
Belum lagi teringat suami bangkotan Adeeva. Apa kata mereka bila tahu Adeeva berani tinggal dengan lelaki lain. Tapi Adeeva bisa manfaatkan Ezra untuk ditalak suaminya yang tidak tahu bentuk rupa.
"Hei...mau melamun terusan atau cepat kerjakan tugasmu?" tegur Ezra buat Adeeva kelabakan.
"Kerja pak! Oya pak...Aku datang ke rumah bapak agak malam ya! Soalnya aku mau antar motor pelatih kami dulu. Nggak enak pinjam terlalu lama."
"Tidak perlu kau antar. Cukup kau sebut alamatnya. Ada orang akan antar ke sana. Kau ikut aku pulang."
"Lha...pakaianku masih di kontrakan!"
"Kita ambil bersama!"
"No...apa kata ibu kontrakan lihat aku pergi bawa koper dengan cowok! Aku datang sendiri saja! Aku ada mobil kok walau tua. Please pak! Aku penting sekali jaga image."
"Jaga image? Apa kau punya? Anak gadis berantem, keluyuran malam hari. Itu yang harus kau jaga?" sinis Ezra.
"Yaelah pak...hanya kebetulan jumpa diingat terus! Aku jarang keluar malam. Berantem kan dipancing duluan. Emang aku senang berantem?"
"Memang kau ikan bodoh? Dipancing langsung gigit umpan. Pokoknya aku tak mau dengar kamu berantem lagi. Kupotong gajimu bila terdapat hal negatif. Ingat itu?" ancam Ezra tidak main-main.
Adeeva malas menjawab cuma mencibir. Bibir ranumnya maju dua senti ke depan mengejek omelan Ezra. Ezra lebih parah dari Omanya. Oma sudah cukup cerewet nyatanya ada yang lebih cerewet. Laki pula.
"Kumpulan emak mulut bawel." desis Adeeva pada diri sendiri.
"Terdengar..." seru Ezra buat Adeeva besarkan mata ikan koki.
"Sekecil ini masih terdengar? Bapak ini manusia betulan atau robot? Ada tombol on off nggak?"
"Mau test aku manusia atau robot? Apa robot bisa mencium bibir anak gadis?"
"Bisa dong! Cuma mungkin bibirnya keras dikit! Terbuat dari silikon atau plat stainless steel."
"Baiklah! Kita buktikan bersama aku ini manusia atau robot." Ezra bangkit dari kursi berjalan ke arah Adeeva.
Adeeva terhenyak ketakutan di dekati bosnya. Mau apa laki itu? Mau goda karyawan dengan berbuat mesum. Adeeva takkan biarkan Ezra melecehkan dia saat bertugas. Adeeva memang tak bisa melawan di dalam kantor namun bukan berarti Adeeva biarkan Ezra berbuat semena-mena padanya.
Ezra makin dekat berdiri persis di samping Adeeva lantas meraih dagu gadis ini menghadap ke wajahnya. Sentuhan Ezra seperti sengatan listrik ribuan volt. Adeeva bergetar hebat saking takut kena sentuhan lelaki baru di kenal.
Ezra menatap bibir ranum Adeeva sambil tersenyum menggoda. Lama Ezra pertahankan posisi begini buat Adeeva kelimpungan.
Ezra menurunkan wajah ke wajah Adeeva hembuskan hawa panas nafasnya. Keduanya sangat dekat nyaris bersentuhan bagian sensitif Adeeva. Bibir Adeeva jadi incaran Ezra. Kalau tidak kuat mental Ezra bisa silap ******* bibir sensual yang memang miliknya.
Adeeva tersadar dari kebodohan dipermainkan bosnya. Secara mendadak Adeeva bangkit ingin hindari Ezra. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Begitu Adeeva ingin bangkit dari kursi wajahnya justru nemplok ke wajah Ezra.
Bibir ranum dan bibir kasar saling bersentuhan walau cuma beberapa detik. Ezra sengaja tidak mengambil keuntungan dari insiden yang diciptakan Adeeva. Ezra bebaskan Adeeva bergeser menjauh dari Ezra.
