ini telah ditarik ke pusat. Divisi mereka jadi kekurangan orang.


"Ada kabar kamu ini bos baru Dilangit. Dan kau bini pak Ezra. Benar ngak sih?" tanya Imron penasaran dengan berita simpang siur ini.


Adeeva ragu untuk jawab. Dia hanya sementara jabat posisi ini sampai perusahaan stabil. Dan lagi dia sudah ancang-ancang kabur dari Ezra. Gimana kelak hubungan mereka masih abu-abu.


"Terserah kang Imron mau pikir apa! Aku tetap Adeeva kalian. Eh Teh Desi! Mau coba di pusat?" Adeeva tawarkan posisi lebih baik pada Desi. Desi masih jomblo cocok di mutasi ke pusat biar lebih maju.


Desi melirik Imron dan Judika minta pendapat. Di sini mereka kekurangan orang. Kalau Desi ditarik ke pusat makin repot Judika dan Imron tangani pekerjaan. Sisanya cuma mereka berdua.


"Kau punya wewenang?"


Adeeva menepuk dada lagak orang hebat. Dia memang sedang naik daun jadi pemilik tunggal perusahaan Dilangit. Walau untuk sementara doang.


"Punya dong! Aku akan pendekar kesiangan punya sejuta skill. Untuk sementara aku punya kekuasaan atur Pak Ezra."


"Jadi benar kamu ini bini pak Ezra?" buru Desi tetap kaget walau sudah dengar selentingan.


"Ya gitulah! Kami menikah sudah lama. Pokoknya tak ada yang berubah. Aku tetap Adeeva."


"Jadi waktu pak Ezra ke sini dia sengaja bawa kamu pulang? Kamu kabur darinya ya?" tebak Imron dibalas senyum misterius Adeeva. Ketiga orang itu menebak apa yang terjadi pada kedua bos mereka sampai main kucing-kucingan.


"Kau pakai ilmu pelet apa sampai bos nyangkut padamu?"


Adeeva tertawa geli dikira main dukun untuk jadi orang nomor satu di hati Ezra. Desi tak tahu Adeeva berdoa pagi siang malam agar dibebaskan dari lelaki mesum itu. Apa mereka tak dengar skandal Ezra dengan Sonya. Tak tahu atau pura-pura tak tahu.


"Aku pergi dukun di kaki gunung Himalaya bertapa tujuh hari tujuh malam. Pulangnya beku masuk oven dua jam baru meleleh. Bayangkan penderitaan aku dapatkan laki cabul itu." ujar Adeeva pasang wajah muram.


Ketiga orang itu bukannya tak dengar skandal Ezra dan Sonya. Tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Ezra dan Adeeva adalah atasan. Permainan kalangan atas tak dapat mereka ikut campur.


"Kau tidak bahagia?" tanya Desi dengan hati-hati. Gimanapun Desi harus menjaga perasaan Adeeva. Dia mengenal Adeeva sebagai gadis yang baik dan jujur.


"Yang sabar ya! Kita sebagai manusia pasti akan mendapat cobaan hidup di dunia fana ini. Tinggal bagaimana kita sikapi cobaan yang pasti takkan berhenti menerpa kita. Kamu adalah gadis yang sangat kuat pasti mampu melalui semua ini." nasehat Judika ikut prihatin dengan kondisi Adeeva yang tertekan.


Adeeva hanya bisa mengangguk karena memang tidak dapat melakukan apa-apa selain bersabar. Kalaupun ingin terlepas dari Ezra tetap saja harus bersabar menunggu waktu yang tepat.


"Kita tak usah cerita yang tak menyenangkan. Gimana perkembangan kerja kalian? Ada kemajuan?"


"Akhir-akhir ini kurang pekerjaan karena penurunan penjualan. Kami lebih santai sedikit. Di pusat pasti ribet ya! Semua bertumpuk jadi satu. Apalagi sekarang kau adalah pemimpin. Tugasmu pasti segudang." Imron menatap Adeeva cari tahu kondisi di pusat.


"Perusahaan dikuasai kroni saudara pak Ezra. Banyak dana mengalir tak jelas. Aku sudah perbaiki sistim jadi tak ada yang bisa main api lagi."

__ADS_1


"Kau banyak berubah Eva! Kemilau cahaya jenaka mu telah hilang. Kau tampak lebih matang." Judika menilai Adeeva banyak perubahan.


"Keadaan memaksaku harus lebih dewasa dan licik. Teh Desi mau ke pusat?" Adeeva ulangi tawaran pada Desi untuk pindah ke pusat.


