
Yang lain menyeruput wedang jahe buatan kang Apoy. Udara makin lembab dan dingin. Bahkan lebih dingin dari kamar ber AC. Ezra duduk bagai patung hidup. Jadi orang buta begini resikonya. Kalau dia jalan sana sini dijamin kepalanya akan pindah dari leher kena tendangan bebas Adeeva maka itu Ezra harus super hati-hati.
"Wah...tubuhku jadi hangat!" ujar Rani senang bisa ikut masuk dalam parade pada selir. Kali ini Adeeva tidak pelit mau berbagi padanya. Rani tak tahu ada udang di balik rempeyek kebaikan Adeeva kali ini. Adeeva anggap Rani sekalian saja masuk jajaran orang dicurigai.
"Kau mau tidur di mana Ran? Kamar kami pas untuk dua orang." kata Dorce mulai sidak Rani yang bakal tidur di sofa.
"Tidur di kamar Ezra dong! Malam ini sangat dingin mungkin aku bisa hangatkan Ezra." sahut Rani pede tak tahu malu.
"Kau ini apanya mas Ezra mau tidur di kamar suami orang. Kalau mas butuh kehangatan masih ada kami. Belum ada giliran kamu naik ke ranjang mas Ezra." tukas Farah marah tak dianggap sebagai wanita Ezra.
"Aku memang bukan isteri Ezra tapi sebagian waktu Ezra habis bersama aku dan Miko. Miko itu anak Ezra."
Ezra tak dianggap sebagai manusia hidup. Seenak dengkul wanita itu atur Ezra tidur dengan siapa. Ezra tidak tertarik sedikitpun ajak salah satu di antara mereka masuk ke kamarnya. Sudah cukup ada asisten songongnya. Jauh lebih panas dari keenam wanita itu. Ezra dibuat meriang oleh Adeeva. Gairah Ezra turun naik dibuat oleh Adeeva cuma gadis itu tidak peka ritual intim suami isteri.
"Kalian gila ya? Apa aku ada bilang mau tiduri kalian? Ngobrol yang lain atau aku suruh kalian pulang ke kota. Jangan merusak waktu liburan aku!" Ezra bersuara hentikan kekonyolan para wanita.
Semua diam takut Ezra makin kesal. Biarlah Ezra yang pilih dia mau habiskan malam dingin dengan wanita yang mana. Waktu mereka masih panjang selama masih liburan di sini. Jalan menuju Roma masih terbuka selama akses jalan belum kena blokir.
"Ok...ngobrol yang lain! Kapan kartu kami dibuka blokiran?" tanya Renata teringat kartu kredit mereka telah tak berfungsi.
Rani tertawa senang mendengar pertanyaan Renata pada Ezra. Rani tak sangka Ezra akan blokir kartu para isterinya. Hal memalukan bagi seorang wanita tak dapat akses belanja sesuka hati. Rani merdeka bisa belanja sesuka hati karena uang peninggalan suaminya sangat banyak.
"Kasihan jadi orang kere!" sindir Rani merasa di atas angin.
"Rani...kau tak berhak kritik keluarga aku. Kau ini hanya sahabat buatku! Selamanya sahabat takkan berubah." kata Ezra bungkam Rani. Ezra sudah tak sabar ingin tinggalkan ruang membosankan. Ezra lebih pentingkan Adeeva yang raib ntah kemana. Tak ada bayangan gadis itu dalam ruangan. Cari udara segar di luar atau memang sengaja hindari konflik sesama wanita Ezra.
Satu kandidat mulai tumbang. Dorce menguap mulai merasa ngantuk hebat kuasai mata. Dorce berusaha menahan diri jangan tumbang. Kalau tumbang kesempatan naik ke ranjang Ezra akan hilang. Farah juga geleng kepala halau rasa ngantuk menggila. Sama seperti Dorce tak ada kata menyerah.
"Kok ngantuk ya? Padahal baru jam sembilan lebih." Renata mengucek mata juga terbawa hawa ngantuk.
"Mungkin akibat udara dingin. Kalian pergi tidur kalau ngantuk! Aku akan jaga mas Ezra." ujar Michelle usir saingannya secara halus.
