Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Pak Jul Kolaps


__ADS_3

"Untung besar? Kau tahu jelas perangkat itu bermasalah tapi kau tetap impor. Sudah hampir setahun barang itu di gudang tak bisa dipasarkan. Coba kamu beri penjelasan!"


Ika mengibas rambut hasil karya salon terkenal. Bau harum sampo atau hair tonik menyebar ke seluruh ruangan. Ika tampak tidak terlalu terpengaruh pada kemarahan Ezra. Sikapnya masih santai anggap itu bukan masalah penting.


"Itu bagian pemasaran kurang gencar pasarkan produk ini. Di mana salah aku? Aku sudah sediakan stok untuk dipasarkan sisanya bagian pemasaran."


Ezra naik darah dapat jawaban tidak memuaskan. Seenak dengkul lempar kesalahan pada orang lain padahal dia telah manipulasi pembelian perangkat bermasalah.


"Aku akan tuntut perusahaan yang jual barang rongsokan pada kita. Kau sebagai penanggung jawab harus ikut dalam hal ini. Kau tahu perangkat itu mengapa tak bisa dipasarkan? Bukan bagian pemasaran tidak becus tapi otakmu yang kotor. Perangkat tersebut semuanya kena virus maka dijual murah. Di mana otakmu beli barang begitu? Kau pikir tersimpan di gudang seiring waktu akan terlupakan? Adeeva akan usut kasus ini sampai usai. Dia takkan lepaskan setiap orang yang terlibat penipuan ini. Aku tak bisa bantu karena kau sudah melangkah terlalu jauh."


Ika terhenyak tak sangka Adeeva punya kemampuan deteksi perangkatnya ada virus. Ceritanya pasti akan berubah bila telah masuk pemeriksaan. Setiap orang yang ikut teken MOU pembelian pasti tenggelam. Semua keluarganya terlibat termasuk pak Jul. Wajah Ika auto pucat kena skak mental dari Ezra.


"Anak kecil itu bisa apa? Dia ngerti apa? Hanya bisa jadi penghias ranjang kamu?" ejek Ika masih angkuh walau dalam hati ketar-ketir.


Ezra menggebrak meja marah Ika menghina Adeeva. Adeeva sepuluh kali lebih baik dari Ika walau usia relatif muda.


"Jaga mulutmu! Lebih baik kau berdoa semoga Adeeva temukan solusi tentang perangkat ini. Kalau tidak dia akan angkat kasus ini ke hukum. Mungkin kamu belum pernah rasakan kebanggaan memakai baju warna orange? Dan satu lagi. Jangan sekali-kali kamu hina Adeeva! Dia itu isteri sah aku! Bosnya Dilangit. Ingat itu! Sekarang kau hubungi pihak produsen bantu cari virus apa dalam perangkat!"


"Perangkat itu sudah lama tersimpan di gudang. Mereka mana mau tanggung jawab lagi. Kalian pikir sendiri solusinya. Aku tak ikutan soal virus." Ika mengelak karena memang tak ngerti soal perangkat. Dia hanya tahu tanda tangan dan Mark up harga. Itu yang bisa dia lakukan.


"Baiklah! Kita akan lapor pihak berwajib penipuan ini. Kamu paling duluan dipanggil karena semua ini atas ijin kamu."


"Ya ampun Ezra! Cuma segitu kamu susah. Tak usah diusut lagi. Aku akan tanggung jawab kerugian perusahaan. Aku akan bayar pakai lahan kosong pemberian papa. Ok? Sudahlah! Itu bukan nominal besar." Ika beri solusi agar amarah Ezra mereda.


Ezra bukannya senang diberi janji muluk. Begitu gampang mereka lecehkan perusahaan sebesar Dilangit. Keluarga pak Jul anggap Dilangit perusahaan bisa dipermainkan sesuka hati.


"Maaf Ika! Penyelidikan tetap lanjut agar tak terulang lagi. Aku tak bisa bantu apa-apa karena kasus ini ditangani langsung oleh Adeeva. Sekarang kau cari solusi lebih tepat ketimbang pamer kekayaan." Ezra usir Ika agar jangan berbuat di depan Ezra lagi.


