Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Pagi Heboh


__ADS_3

Semakin Adeeva menghindar semakin nekat Ezra bikin gadis ini terikat padanya. Tujuan Ezra cuma satu bikin Adeeva takluk padanya.


Suara curahan air terdengar di kamar mandi. Tak usah putar otak Adeeva ngerti laki itu sedang mandi. Ntah mandi ala kadar atau mandi wajib. Adeeva tidak peduli semua itu. Yang penting keluar dari istana ini secepatnya.


"Ade...handuk!" terdengar seruan Ezra meminta handuk.


Adeeva melongo tak tahu harus bagaimana. Dia mana tahu handuk Ezra di mana. Dia cuma satu handuk yang jadi harta satu-satunya karena cuma bawa satu saja.


"Emang bapak ada bawa handuk?" Adeeva balik bertanya.


"Nggak...pinjam handuk mu!"


Adeeva tertegun di minta handuknya. Jujur Adeeva tidak ikhlas bagi handuk dengan laki super kaya itu. Kaya dari mana, handuk saja tak sanggup beli.


"Apa benar bapak ini Ezra Dilangit?" tanya Adeeva dengan suara besar agar di dengar Ezra.


"Ezra Hakim Dilangit..." Ezra koreksi namanya yang dipenggal Adeeva.


Adeeva tertipu oleh nama Ezra. Suaminya Hakim dan bosnya Ezra. Digabung jadi Ezra Hakim Dilangit. Gara kesalahan ini Adeeva tenggelam dalam jebakan Ezra langsung kandas ke dasar.


"Orang kaya kok nggak punya handuk. Orang kaya model apa? Handuk nggak sanggup beli." omel Adeeva kesal.


"Nggak ngasih pinjam ya! Ya sudah aku telanjang keluar dari kamar mandi biar kamu pelajari tubuh suamimu!" ancam Ezra bikin Adeeva mau mati saja. Ada saja akal laki ini pancing amarah Adeeva.


"Dasar ikan paus nggak punya akal! Kenapa nggak kembali ke samudera saja?" omel Adeeva gregetan. Omelan Adeeva kecil takut di dengar Ezra.


"Terdengar...."


"Sudah sehat toh kupingnya! Nih handuknya!" Adeeva dengan berat hati berikan handuknya lewat pintu yang dibuka sedikit. Adeeva memalingkan wajah malu lihat dada telanjang Ezra dari balik pintu. Laki itu terlalu mesum pada Adeeva. Tak ada kata malu di depan gadis ini.


Lain dengan Adeeva yang jarang dekatan dengan cowok. Perlakuan Ezra bikin jantung berpacu kencang. Rasa malu campur kagum bertalu dalam hati. Body Ezra patut dapat acung jempol. Mata jeli Adeeva menangkap perut roti sobek Ezra. Pasti hasil olahraga ketat.


Ezra keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggang. Bagian atas telanjang pamer tubuh kekar tanpa lemak. Perut rata dengan kotak-kotak kecil. Pria idaman para cewek.


Adeeva putar wajah ke arah lain tak mau lihat kepada Ezra agar tak dianggap intip perabotan Ezra.


"Tak usah malu! Kau pernah tidur di dada ini!" olok Ezra belum masuk kamar kenakan pakaian. Laki ini sengaja berdiri di depan Adeeva agar melihatnya.


"Cepat berpakaian! Aku harus segera pergi."


"Kita pergi barengan. Aku numpang mobilmu ya!"


"Iya tapi berpakaian dulu nanti bapak masuk angin!" Adeeva mati kutu Ezra telanjang dada seliweran di depan mata. Laki itu sengaja pancing reaksi Adeeva terhadap pesona cowok macho kayak dia. Ezra mau test sampai di mana pergaulan Adeeva dengan cowok.


Anak itu tinggal sendirian di kontrakan. Sering ngelayap malam hari. Sifat urakan tak ada feminim. Itu yang ditangkap Ezra terhadap profil Adeeva.


Ezra tak menemukan apa-apa selain gadis ini malu-malu kucing hadapi cowok telanjang. Ezra puas test keluguan Adeeva barulah dia masuk kamar memakai pakaian. Laki ini tak punya pilihan selain pakai pakaian semalam. Ezra tak sangka akan bermalam dengan isteri koplak nya.


