Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Kesempatan Datang


__ADS_3

Muka Adeeva memerah mendengar obrolan Ezra dengan seseorang. Untunglah Adeeva baru datang untuk lihat kondisi Ezra. Cewek ini merasa tak tenang tinggalkan Ezra sendiri di kamar. Takutnya Ezra terpeleset lagi.


Andai Adeeva dengar dari awal kalau Ezra tidak buta maka akibatnya tak bisa dibayangkan. Tapi Adeeva mendapat bocoran sangat bermanfaat. Ternyata Ezra yang maha tajir punya simpanan seorang aktris kondang. Berita yang sangat menjijikkan di kuping Adeeva. Adeeva makin menyesal Ezra telah merenggut mahkotanya. Laki itu tak pantas mendapatkan yang terbaik.


Perlahan Adeeva tinggalkan kamar Ezra biarkan laki itu lanjut ngobrol dengan seseorang.


"Kau jangan kelewatan anggap kau bisa beli segalanya dengan uang. Suatu saat kau akan kesandung karma. Kalau kau cinta mati pada Sonya lebih baik kau singkirkan satu persatu penghalang cinta kalian lalu menikah."


Ezra tertawa hambar. Menikahi wanita macam Sonya bukan pilihan tepat. Sonya hanya cocok jadi teman tidur dan pasangan di ajang tertentu. Wanita itu tak ngerti apapun soal keluarga sakinah. Hanya tahu umbar bahasa tubuh goda pengusaha tajir. Lain bisa apa?


"Sonya bukan isteri yang baik. Dia hanya cocok jadi ****** di ranjang."


"Terserah kau bro! Kuingatkan kau untuk hati-hati melangkah! Jangan angkuh dengan kekayaan kamu! Kau akan nyungsep bila tak hargai wanita."


"Lalu kau manusia suci?"


"Aku? Aku bejat tapi aku tak sakiti wanita. Aku takkan berani berkeluarga bila belum mampu tinggalkan dunia malam. Kau tahu kenapa aku tak mau pacaran? Itu karena takut sakiti wanita dengan kelakuan buruk aku! Jujur aku kasihan pada Poni. Seorang gadis baik hancur di tanganmu. Sudah ah...besok kujeput kamu sekitar jam sepuluh!" Don menutup ponsel tanpa peduli perasaan Ezra.


Di sana Don kasihan pada Adeeva yang jadi korban keegoisan Ezra. Gadis baik itu tak seharusnya muncul dalam kehidupan Ezra yang kacau. Laki itu bagai layangan terbang tinggi di langit menjadi sombong tak melihat ke bawah. Layangan ini tak sadar suatu saat benang yang bawa dia naik ke atas bisa putus setiap saat.


Adeeva menyelesaikan tugas lalu tidur tidak masuk ke kamar Ezra lagi. Adeeva lelah mikirin nasibnya yang jatuh ke tangan lelaki bermoral cabul. Anggap semua wanita itu makhluk bisa di beli dengan uang.


Adeeva menyimpan dendam ini baik-baik dalam hati dan bersumpah akan beri pelajaran berharga pada Ezra dan wanita selingkuhan Ezra.


Adeeva bangun pagi siapkan sarapan berbuat seolah tak tahu obrolan Ezra dengan seseorang. Adeeva punya rencana sendiri untuk balas rasa kesal di hati. Ezra tinggal tunggu tanggal mainnya.


"Poni..." Adeeva mendengar seruan khas Ezra bila memanggilnya.


Adeeva melempar pandangan penuh dendam pada Ezra cuma sekarang Adeeva tak boleh tunjukkan kalau dia sudah tahu tentang Sonya.


Adeeva urus Ezra seperti hari sebelumnya tanpa protes. Pagi ini Adeeva lebih tenang tidak celoteh seperti kicauan burung murai di pagi buta.


Hati Ezra menjadi kosong. Tanpa celoteh Adeeva rumah seperti tak ada nyawa. Kembali sepi seperti dulu. Dingin tanpa gairah.


