
Keduanya masuk ke dalam apartemen yang tak ada kuncinya melainkan pakai kode sandi. Pintu canggih jaman sekarang. Ezra menyebut beberapa angka agar Adeeva bisa masuk tanpa bantuannya lagi.
Begitu masuk mata Adeeva disodorkan warna bersih tidak seperti penataan di luar apartemen. Adeeva langsung jatuh cinta pada ruangan yang akan jadi tempat tinggal mereka untuk sekarang ini.
Ezra biarkan Adeeva kagumi tempat barunya. Mood ibu hamil perlu dijaga agar bayi mereka tidak cemberut seperti ibunya.
"Suka?" tanya Ezra lembut.
Adeeva angguk kecil tanpa keluarkan kata. Bagi Ezra itu sudah lebih dari cukup. Tak perlu bicara panjang lebar untuk hal tak penting.
"Sudah sore.. pergilah mandi!"
"Ya pak!"
Ezra masih tak suka panggilan Adeeva. Ganti dengan mas atau Abang mungkin perasaan Ezra akan lebih nyaman.
"Poni...maukah kau ganti panggilan? Aku betul tak nyaman dipanggil pak oleh kamu. Ikan paus juga boleh asal jangan pak!"
Adeeva tertawa geli dengar Ezra masih ungkit soal panggilan. Mulut Adeeva terbiasa panggilan itu maka terbawa hingga sekarang.
"Baiklah Paus! Puas?"
Ezra terpaksa setuju walau masih ada ganjalan. Ada perbaikan sedikit walau tetap saja satu panggilan tak bersahabat.
"Pergilah mandi! Aku tak tahu yang mana kamarnya karena aku juga baru pertama kali masuk sini!" kata Ezra jujur tak mau pandai.
"Kirain sudah tahu lingkungan! Orang baru juga toh! Biar kuperiksa sendiri." Adeeva mulai mengitari rumah mungil mereka. Cuma ada tiga pintu. Yang pertama pintu kamar, kedua pintu ke dapur dan terakhir pintu kamar mandi. Tak ada kamar lain tanda rumah ini hanya ada satu kamar.
Adeeva berjalan balik ke ruang tamu yang seupil dengan wajah garang. Rumah ini ada satu kamar pasti ini ulah Ezra agar mereka tidak pisah kamar.
"Well...kamarnya cuma satu..ada penjelasan?"
"Nyonya... apartemen daerah sini selalu full karena dihuni orang sibuk dan orang dari manca negara. Kita bisa dapat apartemen ini sudah syukur. Kita tak punya banyak pilihan."
Adeeva menyipitkan mata cari sela kalau laki itu sedang sandiwara. Mau jebak dia tidur satu kamar baru bikin alasan ini.
"Cuma itu alasannya?"
"Cuma itu... kalau kau tak suka aku temani aku bisa pergi ke apartemen lama. Besok pagi aku datang jemput kamu." Ezra sengaja sok tak butuh. Padahal dal hati takut Adeeva setuju dia pergi. Ambyar semua rencana dekatan dengan bayinya.
"Kita lihat nanti. Aku mandi dulu. Eh...Paus mau tidur di sana biar jumpa si jago merah atau bintang film seribu tiga?" tuduh Adeeva mendadak muncul bayangan buruk tentang Ezra mau bermesraan dengan cewek lain.
"Yaelah nyonya Dilangit. Aku sih tergantung perintah nyonya. Syukur kalau boleh di sini. Aku sih ingin dekat dengan bayi aku!"
"Hmmm...jujur atau bohong?"
"Sumpah disambar cewek manis!" Ezra angkat jari mau sumpah dia jujur sekalian goda Adeeva.
__ADS_1
"Enak banget disambar cewek! Sudah kuduga pasti akalan Paus mau ke apartemen lama. Tetap di sini tak boleh ngelayapan. Awas kalau banyak tingkah!"
"Siap nyonya!"
Ezra mau ketawa ngakak Adeeva terjebak oleh permainan kata. Ezra memang berharap bisa berada di sisi isterinya malam ini. Malam yang sangat indah.
