
Ezra makin pusing punya istri muda model Adeeva. Kapan dia bisa tangkap gadis ini untuk dikurung di penjara rumah. Cuma kalau Adeeva di rumahkan cukup disayangkan gadis berpotensi dijadikan pengangguran.
"Cukup setia dia! Masih ikut dari belakang."
"Anak gadis keluyuran tengah malam. Di mana bagusnya? Mungkin anak rusak." gumam Ezra buat asumsi sendiri. Mana ada gadis baik-baik masih berada di jalan jam segini. Adeeva pasti gadis sejuta masalah.
Ruben membawa mobil ke lokasi di mana deretan apartemen mewah berada di daerah cukup elite. Tak jauh dari pusat kota sehingga memudahkan penduduk sana yang rata-rata orang kantoran. Adeeva tampak ragu masuk ke kawasan elite khusus untuk orang berduit. Karyawan rendahan model Adeeva mana sanggup beli apartemen seharga ratusan juta rupiah. Dapat kontrakan seharga ratus ribu sebulan sudah mencekik leher.
Mobil Ezra berhenti persis di depan pintu besar apartemen. Laki itu turun lalu melambai ke arah Adeeva agar mendekat. Ruben memarkirkan mobil di tempat parkir khusus penghuni apartemen.
Motor Adeeva meraung merusak ketenangan lingkungan apartemen yang tenang. Adeeva dekatkan motor ke Ezra tanpa curiga sedikitpun. Gadis ini hentikan motor persis di samping Ezra sekalian ingin pamit pulang.
Begitu Adeeva berhenti secepatnya kilat tangan Ezra meraih kunci motor di kepala motor. Ezra mencabut kunci motor Adeeva membuat gadis ini terperangah kaget. Setan mana menyelinap di otak bosnya berubah jadi ekstrim.
"Pak...jangan bercanda! Ini sudah malam. Aku harus pulang."
"Pulang? Bukankah sudah kubilang kau harus dua puluh empat jam di samping aku! Kasih waktu bereskan barang malah ngelayap sampai larut malam." Ezra kelihatan sangat marah melihat malam hari Citra masih berada di jalanan. Anak gadis yang baik jam segini pasti sudah bergulung dalam selimut menahan hawa kota yang dingin.
Adeeva buka helm turun dari motor yang lebih gahar dikendarai cowok bertubuh tegap macam bang Juan.
"Pak Ezra yang dipertuan agung! Aku ini bukan ngelayap tapi baru pulang dari klub." jelas Adeeva berusaha menahan diri tidak terpancing emosi.
Ezra besarkan mata dengar kata klub. Klub kan tempat orang tidak benar. Tempat pemabuk dan wanita-wanita malam cari rezeki. Apa yang dikerjakan Adeeva di sana. Jadi tukang pukul atau salah satu kupu-kupu malam.
"Kau kerja di klub?"
"Bukan kerja pak tapi diskusi soal tanding persahabatan sesama klub."
"Pertandingan persahabatan? Emang di klub ada pertandingan apa? Adu cewek mana lebih sexy atau lebih cantik?"
"Isshhh...ke mana sih pikiran bapak? Pikir aku ke night klub? Klub kami khusus bidang seni taekwondo." kata Adeeva menggeram punya bos akalnya pendek. Otaknya ke negatif melulu.
"Klub taekwondo...kamu bisa?"
"Nggak pinter amat tapi cukuplah buat gebukin orang mesum! Sekarang mana kunci aku? Aku sudah ngantuk mau tidur. Besok telat pergi kantor pula."
"Sudah malam...tak baik anak gadis pulang sendiri! Nginap sini saja." kata Ezra santai seperti mengajak Adeeva pergi makan enak di restoran saja.
"Heh??? Nginap sini? Aku tak bawa pakaian ganti. Belum mandi pula. Aku ini bau kambing kalau tak mandi. Suka keringatan. Bapak pasti tak tahan bau aku!" Adeeva makin gencar promosi keburukan sendiri agar Ezra ilfil padanya.
