
Ruben hanya tertawa kecil masih dipenuhi keraguan. Dia masih harus kaji semua konsekuensi bila bersama Ika. Dia harus bisa terima hitam putihnya Ika. Untuk sementara Ika memang telah banyak berubah tetapi Ruben harus meyakinkan diri sendiri agar tidak hanya sekedar kasihan kepada Ika.
"Aku akan gesit bila waktunya tiba. Kita kembali ngobrol dengan para wanita. Ntar dikira kita sudah kabur pula."
Ezra mengangguk menepuk bahu Ruben agar semangat hadapi hidup ini. Tak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua tetap ada harganya. Ezra sudah cukup makan asam garam dunia ini maka tahu betapa pahit bila jumpa masalah. Ezra bersyukur satu persatu masalahnya telah selesai dengan baik. Kini dia tinggal petik hasil dari kesabaran dia.
Perlahan Adeeva mulai bisa lupakan kejadian Desi. Mental Adeeva telah pulih untuk sambut kehadiran bocah-bocah yang segera hadir ke dunia ini. Ezra seratus persen memanjakan Adeeva. Bahkan tanpa sepengetahuan Adeeva Ezra telah beli rumah baru untuk mereka tinggal bersama. Tak mungkin seumur hidup numpang pada mertua. Mereka harus punya pribadi sendiri. Jika sudah waktunya Ezra akan boyong keluarga kecilnya untuk pindah dari rumah Abah.
Dan lagi rumah di istana juga susah kosong karena Bu Humaira pulang kampung dan Bu Yuni sudah ke luar negeri buka lembaran baru bersama pasangan baru. Istana itu pasti sepi sekali karena penghuni utama sudah tak ada di sana. Kini hanya tinggal pelayan urus rumah itu. Betul kata orang tua, harta itu tak bisa dibawa ke luang kuburan. Rumah semewah gitu kini hanyalah bangunan kosong tanpa nyawa. Tak ada kehidupan nyata di sana. Yang ada hanyalah sisa rasa sesal di hati orang yang pernah rasakan pahit manis di situ.
Malam itu Adeeva agak gelisah karena bayinya bergerak kencang seolah ingin minta ijin segera muncul ke dunia. Namun perut Adeeva tidak sakit cuma terasa agak kencang. Pinggang terasa ngilu walau tidak termasuk sakit.
Bentuk tubuh Adeeva sudah tak karuan mirip badak bengkak. Adeeva sudah tak bisa pikir naik berapa kilo sejak kehamilan. Badannya melar terus tanpa bisa direm.
Ezra perhatikan Adeeva gelisah tak tentu. Sebentar duduk, sebentar jalan. Wanita muda itu tak tahu dengan cara apa bisa tenangkan anak dalam perut. Adeeva sungguh tak nyaman dalam kondisi begini.
Ezra tinggalkan kerja menghampiri isteri tercinta sekedar beri rasa aman. Ezra memeluk Adeeva dari belakang supaya isteri diam.
Adeeva mendesah ingin bicara tapi tak mau buat Ezra terkejut.
"Sayang ..kau kenapa?" Ezra mengecup belakang kepala Adeeva. Hanya ini yang bisa Ezra lakukan karena dia bukan pakar di bidang kandungan. Ezra hanya tahu kalau Adeeva sakit perut harus segera di bawa ke rumah sakit. Itu nasehat dokter.
"Perutku kejang tapi tidak sakit sekali. Pinggangku agak ngilu."
"Hubby urut ya?"
"Kata dokter tak boleh diurut. Lebih baik hubby telepon dokter! Tanya mengapa perut aku kejang sekali."
"Baiklah! Hubby ambil ponsel dulu ya!"
Ezra lepaskan pelukan ambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ezra sengaja tidak sembunyikan ponsel supaya Adeeva tidak curiga yang bukan-bukan. Bahkan Ezra tidak kunci layar biar Adeeva seratus persen yakin Ezra tidak main belakang.
Ezra segera hubungi dokter yang rada sinting itu. Ntah kalimat apa lagi akan dokter itu keluarkan sekak Ezra.