Adeeva ingin usut tuntas itu adalah jalan terbaik supaya bisa jadi contoh buat yang lain.


Ika masih anggap bapaknya punya kuasa ditambah dukungan Bu Humaira maka posisinya aman. Ika tak tahu ada pergerakan perlahan dari Adeeva mengunci semua akses keluarga pak Jul.


"Ezra... kunasehati kamu jangan terlena oleh kulit licin Adeeva. Masih banyak perempuan lebih baik dari anak kecil itu. Dia hanya incar harta kamu. Sekarang saja sombongnya ke langit. Sudah...aku akan jual semua perangkat dan balikkan uang perusahaan utuh. Serahkan padaku!" Ika bangkit dari kursi Ezra dengan gaya gemulai berjalan keluar. Keangkuhan telah butakan hati Ika sampai tak tahu dia sudah jatuh miskin. Adeeva sudah kuras semua dananya. Wanita ini belum sadar bencana sudah menimpa dirinya.


Ezra membanting pulpen sampai hancur. Ruben sampai kaget lihat bosnya ngamuk banting barang. Ezra jarang mengamuk walau keras.


Ika memang keterlaluan tak pandang sebelah mata pada Ezra. Mereka anggap Ezra kurang open pada sektor lain selain tambang maka semena-mena pada untung rugi perusahaan.


"Apa rencana pak Ezra?" tanya Ruben bingung cari penyelesaian. Ika dengan gampang bilang mau pasarkan barang bermasalah. Apa bisa dilempar ke pasaran dengan kondisi cacat.


"Kita tunggu gerakan Ika apa bisa jual semua barang itu! Adeeva pasti pecat dia. Aku tak bisa tahan kebijakan Adeeva. Kurasa dia benar rombak semua struktur perusahaan."


"Anak itu masih muda. Dia masih perlu arahan bapak! Aku takut dia sangat keras cari kebencian orang."


"Itu yang kutakuti! Kau bantu dia atur penempatan semua karyawan. Atur sesuai skill setiap karyawan. Ikuti arahan Adeeva. Aku akan di belakangnya."


"Baik..."


Ika menemui Pak Jul di ruangnya yang sangat mewah. Pak tua ini pandai menikmati hidup dekor ruang kerja seperti satu ruang khusus untuk kaisar kerajaan. Dasar pak Jul punya jiwa seni, ruangan tertata indah.

__ADS_1


Ika masuk tanpa permisi pada empunya ruang. Alunan musik lembut bergema bikin suasana dalam ruangan terasa adem ayem. Pak Jul duduk santai di kursi menikmati alunan musik sambil pejamkan mata. Pak tua ini meresapi setiap bait lagu sampai ke lubuk hati.


"Papa..." teriak Ika hentikan kesenangan pak Jul.


"Ada apa nak? Papa lagi pusing... jangan kau tambah masalah baru!" sahut pak Jul tanpa buka mata.


"Papa pusing? Asal papa tahu Ezra sedang usut soal perangkat di gudang. Dia mau tuntut produsen karena jual barang rongsokan. Papa ini gimana sih? Mengapa barang ini bisa tersiar ke kuping Ezra. Buang saja ke laut! Habis perkara." sungut Ika melipat tangan ke dada.


"Lalu?"


"Aku janji akan jual barang itu untuk tutup kerugian perusahaan. Papa harus bantu aku bayar setengah dari nominal harga."


"Bantu kamu? Asal kau tahu uang papa terkuras habis secara mendadak. Dana segar perusahaan juga raib. Ezra sedang kejar masalah ini. Apa kau pikir papa tidak pusing?"


"Apa? Uang papa raib? Mengapa tak bilang dari awal. Lalu gimana kita tutup kerugian? Nominal hampir dua puluh milyar. Papa kan ikut nikmati hasil uang ini. Papa tak bisa cuci tangan."


