Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Sogokan Ikan Bakar


__ADS_3

Ezra makin berada di atas angin telah tahu titik lemah Adeeva. Cukup gunakan orang yang dia sayangi sebagai tameng banyak persoalan akan kelar.


"Jadi ke belakang?" tantang Ezra makin angkuh yakin mampu pukul mundur Adeeva.


Adeeva melirik kedua pembantunya yang pucat pasi ingat detik-detik mereka berada di istana akan berakhir bila majikan mereka menang. Sebenarnya mereka tak yakin Adeeva bisa lawan Ezra karena beda bentuk tubuh. Adeeva memang cukup tinggi namun Ezra lebih tinggi. Ditambah postur tubuh gagah perkasa Adeeva bukan lawan Ezra.


"Gimana kalau kita makan dulu pak? Kami kan lagi bakar ikan. Siap makan baru bertarung. Biar lebih bertenaga." Kiano ngasih saran berusaha hindari bentrokan internal antara dua kubu.


Ezra menoleh menatap Kiano setuju. Di istana tadi dia juga tidak makan takut kena jebakan dari mamanya. Ezra takut makan minum di rumah. Bukan takut diracuni tapi takut diberi obat perangsang ataupun obat tidur yang bisa buat dia terjerat pasal salah satu selir.


"Bagus juga saranmu! Kita makan dulu baru bertarung. Aku lapar." Ezra berjalan ke arah teras rumah tak peduli Adeeva melongo. Laki itu dengan pede duduk di kursi stainless beralas busa lembut. Gaya bos makin kentara terpancar dari sosok gila itu. Gila menurut versi Adeeva. Orang lain takut setengah mati pada Ezra namun Adeeva malah anggap Ezra musuh buyutan.


Kiano dan Tuti meloncat kegirangan telah atasi tawuran antara dua majikan. Majikan bermusuhan yang kena imbas tetap yang dibawah. Keduanya segera hidupkan api untuk bakar ikan yang telah tersedia sejak tadi.


Adeeva merasa lehernya kena cekik tangan tak berwujud. Tak ada tangan tapi lehernya kayak susah dibawa bernafas. Semua ini ulah ikan paus nyasar ke darat. Maunya kirim balik ke laut lepas biar ditenggelamkan ke dasar samudera.


"Woi...makan dulu biar ada energi bertarung! Aku tak mau dibilang cari keuntungan dari orang kelaparan." kata Ezra santai melempar ke arah kegelapan. Rumah Adeeva agak jauh dari rumah induk. Jarang orang pantau ke situ namun satpam akan keliling bila waktu tiba. Ezra tak mau ada yang tahu dia berada di tempat Adeeva. Ini akan membahayakan Adeeva.


Ezra tak mungkin tempatkan Adeeva dalam bahaya. Seluruh pegawai istana merupakan kaki tangan mamanya. Dia harus lebih hati-hati melangkah bila tak ingin Adeeva celaka.


"Kita makan di dalam ya! Sini banyak nyamuk!" ujar Ezra kuatir ada yang datang.


"Pasti nyamuk genit sedang incar tuan besar. Jamin nyamuknya keracunan isap darah ikan paus!" sungut Adeeva buat Ezra tertawa besar.


Tuti dan Kiano sedikit lega keadaan mulai kondusif. Surat pemecatan semoga tidak diturunkan pada mereka.


"Nyamuknya manis-manis pingin rasakan darah cowok ganteng macam suamimu!"


"Isshhh tak tahu malu. Ngaku ganteng! Gantengan kambing bandot!"


"Siapa bilang aku tak punya ********? Mari sini aku tunjukkan!" Ezra bangkit meraih tangan Adeeva masuk ke rumah. Adeeva tentu saja melawan tak rela di seret masuk oleh Ezra.


"Yang bilang ******** siapa? Aku bilang tak tahu malu. Ada duit beli korek kuping, bukan beli selusin bini."


"Oh salah dengar...kirain tanya ********! Ada kok..itu milikmu kok!"