"Halo dok...selamat malam! Maaf ganggu nih!"
"Malam...jelas ganggu! Untung kamu cepat minta maaf! Kalau tidak aku akan marah."
"Sudah tensi darah belum dok? Kok cepat sekali naik darah? Belum punya guling hidup? Cari...jangan asyik intip punya orang lain!"
"Hhhmmm...isteri kamu kapan janda? Aku senang kok sama isteri kamu. Dapat isteri dapat bayi kembar lagi. Mau dong!"
Ezra capek layani dokter songong yang selalu usik dia. Ezra tak tahu apa sama semua suami pasien dokter itu selalu gitu.
"Ngak usah mimpi deh dok! Itu milik pribadi! Sudah ada stempel kepemilikan."
"Oh gitu ya! Ngomong-ngomong telepon cuma mau tanya kapan aku punya isteri?"
"Oh bukan...isteri aku perutnya kejang dan pinggang ngilu. Perutnya tak sakit. Gimana dok?" Ezra baru tersadar dia ada tujuan telepon dokter gila itu.
"Sejak kapan kejangnya? Apa ada tanda-tanda lain?"
"Tunggu ya dok! Coba omong sama Adeeva." Ezra membawa ponsel ke hadapan Adeeva biar wanita itu jelaskan kepada dokter keluhannya.
Adeeva menyambut benda itu tempelkan ke kuping biar jelas ngobrol dengan pakarnya.
"Assalamualaikum dok! Ini Adeeva.."
"Iya ibu cantik...gimana kondisimu?"
"Dari tadi sore perutku kencang bikin tak nyaman. Pinggang juga ngilu."
__ADS_1
"Gitu ya! Kurasa ada tanda mau lahiran. Ada orang memang tidak sakit perut melainkan sakit pinggang. Kau minta suamimu antar kamu ke rumah sakit. Aku akan nyusul. Tak usah tegang ya! Semua akan baik-baik saja."
"Iya dok! Terima kasih ya. Kami segera berangkat ke rumah sakit. Dokter harus datang juga ya!"
"Pasti dong! Aku akan bantu kamu. Santai saja. Kita periksa di sana. Ok? Jumpa di rumah sakit."
"Iya dok! Terima kasih ya sudah merepotkan."
"Itu sudah tugasku menjaga kesehatan kamundan bayimu. Sekarang juga ya ke rumah sakit."
"Siap dok! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Adeeva mengembalikan ponsel pada Ezra lalu berjalan ke lemari pakaian cari pakaian bersih. Adeeva ingin tampak rapi ke rumah sakit walaupun sedang hamil besar.
Ezra bengong melihat Adeeva rapi-rapi tanpa omong sesuatu. Laki ini bingung tak tahu apa yang harus dia lakukan karena Adeeva tidak mengatakan apapun. Ezra hanya bisa terpaku menunggu isterinya ngomong sesuatu.
"Sayang...kamu mau ke mana?" akhirnya Ezra yang bertanya.
"Dokter minta kita ke rumah sakit."
Ezra bagai kesengat kalajengking raksasa. Antara sadar dan bingung tak tahu harus apa.
"Kau mau lahiran? Astaghfirullah..." Ezra menyusul Adeeva ganti baju. Laki ini mengeluarkan tas besar berisi perlengkapan bersalin yang sudah dipersiapkan dari awal.
Adeeva tidak panik justru Ezra yang panik seperti vampire ketemu cahaya matahari. Ke sana kemari tanpa tujuan pasti.
"Hubby...kita cuma cek up. Lahiran kapan juga belum tahu. Kita kasih tahu Abah dan Umi ya!"
"Ya...ya..." Ezra keluar dari kamar cari mertuanya. Kedua orang itu selalu on time masuk kamar. Tidak pernah begadang tapi anak tetap satu. Biasa pasangan rajin bertapa dalam kamar anaknya pasti lusinan. entah Umi atau Abah yang bermasalah karena cuma bisa persembahkan satu anak putri.
