
Adeeva paling tak suka kalau ada orang sok jagoan di depan hidungnya. Rasanya ingin Adeeva pindahkan hidungnya ke bawah lengan biar cium bau asam plus bau sangit belerang.
"Kau...apa hebatnya orang tak kenal sopan santun?"
"Hebat dong! Buktinya aku sehat dan ketiga kecoa mu babak belur. Mending ibu, Tante atau nyonya bawa kecoa ke rumah sakit sebelum infeksi. Satu lagi... ke mana suami pergi ikut saja! Kan aman!" Adeeva nyerocos lupa ada bos besar mereka. Adeeva gregetan pada wanita itu yang main hakim sendiri. Belum jelas pokok masalah sudah main serang.
"Kau anak kurang ajar!" wanita menunjuk ke wajah Adeeva dengan geram. Wajahnya memerah dilecehkan gadis muda.
"Ssssttt...aku bukan anak kecil! Aku dua tahun darimu cuma hatiku baik maka awet muda. Lihat tampang saudari...mirip wajah Oma aku!" Adeeva makin gencar ejek wanita itu. Puas banget bisa lampiaskan rasa jengkel pada orang tak punya tata Krama.
"Kau..." wanita itu bangkit ingin menampar Adeeva saking marah.
Satu gerakan saja Adeeva menangkap tangan wanita itu. Kalau turuti emosi tangan wanita itu patah dua. Adeeva menyimpan sedikit akal sehat tak melibatkan Ezra dan Desi dalam masalah. Adeeva menghempas tangan wanita itu dengan kuat sampai wanita itu hampir terpental. Untung ditangkap salah satu kecoa yang dibawanya.
"Cukup.." bentakan kasar Ezra memaksa Adeeva mengurung niat beri pelajaran pada wanita itu. Adeeva mundur sejajar dengan Desi.
Desi mencubit pinggang Adeeva supaya diam. Desi dan Adeeva bakal dalam bahaya bila bos ngamuk. Alamat di rumahkan oleh bos bila asyik melawan.
"Teh..." Adeeva meringis meraba pinggangnya kena jepitan jari Desi.
"Diam..." bisik Desi.
Adeeva patuh menundukkan kepala tak bereaksi lagi. Gadis ini menjadi manusia robot sedang lowbat. Hilang energi.
"Nona...kita sudahi salah paham ini! Nona sudah tahu titik masalah jadi kuminta kita tak usah perpanjangan dan saling minta maaf!" kata Ezra dengan kharisma seorang bos besar. Gayanya cool mencerminkan seorang pemimpin sejati.
"Aku minta maaf? No way... kelas aku lebih tinggi! Dasar apa minta maaf!" sahut wanita itu angkuh.
"Baik...lalu apa mau nona? Lanjut ke pihak berwajib?"
"Bukan gitu pak! Aku mau wanita ini minta maaf telah kacaukan jadwal arisan aku! Aku ini orang kaya mana mungkin lakukan hal di luar akal sehat." kata wanita itu masih angkuh.
Adeeva mencibir, "Dasar orang edan...sakit jiwa!"
"Hei siapa sakit jiwa...punya mulut dijaga!" bentak wanita itu pada Adeeva.
"Mulutku belum masuk TK bude...belum ada uang pendaftaran!" sahut Adeeva santai tak peduli delikan tajam wanita itu.
"Adeeva...kau keluar saja! Biar aku selesaikan masalah ini!" Ezra merasa kehadiran Adeeva hanya menghidupkan api kompor. Makin kipas makin membesar nyalaan api.
Adeeva tersenyum mengejek pada wanita itu lantas menarik tangan Desi berlalu dari ajang debat kurang sehat ini. Adeeva takkan tinggalkan Desi jadi bahan bully wanita itu.
"Hei ke mana kalian?" seru wanita itu belum puas dicukur Adeeva berkali-kali.
"Kami mau ngemil bakso. Bude boleh ikut kalau mau. Tidak pakai saos juga tidak pakai kol.." Adeeva menyeret Desi sambil berdendang lagu Abang tukang bakso.