"Belum ngantuk sekali kok!" bantah Renata belum menyerah pada panggilan alam harus istirahat.
Ezra diam saja biarkan para wanitanya tetap jaga kesadaran agar bisa goda Ezra. Ezra mau tahu sampai berapa lama mereka bertahan lawan obat tidur yang ditetesi ke minuman mereka. Rani yang tak masuk hitungan ikut terseret akibat ulah Adeeva. Rani tukang kacau harus dibiarkan ikut tidur agar tak ganggu kerja Adeeva.
Jam sepuluh lebih semua tumbang. Keenam wanita itu terkulai di sofa nikmati tidur lelap di sofa dengan posisi duduk beda gaya. Rani malah bersandar pada bahu Ezra tak bisa lawan ngantuk.
Adeeva datang setengah jam kemudian. Adeeva sengaja duduk bersama kang Apoy di belakang tunggu reaksi obat.
Adeeva bersorak karena semua pada K O kena obat tidur milik Ezra. Sungguh dahsyat obat dari Ezra. Cuma butuh lima tetes mereka tidur bagai bayi baru lahir.
"Ssttt..." Adeeva panggil Ezra pakai kode desis.
"Sudah tidur. Ayok antar aku ke atas dulu! Aku pingin buang air kecil. Dari tadi kutahan karena mereka belum tidur. Kau kumpulkan ponsel mereka dan langsung kerja."
"Baik pak!" Adeeva membantu Ezra naik ke atas untuk buang air seni. Menahan air seni pasti menyiksa laki ini. Salah sendiri tidak minta bantuan salah satu selir.
Ezra tampaknya memang pingin buang air. Begitu sampai di kamar dia langsung masuk kamar mandi dengan panduan Adeeva. Adeeva berjaga di luar kamar mandi sampai Ezra tuntaskan panggilan alam. Adeeva sudah berjanji akan rawat Ezra maka dia wajib tunaikan janji.
Selanjutnya Ezra minta Adeeva bantu dia ganti baju tidur. Adeeva pilih baju yang agak hangat tak jauh beda dengan punyaan Adeeva. Baju berbahan karet agak tebal.
__ADS_1
Sekarang mata Adeeva mulai terbiasa lihat Ezra tanpa busana. Dadanya yang lebar menjanjikan kedamaian terpapang jelas di mata Adeeva. Sudah dua kali Adeeva tidur di dada itu. Harus Adeeva akui dada itu tempat damai.
"Pak...aku turun ke bawah dulu ya! Selesaikan kerjaku! Oya gimana selir bapak itu? Apa harus kupapah ke kamar masing-masing?"
"Bawa ke kamar saja biar tidak masuk angin! Minta bantuan kang Apoy!"
"Siap pak!"
Adeeva turun ke bawah dengan lincahnya. Tugas pertama adalah ambil ponsel setiap selir Ezra untuk ditanam software penyadap. Tugas gampang-gampang susah. Tanam software gampang tapi buka kode sandi yang susah. Syukur kalau mereka pakai finger print. Tinggal masukkan jari mereka ke ponsel.
Adeeva mulai dari si cabe Rani. Sungguh pencinta merah. Ponsel saja warna merah. Ponsel wanita ini tidak gunakan kata sandi jadi gampang dibuka. Cuma butuh waktu lima beberapa menit Adeeva berhasil kerjain ponsel Rani. Selanjutnya giliran selir Ezra satu persatu dikerjain Adeeva. Dasar wanita penuh intrik. Semua pakai kode sandi dan finger print.
Adeeva tersenyum puas setelah sukses kerjain ponsel para wanita Ezra, kini tugas terakhir sebelum tidur adalah bawa wanita-wanita itu ke kamar masing-masing.
Mata Adeeva menangkap cangkir masih penuh wedang jahe. Itu milik Ezra belum diminum. Masih penuh tak tersentuh. Laki itu tidak minum takut kena obat tidur. Ezra pasti mengira Adeeva akan kerjain dia juga maka tak berani minum. Itu kiraan Adeeva. Anak ini tak tahu ada alasan lain mengapa Ezra tak mau minum.
