
Ezra tersenyum senang bisa permainkan emosi Adeeva. Ezra memang gregetan pada bibir tanpa polesan lipstik itu. Gimana rasanya? Apa manis atau kecut akibat gadis ini ketakutan berada dalam jarak sangat intim.
Ezra menyapu bibir Adeeva dengan jari tangan tak berniat buat gadis ini ketakutan bersamanya. Ezra harus bermain cantik agar Adeeva tidak jaga jarak. Adeeva harus menyerah sendiri pada Ezra.
"Bibirmu indah...berapa cowok sudah mampir di sini?" tanya Ezra kalem masih mainkan jari di sudut bibir Adeeva.
"Emang cafe boleh mampir? Enak aja anggap bibirku tongkrongan anak muda. Ini kupersembahkan pada suami aku!"
"Oh gitu! Terima kasihlah!" Ezra menundukkan kepala mengecup bibir Adeeva setelah dapat ijin. Adeeva bilang itu untuk suami maka Ezra berhak karena statusnya suami Adeeva.
Adeeva terperangah saking kaget dapat kecupan dari Ezra. Bibir Adeeva terbuka sedikit membuat Ezra kehilangan kontrol untuk tidak cicipi bibir nganggur menggoda. Tanpa perlu ijin lagi Ezra menerobos masuk ke rongga mulut Adeeva. Lidah Ezra bermain dalam mulut Adeeva rasakan mulut masih berbau mints.
Adeeva pemain amatir pasif dikerjain Ezra. Gadis ini hanya bertahan tanpa membalas. Mungkin kaget sampai tidak bereaksi sewajarnya terhadap ciuman pagi dari suami.
Ezra tidak puas hanya sekedar ciuman ringan. Laki ini gasak bibir Adeeva hingga gadis ini sulit bernafas. Sekarang ciuman, besok Ezra akan tuntut lebih dari ini tapi bukan terburu-buru. Harus dari tangga dari bawah untuk capai puncak. Ezra yakin dia akan kuasai Adeeva. Cuma perlu kesabaran dan waktu panjang.
Akhirnya Ezra melepaskan Adeeva seraya mengusap bibir yang sedikit memerah akibat di cium bibir ikan paus. Adeeva menunduk tak berani menantang mata elang Ezra walau hati berkobar api amarah. Lelaki laknat ini telah mengambil keperawanan bibir Adeeva. Sumpah mati Adeeva ingin remukkan kepala laki ini.
"Ini baru panjar dari hubungan kita! Kamu harus banyak belajar layani suami yang baik. Tak apa...aku punya banyak waktu ajar kamu!"
Adeeva mendelik tak sabar ingin hajar lelaki kurang ajar ini. Seenak perut rampas bibir orang seperti milik pribadi.
"Bapak ini punya etika tidak? Main sosor tanpa ijin." bentak Adeeva lempar tatapan penuh kebencian.
"Tanpa ijin? Kau lupa tadi bilang apa? Bibirmu diberikan pada suamimu! Aku ini apa? Suami kamu kan? Jadi berhak dong!"
Giliran Adeeva melongo. Kenapa dia begitu teledor keluarkan statement menyesatkan nasib sendiri. Kok dia selalu lupa laki di depan ini lakinya bukan musuhnya.
Adeeva meremas tangan sendiri saking geram pada Ezra. Cari kesempatan dalam kesempitan. Dasar makhluk mutan tak punya hati.
"Pokoknya aku tak mau tahu. Bapak harus tanggung jawab curi ciuman pertama aku!"
"Dengan senang hati isteriku sayang! Aku akan nikahi kamu sekali lagi. Ok? Aku Ezra Hakim Dilangit janji akan Kawini Adeeva yang jelek." ujar Ezra dibarengi tawa renyah.
Tanggung jawab apa dituntut Adeeva. Dia sudah nikahi dia tinggal kawini di ranjang. Ezra makin terhibur oleh keluguan Adeeva. Gadis menarik bikin hati Ezra gegap-gempita.