Bagi orang lain Adeeva ini lucu namun tidak dengan wanita ini. Rasa benci pada Adeeva capai ubun kepala. Anak muda songong.
Adeeva mengantar Desi sampai ke tempat kerjanya. Adeeva lega Desi berhasil keluar dari masalah. Lebih melegakan Adeeva temannya bukan wanita perampas laki orang.
Adeeva mengambilkan Desi segelas air putih untuk memulihkan roh Desi yang sempat kabur karena syok dituduh rebut laki orang.
__ADS_1
"Minum teh..!" Adeeva menyodorkan segelas air putih.
"Terima kasih Eva...lain kali tak boleh gegabah ajak orang berantem. Gimana kalau yang terluka?"
"Aduh teh! Mereka duluan main tangan. Sebagai warga +62 mana mungkin kita diam diri dihina. Eh kang Imron dan Judika mana? Kok kosong?" Adeeva heran tak melihat dia cowok dari divisi mereka.
"Mungkin keluar...kau balik ke tempat tugasmu! Kau anak cewek...jaga sikap dikit dek!"
"Yang bilang aku cowok siapa? Teteh tenang saja! Aku hanya membela teteh aku! Emang teteh pernah lihat Eva berantem?"
"Iya teteh tahu! Kamu harus hati-hati ya! Takutnya begundal itu dendam."
"Sip...aku pergi dulu teteh aku sayang!" Adeeva mengecup pipi Desi lalu naik ke tingkat atas tempat dia bertugas sementara ini.
Untunglah Ezra belum balik ke ruangan. Adeeva kembali fokus pada pekerjaan setelah olahraga ringan melemaskan otot yang sudah lama tidak diajak bergerak. Senang juga telah melepaskan kekakuan otot.
Adeeva tidak open bagaimana orang akan menilainya. Seorang cewek berani melawan tiga lelaki berbadan besar. Adeeva dianggap pernah makan nyali beruang maka berani hadapi lawan tangguh. Selama ini Adeeva tidak pernah tunjukkan dia seorang seniman bela diri. Menjadi petarung bukanlah reputasi bagus bagi cewek maka Adeeva menutup diri. Tapi berhubung yang dibela adalah teman seperjuangan mengais rezeki maka Adeeva tidak tinggal diam. Seorang pahlawan harus membela kebenaran walau banyak yang harus dikorbankan. Adeeva sudah siap dihukum Ezra.
Adeeva tak tak mungkin Ezra tinggal diam ada orang sok jagoan di kantornya. Hukuman apa bakal diberikan bos songong itu?
Adeeva punya satu cara hindari hukuman Ezra. Ezra sendiri yang beri ide padanya hindari bos itu untuk sementara waktu. Adeeva bergegas bereskan semua dokumen lalu berlari ke lantai bawah menuju ke pelataran parkir mobil dan motor.
Motor bang Juan ikut bergabung dengan puluhan motor di pelataran. Adeeva belum sempat kembalikan motor itu karena belum ada waktu. Rencana pulang kerja nanti Adeeva akan antar motor itu balik ke pemilik. Motor Adeeva masih berada di tangan Nunik.
Adeeva sengaja nangkring di tempat parkir mengingat kata Ezra pada wanita histeris itu kalau statusnya adalah penjaga parkiran. Adeeva siap layani kegilaan Ezra. Banyak rahasia perusahaan di tangannya. Tak mungkin Ezra maupun pak Dirwan akan pecat dia.
Ezra kembali ke ruangnya setelah kelar dengan wanita histeris tadi. Yang paling pertama Ezra cari adalah Adeeva. Ezra tak sabar ingin beri pelajaran pada Adeeva agar tidak brutal di kantor. Apa kata orang seorang gadis berantem dengan para lelaki. Masih untung yang babak belur para begundal. Coba kalau Adeeva yang terluka. Siapa mau disalahkan.