"Biasa telinga paling tajam. Kok sekarang tersumbat? Kena radiasi sejuta minyak wangi para selir ya! Dari bau minyak duyung sampai minyak mandi mayat."


Tuti dan Kiano mau ngakak tak berani. Sedikit pun mereka tak sangka Ezra bisa bergurau. Itu pemandangan langka. Biasa Ezra terkenal dingin bak puncak Himalaya tertutup es abadi.


Ezra terbahak-bahak dengar Omelan Adeeva. Hati Ezra begitu lepas bisa bersama Adeeva. Gadis ini lain dari yang lain. Yang lain ingin menjeratnya yang satu ini ingin terbang bebas ke langit.


Kiano dan Tuti berusaha bakar ikan secepatnya agar kedua majikan bisa nikmati ikan bakar. Mungkin kenyang nanti lupa pertarungan. Mereka juga terbebas dari ancaman PHK.


Dari jauh ada tampak bayangan lampu motor mengarah ke arah mereka. Ezra secepat kilat menarik tangan Adeeva masuk ke dalam.


"Jaga mulut!" pesan Ezra sebelum masuk. Laki ini menutup pintu dari dalam.


Adeeva berontak tak mau diseret Ezra masuk dalam. Ezra mendekap mulut Adeeva agar jangan bersuara. ******* hawa panas nafas Ezra terasa sampai ke leher Adeeva. Adeeva malu sendiri tak ada jarak dengan Ezra.


"Jangan ribut! Ada orang di luar! Kau tak ingin ketangkap basah bersama aku bukan?" bisik Ezra pelan di kuping Adeeva.


Adeeva manggut tanda paham. Ezra menariknya masuk untuk lindungi dirinya dari pantauan para selir. Mereka tak boleh lihat tampang asli Adeeva agar mereka tak usik Adeeva di luar sana.

__ADS_1


Ezra melepaskan tangan dari bibir sensual Adeeva. Ezra pernah cicipi bibir itu tatkala terjadi insiden di kota B. Ezra akan tuntut lebih banyak suatu hari nanti. Sekarang ikat gadis ini dulu sampai takluk seratus persen.


Keduanya dengar Kiano bicara dengan penjaga istana. Hanya sekedar basa-basi tanya Kiano sedang apa. Tak ada interaksi berlebihan. Tak lama terdengar suara motor menjauh. Ezra menduga penjaga telah pergi. Perlahan dia lepaskan Adeeva berdiri mandiri. Pria ini membuang badan ke sofa tua di tempat Adeeva.


Ezra sudah menang telah masuk ke dalam rumah Adeeva. Ezra banyak dapat kemudahan dari keadaan. Situasi sedang berpihak pada Ezra.


Adeeva kurang senang Ezra makin ke dalam hidupnya. Dari segi manapun Ezra telah menang dari Adeeva. Ezra makin kuasai hidup gadis muda ini.


"Sekarang orangnya sudah pergi. Silahkan keluar dari rumah aku!"


"Oh...aku makan dulu! Aku hampir mati kelaparan. Kau mau jadi janda muda?"


"Dengan senang hati! Aku memang harap itu!"


"Lalu gimana bayi dalam perutmu? Jadi anak tak punya bapak dong!"


Adeeva menundukkan kepalanya melirik ke bagian perut tanpa lemak. Apa iya di dalam ada bayi seperti kata Ezra. Kok dia tak merasa gejala orang hamil. Kata orang tua kalau hamil suka pusing dan muntah-muntah tapi dia kok aman saja.


"Ngawur...aku tak hamil." bantah Adeeva di antara rasa ragu. Apa iya dia hamil. Pertanyaan ini terngiang di kuping Adeeva. Kalau dia betulan hamil tamatlah harapan jadi orang merdeka. Semakin ingin terbang bebas, semakin terkurung dalam sangkar emas.


"Tunggu saja perutmu buncit. Jangan pikir itu cacingan! Tapi terisi pewaris Dilangit."


Tanpa sadar Adeeva kembali melirik perutnya dengan hati gundah. Betapa ribet hidupnya sejak jumpa Ezra. Separuh hidupnya terkunci dalam kekuasaan Ezra.