Ezra anggap Adeeva terlalu lelah bekerja maka hilang keceriaan. Mereka berangkat ke kantor untuk menyelesaikan rancangan sistem baru. Ezra minta rapat internal dilaksanakan pagi ini. Ini melibatkan semua jajaran petinggi kantor.


Mereka yang main curang pasti ketar-ketir dengar ada rapat mendadak akibat kebocoran sistim di perusahaan sampai dana segar raib. Ini sudah terdengar segelintir petinggi kantor.


Ezra masuk ke ruang rapat dibantu oleh Ruben dan Adeeva. Lelaki ini berjalan hati-hati dibantu oleh Adeeva sebagai pengganti matanya.


Pak Jul, Romi anak Pak Jul, Zanah adik isteri pak Jul, Haykal adik istri pak Jul yang lain hadir untuk dengarkan arahkan Ezra pagi ini. Ada tiga manager bukan dari keluarga pak Jul ikut rapat karena mereka juga bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada perusahaan. Adeeva perhatikan reaksi para pengikut rapat. Ada yang cemas, ada juga yang ketakutan takut terbongkar rahasia menjadi tikus dalam gudang uang Dilangit.

__ADS_1


Ezra duduk di tempat utama seorang pemilik perusahaan dengan dua pengawal setia berdiri di belakang bos. Ezra diapit oleh Ruben dan Adeeva sebagai pembantu Ezra.


"Selamat pagi semua. Aku datang pagi ini ajak kalian bahas sistim keamanan perusahaan yang kena retas. Sistim kita terlalu lemah selama ini sehingga gampang diretas." Ezra memulai rapat tanpa basa-basi langsung ke inti masalah.


"Kita sedang perbaiki sistim baru. Aku sudah undang pakar yang sangat ahli dalam bidang ini. Pak Ezra bersama beberapa hari lagi maka sistim kita akan berubah menjadi lebih baik." sahut Pak Jul cepat agar tak didahului orang lain. Dia harus kuasai sistim sebelum ada usulan lain.


"Tidak perlu. Aku sudah undang pakar dari Jepang untuk hal ini. Dia sedang atur ulang sistim kita yang kena blok oleh hacker. Dalam satu dua hari sudah selesai. Kita lihat sistim model apa dia terapkan di perusahaan kita. Aku sengaja undang orang luar agar tidak tersisa jejak. Andai kita kita gunakan orang dalam negeri maka sebagian rahasia kita sudah tersebar. aku berbuat demikian agar jangan terulang lagi kekacauan dalam perusahaan kita. Perusahaan kita sedang merugi dan cukup fatal. Untuk sementara hanya beberapa bagian dapat difungsikan terutama yang umum tetapi yang intern tidak bisa dibuka lagi."


Pak Jul mengatup bibir kuat-kuat karena Ezra sudah turun tangan sendiri menangani kekacauan di perusahaan. Tidak ada lagi kesempatan pak Jul main billiard di dalam perusahaan. Bola selalu masuk ke dalam lubang yang diinginkan oleh Pak Jul. Ezra kuasai perusahaan sendirian tanpa melibatkan orang-orang lain.


"Aku setuju pak! Sistim perusahaan kita memang agak kacau karena setiap pegawai bisa akses seluruh data tanpa batas. Ini sangat berbahaya bagi keamanan perusahaan. Kalau ada pegawai berkhianat maka habislah kita." timpal Pak Syukur sangat senang Ezra telah temukan orang lain atur ulang perusahaan.


"Aku tak banyak omong lagi karena kalian semua tahu aku sedang keadaan kurang sehat. Mungkin beberapa waktu lagi aku akan berangkat ke luar negeri. Rapat kita tutup." Ezra tak ingin panjang cerita bertele-tele bahas hal belum pasti. Biarlah mereka ketakutan sendiri akibat berubah jadi tikus.