"Ade..." seru Ezra dari kamar.


Adeeva menarik nafas gundah cari tahu apa yang diinginkan bosnya. Apa belum cukup merepotkan dia dengan sejuta masalah. Dia yang punya piaraan setengah lusin, Adeeva kena imbas.


"Ya pak...apa lagi?" Adeeva hanya berdiri di depan pintu kamar tak berani masuk. Takut melihat pemandangan tak pantas lagi. Sudah berkali mata Adeeva ternoda oleh ulah nakal Ezra. Kalau dikirim ke neraka mungkin berlapis hukumannya.

__ADS_1


"Ada ****** *****?"


"What? ****** *****? Bapak mau pakai CD cewek?" Adeeva melongo temukan fakta baru tentang Ezra. Masak tanya CD padanya. Emang Adeeva toko onderdil bagian daleman?


"Hei...simpan otak cabul kamu! Siapa tahu di sini ada pakaian daleman cowok? Kau kan setengah cowok."


"Aku cewek tulen...dasar ikan paus sontoloyo..!" seru Adeeva menggeram. Kalau Ezra bukan berdiri sebagai bos sudah Adeeva beri sarapan tinju dobel kiri kanan. Mau bonyok urusan belakang.


"Sini kubuktikan dulu!" Ezra keluar dari kamar hanya pakai handuk Adeeva. Laki ini belum berpakaian. Betah amat main telanjang.


Adeeva mundur selangkah menutup dada secara reflek. Sepertinya itu benda berharga harus dilindungi dari sidak cowok mesum.


"Kau mau apa?"


Ezra bergerak maju sambil tersenyum licik. Adeeva mundur, Ezra maju sampai Adeeva terpojok di dinding tak ada tempat mundur lagi.


Ezra dekatkan wajah ke wajah Adeeva meniupkan hawa hangat ke pipi gadis ini. Adeeva buang mata ke bawah tak berani tantang mata elang Ezra. Jelas Adeeva kalah pengalaman.


"Jangan mendekat!" Adeeva mendorong dada telanjang Ezra dengan telapak tangan. Ezra merasa tangan itu dingin sekali seperti baru dikeluarkan dari kulkas.


"Terlambat...kau bilangnya terlambat sih! Ini sudah dekat. Mari kuperiksa isteriku ini jantan atau betina!" bisik Ezra lembut menggoda.


Adeeva melawan tak mau dilecehkan Ezra walau laki itu berhak atas dirinya. Berhak mutlak seratus persen. Adeeva melayangkan pukulan ke arah Ezra untuk lindungi diri.


Ezra tak mau mati konyol paling tidak bonyok dihajar isteri pembangkang. Laki itu berkelit menundukkan badan hindari pukulan Adeeva. Adeeva tak berhenti di situ langsung beri serangan kedua tepat mengarah ke perut Ezra.


Ezra menangkis tanpa sengaja kena handuk di pinggang. Handuk putih itu auto melorot ke tanah. Satu sosok lelaki dewasa telanjang bulat berdiri bak patung persis di depan Adeeva. Ezra tidak kenakan apapun di balik handuk sehingga seluruh perabotan jelas jadi santapan mata Adeeva.


Adeeva terpana saksikan pemandangan paling sadis seumur hidup. Baru kali ini gadis ini melihat cowok dewasa telanjang bulat di hadapannya. Harus diakui tubuh Ezra indah idaman para cewek. Semua kokoh tanpa lemak lebih.


Adeeva menggeleng tersadar dia telah melihat sesuatu yang tak pantas. Gadis ini segera berlari masuk kamar.


"Aduh...sosis..." kata Adeeva dengan malunya. Gadis ini mengurung diri dalam kamar menetralkan jantung yang nyaris jatuh. Kalau diajak adu lari maraton mungkin jantung Adeeva langsung jadi juara saking kencang lari.


Ezra ketawa ngakak lihat reaksi Adeeva jumpa laki bugil. Tak diragukan isterinya masih amatiran di bidang hubungan intim. Bahkan nol prestasi.