Desi agak bimbang tinggalkan Imron dan Judika berjuang berdua. Untuk bentuk tim batu bukanlah tugas gampang. Mereka sudah solid saat ini. Kalau tiba-tiba Desi pindah bukankah menyulitkan Judika.


"Beri aku waktu berpikir. Aku akan kabari kamu." Desi tidak segera terima juga tidak menolak. Dia harus berembuk dengan keluarga di rumah dulu.


"Iya teh! Kutunggu... gimana kalau nanti malam kita makan bersama? Aku yang traktir."


"Makan di warung dekat kontrakan kamu?" olok Desi sudah hafal sifat pelit Adeeva. Seribu perak bisa jadi masalah.


"Ya ngaklah! Aku traktir di restoran besar. Bawa keluarga kalian ya!"


"Yang benar nona pelit?" tanya Imron tak percaya sifat pelit Adeeva memudar.


"Aku kan pemilik Dilangit! Tenang saja! Nanti aku wa alamat restorannya setelah diskusi dengan pak Ezra. Aku pergi dulu ya! Mau lihat situasi kantor."


Ketiganya mengangguk sadar gadis di depan mereka bukan Adeeva yang dulu. Kini Adeeva punya tanggung jawab besar terhadap perusahaan.


Adeeva keluar dari ruangan divisi dia kerja dulu mencari Ezra. Laki itu pasti sedang bahas soal kantor dengan pak Dirwan selaku direktur kantor ini.


Adeeva melepaskan kangen pada kantor ini. Di sini dia pertama kali belajar menjadi pegawai sampai menjadi bos palsu. Banyak suka duka tercipta di sini. Semua akan jadi kenangan buat Adeeva.


"Eva..." panggil seseorang yang sangat familiar bagi Adeeva.


"Bu Celine..." Adeeva menahan langkah melihat orang yang paling sering bully dia menatap kepadanya dengan tajam. Wanita itu jelas kurang suka Adeeva sukses gaet Ezra. Wanita ini mana tahu kisah antara dia dan Ezra. Orang cuma tahu Adeeva goda Ezra untuk jadi nyonya bos.


"Sudah sukses ya? Hebat benar pelet kamu!!" kata Celine penuh nada ironis.


"Tuhlah! Dulu kusuruh Bu Celine pelet pak Ezra ngak mau. Sekarang dia terlanjur sayang pada aku!"


"Siapa tak mau? Aku cuma tak ada kesempatan. Sekarang kau tinggalkan dia serahkan padaku!"


"Hehehe...sekarang pak Ezra tak punya kuasa di Dilangit. Akulah pemilik! Apa dia masih dibutuhkan?"


"Kau... betul-betul rubah licik! Kau pelet dia sampai lupa daratan. Kembali seperti dulu! Kita bertarung secara jantan."


"Jantan??? Betina kali. Kita tak punya rudal lho Bu Celine! Kurasa untuk sementara tak bisa karena aku sudah nyaman jadi bos. Tunggu aku bosan dulu!" Adeeva mencolek pipi Celine dengan nakal.


Celine menepis tangan Adeeva jijik sentuhan gadis ini. Di mata Celine Adeeva tetap gadis muda tak pantas dampingi Ezra. Dia lebih pantas. Celine belum tahu betapa rumit hubungan percintaan Ezra. Di rumah masih ada lima wanita menempel bak lintah.


"Ciiisss...cewek serakah macam kamu kapan bosan? Hidup dalam gelimang harta hasil pelet."


Adeeva tidak marah dituduh pelet Ezra. Adeeva sudah terbiasa dengan sikap sinis Celine.


"Aku pasti bosan. Ok.. Kutinggalkan dulu ya! Mau jumpa suami tercinta." olok Adeeva sengaja panaskan Celine.


Celine buang muka geram pada pengakuan Adeeva mau jumpa Ezra sang suami. Posisi ibu Dilangit seharusnya punya dia. Mengapa jatuh ke tangan gadis urakan.


Adeeva tertawa kecil tinggalkan Celine dengan segunduk emosi. Dada Celine turun naik tahan emosi. Membayangkan posisi sebagai isteri Ezra saja sudah bangga apalagi dapat kursi pimpinan. Impian semua wanita di bumi.

__ADS_1


Adeeva mencari Ezra di dalam kantor dia. Laki itu pasti sedang cek kondisi kantor. Dia lebih ngerti seluk beluk pekerjaan kantor wajar dia turun tangan.


Adeeva hanya pemimpin dalam nama. Pelaksana tetap Ezra. Adeeva mana bisa tinggalkan Ezra begitu saja. Mereka harus saling melengkapi saat ini.


__ADS_2