"Siapa yang bermain di belakang kita? Bukankah keuangan perusahaan ada di tangan papa dan kak Ilham?"


"Makanya Ezra tuntut papa cari siapa pencuri besar ini. Papa ada curiga pada Kenzo pacar kamu. Sejak dia bergabung perusahaan banyak masalah."


Ika besarkan mata tak suka papanya curiga pada pacarnya. Kenzo tak punya akses di keuangan bagaimana bisa tilep dana segunung.


"Papa jangan asalan ya! Kenzo bukan orang seperti itu. Aku akan tarik uangku untuk tutupi kerugian. Papa dan kak Ilham harus bantu aku!"


"Papa benar tak punya uang sebesar itu nak! Papa lagi usaha teken kontrak dengan pembeli luar negeri tapi Ezra pesan semua kontrak harus diketahui dia. Ada satu tambang di pulau Sulawesi kurang diperhatikan Ezra maka papa mau gunakan kesempatan raup untung. Kita bisa dapat uang triliunan."


Wajah Ika kontan cerah dengar akan masuk uang dalam jumlah besar. Bayangan satu kontainer uang melayang di depan mata. Bayar uang perangkat tidak jadi soal. Uang pribadinya juga susah cukup banyak. Ditambah kontrak kerja besar ini kekayaan mereka akan makin menjadi.


Pak Jul meraih benda canggih itu langsung dekatkan ke kuping.


"Halo...kenapa?"


"Ya Tuhan pa...uang Ilham raib total."


"Ya Tuhan...kapan?" seru pak Jul kaget. Nasib sial sudah sampai pula pada anaknya.


"Aku tak tahu. Aku mau tarik uang beli mobil sport baru tabungan kosong sisa seratus ribu." jerit Ilham di barengi suara tangisan.


Pak Jul membeku tak percaya dana di tabungan Ilham anaknya juga raib. Dadanya terasa sesak tak sanggup tahan terima kenyataan uang mereka raib satu persatu.


"Kenapa pa?" Ika buru Pak Jul yang mendadak pucat pasi.


"Uang abangmu juga raib."


"What?" seru Ika tak percaya nasib sial datang beruntun pada mereka. Baru saja kena sidang Ezra kini dapat kabar buruk lagi.


Pak Jul merasa kepalanya pusing berkunang-kunang. Kejadian ini terlalu mendadak membuat darah pak Jul melonjak naik. Pak Jul kejang-kejang di atas kursi seharga ratusan juta.


"Papa...tolong!" teriak Ika bergema di seluruh lantai tempat pak Jul berkantor.

__ADS_1


Beberapa pegawai segera berdatangan melihat apa yang terjadi. Mulut Pak Jul mengeluarkan busa seperti keracunan. Padahal bukan keracunan melainkan tensi darah mencapai puncak batas.


"Panggil ambulance!" teriak Ika bagai orang kesurupan.


"Panggil ambulance terlalu lama. Kita bawa saja dengan mobil pribadi." usul seorang pegawai laki.


"Tunggu apa lagi. Ayo cepat lakukan!" Ika masih belum turunkan nada paniknya. Wanita muda bagai kesetanan mengejar sesuatu tapi tak tahu apa dikejar.


Beberapa pegawai laki gotong pak Jul menuju ke mobil. Mereka bekerja sama bawa pak Jul ke rumah sakit.


Ruben dan Ezra mendapat kabar ini turut berangkat ke rumah sakit. Ezra sedikitpun tak sangka pak Jul yang kuat akan terkapar kalah oleh penyakit hipertensi.


Ruben dan Ezra kejar mobil yang bawa Pak Jul. Gimanapun Ezra tak boleh abaikan orang tua itu walau banyak berbuat salah. Tuhan sudah beri hukuman setimpal pada orang yang jahat. Pak Jul terkena serangan darah tinggi bukan dari Ezra maupun Adeeva melainkan dari anaknya sendiri. Tuhan akan menjawab semua yang berbelok ke arah kiri.