Ezra meraih handuk menutup aurat yang baru jadi tontonan Adeeva. Dia harus bergerak cepat bawa Adeeva keluar dari istana agar tak ada yang curiga. Para selir tentu belum bangun jam segini. Mereka tidur malam lewat tengah malam dan bangun matahari sudah capek bersinar. Apa yang dapat mereka lakukan kalau bukan hambur uang Ezra. Ezra harus mulai tegas pada wanita-wanita pengerat ini agar mereka mundur satu persatu dari istana.


"Ade...buka pintu! Aku mau berpakaian. Atau kamu mau kita tak keluar dari rumah ini."


Tak terdengar jawaban selain bunyi pintu dibuka orang. Sosok lugu bertubuh tinggi meringsut keluar kamar tanpa menatap Ezra. Jelas Adeeva masih malu.


Gantian Ezra masuk berpakaian. Hari ini cukup sudah bermain dengan Adeeva. Waktu mereka masih panjang untuk mencapai hubungan lebih baik. Ezra sudah bayangkan tidak semudah makan nasi menaklukkan Adeeva. Gadis ini berdarah panas sanggup merontokkan giginya bila sedang ngamuk. Ezra harus lebih rajin belajar ilmu beda diri agar dapat mengimbangi Adeeva.


Kini keduanya bersiap untuk meluncur pergi dari istana Ezra. Kali ini Ezra tidak bercanda dengan Adeeva lagi. Ezra yakin Adeeva baru saja kena syok terapi mental. Bagaimana tidak. Tiada badai tiada angin lihat lelaki telanjang bulat di depan mata. Gadis lugu pasti ketakutan kecuali gadis itu terbiasa lihat cowok telanjang.


Adeeva mengenakan niqab seperti pertama dia masuk. Sebelum pergi Adeeva pesan pada Tuti dan Kiano untuk rahasiakan kehadiran Ezra di gubuk mereka. Kalau tersiar keluar Adeeva dan Ezra bersama hidup Adeeva pasti dalam bahaya. Jari-jari berkuku runcing siap cakar gadis ini.


Ezra terpaksa ngumpet di jok belakang untuk hindari kecurigaan satpam. Adeeva hanya buka sedikit jendela pamitan pada satpam penjaga pintu gerbang istana mewah milik Dilangit. Ezra dan Adeeva dengan mulus meninggalkan istana Ezra.


Mobil bergerak jauhi istana barulah Adeeva menurunkan rasa was-was terhadap incaran penghuni rumah yang sangat mengerikan menurut Adeeva.


Tinggal di istana yang super mewah bukannya hidup tenang melainkan lebih cepat berumur pendek. Sedikit pun Adeeva tidak bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga yang sangat kacau balau ini.

__ADS_1


Ezra telah duduk tegak di jok belakang. Gaya konyol telah berganti dengan sosok lelaki wibawa angkuh seperti pertama kali Adeeva jumpa.


Adeeva melirik dari kaca pion anggap laki ini orang aneh berkepribadian ganda. Tadi pagi tampak konyol kini arogan anggap Adeeva bawahan bisa diatur.


"Mau diantar ke mana pak?"


"Pulang ke apartemen aku untuk ganti pakaian. Selama di sini mobilmu harus disembunyikan. Kamu nyetir mobil aku sebagai asisten pribadi." kata Ezra datar bergaya bos sejati.


"Emang ada apa dengan mobil aku? Bukan hasil curian ataupun memeras orang loh pak!" sahut Adeeva kurang senang mobilnya dijadikan korban keegoisan Ezra.


"Punya otak dipakai mikir! Bukan buat berantem doang!"


"Emang ada otak sok jagoan?"


"Kalau kau gunakan mobilmu semua akan tahu kamu ini Adeeva Larasati Dilangit. Mau hidup dikejar kelompok orang sinting?"


Adeeva tertawa Ezra sebut penghuni istana orang sinting padahal itu keluarganya. Jelas Ezra juga tak suka pada orang-orang dalam rumahnya. Misteri apa tersimpan di rumah itu. Tentu bukan sekedar masalah dolar. Pasti ada sebab musabab lain.