"Sok tahu...sudah makan kita tentukan masa depan aku."


"Nggak masalah! Aku tidak masalah kehilangan satu isteri. Masih ada lima lagi sedangkan kedua asisten kamu akan terdepak dari sini ikut tuannya. Sekarang santai saja! Kita makan dulu!" Ezra berkata santai. Ezra tak punya pilihan lain selain gunakan kedua orang lugu itu ancam Adeeva. Bertarung belum tentu Ezra menang.


Kiano dan Tuti antar ikan bakar serta nasi putih panas. Wangi ikan bakar cukup menggoda cacing dalam perut. Padahal cacing di sana sedang rancang aksi demo karena majikan melupakan mereka. Untunglah bakar bantuan datang berkat kesigapan Kiano.


Tanpa malu-malu Adeeva santap hidangan dari Kiano dan Tuti. Ezra juga dapat porsi sama. Kedua musuh sibuk mengurus ikan bakar pindah ke perut sampai lupa tujuan awal. Ezra makan dengan lahap karena tahu di sini tak ada trik kotor. Berada di lingkungan Adeeva merupakan tempat aman dan nyaman. Tak ada rekayasa. Semua mengalir secara alami.


Piring keduanya bersih dari nasi. Tulang belulang ikan teronggok di atas meja sebab dagingnya secara mulus pindah tempat. Ezra merasa perutnya berat tak bisa bergerak lagi. Paling enak adalah berbaring melegakan nafas. Siap makan langsung berbaring justru akan timbulkan berbagai penyakit.


"Enak?" tegur Ezra lihat Adeeva juga lemas di atas kursi.


"Enak.. ikannya masih hangat ditambah sambal kecap. Maknyus.."


"Masih sanggup bertarung?" ledek Ezra.


"Tunggu dulu! Perut aku masih sesak." keluh Adeeva merasa belum mampu tunjukkan prestasi dalam kondisi kekenyangan.


"Kalau gitu menyerah aja! Patuh pada suami lalu bantu suami di kantor."


"Nggak usah bermimpi! Aku mana mungkin menyerah pada ikan paus! Tunggu bentar deh!"


"Terserah kamu deh!" Ezra malas berdebat karena juga kekenyangan.


Di luar Kiano dan Tuti tertawa kecil. Di dalam tidak terdengar suara berdebat artinya kedua orang itu telah berdamai akibat sogokan ikan bakar.


Tuti acung jempol pada Kiano tanda aman. Sekarang giliran mereka berdua makan ikan bakar mereka. Acara ini terbilang sukses. Sukses damaikan dua kubu yang saling serang.


"Ade...kau ngantuk?" tegur Ezra lihat Adeeva tak bersuara lagi.

__ADS_1


"Dikit.. besok aku balik kota B ya!"


"Tak bisakah kau bantu aku di sini? Kerjakan sistim baru sampai tuntas. Aku tak mau bohongi kamu lagi. Perusahaan terancam gulung tikar akibat korupsi merajalela. Aku harus buat sistim baru untuk lindungi uang perusahaan. Kalau begini terus ratusan karyawan bakal jadi pengangguran."


"Siapa yang bapak curigai?"


"Saudara mama. Mereka duduk di jabatan penting atas rekomendasi mama."


"Kok seorang mama tega hancurkan perusahaan anak sendiri?"


"Dia itu mama tiri aku. Mama kandung aku sudah meninggal di saat umurku dua puluh tahun. Waktu itu aku sedang kuliah di luar negeri. Katanya mama sakit. Mama Humaira tak punya anak maka dia mau tak mau harus terima aku sebagai anak. Papa aku meninggalkan dua tahun lalu. Wanita yang duduk di samping mama adalah ibu tiri aku yang lain. Dia lebih baik dikit tak gila harta."


Adeeva termenung tak sangka Ezra yang tampak gagah perkasa ternyata menyimpan duka mendalam. Ada rasa simpatik mengalir di hati walau cuma sedikit.


"Lalu para selir mu?"