"Aku sudah biasa cium bau kambing. Jangan kambing unta saja sering kucium! Ayok naik! Motormu biar diurus Ruben!"
"Pak...nggak bisa gitu dong! Aku belum ijin sama teman aku nginap di sini. Nanti dia cari aku!" Adeeva tak menyerah memohon agar terbebas dari jeratan Ezra yang berbahaya.
"Kau tinggal bersama siapa? Anak laki atau anak cewek?" Ezra menatap tajam ke arah Adeeva. Adeeva bergidik lihat sepasang mata Ezra mengandung kilatan petir siap gosongkan dia.
"Aku tinggal sendiri di kontrakan cuma temanku tinggal di sebelah tak tahu aku pergi tanpa kabar. Nanti dia lapor sama induk semang kami aku tak pulang. Habislah nama baik aku! Aku akan pamit baik-baik besok kasih tahu aku bertugas tidak pulang beberapa hari. Kan aman!" Adeeva merangkap tangan memelas mohon belas kasihan Ezra.
__ADS_1
Argumen Adeeva cukup masuk akal. Adeeva mana mau dicap anak nakal tidak pulang tanpa kabar. Nama baik yang selama ini terjaga ketat bisa ambyar hanya satu malam ini. Ezra juga tidak tega biarkan Adeeva mendapat gelar baru sebagai gadis nakal.
Ezra angsurkan kunci motor pada Adeeva tanpa banyak bicara lagi. Adeeva tersenyum senang akhirnya akal sehat bosnya nyembul keluar. Adeeva pikir isi otak bosnya duit melulu sehingga lupa cara berpikir sehat.
"Terimakasih pak! Aku pamit dulu! Assalamualaikum..."
"Langsung pulang ya! Jangan ngelayap! Sampai rumah telepon aku!"
"Emang aku punya nomor hp bapak?"
"Mana hpmu?"
Adeeva mengeluarkan ponselnya dari jaket kulit lalu serahkan pada bos over protektif itu. Adeeva hanya karyawan biasa namun dilindungi kayak lindungi pacar sendiri. Gimanalah dia lindungi anak isterinya.
"Sudah pulang sana! Waalaikumsalam.."
Adeeva manggut lalu hidupkan motor melesat pergi tanpa menoleh lagi. Helm lupa dipakai masih tergantung di stang motor. Rambut Adeeva yang lumayan panjang bergerai diterpa hembusan angin malam.
Ezra menyaksikan satu pemandangan lain dari yang lain. Adeeva sungguh berbeda dengan wanita-wanita dalam istananya. Apa yang dicari anak ini dalam keluarga Dilangit. Bicara soal materi Adeeva tidak tertarik. Dia lebih suka cari uang dengan caranya sendiri. Yang halal hasil keringat sendiri walau kadang terbilang ekstrim.
"Lho...kok kabur?" Ruben ikutan melihat bayangan Adeeva menjauh di atas motor.
"Biarkan dia minta ijin nginap sini! Tampaknya dia bukan anak nakal seperti dugaan kita. Masih ada tata Krama."
"Aku sudah duga. Mungkin sifatnya konyol tapi dia memang mampu. Aku malu berdiri di sampingnya. Dia bisa segalanya. Ganti ban kayak masukkan pakaian ke mesin cuci. Santai tidak susah. Aku makin jatuh cinta. Maunya Abang pulang saja ke rumah. Biar aku handel tugas di sini. Jangan lupa kirim talak tiga! Dia malah minta talak sepuluh."
"Besok kamu pulang ke Jakarta urus kantor. Seminggu lagi aku pulang. Jangan kasih tahu di mana aku biar para rubah tidak sibuk cari aku!"
"Kamu raib tak tentu rimba mereka makin sibuk. Bilang saja Abang lagi persiapan nikah lagi. Sama orang Papua."
"Kamu gila ya! Ibu suri pasti takkan berhenti ganggu aku! Bilang saja aku ke Afrika!"