Lagi-lagi Adeeva menyesal telah salah omong lagi. Ke mana otaknya yang cemerlang? Lama bersama Ezra habis sudah kepintaran Adeeva. Lama kelamaan jadi idiot.
"Kau ikan paus..."
"Kuda poni kecilku...hebat bisa pertahanan ciuman hingga seumur ini! Aku salut deh! Aku laki beruntung cicipi peresmian bibirmu. Nanti aku stempel milik pribadi Ezra Dilangit." Ezra mencolek dagu Adeeva dengan genit bikin gadis ini mau muntah.
"Nggak usah harap. Besok aku balik ke kota B. Hari ini juga aku selesaikan keamanan di kantor bapak. Aku akan lembur."
"Ok...ayo kita ke kantor! Oya ke rumah mertua dulu! Hari ini aku yang nyetir supaya mertua tak kira aku bully bini aku!"
"Tak usah...aku ini Aspri harus siap setiap waktu. Itu tugasku!"
__ADS_1
"Bagus...siap diperlukan! Hebat. Pegang janji ya!" olok Ezra bikin Adeeva makin keki.
Jantung Adeeva belum kembali berdetak sempurna Ezra bikin gadis ini terpojok lagi. Adeeva makin belepotan kalau omong. Setiap omongan jadi bumerang bagi gadis ini. Mendingan nggak usah omong apa-apa agar jangan terjebak makin dalam.
"Kita kerja saja! Aku tak mau lama di sini. Tempat aku bukan di sini. Nyawa aku akan lebih pendek bila tinggal dekat bapak." Adeeva bersungut memungut tasnya di atas meja. Tas paling murah hasil survey di pasar tradisional. Adeeva mana mungkin sandang tas merek Gucci, Hermes ataupun merek top lain. Bawa tas seharga ratusan ribu sudah satu prestasi.
Ezra tidak protes ikuti Adeeva keluar setelah ambil kunci mobil. Hari ini Ezra akan supiri Adeeva karena laki ini harus merendah di hadapan mertua. Tak mungkin dia katakan pada mertua kalau dia dan Adeeva hanya rekanan kerja.
Mobil Ezra keluaran tahun kekinian yang harga sanggup beli rumah lumayan besar. Orang kaya punya banyak duit untuk dihambur-hamburkan. Sedang karyawan macam Adeeva bantu tulang kumpulkan duit untuk isi perut juga mengejar cita-cita.
Adeeva agak risih duduk bersebelahan dengan laki yang baru melakukan pelecehan pada bibir Adeeva. Seumur hidup Adeeva takkan lupakan kenakalan Ezra.
Ezra melirik gadis muda di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Tak perlu memancing ikan di air keruh. Ikannya takkan muncul karena ngambek gara bibirnya kena sabotase Ezra.
Mobil Ezra meluncur meninggalkan parkiran apartemen Ezra yang super mewah. Betapa kaya suaminya ini cuma sayang sangat mesum. Kalau Adeeva punya jiwa matre maka Ezra sasaran tepat untuk dijadikan tambang emas. Cuma sayang Adeeva bukan wanita gituan. Tidak meletakkan materi di atas kepala.
Adeeva malas bicara dengan Ezra yang dianggap telah berbuat pelecehan pada bibirnya. Untuk sementara ini Adeeva tak mau berkomentar takut terjebak omongan sendiri. Biarlah Ezra berada di atas angin.
Ezra tidak bawa Adeeva langsung ke rumah Adeeva melainkan singgah di salah satu butik ternama di kota. Pakaian di situ tak ada yang bunyinya ratusan, semua berlabel jutaan. Tempat yang bukan level Adeeva. Adeeva tak pernah bermimpi injak kaki di butik mahal itu.
Adeeva merasa tidak berkepentingan dengan butik itu memilih berdiam diri dalam mobil. Biarlah Ezra beli apa yang dia inginkan. Adeeva tidak pernah bermimpi untuk mengenakan pakaian mahal-mahal.
