Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Melawan


__ADS_3

Dari tadi Don ingin ketawa tapi ditahan. Kenapa setiap kalimat dari mulut Adeeva memancing urat ketawa orang. Cara Adeeva omong santai namun gelitik kuping. Gimana kalau Ezra tahu dia dianggap monster akan dicampakkan ke laut. Harga diri Ezra tak lebih dari selembar kantong kresek. Siap pakai langsung dibuang.


"Kalian mau bawa pak Ezra?" tanya Don yakinkan kalau kedua gadis mampu urus Ezra.


"Kalau om bisa urus ikan ini kami pulang! Ini waktunya bermimpi bukan urus makhluk tak penting." ketus Adeeva tak bersahabat.


"Om...emang aku setua itu ya?" gumam Don takjub mendengar panggilan Adeeva kepadanya. Sungguh anak ajaib.


"Masih mending kupanggil om. Mau kupanggil kakek? Sudah tua lagi main di pub. Pulang sono jagain Tante di rumah. Ini lagi ikan paus jaman purba! Tak tahu diri main acara mabukan!" umpat Adeeva kesal acara tidurnya terganggu.


"Hmmm...artinya nih orang megalodon ikan purba! Kok masih hidup ya! Mending cepat kembalikan ke habitat sebelum keriput." Nunik menyambung bikin kepala Don makin puyeng. Sungguh gadis luar biasa. Imajinasi liar ntah ke mana-mana. Ezra yang ganteng se Asia jadi bahan bulanan dua bocah lucu ini.


"Kalian ini alien ya? Ngomong kok nggak pakai saringan. Cowok macho macam Ezra kalian anggap makhluk daur ulang. Coba kalau dia sadar! Bisa gepeng kalian ini!"


"Ya kami alien cantik dari planet Nibiru. Eh Va...! Sudah malem nih! Ntar jadwal mimpi berlalu. Rugi tidak jumpa oppa Kim Soo Hyun. Pulang yok!" ajak Nunik risih berada di tempat tak ramah ini.


Adeeva menghela nafas tak tahu harus apakan makhluk segede ini. Dibiarkan di situ Ezra pasti celaka karena laki ini diincar para rubah licik.


"Gini aja Nik! Aku antar nih paus ke rumahnya dan kamu pulang terus! Aku bisa pulang sendiri nanti."


"Mana boleh gitu? Kamu kan sedang kabur masa mau balik ke sarang paus. Kamu bukan Nabi Yunus yang masih hidup ditelan ikan paus. Kita serahkan ke satpam rumahnya lalu kita lanjutkan acara kabur ke Thailand. Gitu saja keputusan."


"Jangan dong! Nanti di perkosa pula sama satpam gedung! Gini saja! Kita bawa sampai ke rumah lalu kita pergi. Baik hati sampai ke jantung. Ok?"


Nunik acung jempol setuju ide Adeeva pulangkan Ezra aman sampai ke rumah. Adeeva bukan tak kuatir kesempatan Ezra. Laki ini banyak musuh berbentuk ular belang. Kulit luar indah tapi beracun.


Don benar-benar habis kata pada dua gadis songong ini. Dia yang segitu besar dianggap angin lalu oleh keduanya.


"Om...kami bawa ya pak tua ini! Satu lagi. Jangan bilang siapa yang bawa dia pulang! Bilang saja om yang antar. Dan terakhir om pulang saja. Sudah tua tak cocok dugem kayak anak muda. Tuh lihat tulang! Keropos semua." nasehat Adeeva iba pada Don yang dia anggap salah satu dari pencinta dunia malam. Adeeva mana tahu Don pemilik pub ini.


"Iya Oma...mari kubantu kalian bawa ikan purba ini ke mobil. Kalian jangan buang di jalan lho!"


"Ide bagus...kita buang saja ke parit saja!" ujar Adeeva menambah pusing Don.