Di rumah sakit Pak Jul segera ditangani oleh para medis. Tekanan darah pak Jul capai 200 maka dia anfal. Gejala kena stroke sudah tampak karena mulutnya telah miring ke kiri. Pak tua itu juga belum sadar dari koma.


Tak lama kemudian Bu Jul dan putranya datang hendak lihat kondisi papa mereka. Cuma sayang mereka tak diijinkan masuk selama para dokter beri pertolongan. Semuanya cuma bisa menanti di luar ruangan.


Ilham dan Ika mondar mandir di depan ruang tindakan dengan wajah cemas. Ilham sangat menyesal telah kasih kabar tak menyenangkan buat Pak Jul picu serangan darah tinggi. Masih untung bukan serangan jantung.


"Ika...duduk diam kenapa?" tegur Bu Jul risih lihat Ika seperti seterika sedang on. Maju mundur setrika ubin rumah sakit.


"Aduh ma...apa tak lihat papa begini? Gimana nasib kita di perusahaan tanpa papa?" kata Ika lupa kalau di situ ada Ezra dan Ruben.


Bu Jul mendelik beri kode pada Ika agar jaga mulut. Ilham juga menyesal Ika tak pandai kontrol mulut. Wanita ini mau bukannya kuatir pada kesehatan papanya melainkan posisinya di perusahaan. Apa ada anak model gitu?


Ezra dan Ruben saling berpandangan heran ada anak model ini. Dia sebagai saudara jauh prihatin pada kondisi pak Jul. Malah anaknya sendiri tidak open pada hidup mati sang bapak. Masih risaukan keadaan posisi di kantor.


Ika sadar keceplosan segera bingkem tak bersuara lagi. Ika malu juga tertangkap hanya penting posisi bukan penting kesehatan orang tua.


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang tindakan menemui anggota keluarga pak Jul. Semua serentak kelilingi dokter cari tahu kondisi terkini pak Jul.


"Gimana dok?" buru Ilham paling duluan.


"Kita sedang usaha. Untuk bahaya sudah lewat cuma kemungkinan besar bapak itu kena stroke berat. Tapi itu akan pulih seiring waktu bila kita obati bersama. Untuk sementara bapak kami tempatkan di ICU agar dapat perawatan intensif." jelas dokter sambil betulkan letak kacamata.


"Kapan bapak sembuh dok? Kami sedang garap proyek besar. Hanya bapak yang tahu proyek ini." buru Ika lupa daratan.


"Nona...kita usaha tapi sembuhnya kapan kami tak bisa prediksi. Besok sore ini bisa juga sebulan dan seterusnya. Kita doa bersama saja. Ruang ICU tak boleh dikunjungi bila tak penting. Mau masuk cuma boleh satu orang." kata dokter memandang rendah pada keluarga ini. Orang tua sedang sakit masih pikir proyek. Keluarga model apa pula ini. Penting uang daripada nyawa manusia.


"Iya pak kami ngerti! Terima kasih." Ilham segera jawab sebelum Ika nyerocos bikin malu keluarga.


"Sama-sama. Permisi."


Ilham menghela nafas sedih tak sangka semua berantakan. Dia panik karena uangnya hilang secara mendadak seperti kejadian menimpa pak Jul.


"Ika...jaga mulut di depan papa! Jangan menggila kau ini! Papa kita berada di alam maut kamu masih ingat proyek. Punya otak tidak." Ilham marahi Ika yang tak punya empati pada orang tua.


Ika merengut tak jawab. Dia memang salah keceplosan bincang soal proyek di kantor. Itu proyek olahan Pak Jul mau curi uang perusahaan ganti uangnya yang hilang.

__ADS_1


"Soal proyek kalian tak perlu susah hati. Sekarang semua proyek akan ditangani langsung oleh Adeeva. Tanpa teken Adeeva proyeknya tidak sah bisa terlibat jalur hukum. Kuharap kalian diskusi dulu dengan Adeeva sebelum ajukan teken proyek apapun!" kata Ezra dingin curiga ada permainan baru.


__ADS_2