"Mau kusimpan di mana? Simpan di rumah orang tuaku tidak mungkin. Aku yakin mereka akan pantau kegiatan di rumah orang tua aku. Aku tak mungkin melibatkan beliau dalam perang bapak."


"Tinggalkan saja di apartemen aku! Nanti ada orang urus mobil kamu."


"Jangan dijual lho! Itu harta aku satu-satunya."


Ezra mendengus sinis dipandang rendah oleh Adeeva. Mobil butut gitu mau diharga berapa. Bagi Ezra mobil Adeeva tak lebih mobil mainan yang kebetulan bisa digerakkan. Tak ada nilainya.


"Kau curi saja salah satu jam tangan aku nanti. Kamu jual untuk beli mobil baru model kamu!" ujar Ezra memandang rendah nilai mobil Adeeva.


Adeeva tidak suka cara angkuh Ezra menghina mobilnya. Harganya memang tak seberapa tapi itu adalah hasil keringat Adeeva tanpa bantuan orang tua. Dia beli pakai uang hasil keringat sendiri.


"Aku bukan maling. Mobil ini hasil dari setiap tetes keringat aku! Aku tak mau ambil yang bukan hak aku!" jawab Adeeva angkuh tak mau dianggap parasit oleh Ezra. Sedikitpun Adeeva tidak tertarik pada uang Ezra. Dia ambil uang Ezra sesuai dengan hasil kerja di perusahaan. Bukan ulurkan tangan meraup yang bukan hak dia.


"Kau bisa hasilkan uang lebih banyak dari hasil keringat kamu. Jamin kau akan suka!"


"Oya? Diangkat jadi direktur ganti pak Dirwan?"


"Lebih dari direktur. Kau jadi isteri manis di rumah dan layani suami sampai keringatan di ranjang. Kau akan dapat uang belanja lebih dari gajimu!"


"Cis...nggak pingin!" Adeeva kontan menolak. Dari awal Adeeva sudah ilfil pada lelaki yang menjabat suaminya. Dalam bayangannya laki itu bangkotan tapi ternyata masih muda dan super ganteng.


Cuma sayang semua itu tak merubah keteguhan hati Adeeva pada Ezra. Sekali merdeka tetap harus merdeka.


"Suatu saat kau pasti akan jatuh cinta padaku! Hati-hati kalau kutolak cintamu. Aku ini banyak penggemar lho!"


"Dasar narcis... penggemarnya tuh emak-emak satu ton bedak. Make up dikerok dapat satu piring. Cukup buat sarapan bapak. Beda dengan aku! Muda dan bermasa depan cerah."


"Masa depan apa? Masa depan kamu di tanganku. Aku ini suami kamu sah hukum dan agama. Jangan lupa itu!"


"Isteri hasil tipuan bukan?"


"Aku tidak menipu kamu. Kamu sendiri kelewat pintar mau tipu aku. Pakai acara pinjam kacamata Oma lalu sok alim pakai hijab. Siapa yang salah? Suami sendiri yang mana tidak tahu." kata Ezra kalem bikin Adeeva tersedak.


Adeeva akui dia terjebak oleh kepintaran sendiri. Kesalahan utama adalah tidak kenal yang mana suami lalu kabur dari pernikahan. Lari jauh untuk masuk perangkap sendiri. Kini kaki tangan terikat pada Ezra akibat ulah sendiri.

__ADS_1


"Bapak kan banyak selir. Kurangi aku satu tak masalah toh! Aku akan tetap kerja tapi sebagai pegawai. Kita bisa kerja sama bangun perusahaan. Bapak cuma perlu talak aku. Langsung talak tiga. Aku takkan tuntut harta gono gini satu senpun. Kita berdamai. Ok?" Adeeva menurunkan ego karena semua ini berawal dari salah dia juga. Sok pinter akhirnya kebablasan. Belum terlambat bujuk Ezra melepaskan dia.


"Baik...tapi kau lahir anak aku dulu!" kata Ezra sangat santai dan tenang. Laki ini yakin banget Adeeva akan menjadi ibu dari anak-anaknya.


__ADS_2