"Terserah kalian saja! Mau dibawa atau dicampakkan semau kalian. Yang penting dia bernafas sampai besok!" Don malas ladeni anak-anak kurang waras ini. Heran mengapa Ezra bisa tertarik pada makhluk aneh bin ajaib ini. Kalau soal kecantikan Don akui Adeeva punya pesona luar biasa.


Don terpaksa membantu Adeeva papah Ezra keluar dari pub. Satu pemandangan miris di mata orang awam. Tapi bagi mereka pencinta dunia malam pemandangan ini sudah biasa. Ini cuma minuman keras. Belum lagi yang terkenal narkoba. Lebih parah dari ini.


Adeeva dan Don memapah Ezra menuju ke mobil mewahnya yang harga pakai ember-ember. Nunik ikut dari belakang tak bisa bantu apapun karena postur tubuh tak menunjang ikut berpartisipasi.


Dengan susah payah Don dan Adeeva berhasil masukkan Ezra ke dam mobil. Kini tinggal cari kunci mobil Ezra agar bisa antar ikan raksasa ini pulang ke sarangnya. Adeeva bingung harus tanya pada siapa kunci mobil Ezra.


"Kunci mobil om?"


"Cari dalam saku baju atau saku celana!"


Adeeva besarkan mata kaget disuruh periksa saku baju Ezra. Adeeva berusaha hindari kontak fisik dengan laki ini tapi malah disuruh periksa kantong pakaian Ezra. Ini penyiksaan secara tak langsung.

__ADS_1


Angin malam bertiup makin kencang menyapu tubuh orang yang tertinggal di luar gedung. Nunik menggigil kedinginan akibat lupa bawa baju penghangat badan. Adeeva masih ragu untuk memeriksa keberadaan kunci mobil Ezra.


Don menanti tindakan Adeeva selanjutnya. Kalau wanita lain disuruh periksa tubuh Ezra pasti terlaksana mulus. Adeeva justru acuh tak acuh pada pria idola ini. Apa Adeeva belum ngerti arti hidup senang dengan setumpuk hadiah dari Ezra?


Adeeva hilir mudik kayak setrika sedang bekerja licinkan pakaian. Don kira Adeeva sedang menimbang untung rugi gerayangi tubuh Ezra.


"Om...lebih baik om yang kerjakan! Tak baik seorang cewek sentuh laki bukan muhrim." ucap Adeeva mulus seolah lupa Ezra itu halal buat dia.


Don kasihan juga pada Adeeva bila dipaksa terus. Don terpaksa memasukkan setengah badan ke dalam mobil cari benda untuk fungsikan kenderaan Ezra. Benda itu berada dalam saku celana Ezra. Untung bukan Adeeva yang ambil benda itu. Berhubung letaknya sangat dekat dengan pusaka Ezra yang tidak perawan lagi.


Don memainkan benda itu di depan Adeeva sambil tersenyum. Adeeva tampak lega berhasil menemukan benda vital untuk jalankan mobil.


"Pulanglah kalian! Pastikan pak Ezra selamat sampai di rumah." Don menyerahkan kunci pada Adeeva. Gadis ini menyambut sambil angguk kepala.


Nunik segera masuk ke mobilnya karena Adeeva juga akan segera cabut dari parkiran pub.


"Tunggu..." seru seseorang menahan langkah Adeeva yang belum sempat membuka pintu mobil.


Wanita berbaju merah itu meneliti Adeeva dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah sangat cantik tanpa make up. Pakaian sederhana hanya kaos lengan panjang serta celana karet. Sepatu skate usang. Tak ada yang menarik selain wajah dan postur tubuh peragawati.


"Kau siapa berani bawa suami aku?" bentak si merah garang.


Adeeva mendesis muak pada wanita ngaku isteri Ezra. Berapa orang sih isteri si Ezra. Sana sini orang ngaku isteri.


"Aku?" Adeeva menunjuk hidung sendiri dengan angkuh. Si merah bukan lawan Adeeva kalau diajak duel. "Aku ini nenek Uyut dari kakek Uyut Ezra. Tepatnya nenek moyang Ezra. Kau cuma bini...aku ini nenek moyang! Artinya pangkat aku lebih tinggi."