Wajah Adeeva sudah berubah warna seperti kepiting rebus. Merah nyaris satu wajah, bahkan sampai ke kuping juga merah. Betapa malunya Adeeva tabrakan bibir dengan bos. Di tempat lain orang tabrakan kenderaan, ini insiden tabrakan dua bibir.
Tak ada yang bisa dituntut karena semua ini gara-gara insiden. Salah Ezra mengapa dekatkan wajah ke muka Adeeva. Adeeva yang jarang dekat cowok tentu saja blingsatan di mesra Ezra.
Ezra senyum tipis lihat isterinya ini memang gadis lugu. Belum kena radiasi pergaulan bebas. Hanya digertak akan dicium sudah seperti orang hendak perang. Gimana kalau Ezra benaran caplok bibir ranum itu. Mungin anak itu langsung pingsan.
Ezra tinggalkan Adeeva yang masih syok berat kena sentuhan Ezra. Ada rasa dosa menyelinap di hati Adeeva. Dia masih berstatus bini orang tapi intim dengan laki lain. Itu sama saja berselingkuh.
"Maaf pak! Aku permisi ke kamar kecil!" Adeeva nyelonong keluar untuk menenangkan jantung yang sudah terlanjur berpacu kencang. Masih untung Adeeva tak ada penyakit jantung.
"Jangan lama! Masih banyak kerja." Ezra peringati Adeeva tanpa merasa bersalah. Ezra hanya test sampai di mana keberanian Adeeva. Ternyata hanya anak kecil buta soal asmara. Isteri ini harus Ezra pertahankan.
__ADS_1
Lama sekali Adeeva baru balik ke ruangan Ezra. Kali ini wajah cantik Adeeva kembali normal. Wajah kena bakar rasa malu telah hilang berganti wajah penuh rasa curiga pada bos yang dianggap Adeeva sangat mesum.
Ezra tidak mengganggu Adeeva lagi. Laki itu biarkan Adeeva bekerja sesuai keahliannya. Anak itu mengatup bibir kuat-kuat tak ada niat katakan sesuatu. Bertanya soal kerja saja Adeeva ogahan.
Keadaan bertahan hingga akhir masa kantor. Jam pulang kantor tiba. Para pegawai merapikan meja masing-masing sebelum pulang berkumpul dengan keluarga. Adeeva yang tak punya keluarga di sini hanya nelangsa menghitung jam dari detik ke detik hingga jam ke jam tunggu berlalunya waktu malam.
"Ade..." panggil Ezra sebelum Adeeva angkat kaki dari ruang Ezra.
"Ya pak!" Adeeva menahan langkah.
"Berikan kunci motornya! Dan beri alamat pemilik motor. Biar satpam sini antar motor pada pemiliknya. Dan kau kuantar pulang."
"Tidak perlu pak! Aku bisa selesaikan semuanya. Aku pasti datang ke tempat bapak! Lepas Isya aku sudah ada di rumah bapak. Jamin datang pak!"
"Kau datang dengan apa?"
"Motor matic...kemarin dipinjam kawan! Hari ini sudah diantar."
"Lantas kopermu kau lempar ke rumahku?" tanya Ezra meneliti wajah Adeeva.
"Iya juga ya!" Adeeva tampak bingung sendiri mau bawa koper pakai motor matic.
"Sudah...aku antar kamu! Aku akan tunggu agak jauh dari rumahmu!"
"Tak perlu...aku bawa mobil saja! Aku punya mobil kok! Aku bukan orang suka jilat ludah sendiri pak! Sekali bilang datang tetap datang. Tunggu saja aku datang! Aku antar motor dulu! Permisi!"
Ezra angkat tangan membujuk Adeeva. Sebenarnya Ezra hanya ingin lihat lingkungan kontrakan Adeeva apa pantas untuk anak gadis macam dia. Senakal apapun Adeeva tetap isteri Ezra. Ezra harus punya sedikit tanggung jawab terhadap gadis bengal ini.