Ezra turun dari mobil setelah parkir di tempat aman. Udara juga belum begitu panas karena mentari masih kemayu sok lembut. Sifat garang belum unjuk gigi. Tunggu sebentar lagi mentari juga bakal perlihatkan sifat asli yang pemarah. Kalau dipikir matahari ada mirip sifat cewek. Pertama jumpa lemah lembut, kelamaan muncul gigi taring siap lumatkan orang lain. Parahnya api amarah sanggup bakar orang hingga gosong.
Ezra dengan gagahnya masuk ke butik dengan logo wanita cantik bertopi ala orang Spanyol. Laki itu hilang ditelan pintu kaca warna hitam. Pemilik butik pasang kaca hitam tentu dengan tujuan menjaga privasi pengunjung ataupun hindari cahaya berlebihan dari matahari.
Dia harus lebih fokus pada pekerjaan agar cepat balik ke kota B. Tempat nyaman melanjutkan kegiatan. Adeeva kangen pada Desi, Imron dan Judika. Terselip juga nama Celine musuh terindah. Adeeva harus cepat kembali ke lingkungan tepat.
Di tengah Adeeva melamun pintu kaca mobil di ketok orang dari luar. Adeeva ringankan mata melihat orang iseng usik ketenangan dirinya. Ezra berdiri di samping pintu mobil beri kode Adeeva turun dari mobil.
Tanpa banyak tanya gadis ini melepaskan safety belt turun dari mobil. Satu gerakan Adeeva sudah berdiri sejajar dengan lelaki mirip Christ Hemsworth idola Adeeva. Kadang Adeeva tak bisa move on dari pesona Ezra. Suaminya memang ganteng cuma sayang suaminya juragan wanita.
"Ngapain dalam mobil?"
"Nyari wangsit santet laki mesum. Kali aja seluruh organ penting raib kena santet!" dengus Adeeva angkuh tak ingat laki di depannya berpangkat tinggi.
"Kau yang rugi nanti! Kau tak bisa rasakan keperkasaan burung elang milik aku!" olok Ezra kalem paham maksud Adeeva masih kesal padanya.
"Burung elang perkasa? Banyak kok di pasar burung. Seribu tiga. Tak laku karena keriput, loyo, dan botak karena tua."
Ezra manggut-manggut sok ngerti."Aku akui sekarang dia keriput, loyo dan botak. Botak emang dari lahir kok! Nanti dia akan garang kalau jumpa sarang miliknya."
"Isshhh...orang edan! Parah habis mesumnya. Praktek aja sama selir bapak. Banyak kok sarangnya. Aneka style...dari petak hingga segitiga!"
"Emang ada segitiga?" gurau Ezra suka canda menyerempet hal berbau mesum. Ini akan membuat mereka makin dekat.
"Ada...punyaan Spongebob" sahut Adeeva asalan.
__ADS_1
Ezra tertawa geli lihat ekspresi wajah Adeeva makin kusut. Gadisnya kapan akan menyerah padanya. Ezra tak sabar bawa gadis ini ke ranjang untuk memulai satu hubungan suami isteri sesungguhnya.
"Ayok masuk! Aku sudah pilih pakaian untukmu! Aku beli baju untuk Aspri aku. Biar tampak menarik sedikit. Tampang jelek haruslah di padu pakaian rapi biar ada nilai jual."
"Aku tidak jual diri. Apanya mau dijual? Simpan niat bapak mau jual aku."
Ezra ingin sekali buka otak gadis ini cari tahu apa yang ada di dalam. Katanya pintar tapi tak ngerti maksud tujuan kalimat orang. siapa lagi mau menjual dia? Ezra hanya gunakan kalimat ini sebagai kata kiasan.
"Capek omong sama anak kecil. Ayok masuk!" Ezra menyeret Adeeva ikut masuk ke dalam butik.