Daripada mubazir Adeeva pindahkan isi cangkir ke perutnya. Sudah dingin tapi tetap nikmat sekedar pengusir dingin.
Adeeva cari kang Apoy untuk bantu dia antar para wanita ke dalam kamar.
Kang Apoy kaget lihat para wanita pingsan di sofa dengan aneka gaya. Ada yang bersandar pada sofa, ada yang terkulai badan di sofa kaki berjuntai di lantai. Pokoknya pemandangan kacau dah!
"Kenapa neng? Gorengan belum dimakan lho!"
Adeeva mengedik bahu tanda tak tahu kenapa para selir tertidur lelap di ruangan.
"Dingin kali kang! Pak Ezra perintah kita bawa mereka tidur di kamar."
Satu persatu wanita Ezra dipindahkan ke dalam kamar termasuk Rani disatukan dengan Renata musuh bebuyutan. Biarlah musuh saling tidur berpelukan. Musuh jadi sahabat terbaik malam ini.
Kang Apoy dan Adeeva kelelahan setelah tugas kelar. Adeeva merasa agak gerah karena bergerak sana sini beberapa kali. Nanti Adeeva rencana siram badan biar segar lagi.
"Kang...pulang saja!"
"Tapi siapa layani kalian?"
"Ya ampun...ini waktu tidur! Tak ada kegiatan lagi. Akang balik besok bikin sarapan. Ok?"
"Akang takut dimarahin pak Ezra!"
"Aku tanggung jawab kang! Pulanglah! Teteh tunggu di rumah."
"Terima kasih neng! Besok subuh akang sudah datang."
"Yap...selamat malam! Hati-hati kang!"
Kang Apoy senang bisa pulang kumpul dengan keluarga. Beruntung jumpa asisten tidak manja macam Adeeva. Biasa wanita Ezra manja-manja bikin susah Kang Apoy.
Adeeva menutup pintu dengan baik dan matikan beberapa lampu besar untuk hemat listrik. Adeeva terbiasa hidup hemat merasa sayang buang energi listrik walau itu bukan miliknya. Berhemat untuk semua orang bukan hanya untuk diri sendiri.
Adeeva menyeka kening yang makin panas dan tak nyaman merayapi seluruh tubuh. Jantung berdetak sangat kencang menimbulkan rasa takut pada diri anak ini. Perasaan apa ini? Kok Adeeva semakin gelisah menahan sesuatu hasrat aneh memaksa Adeeva mengharap sesuatu di luar nalar sehat.
__ADS_1
Adeeva segera naik ke atas berharap ada solusi dari Ezra. Laki itu sudah berbaring tutup mata bergulung dalam selimut tebal. Adeeva tak berani ganggu bosnya yang telah tidur. Adeeva masuk ke kamar mandi coba cuci muka menetralkan rasa asing yang kuasai tubuhnya.
Rasa itu makin menggila sampai Adeeva tak sanggup menahan gejolak yang tak pernah dia rasakan. Adeeva ingin menyentuh Ezra untuk salurkan gelora panas di dada.
Adeeva basahi terus wajahnya bahkan kepala untuk usir hawa panas tak tentu. Bukannya menurun malah makin menggila.
Adeeva terpaksa ambil kran shower siram seluruh tubuh dengan air dingin tanpa peduli dinginnya air malam hari. Yang penting bisa singkirkan rasa tak nyaman di seluruh badan.
Ezra mendengar suara air di kamar mandi tak kunjung berhenti. Apa yang dilakukan Adeeva malam begini? Mandi atau sekedar bersihkan wajah. Sudah cukup lama gadis itu berada dalam kamar mandi.
"Poni...kau ngapain di kamar mandi?" tegur Ezra dari atas ranjang.
"Pak ..aku panas!" sahut Adeeva dengan suara parau.
Ezra kaget mendengar suara aneh Adeeva. Udara sedingin gini bilang panas. Kenapa anak ini? Di otak Ezra terlintas minuman yang telah dikerjain Rani. Jangan-jangan Adeeva minum wedang jahe itu.