Ezra merasa kepalanya sakit memikirkan sifat nakal Adeeva. Ezra makin cemas terhadap keselamatan gadis itu. Bagaimana dia bisa hidup sampai segede ini? Bagaimana kedua orang tuanya rawat anak ini? Nakal, urakan, asalan. Apa kelebihan anak ini? Cuma otak pintar?
Ezra terpaksa cari Ruben untuk lacak di mana Adeeva. Siapa lagi bisa diminta tolong kalau bukan Ruben. Rencananya Ruben akan segera kembali ke pusat sore nanti. Di sana butuh pengawasan orang dalam. Ezra menemukan banyak keganjalan di perusahaan. Semoga Adeeva bisa bantu buka tabir rahasia permainan dari adik mamanya.
Ruben datang setelah dipanggil Ezra. Ruben telah bersiap untuk balik ke kantor pusat. Tinggal tunggu panggilan kapan balik ke Bandung.
"Ada apa pak?" tanya Ruben setelah berada di ruang Ezra.
"Kabur ke mana kuda poni itu?"
"Kenapa tak lihat ke bawah?" sahut Ruben tersenyum simpul.
"Apa maksudmu?"
"Buka tirai itu lihat di mana orang yang kau cari!" Ruben beri saran Ezra lihat langsung tingkah Adeeva.
Ezra penasaran bangkit berjalan ke dinding kaca transparan. Dari atas bisa lihat pemandangan ke bawah. Seluruh aktifitas di bawah tertangkap retina mata Ezra.
Leher Ezra tercekik oleh air ludah sendiri menyaksikan orang yang dicari sedang atur mobil yang masuk dengan gaya profesional tukang parkir handal. Anak itu gila atau memang suka tantangan. Ezra lupa dia perkenalkan Adeeva sebagai penjaga parkiran pada wanita pengacau tadi. Adeeva gunakan kesempatan ini hindari amarah Ezra pura-pura jadi tukang parkir profesional.
Ruben tertawa ngakak merasakan kelucuan Adeeva. Gadis lain jaga image biar tampil elegan di mata bos. Kuda poni satu ini sengaja remukkan image agar Ezra ilfil.
"Sakit jiwa nih anak! Panggil dia menghadap detik ini juga. Kukuliti dia sampai telanjang." Ezra menahan emosi capai ke titik limit.
__ADS_1
"Bukan salah dia pak! Bukankah bapak perkenalkan dia sebagai penjaga parkiran? Dia itu anak patuh maka dia turun jaga parkiran." Ruben bisa membaca tujuan Adeeva bikin Ezra pusing.
"Apa aku omong gitu?"
"Aku dengar kok! Jangan marahi lagi! Dia berantem juga demi bela teman. Wanita itu yang keterlaluan. Adeeva ajak omong baik-baik dia minta anak buah tangkap Adeeva. Siapa yang salah kalau Adeeva melawan."
Ezra menghembus nafas membuang rasa kesal di dada. Bicara dengan Adeeva harus hati-hati, salah sedikit jadi bumerang buat diri sendiri. Hidup sampai tiga puluh empat tahun Ezra baru kali ini jumpa cewek super songong. Pembangkang kelas Wahid. Dari mana mamanya pungut menantu model gitu? Kabarnya anak seorang pengusaha barang tembaga yang religius. Anaknya kok model gini?
Dulu Ezra percaya isteri mudanya anak dari keluarga taat beragama. Pengantinnya saja memakai busana muslim lengkap dengan niqab. Sudah di luar kok beda amat ceritanya.
Ruben segera turun ke bawah jemput Adeeva hadap Ezra. Alamat kena semprot nih anak. Dosa pertama belum dihapus tambah pula dosa baru. Begini terus nama Adeeva akan menjadi Adeeva pendosa.
Tak butuh lama Adeeva telah berada di ruang kantor Ezra yang sejuk. Segar rasanya kena hembusan udara sejuk dari kotak AC. Pipi Adeeva memerah kena elusan cahaya Surya. Ezra dan Ruben akui itu merupakan pemandangan indah ada gadis masih bersemu merah kena sinar matahari. Biasanya wajah para cewek disapu pakai blush-on biar berona. Yang ini alamiah.