"Jangan kurang ajar ya! Serahkan Ezra padaku dan kau boleh pergi! Ezra itu urusan aku!" seru si merah galak.


"Bude...jangan suka marah! Ingat umur! Keriput makin bertambah lho! Pulang minum obat rematik dan tidur. Jangan lupa pakai baju hangat ya! Kasihan kalau flu nanti!" ujar Adeeva sok baik. Padahal setiap kalimatnya menyindir Rani.


"Hei... ngelunjak ya! Jangan salahkan aku bila berbuat kasar!" Rani bergerak maju menuding wajah Adeeva dengan jari dicat kutek warna merah cabe.


Adeeva tenang saja menepis jari Rani. Kuat sedikit gadis ini kerahkan tenaga jari itu bisa retak dua. Tapi Adeeva masih berusaha sabar tak terpancing emosi. Sebisanya hindari kekerasan, tapi kalau terdesak Adeeva takkan tinggal diam. Harga seorang Adeeva pantang diinjak.


"Bude...sadar umur! Jangan sampai stroke lho! Aku cuma mau bilang pak Ezra itu tanggung jawab aku! Kalau bude mau bikin urusan tunggu dia sadar. Silahkan kalian ke penghulu ataupun sewa roket ke bulan. Terserah!" kata Adeeva menggigit bibir agar keceplosan kalimat kejam. Kadang mulutnya berubah jadi nenek sihir suka ngoceh kalimat out of record.


"Yee...bandel nih bocah! Punya nyawa rangkap ya! Tinggalkan Ezra atau..."


"Atau apa?" Adeeva mendesak maju menantang Rani. Tak ada kata gentar dalam kamus Adeeva. Makin dipojokkan semangat gadis ini makin naik level. Rasa ngantuk yang menggila hilang seketika.


Don mulai kuatir keselamatan Adeeva. Rani bukan orang gampang dikalahkan. Dia punya uang beli kekuatan. Rani kuat karena uang. Kalau gunakan tenaga sekali tendang langsung nginap di rumah sakit.


"Ok...jangan salahkan aku bila berbuat kasar! Kau sendiri minta diberi pelajaran." Rani tepuk tangan dua kali pancing orang untuk melihat kejadian ini.


Ntah dari mana muncul dua pria berwajah sangar. Satu botak dengan tubuh besar sedang satu lagi gondrong mirip tikus kejepit ekor. Rani tertawa senang pikir Adeeva akan takut.


Adeeva justru terpingkal-pingkal lihat tampang dua bodyguard Rani. Sungguh pasangan serasi. Botak dan gondrong. Satu mirip badak dan satu mirip tikus.

__ADS_1


Don terbelalak kaget tak sangka Adeeva tidak gentar malah tertawa geli. Nunik yang lihat kondisi tak kondusif segera turun dari mobil untuk melindungi sahabatnya. Nunik takkan biarkan Adeeva sendirian lawan kentong nasi.


"Woi...om... bagi-bagi dong rambutnya! Masa rambut dikuasai sendiri. Kasihan tuh botak! Kedinginan kena angin." ucap Adeeva pancing amarah lawan.


"Ada apa Va?" Nunik susah berdiri di samping Adeeva menatap lurus ke arah dua kentong nasi yang tinggal tunggu aba-aba serang Adeeva.


"Tuh..cabe merah sodorkan tukang pukul. Takut nggak?" Adeeva mencolek pipi Nunik seolah Nunik gadis lugu tak pernah lihat orang kasar.


"Atut...eh...rambut bisa kabur juga ya! Dari kiri ke kanan." ejek Nunik meramaikan suasana yang makin ramai.


Don menggoyang kepala salut pada mental dua gadis ini. Don beri kode pada satpam pub agar berjaga jangan sampai kedua gadis itu terluka. Don tak bisa jelaskan pada Ezra bila orang yang dia sayangi terluka.