"Gawat..." desah Ezra tersadar Adeeva telah terkena jebakan Rani. Padahal minuman itu ditujukan kepada Ezra agar tunduk pada hasrat Rani. Apes bagi Adeeva minum minuman itu.
Ezra segera bangkit dari tempat tidur berusaha masuk ke kamar mandi tetap dengan gaya orang buta meraba-raba jalan. Ezra belum bodoh bongkar kedok sendiri di hadapan Adeeva.
"Poni...di mana kamu?"
"Pak...aku mau mati nih!" desah Adeeva tak bisa kontrol diri lagi.
"Ngawur...mari sini! Aku tak bisa lihat kamu. Di mana kamu?" Ezra meraba-raba cari gadisnya. Padahal Ezra lihat dengan jelas Adeeva basah kuyup kena siram air.
Adeeva hampiri Ezra pasrah mau diapain oleh laki itu. Ntah kenapa Adeeva merasa butuh Ezra sangat ini. Dia sangat ingin dipeluk Ezra untuk salurkan hasrat yang membakar otak.
"Kau kenapa?" Ezra memeluk Adeeva beri perlindungan di saat gadis ini butuh.
"Aku panas..." hanya itu yang bisa dikatakan oleh gadis ini.
"Kamu basah! Ayok ganti baju! Nanti masuk angin." Ezra tetap memeluk Adeeva bawa dia keluar dari kamar mandi.
Adeeva tak mampu gunakan akal sehat selain patuh pada Ezra. Ezra segera bawa gadisnya untuk ganti pakaian. Ezra turun tangan sendiri buka baju Adeeva sampai polos. Lalu Ezra ambil selimut tebal tutupi tubuh Adeeva agar tidak kena angin dingin.
"Cari bajumu!" perintah Ezra pada Adeeva.
Adeeva bukannya cari baju tapi memeluk Ezra erat-erat minta dikasihani. Adeeva sudah tak mampu melawan rangsangan hebat mengguncang seluruh tubuhnya.
Ezra tertegun bimbang harus apakan anak ini. Kalau dia tak bertindak bantu Adeeva tuntaskan gairah ini anak ini bisa mati menahan rangsangan. Tapi Ezra ingin dapatkan Adeeva dengan cara tulus bukan dengan cara kotor kayak gini.
"Ade...sadar! Ayok lawan!" bisik Ezra menyadarkan gadis angkuh ini agar jangan terbawa arus nafsu. Adeeva juga mau kalau mampu melawan tapi dia tak berdaya ikuti panggilan gelora panas.
Ezra merasa tak ada guna sadarkan Adeeva. Obat yang diberi Rani pasti dosis tinggi baru reaksinya luar biasa. Dasar Rani gila. Gunakan trik kotor untuk masuk dalam hidup Ezra.
"Maafkan aku Poni!" desah Ezra terpaksa bantu Adeeva tuntaskan panggilan hasrat gila. Ezra bopong Adeeva ke tempat tidur untuk ambil hak dia sebagai suami.
Ezra beri ciuman mesra sebagai opening agar Adeeva tidak merasa dipaksa lakukan hal yang dia tahan. Ezra berusaha selembut mungkin memulai percintaan dengan Adeeva. Harapan yang dia inginkan dari lama akhirnya terwujud malam ini.
Ezra kerahkan segenap tenaga merenggut mahkota Adeeva yang telah dia rawat puluhan tahun. Ezra menjadi orang pertama buka segel original Adeeva. Segel itu sangat akurat dan sempit dilalui rudal Ezra. Namun itu tak jadi soal bagi Ezra malah jadi satu kenikmatan tak terhingga rasakan isteri asli gadis suci. Beda dengan wanitanya yang sudah pada gol duluan.
__ADS_1
Rasa haru dan senang berkecamuk dalam dada Ezra sukses jadi orang pertama buat Adeeva. Kini Adeeva utuh jadi nyonya Ezra Hakim Dilangit. Adeeva tak mungkin lari darinya lagi. Sukses buat Ezra.