"Terima kasih bapak ibu sudah ikut rapat pak Ezra. Sekarang pak Ezra mau meninggal di tempat." Adeeva sok perhatian wakili Ezra ucapkan terimakasih padahal niatnya hanya ingin permalukan Ezra. Adeeva sengaja katakan meninggal di tempat bukan meninggalkan. Satu kata sama hanya beda kekurangan akhiran kan maknanya sudah beda.


Ruben tersenyum tahu Adeeva lagi bete pada Ezra. Ruben bukannya tak tahu hubungan Ezra dan Adeeva tidak harmonis.


Yang hadir di ruang rapat menahan nafas menanti Ezra semprot cewek iseng doain Ezra meninggal di tempat. Ezra bukan tak tahu sifat jahil Adeeva. Kalau dia ladeni cerita akan makin panjang. Mending pura-pura tak dengar apa yang dikatakan cewek usil itu.


"Kita pergi!" hanya itu keluar dari mulut Ezra membuat semua bertanya-tanya mengapa Ezra tidak ngamuk pada asisten kurang ajar itu.


Hanya Ruben yang tahu siapa sesungguhnya Aspri Ezra itu. Selir ke enam plus musuh dalam selimut.


Mereka kembali ke kantor Ezra untuk lanjut tugas masing-masing. Di sana sudah ada Don datang jemput Ezra untuk cek ulang kondisi mata. Itu hanya sandiwara untuk kelabui Adeeva agar yakin Ezra memang buta.


Adeeva senang lihat Don. Sudah berapa hari tidak jumpa lelaki itu timbul juga rasa kangen. Sebatas kangen tanpa ada rasa rindu.


"Halo nona cantik! Makin cantik saja!" sapa Don mengerling genit pada Adeeva.


"Iya dong! Aku akan segera balik ke kota B. Tugasku di sini hampir kelar." sahut Adeeva bergaya agak ganjen bikin Ezra kesal. Rasa kesal itu cuma bisa ditelan dalam dada. Dia kan buta tak bisa lihat. Mana bisa protes genitan ala Don dan Adeeva.


"Kau tak betah di sini?"


Adeeva mendudukkan Ezra lantas pindah duduk dekat Don di sofa. Adeeva sengaja ciptakan keakraban antara dia dan Don agar Ezra tewas di tempat. Sudah punya setengah lusin wanita masih piara kutu kupret. Dasar manusia mesum tak punya otak. Hilang sudah respek Adeeva pada Ezra. Pikir Ezra memang lelaki baik tidak celup sana sini ternyata parah habis.


"Tempatku bukan di sini. Kami ini orang kecil junjung tinggi nilai moral. Paling seminggu lagi aku akan balik ke tempat kerjaku dulu. Di sana aku menemukan ketulusan dan kejujuran. Kami umat beragama tahu ke mana harus jalan dan berhenti. Oya Uda Don ada penting ke sini?"


Ruben dan Ezra hanya diam saksikan dua teman beda generasi ngobrol akrab. Sejak kapan Don dan Adeeva berteman baik.


"Don... kita berangkat?" ucap Ezra mematahkan obrolan antara Don dan Adeeva. Ezra tuh sudah tidak sabar mendengar obrolan yang sedikit menyerempet kepada dirinya.

__ADS_1


"Oh iya...maaf ya nona cantik! Aku harus antar bos kamu ke rumah sakit untuk kontrol kondisi mata. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."


Don menepuk bahu Adeeva lembut makin suka pada sifat baik anak ini. Tidak tergiur pada setumpuk harta Ezra. Don yakin Ezra pasti akan royal pada Adeeva yang telah beri sesuatu yang berharga pada Ezra.


"Iya Uda... hati-hati ya!" Adeeva tidak peduli pada Ezra yang dibantu Ruben keluar dari ruangan. Sudah ada yang bantu ngapain Adeeva sibuk caper pada bos. Kalau bisa Adeeva ingin kabur sejauh mungkin dari Ezra. Ada rasa benci pada Ezra yang terkenal sombong soal wanita. Ezra harus tahu bahwa tidak semua wanita tunduk pada hartanya.