"Ssttt...kau siap? Kita harus bisa hajar si cabe. Aku akan dorong si badak timpa si cabe. Si tikus jatah lhu! Jangan bikin malu bang Juan ya! Keluarkan jurus burung Phoenix hajar setan." bisik Adeeva beri pengarahan pada Nunik berjaga kalau diserang.


"Jangan timpa! Gunakan tangan begundalnya tampar wajah si cabe! Kalau kita yang tampar nanti di lapor kita lakukan tindakan kekerasan."


"Siippp...siap saja! Biar mereka duluan nyerang. Orang-orang pada liatin kita! Kalau kita duluan kita yang salah."


"Ok... malam-malam olahraga! Asyik juga ya!" ujar Nunik senang bisa melemaskan otot setelah vakum dari dojang.


"Woi...kalian mau lanjut atau menyerah?" seru Rani menanti reaksi ngeri di wajah kedua gadis itu. Herannya bukan takut tapi berbisik-bisik seakan mengejek Rani.


"Terserah! Kalian jual kami beli. Kalau bisa harga grosir. Jangan mahal bude! Kami orang miskin tak sanggup beli yang mahal." ujar Adeeva konyol bikin Rani naik darah.


Don tak habis pikir mental Adeeva terbuat dari apa. Dia yang lihat sudah ketar ketir karena melibatkan preman.


"Ok...serang!" seru Rani.


Adeeva dan Nunik langsung pasang kuda-kuda siap terima serangan. Don ingin melarang Rani namun kedua preman Rani telah bergerak menyerang Adeeva dan Nunik. Sesuai rencana Adeeva dari awal. Si botak jatah Adeeva sedang di gondrong jatah Nunik.


Belum sempat si botak mendekat Adeeva telah lepaskan tendangan persis di ulu hati si botak. Lain di Nunik, gadis ini melumpuhkan kaki kurus si tikus dengan mudah. Dari tadi Nunik sudah perhatikan kaki si gondrong yang tak ada daging. Di situ kelemahan di gondrong.


Si botak lebih kuat menyerang lagi setelah terpental ke belakang. Pertarungan sengit terjadi jadi tontonan para tamu pub. Tak ada yang ingin melerai karena ada tontonan menarik dia gadis muda dengan skill hebat menghajar dua preman.


Adeeva berusaha mengiring si botak dekati Rani untuk beri sedikit pelajaran pada wanita yang konon katanya orang berpendidikan tapi tak punya wawasan. Otak isi tinja melulu.


Nunik bisa baca rencana Adeeva turut desak si gondrong dekati Rani. Pas si gondrong majukan tangan hendak pukul Nunik dengan sigap Nunik tangkap tangan itu ayunkan ke wajah Rani.


Plak. Tamparan telak cukup keras mendarat di pipi Rani. Belum sempat tubuh Rani berdiri tegak satu tamparan datang lagi dari tangan si botak. Adeeva juga gunakan tangan si botak hajar Rani. Dua tamparan beruntun membuat Rani terjatuh ke lantai parkiran.


Don melongo tak sangka dua gadis songong ini punya seni bela diri cukup hebat. Pantas rasa percaya diri keduanya sangat tinggi. Ternyata mereka punya ilmu lumayan bagus. Don lega tak kuatir lagi apalagi lihat Rani terkapar akibat dihajar anak buah sendiri.


Adeeva dan Nunik sangat cerdik tidak pukul Rani dengan tangan sendiri. Rani bisa saja melaporkan mereka lakukan tindakan kekerasan di tempat umum. Kalau sudah begini alamat masuk penjara.


Bukan Adeeva namanya kalau tak terpikir sampai ke situ. Dia sudah sering terlibat perkelahian membela teman maka tahu sedikit hukum pukul orang.


"Dasar anak setan..." teriak Rani menunjuk Adeeva dan Nunik.

__ADS_1


Kedua preman suruhan Rani ketakutan karena tak sengaja pukul wajah majikan mereka. Sumpah hidup itu bukan kemauan mereka. Mereka juga korban dari keganasan dia gadis muda ini.


__ADS_2