Ezra berdiri jauhi pintu setelah ketok beberapa kali. Gimanapun Ezra segan berada di sekitar kamar tidur mertuanya. Status setinggi langit tidak membuat Ezra melupakan sopan santun.
Abah yang buka pintu seperti orang terpaksa bangun. Mukanya muram menangani ngantuk.
Ezra makin malu telah usik waktu istirahat mertua. Abah menyipitkan mata memandang ke arah Ezra yang tak tahu diri itu.
"Maaf bah! Ganggu tidurnya! Aku akan bawa Adeeva ke rumah sakit. Dokter yang suruh dia ke sana."
"Ya Allah...Umi...Umi.. bangun. Eva mau lahiran." teriak Abah bergaung dalam rumah.
Ezra ingin jelaskan bahwa mereka ke sana untuk cek up gimana kondisi janin. Mengapa mendadak kencang bikin Adeeva tak nyaman. Abah langsung beri tanggapan lain.
Umi dan Abah segera ganti baju untuk ikut ke rumah sakit. Mereka akan segera jadi kakek dan nenek dari dua bayi. Sejarah buat Umi dan Abah.
Ezra menarik nafas biarkan kedua orang tua itu bergerilya dengan pikiran mereka. Mungkin mereka terlalu bahagia akan segera menimang cucu. Ezra tak tega membantah anggapan kedua orang tua itu.
Ezra mengantar Adeeva ke rumah sesuai perintah dokter. Semoga tak terjadi apa-apa pada Adeeva dan kedua anak mereka.
Abah sibuk telepon sana sini kabari keluarga kalau Adeeva akan segera melahirkan padahal dokter belum mengatakan demikian Adeeva akan melahirkan.
Adeeva segera ditangani perawat atasan amanah dokter langganan Adeeva. Ezra tak tahu mengapa dokter itu beri perintah cek kondisi kandungan Adeeva.
Bukan Adeeva yang gelisah melainkan Ezra. Berbagai dugaan buruk terpaku di otak laki ini. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada anak-anak dalam perut Adeeva.
Umi dan Abah juga gelisah tunggu kabar dari perawat. Dokter gila itu belum juga tiba. Di mana pula dokter yang bertanggung jawab pada kesehatan anak isteri Ezra. Meminta orang datang tapi dia sendiri belum nongol.
Ezra tak sabaran lihat perawat masih periksa sana sini. Hanya periksa takkan bawa hasil tanpa tindakan.
"Gimana sus? Anak-anak tak apa kan?" tanya Ezra sudah habis rasa sabar.
__ADS_1
"Kayak ibu ini mau melahirkan tapi bayinya tak mau turun. Sudah buka dua." jawab sang perawat yang merupakan bidan.
"Sudah buka dua? Wah ..tak bisa pulang lagi. Dia akan buka terus." timpal Umi senang. Harapan punya cucu segera terwujud.
Malah Ezra yang bingung apanya yang mau dibuka? Apa bagian vital Adeeva akan dibuka. Hancur dong daerah favorite dia. Bagaimana dia bisa salurkan gairah yang tak pernah padam bila bersama Adeeva.
"Kalau tak usah buka boleh nggak?" tanya Ezra menjurus ke idiot.
"Huusss...lahiran memang gitu! Kalau tak buka jalan lahiran gimana baby keluar." ucap Umi.
Ezra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ternyata punya anak tidak segampang waktu cetak. Waktu cetak anak enak tinggal waktu lahiran susahnya minta ampun. Nikmat membawa sengsara.
Dokter songong yang tangani Adeeva muncul dengan senyum lebar. Wajahnya yang kocak bikin ketegangan reda. Dokter itu tidak susah hati walau pasien sedang menahan rasa ngilu.
"Halo...tegang ya?" canda dokter itu pada Ezra.
"Bukan tegang lagi tapi mau pingsan. Gimana dok? Isteriku tak apa kan?" Ezra buru dokter itu melupakan kekesalan pada dokter itu.