Di ruangan tinggal Adeeva sendiri selesaikan keamanan sistim. Adeeva ngebut agar terbebas dari ikatan Ezra. Lelaki itu sudah tak pantas dipertahankan.


Sampai malam Ezra tidak pulang. Adeeva sendirian di apartemen Ezra menanti Ezra pulang. Kalau tak ingat laki itu buta sudah ambil langkah seribu tinggalkan tempat penuh maksiat ini. Di sini bukan dunia Adeeva.


Adeeva cepat tidur untuk lupakan kepahitan jumpa Ezra. Baru timbul sedikit simpati langsung luntur lagi gegara terdengar Ezra anggap Adeeva gampang diatur. Ezra mau atur Adeeva adalah angan kosong. Orang tua Adeeva saja tak bisa atur rencana hidup anak ini apalagi cuma seorang Ezra. Masih jauh.


Ponsel Adeeva berdering memecahkan ketenangan di kamar Adeeva. Dengan mata setengah merem cewek ini meraih ponsel di samping tempat tidur.


"Assalamualaikum. Siapa ya? Kurang kerjaan telepon tengah malam? Tak tahu ini waktu orang istirahat?" semprot Adeeva tanpa melihat siapa yang menelepon tengah malam buta begini. Adeeva tidak peduli siapa yang menelepon karena kesal tidurnya diganggu.


"Ya ampun nih anak! Ngomong kok kayak petasan saja! Ini Uda Don."


Adeeva menarik badan ke posisi duduk begitu dengar siapa yang telepon. Ada apa telepon. Apa ada masalah dengan Ezra.


"Uda punya jam nggak sih? Ini jam orang sedang bermimpi. Kalau tadi mimpi aku sedang dapat undian nomor 1 maka aku akan cari uda untuk bikin perhitungan."


Don tertawa geli. Bermimpi dapat undian saja senang. Gimana beneran di alam nyata. Bisa terbang ke langit tingkat tujuh.


"Sori.. ini Uda mau bilang jemput bos kamu!" Dia mabuk lagi."


"Dengan siapa? Kok betah amat mabukan? Mata sudah buta hati juga buta." omel Adeeva jengkel ingat keangkuhan Ezra rendahkan dia.


"Dia mabukan sama Sonya. Kenal Sonya?"


Adeeva terdiam sejenak dengar nama itu. Siapa tak kenal bintang film dan bintang sinetron yang dipuja tanah air. Semua orang memuja kecantikan bintang itu termasuk Ezra jadi budak bintang itu.


"Tidak kenal. Maaf aku tidak tertarik pada wanita pak Ezra. Uda Don urus saja dia. Kalau mati tanam saja!" Adeeva keluarkan kalimat kejam untuk imbangi kekejaman Ezra pada wanita.


"Jangan gitu! Kau datang dulu lihat keadaan dia! Nanti kita atur mau dibuang ke mana. Ok..kutunggu kamu!"


Adeeva melempar selimut dengan hati mengkal. Sungguh Ezra yang baik. Selalu bikin masalah buat Adeeva. Belum puas hancurkan hidup wanita muda ini kini menarik Adeeva masuk jurang.


Adeeva terpaksa ganti pakaian pergi lihat kondisi Ezra. Gimanapun dia harus merawat Ezra sampai sembuh supaya pergi tanpa beban di hati.


Adeeva turun ke lantai bawah disambut oleh hembusan angin malam yang dingin. Sepanjang jalan sudah sepi. Hanya ada satu dua kenderaan lalu lalang lalu sepi senyap.

__ADS_1


Adeeva masuk ke dalam mobil Ezra melaju ke pub tempat Don mengais rezeki. Sepanjang jalan Adeeva masih dipenuhi rasa penasaran sejauh mana hubungan Ezra dan Sonya. Mengapa tidak tercium oleh media. Seharusnya dari dulu skandal Ezra dan Sonya meledak.


Adeeva akan bikin skandal ini jadi santapan publik biar semua orang tahu betapa ****** bintang pujaan mereka. Orang macam Ezra dan Sonya harus diberi pelajaran supaya kenal kata malu.


__ADS_2