Ruben tertawa lebar lihat Ezra mati kutu bila berhadapan dengan ibunya. Ibu yang selalu bawa sejuta masalah buat Ezra. Deretan wanita di istana Ezra adalah hasil karya spektakuler ibu suri. Ezra hanya nurut mau di nikahkan dengan siapa. Terakhir inilah dapat isteri pemberontak.
Ezra justru tertarik pada Adeeva yang tidak open pada kekayaan Dilangit. Kalau rencana cerai minta harta Gono gini gadis itu malah minta nikah di bawah tangan. Tak mau melibatkan diri dalam hukum. Jadi apa tujuan gadis itu menikah dengannya.
"Bang...Aku di sini saja! Aku mau kenal Adeeva lebih dekat. Dia barang langka. Aku sudah bosan sama yang jinak merpati. Ini menantang adrenalin aku!"
"Tunggu lima puluh tahun lagi. Adeeva masih kecil." kata Ezra meninggalkan Ruben terpana.
Tunggu lima puluh tahun lagi liang lahat sudah siap digali untuk tanam tubuhnya. Apa masih punya kesempatan merayu Adeeva? Kadang mata sudah tak jelas mana Adeeva.
Dasar raja tega rutuk Ruben dalam hati. Adik seganteng gini dibiarkan jomblo tanpa pasangan. Sekali jatuh cinta milik Abang sendiri pula.
Serangkum angin dingin mencolek pipi Ruben membuat cowok ini tersadar dari rasa kesal. Malam makin dingin menggigit tulang. Ruben segera berlari nyusul Ezra naik ke lantai enam tempat tinggal Ezra selama bertugas di Bandung.
Malam berlalu gitu saja tanpa tinggalkan pesan berarti. Yang pasti esok dia akan hadir lagi gantikan mentari menjaga makhluk hidup di bumi.
__ADS_1
Adeeva telah menyiapkan segala keperluan selama seminggu di tempat Ezra. Adeeva hanya bawa barang penting saja karena toh tidak lama. Waktu pun lebih banyak dihabiskan di kantor. Paling mereka pulang setelah lepas kantor.
Semoga Adeeva lolos dari uji nyali persembahan Ezra. Uji nyali tanpa hadiah. Suka tak suka Adeeva harus kuatkan iman hidup serumah dengan lelaki bukan muhrim. Kalau saja Adeeva tahu kalau bosnya itu suami bangkotan dia. Ntah gimana reaksi Adeeva. Langsung racuni Ezra atau hajar sampai babak belur.
Adeeva terpaksa bawa motor Bang Juan ke kantor berhubung motornya di bawa Nunik yang piket malam. Nunik kerja di hotel sebagai resepsionis. Nunik anak orang kaya tapi memilih hidup melarat kayak Adeeva demi menghindari pernikahan jaman Siti Nurbaya. Orang tua sekarang bukannya ikuti perkembangan jaman now. Malah mundur ke jaman baheula di mana pernikahan anak diatur sesuka hati. Adeeva salah satu korban keegoisan orang tua jaman now. Menikah dengan orang tak diketahui punya lubang hidung tidak.
Kehadiran Adeeva cukup menarik perhatian. Cewek ke kantor bawa motor gede. Postur tubuh Adeeva masih seimbang dengan keangkuhan motor gede soalnya tinggi Adeeva lumayan dampingi motor gede. Tidak jatuh rantai istilahnya.
Sebelum naik ke kantor big bos Adeeva kunjungi atasan lamanya yakni Judika cs. Semoga saja divisi Judika belum ada pengganti Adeeva sehingga dia bisa kembali ke sana bila Ezra balik ke kantor pusat. Adeeva terlanjur nyaman berada di divisi backing ini. Pegawai di belakang layar para manager.
Di situ cuma ada Desi dan Imron. Pak Judika belum muncul mungkin masih berurusan dengan wanita yang sebentar lagi jadi isteri. Judika yang ganteng termasuk cowok takut bini. Pagi-pagi harus antar tunangan ke tempat kerja baru boleh masuk kerja. Jadilah Judika selalu telat datang. Gitulah kalau kudu cinta! Semua atas nama cinta tak terasa jadi beban.