Jam setengah delapan Adeeva tiba di rumah Ezra. Rumah Ezra merupakan apartemen lumayan elite walau tidak semewah apartemen di kota Jakarta. Untuk ukuran kantong Adeeva kawasan ini terlalu mewah. Sewa apartemen model gitu bisa habiskan separuh gaji Adeeva. Gadis pelit ini mana rela rogoh kantong lebih dalam hanya untuk sewa satu kasur dan kamar mandi. Itu saja kebutuhan Adeeva sebagai perantau single. Soal makan gampang. Tinggal beli ataupun beli mie instan.
Seluruh ruangan di cat warna cream muda. Perabotan juga berwarna cream di campur motif kayu. Adeeva bukan pencinta tata ruang jadi tidak open bagaimana rumah harus di dekorasi. Bagi Adeeva yang penting ada kasur, meja makan dan kamar mandi itu sudah ok untuk dijadikan tempat tinggal.
Ezra biarkan Adeeva menyelidiki seisi rumah sekalian pelajari lingkungan barunya.
"Tak ada ruang kerja pak?" tanya Adeeva setelah puas keliling rumah.
"Kau suka kerja malam hari?"
"Bukan suka tapi harus. Kadang kami dikejar deadline. Tugas harus siap besok. Oya yang mana kamar aku?"
"Seberang kamar aku! Jangan salah masuk kamar ya! Nanti kamu goda aku pula!" olok Ezra.
"Amit-amit dah! Nggak bakalan silap! Bapak sudah makan?"
"Belum...kau ada ide siapkan makan malam aku?"
"Emang bapak ada simpan makanan di kulkas?"
"Nggak ada ..mungkin minuman ringan ada..."
"Ciiisss...aku bisa apa bila tak ada bahan makanan! Aku bisa pesan makanan online! Bapak mau makan apa?"
"Nanti saja! Lebih baik kau simpan kopermu di kamar dulu. Kau lihat apa kamarnya cocok selera kamu!" Ezra membuka pintu kamar Adeeva. Serangkum bau wewangian cologne bayi tercium di hidung Adeeva.
Bau yang paling disukai Adeeva. Bau abadi yang tak pernah tergantikan. Masa boleh berganti namun bau bayi Adeeva takkan berganti.
"Wah...bapak pintar pilih pewangi ruangan!" Adeeva menyeret kopernya masuk ke kamarnya untuk sementara ini. Kamarnya sederhana. Ada kasur spring bed besar, meja rias serta lemari pakaian. Tak ada perabotan lain selain yang telah disebut. Adeeva tidak ambil pusing dengan kesederhanaan ini. Toh dia hanya numpang sementara saja. Beberapa hari lagi dia akan hidup normal tanpa kekangan bos songong.
__ADS_1
"Puas?" tanya Ezra berdiri di depan pintu tanpa ada niat masuk.
"Lumayan...ini sudah bagus! Aku akan urus makan malam bapak dulu. Bapak biasa cepat tidur atau telat tidur. Aku ini orangnya paling cepat ngantuk. Tak bisa begadang kecuali lembur kerja."
"Aku tergantung mood! Kau mau pesan apa untuk aku?"
"Bapak senangnya apa?" Adeeva balik tanya.
"Aku orangnya tidak banyak pilih. Apa saja asal halal dan tidak banyak minyak."
"Tidak banyak minyak. Makanan yang kutahu rata-rata gorengan, bakso, mie instan, nasi uduk dan sate. Itu yang sering kumakan."
Ezra menggeleng tidak tertarik pada daftar menu Adeeva.
"Sudah...tak perlu kau pikirkan! Aku pergi makan di luar dengan teman saja! Kau duduk manis di rumah. Jangan keluyuran!"
"Nggak pak! Aku akan tidur cepat malam ini. Aku takkan ke mana-mana. Sudah malam lagi. Kalau bapak keluar bawa jaket. Hari sudah malam, udara dingin."
"Ya sudah tidur saja! Tutup pintu kamar agar kamu tak diculik maling."