Adeeva siapa mandi gantian Ezra. Untung dalam kamar ada kamar mandinya jadi tak perlu repot keluar masuk kamar ke kamar mandi di luar kamar.
Rumah Ezra yang satu ini benaran mungil. Keliling sana sini cuma ayun beberapa langkah. Keliling balik lagi ke ruang tamu. Seperti rumah khusus untuk si jomblo sejati.
"Poni...mau makan apa?" teriak Ezra dari kamar tanya selera Adeeva untuk makan malam.
"Jangan yang banyak lemak! Perutku sedang tak bersahabat. Tumis-tumis sayuran saja dan ikan asam manis yang pedas."
Ezra nongol dari kamar dengan pakaian santai. Baju kaos serta celana karet cetak tubuhnya yang atletis. Adeeva menilai Ezra akan menjadi hot Daddy bila anaknya lahir. Gimanalah laki ini kalau gendong anaknya? Apa perlu Adeeva beli kain gendong model jaman lilit kain panjang di badan laki ini.
"Woi...kok jadi melamun? Terpesona sama suami sendiri ya!"
Adeeva cepat-cepat menepis pikiran konyol di benaknya. Laki ini Geer banget sok ganteng. Adeeva bukan pikir kegantengan Ezra melainkan pikir gimana laki ini urus bayi. Adeeva nilainya nol soal urus bayi. Urus badan sendiri saja belum lulus seratus persen. Gimana mau urus bayi.
"Ciiisss...Ge er banget! Pesankan makanan aku! Malam ini aku mau cepat tidur! Capek!"
"Aku juga mau cepat tidur!" ujar Ezra girang dengar kata tidur. Otaknya bergerilya bayangkan hubungan mantap antara mereka. Bisakah dia dapat jatah haknya malam ini?
Ezra order makanan untuk makan malam. Cepat makan cepat tidur. Itu harapan Ezra.
Bel pintu berbunyi tanda ada yang datang. Ini pasti pengantar makanan mereka. Ezra segera bangkit bukakan pintu karena memang sudah lapar.
Pintu besi terkuak tampak seorang lelaki bertubuh subur mengantar beberapa kotak styrofoam berisi makanan orderan Ezra.
"Selamat malam pak. Ini rumah pak Ezra?" tanya orang itu ramah.
"Oya iya...berapa harga semuanya?" tanya Ezra menerima kotak dari tangan lelaki bertubuh subur itu.
"Bolehkah aku masuk untuk jelaskan?"
Adeeva mengerut kening mendengar pengantar makanan minta masuk. Sejak kapan pengantar makanan online berani minta ijin masuk. Paling cuma sampai depan pintu. Feeling Adeeva mengatakan ada yang tak beres. Wanita ini segera bangun dari sofa santai menuju ke depan pintu.
"Bapak tunggu di luar saja! Mana struk pembayaran?" kata Adeeva tak ijinkan orang asing masuk. Adeeva sudah bertahun hidup dari makanan online baru kali ini ada yang mau masuk rumah orang.
"Begini nona...hari ini toko yang jual makanan ada diskon untuk pelanggan maka aku perlu jelaskan!" ujar pengantar masih ramah.
Adeeva mengecilkan mata indahnya tak percaya segala omong kosong pengantar itu. Dugaan Adeeva belum tuntas selesai tiba-tiba muncul lelaki lain menerobos masuk tanpa permisi.
Ezra yang berdiri di pintu terdorong beberapa langkah ke belakang. Adeeva maju lindungi Ezra karena tahu lakinya kurang ahli berkelahi.
"Siapa kalian?" Adeeva dan Ezra mundur sedangkan ketiga orang itu sudah meringsek masuk bahkan si subur kunci pintu dari dalam.
__ADS_1
"Kami hanya bertugas membawa nona cantik ini! Kami harap kerjasama agar jangan ada yang terluka!" salah satu dari tiga pria berkata dengan suara mirip kaleng rombeng.
Ezra tak hilang akal aktifkan ponsel teleponi Ruben. Semoga asisten gila itu cepat tanggap setelah dengar keributan di rumah Ezra.