"Selamat pagi teh Desi...kang Imron..." sapa Adeeva riang. Adeeva selalu senang jumpa rekan kerjanya yang lucu menyenangkan.
"Balik juga anak yang hilang. Kau sini saja! Tanpa kamu sini sepi kayak kuburan." ujar Imron menatap Adeeva harap gadis ini angguk.
"Belum bisa kang! Tunggu bos balik dulu. Aku sementara kerja di bagian big bos atur ulang sistem kantor pusat."
"Itu kan bukan tugas kamu. Kok kita yang urus sistim kantor pusat. Mereka kan ada ahlinya. Macam saja." omel Desi tak suka Adeeva dimanfaatkan oleh big bos.
"Sama saja teh! Kerja untuk kantor mana tak masalah. Asal mencakup bagian kita. Aku ke atas dulu ya! Kirim salam cinta buat pak Judika! Suruh latihan vokal biar saingi penyanyi Judika. Nama sama tapi suara beda. Satu merdu kayak burung murai satunya mirip suara gagak."
"Woi dosa pagi-pagi sebar fitnah!" Judika mendadak muncul bawa segunung file. Mata Adeeva terbelalak lihat banyaknya tugas divisi Judika. Berapa tahun baru kelar bila hanya dikerjakan bertiga. Harusnya ada yang bantu agar cepat selesai.
"Pak itu berkas atau sampah hendak dibakar?" olok Adeeva.
"Iya mau bakar otakmu. Kamu harus di sini bantu kami. Ada uang lemburnya."
"Adeeva mau saja tapi big bos telah perintah aku harus di kantornya. Serba salah. Gini saja. Kirim saja sedikit ke email aku biar kukerjakan dikit-dikit di waktu senggang."
"Jadi kamu tetap ditahan di lantai atas?"
"Begitulah bunyinya! Pokoknya aku Adeeva tetap tim pak Judika yang cantik jelita."
Judika mendelik diledek Adeeva terusan. Tak bosan-bosan Adeeva meledeknya sebagai laki cantik. Ada rasa bangga dianggap cantik namun ada risih disebut cantik. Orang bisa salah sangka pikir dia banci kalengan.
"Aku akan kirim yang rumit pada kamu. Kamu pelajari dulu baru kerjakan. Teliti baik-baik jangan sampai ada salah!"
"Pak Judika...aku ini manusia terkadang silap. Jangan terlalu banyak mengharap dari orang frustasi. Bapak yang ganteng saja berubah jadi cewek cantik." olok Adeeva dibalas delikan mata Judika.
Desi dan Imron cekikan terhibur oleh gurauan Adeeva. Baru satu hari Adeeva pindah suasana ruangan mendadak sepi seperti pasar malam ditutup secara paksa oleh Kamtibmas. Suasana yang biasa riuh oleh tawa derai kini sepi tanpa banyolan Adeeva.
"Kau usaha saja! Yang terbaik."
"Aku saja belum tahu seberapa banyak jaringan yang harus kurancang. Kalau mulai dari awal kulitku langsung keriput. Bayangin sistim satu kantor. Mungkin akan masuk keamanan kantor sini."
"Ya iyalah... mereka kan harus bisa masuk ke sistim kita untuk cek perkembangan perusahaan. Tapi yang untuk sini kamu kan sudah hafal luar kepala. Cuma kita tak tahu berapa banyak tangan gurita perusahaan bos kita."
__ADS_1
Adeeva termenung membayangkan betapa bosan hari-hari bersama Ezra. Setengah hari saja rasanya duduk di atas bara api. Sikap arogan sedikit pemaksaan jadi ciri khas bosnya. Semoga Ezra cepat balik ke kantor pusat sehingga Adeeva bisa ceria lagi nikmati hari-hari tanpa tekanan.