"Maling mah ogah culik aku! Rugi tak ada dapat uang tebusan. Bapak hati-hati ya!"
Ezra tidak menyahut memilih tinggalkan Adeeva sendirian. Ezra sudah janjian sama teman untuk hangout cari hiburan. Paling kongkow sesama pengusaha muda. Itu bukan bagian Adeeva berkumpul dengan kalangan elite.
Adeeva menutup pintu kamar dan menguncinya demi menjaga keamanan. Berjaga lebih bagus dari pada terjadi hal buruk. Bos-bos kaya model Ezra sering mabukan lupa daratan. Takutnya Ezra mabuk berbuat hal asusila padanya.
Adeeva membongkar koper menyusun beberapa potong pakaian ke lemari yang telah disediakan Ezra. Adeeva tak banyak bawa pakaian karena tinggal situ juga tak lama. Begitu Ezra balik ke kantor pusat Adeeva segera bebas.
Di tengah Adeeva adem ayem mulai ngantuk tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan mata mulai berat Adeeva angkat telepon merutuk dalam hati siapa demikian tak tahu diri ganggu waktu istirahatnya.
"Halo..." sapa Adeeva ketus tanpa melihat siapa penelepon.
"Eva ..ini Nunik! Lhu pergi bawa koper preman yang ganggu kontrakan kita datang minta hak preman sama ibu."
"Siapa? Si badut?"
"Siapa lagi kalau bukan mereka! Mereka pikir kamu sudah pindah maka datang bikin onar. Kau mau datang? Itu masih ganggu ibu. Kasihan ibu toh!"
Adeeva dilanda dilema. Sudah janji pada Ezra takkan ke mana pergi. Mana lagi Ezra tidak ada di rumah. Gimana mau pamitan? Tidak pergi keselamatan ibu kontrakan dan rekan kontrakan jadi taruhan.
Adeeva tak punya waktu berpikir lama. Semua penting namun harus ada yang diutamakan. Adeeva segera ganti baju menuju ke tempat kontrakan dia. Semoga dia duluan pulang sebelum bosnya sampai.
Adeeva mengambil kunci mobil dan jaket bergegas ke tempat kontrakan. Anak-anak preman kurang kerjaan itu tak jera dihajar Adeeva. Dihajar sampai babak belur belum juga kapok.
Adeeva tiba di tempat kontrakan tepat waktu. Beberapa begundal itu mundur begitu lihat jagoan ibu kontrakan muncul seperti hantu di malam hari. Adeeva turun dari mobilnya langsung menghadang begundal itu. Keempat preman itu meringis harus jumpa preman asli di kontrakan ibu Sulis.
Tangan kanan Adeeva akan antar mereka ke rumah sakit sedang tangan kiri cuma ke klinik kecil. Ke manapun diantar tetap babak belur.
"Sudah bertapa menambah nyawa ya! Sudah berapa rangkap nyawa lhu lhu pade?" seru Adeeva sengit tak suka preman itu ganggu janda pemilik kontrakan.
"Cuma canda bos...Kami datang hanya kontrol kalau ada yang ganggu ibu kita. Nyatanya aman toh!" kata si badut preman yang tatto satu badan. Badan ceking mirip papan gilasan. Ada angin kencang dikit terbawa terbang ke Nusakambangan.
"Oh gitu ya! Aku ini lagi punya tugas satu dua hari. Jangan pikir aku kabur dari sini! Enak banget ente pade berbuat seenak dengkul. Jangan pancing emosi aku! Nih ada duit goban. Beli air mineral biar otaknya lancar." Adeeva merogoh saku celana memberi uang pada preman itu. Kalau sekedar uang jajan tak masalah asal jangan main peras orang.
"Oh tak perlu bos! Kami benaran hanya lihat doang!" sahut yang lain takut bogem mentah Adeeva yang lebih pedas dari cabe rawit.
Adeeva mengibas uang ke udara bikin preman itu belangsak. Ingin ambil uang itu takut hanya pancingan Adeeva. Begitu diambil dapat bonus tinju maut.
__ADS_1