"Itu ulah mama tak ingin aku punya pilihan hati sendiri. Maka dia beri aku isteri satu persatu termasuk kamu."


"Aku? Bukankah aku ini tunangan mu sejak bayi?"


"Kau benar...aku mencarimu tapi mama aku selalu mengelak mengatakan bahwa kalian pindah ntah ke mana. Aku pun heran mengapa akhirnya dia menyerahkan kamu padaku!"


"Eeitt... aku manusia bukan benda bisa timbang terima. Kini aku paham mengapa hidupmu penuh misteri. Ternyata di belakang ada sutradara handal. Aku siap bantu di perusahaan mu tapi ijin aku tetap di kota B. Aku nyaman di sana."


"Kalau tugasmu kelar kamu boleh kembali bertugas di sana tapi untuk sementara kau dampingi aku sebagai Aspri. Bukan sebagai isteri. Besok kau pura-pura balik ke kota B. Nanti kau tinggal di tempat aku di apartemen sebagai Aspri. Mereka takkan curiga padamu."


"Tapi pak...masak harus tinggal bersama?" Adeeva meringis kurang nyaman tinggal bersama Ezra. Orang yang tak tahu dia akan beri stempel negatif ke jidat Adeeva.


"Takut apa? Takut mulut orang atau takut hukuman Allah? Kita suami isteri sah. Tak ada dosa kita tinggal bersama."


"Kita lihat besok! Aku ngantuk!"


"Lalu pertarungan kita?" pancing Ezra tahu Adeeva mulai diserang rasa ngantuk berat. Ezra tahu kebiasaan Adeeva gampang tertidur kalau langit berubah jadi lembaran hitam.


"Besok lanjut! Bapak pulang aja deh! Aku mau tidur." Adeeva berjalan sempoyongan akibat perut terlalu kenyang. Mata berat perut juga berat. Serba berat.


"Aku tidur sini. Ruben sudah pergi bawa mobil aku! Besok aku numpang denganmu pergi dari sini. Kita pindah ke apartemen!"


"Apa aku sudah setuju pindah tinggal dengan bapak?" Adeeva berkata menyandarkan tubuh ke dinding agar jangan jatuh saking ngantuk. Ngantuk tak tahu untung. Sore tadi sudah dimanja tidur sebentar. Jam segini sudah ngantuk. Dasar mata belum dewasa. Tak bisa diajak kerja sama.


"Kalau kau tega lihat ratusan karyawan bahkan ribuan karyawan kena PHK termasuk kamu ya silahkan kau tantang aku sepuas hatimu!" Ezra lagi-lagi gunakan rekan kerja untuk jadi tameng tundukkan Adeeva. Tak ada gunanya bersikeras dengan gadis ini. Dia makin keras kalau dikasari maka Ezra main cantik cari kelemahan Adeeva.


Kelemahan Adeeva sangat sederhana. Jiwa setia kawan sangat tinggi membuat dia selalu tak tega lihat sesama pekerja terkena musibah. Kena phk merupakan bencana bagi karyawan.


"Besok kupikirkan."


"Pertarungan kita batal?"


"Belum batal cuma ditunda. Ok? Sekarang please go away! Aku mau tidur."


"Aku tidur di sini. Aku berhak tinggal di rumah isteri aku."


"Isteri bapak satu gudang. Tidur saja di tempat mereka. Aku alergi tidur sama laki. Asma aku kumat bila bersama cowok." kata Adeeva asalan agar Ezra angkat kaki dari rumahnya.

__ADS_1


"Kita pernah tidur bersama sampai pagi. Kau sehat saja! Kau tidur nyenyak kok! Kau jangan bilang lupa!"


Wajah Adeeva memerah diingatkan kejadian memalukan di kota B. Mereka tidur bersama hingga pagi. Adeeva yang salah naik ke ranjang Ezra. Sebagai lelaki Ezra tak dapat disalahkan. Terlebih Adeeva sah isterinya. Wajar mereka tidur bersama. Cuma sayang Adeeva bukan selir Ezra yang gila harta.


__ADS_2