"Apa tujuan kalian bawa isteri aku? Siapa bos kalian? Aku bisa kasih uang lebih banyak dari dia."
"Maaf pak...kami memang penjahat tapi kami ini tak pernah berkhianat pada tugas. Kami tak butuh bapak. Kami cuma butuh nona ini! Kami akan bawa dia jumpa majikan kami. Kami tak tahu nona ini punya hutang apa pada majikan kami. Silahkan nona!"
"Kau kira gampang bawa aku? Tak usah mimpi! Ayok serang aku!" Jiwa taekwondo Adeeva timbul kena provokasi. Wanita ini lupa masih ada nyawa harus dia lindungi yakni bayi dalam perutnya.
"Nona..kami tak tega lukai kamu. Sayang kulitmu yang mulus harus jadi memar. Ayok kita pergi!"
"Hei kalian anggap aku ini? Jangan berbuat seenak hati di tempat orang! Apa kalian tidak takut dipenjara?"
"Penjara? Itu rumah kedua kami!" ujar si subur tertawa renyah bergema di seluruh ruangan kecil rumah Ezra.
Ezra berdiri lindungi Adeeva. Ezra kuatir Adeeva nekat lawan para penjahat itu. Taruhannya banyak. Keselamatan Adeeva juga bayi dalam perut wanita muda itu.
"Paus...biar kuhajar begundal ini! Mereka ini gentong nasi tak berguna. Paus kau minggir!" Adeeva mendorong Ezra menjauh lantas pasang kuda-kuda siap bertarung.
Sampai matipun Ezra takkan ijinkan Adeeva bertarung. Lebih baik dia yang terluka daripada lihat Adeeva dalam bahaya.
"Poni..kau mundur! Aku ini suamimu.. aku yang harus lindungi kamu. Masuk kamar dan kunci pintu." Ezra menarik Adeeva menjauhi para penjahat itu.
Ketiga penjahat itu malah terkesima lihat pasangan ini saling melindungi. Betapa indah cinta mereka. Saling menyayangi.
"Pak...biarkan kami bawa nona ini! Bapak akan aman. Kamipun tak perlu repot buang tenaga dan pikiran."
"Jangan banyak bacot! Ayok tangkap aku kalau kalian memang penjahat kawakan. Takutnya cuma si culun jualan di kaki lima. Koar-koar tak ada arti." Adeeva makin tak sabaran ingin habisi ketiga begundal itu.
"Jangan salahkan kami gunakan kekerasan!"
"Jangan banyak bacot! Ayok serang!"
Adeeva tak peduli Ezra berusaha melarangnya berantem. Ezra takut bukan main lihat isterinya siap bertarung.
Si subur menyerang Adeeva segera ditangkis oleh Ezra. Adeeva tidak tinggal diam segera hajar kawan yang lain. Perkelahian tak seimbang berlangsung cepat. Begundal itu bukan lawan Adeeva ditambah bantuan Ezra para begundal itu mulai kewalahan kena bogem Adeeva. Adeeva lupa kalau dia sedang hamil muda. Keselamatan Ezra jadi taruhan karena Dilangit masih butuh laki itu.
Adeeva tak sempat pikir siapa musuh mereka. Adeeva fokus selesaikan begundal itu biar kapok berbuat jahat.
Ketiga penjahat itu babak belur dihajar Adeeva dan Ezra. Merasa tak punya kesempatan tampil sebagai champion salah satu dari penjahat itu keluarkan senjata api.
Senjata itu diarahkan pada Adeeva yang jadi target. Ezra terkesiap kaget lihat kenekatan para penjahat itu. Masuk ke kandang orang bawa senjata. Kalau saja Ezra punya kesempatan buka pintu maka tetangga akan dengar keributan ini. Tak mungkin mereka akan tinggal diam.
"Jangan sombong nona! Target kami memang kamu. Padahal kami tidak rencana habisin kamu tapi kamu minta sendiri."
Penjahat itu menarik pelatuk senjata ditujukan pada Adeeva. Sekujur tubuh Adeeva mendadak kaku lupa kalau benda itu berbahaya.
__ADS_1