Adeeva tak bisa melawan. Tenaga Ezra jauh lebih besar dari dirinya walau Adeeva seorang petarung. Dengan langkah tersendat Adeeva berhasil dibawa masuk ke dalam butik. Tiga wanita berpakaian rapi dan modis telah menanti dengan setumpuk pakaian di atas meja dari kaca.
Dilihat dari tumpukkan Adeeva menduga ada puluhan pasang pakaian. Adeeva meragukan selera Ezra memenuhi selera Adeeva. Mereka datang dari dua dunia berbeda. Ezra terbiasa hidup glamor sedang Adeeva nyaman dengan just the way She is.
"Inikah Aspri kamu Ezra? Wah.. cocok banget dengan pakaian pilihanmu! Namanya siapa?" tanya seorang wanita berumur empat puluhan. Dari dandanan sampai pakaian tunjukkan kelas wanita ini bukan orang dari kalangan biasa.
"Namanya Poni." sahut Ezra cepat.
Adeeva melongo kayak orang bodoh. Sejak kapan namanya berubah jadi aneh. Jamin Abahnya akan menangis darah nama Putri tercinta disulap jadi Poni tanpa ijin beliau.
"Nama lucu dan imut. Tidak sesuai sama orangnya. Ayo nona Poni kita test pakaianmu!"
Adeeva melontarkan tatap setajam pisau samurai. Rasanya ingin bacok otak Ezra sampai remuk. Seenak dengkul kasih nama baru. Mending kalau namanya manis. Ini identik dengan kuda poni yang sering dia dengungkan.
Adeeva bukannya mau patuh tapi malu bikin onar di tempat orang. Kalau masih di rumah pasti akan terjadi pertumpahan darah.
Ezra duduk elegan di tempat duduk khusus untuk tamu. Laki ini membuka majalah khusus berisi berita model-model top dunia. Untung cuma top di dunia bukan di akhirat. Bayangin gimana kalau top di akhirat. Siapa yang nonton fashion show? Para pendosa di dunia tentunya.
"Ya Tuhan.... cantiknya!" seru pemilik butik membuat Ezra ikutan melihat ke arah Adeeva muncul.
Ezra terpana melihat seorang gadis semampai kenakan setelan gaun warna hitam putih agak ketat perlihatkan pinggang kecil ramping dan kaki jenjang. Adeeva berubah total menjadi seorang gadis full pesona.
Lama Ezra terpesona oleh keindahan ciptaan Tuhan tanpa cela. Ini maha karya sempurna. Adeeva cocok jadi peragawati ketimbang Aspri Ezra.
"Ezra...ini cocok?" Pemilik butik halau pesona Adeeva dari retina mata Ezra.
Ezra meletakkan majalah hampiri istri merangkap asprinya. Ezra tak puas lihat Adeeva dari jauh. Dia ingin saksikan istri cantik pemberontak kelas Wahid lebih dekat.
Ezra mengelilingi Adeeva meneliti keindahan tubuh Adeeva pantas tidak kenakan pakaian itu. Memang cocok di badan Adeeva namun sangat menggoda mata para hidung belang. Ezra tak rela tubuh indah Adeeva jadi santapan semua orang. Cukup dia yang lihat.
"Tidak cocok. Tampak kurus kering seperti tak dibayar gajinya. Ganti yang lain!" perintah Ezra mulai diktator.
"Kurus kering apa? Nona Poni tampak sexy dan cantik. Kamu belum makan pagi ya?" omel pemilik butik tak suka karyanya tidak mendapat penghargaan.
"Pokoknya ganti yang elegan tanpa pamer body shape!"
"Oooo...cemburu asprinya dikagumi laki lain? Bilang dong dari tadi! Ingat lho Ezra! Ini Aspri bukan barisan marmut pecicilan di istana kamu. Kau tak berhak intervensi hidup pribadi nona Poni."
__ADS_1
Adeeva tulikan kuping biarkan dua orang ini berdebat. Apapun hasilnya dia tetap harus patuh. Ezra kan diktator jaman milenium. Songong tidak punya perasaan. Mending Adeeva hemat energi ikuti arahan bos tirani.