Ruben dan Adeeva berdiri di hadapan Ezra seperti anak sekolahan kena setrap gara bikin onar di sekolah. Kedua tangan Adeeva berada di depan saling bertautan bikin orang berpikir anak ini lupa kerjakan PR dari guru.
"Kau serius mau kerja atau suka bermain?"
"Serius pak! Saking serius disuruh apa saja kulakoni! Bukankah bapak bilang aku penjaga parkiran? Aku patuh kerjakan permintaan bapak!" sahut Adeeva dengan tampang lugu tanpa dosa.
"Kau tiap hari makan apa sampai otakmu mampet? Makan batu ya!"
"Emang bisa? Aku waras pak! Aku tak punya duit operasi penyakit batu ginjal atau batu di empedu. Makanya aku belum berniat konsumsi batu."
Jawaban Adeeva buat Ruben tertawa. Ada saja jawaban konyol Adeeva mematahkan argumen Ezra.
"Dengar ya nona kuda poni! Kejadian hari ini adalah yang terakhir aku lihat kamu berkelahi. Kau ini anak gadis bukan preman. Punya rasa malu tidak?"
"Punya dong ********." sahut Adeeva asalan. Makin Ezra ilfil makin besar kesempatan kabur dari cengkeraman bos besar itu.
"Bukan itu maksudku! Kau ini anak perempuan! Bukan tukang kelahi. Aku akan kirim kamu dinas di daerah Timika kalau kau masih urakan. Ingat itu!" ancam Ezra merasa tak ada guna bicara baik-baik dengan anak ini. Bicara melebar ntah ke mana-mana.
"Ingat pak! Apa aku balik dinas di parkiran?" Adeeva hendak keluar dari ruang Ezra lagi. Adeeva sengaja pancing amarah Ezra lalu usir dia dari jabatan aneh sebagai Aspri.
"Adeeva...duduk situ! Jangan bergerak kalau tidak kuijinkan!"
Adeeva menatap Ruben sejenak lalu meringsut ke bangkunya. Adeeva tahu Ezra sudah sangat geram padanya. Ntar benaran pula kena mutasi lebih jauh. Tidak tanggung ke Papua belahan timur Indonesia. Mau jumpa Abah dan Umi makin sulit. Gimana kalau Adeeva kangen?
Adeeva patuh ketimbang di mutasi makin jauh dari orang tua. Jauh dari suami bangkotan malah menguntungkan cuma Adeeva belum siap jauh dari kedua orang tuanya. Adeeva anak satu-satunya dari juragan tembaga itu. Siapa rela dia pergi ke ujung Indonesia.
Ruben bisa bernafas lega sesaat gadis bengal itu telah menurut. Ezra dan Adeeva adalah pasangan paling aneh sejagat dunia. Suami isteri tapi tak saling mengenal. Ezra benar telah membeli kucing dalam karung. Kirain dapat isteri alim ternyata kucing liar susah dididik.
"Pak...aku pamitan. Langsung berangkat saja! Takut telat tiba di rumah." Ruben pamitan balik ke kantor pusat.
Ezra mengangguk setuju. "Hati di jalan ya! Kasih kabar kalau sudah sampai! Besok langsung ke kantor ya! Ingat semua pesan aku!"
"Iya pak! Nona Adeeva... yang patuh ya! Timika menantimu!" olok Ruben pada Adeeva sebelum pergi.
Adeeva memberi senyum seringai serigala. Senyum paling jelek pernah Ruben lihat. Namun pemilik senyum tetap semanis madu. Ruben beri kode pamitan angkat tangan ke atas dah dahan kepada Adeeva.
Adeeva harus terima nasib ditinggal dengan bos. Mengingat nanti malam harus nginap di rumah bos saja Adeeva duluan merinding. Seumur hidup baru kali ini serumah dengan orang asing. Tidak tanggung-tanggung bos perusahaan pula.
__ADS_1
Gimana kalau tersiar berita Adeeva tinggal serumah dengan laki. Kira-kira gimana reaksi kedua orang tuanya?