"Begini...berdasarkan laporan perawat isteri anda akan melahirkan tapi mungkin butuh waktu. Perutnya akan mules dan sakit. Di sini aku sarankan kita ambil tindakan operasi saja tanpa perlu membuat pasien menderita. Dari awal kita memang sudah tetapkan operasi Caesar. Tapi semua berpulang pada keluarga. Menunggu bukaan sempurna hanya menambah derita pasien toh akhirnya tetap operasi." dokter itu jelaskan dengan sabar.
Abah dan Umi tak berani ambil keputusan karena bapak si bayi ada di depan mata. Ezra yang paling berhak tentukan Adeeva harus bagaimana.
Ezra bimbang harus ambil keputusan apa. Malam ini langsung operasi atau biarkan Adeeva alami kontraksi sampai waktunya.
"Menurut dokter gimana?"
"Ya seperti saran aku! Kita lakukan tindakan operasi. Kita bisa tunggu lewat jam dua belas biar bayinya lahir waktu sempurna. Ini sudah pukul sebelas. Semua satu jam lagi kita akan laksanakan."
"Apa tidak bahaya dok?"
"Insyaallah aman! Lebih bahaya kita lahiran secara normal karena bayinya kembar. Kalau cuma satu kita bisa sabar tunggu bayinya lahir secara normal. Aku periksa pasien dulu. Tak usah tegang bro! Masih tegangan waktu cetak kan?" olok sang dokter bikin Ezra malu.
Masak di depan mertua diolok dengan kalimat vulgar. Di mana Ezra mau simpan wajah gantengnya. Tapi untuk detik ini Ezra tak balas karena perlu tenaga sang dokter. Kalau dokternya ngambek hilang harapan Ezra gendong anak secepatnya.
Dokter memeriksa kondisi Adeeva sekalian pantau kondisi janin. Janin memang mau keluar tapi perut Adeeva tak kunjung turun. Lahiran secara normal akan bawa resiko sangat besar. Apalagi bayinya dua.
Dokter segera perintahkan perawat siapkan meja operasi. Tepat waktu nanti dia akan lakukan prosedur operasi Caesar untuk bantu Adeeva keluarkan kedua bayinya.
Dokter kembali bicara dengan Ezra setelah memeriksa Adeeva. Sejauh ini semua masih berjalan dalam keadaan normal. Tak ada tanda-tanda bahaya bagi adeva maupun bayi-bayinya.
"Well...kalian bicara dulu dengan ibunya si kembar. Kasih semangat biar dia kuat hadapi meja operasi. Aku akan tunggu dia di kamar operasi." Dokter itu menepuk bahu Ezra penuh persahabatan. Dokter itu tahu Ezra tak kalah panik dari ibunya si kembar. Mungkin Ezra lebih panik lagi dari sang ibu. Maklumlah anak pertama.
Ezra beserta kedua orang tua Adeeva berlomba dekati wanita yang terbaring di atas brankar. Wajah Adeeva sedikit pucat karena rasa ngilu sudah lebih intensif.
Ezra menggenggam tangan Adeeva lalu menciumi tangan mungil itu.
"Kau tak apa sayang?" tanya Ezra lembut.
"Perutku makin tegang hubby! Pinggul dan pinggang makin ngilu." keluh Adeeva omong apa adanya.
"Anak kita akan segera lahir. Kau yang sabar ya! Kita akan segera jumpa mereka. Jagoan kita." bujuk Ezra membuai Adeeva biar lupa semua rasa ngilu.
"Hubby senang?"
"Senang dong! Abah dan Umi juga senang. Rumah kita akan ramai oleh suara mereka."
Umi maju ke depan mengelus kening anaknya penuh kasih sayang seorang ibu. Tak lama lagi Adeeva juga akan jadi ibu. Adeeva akan tahu gimana rasa menjadi seorang ibu.
"Umi dan Abah ada di sini. Kamu tak perlu takut. Berserah pada Illahi mohon keselamatan."
Adeeva angguk. Di kelilingi orang tercinta buat nyali Adeeva tumbuh dua kali lipat. Dia pasti kuat antar kedua bayinya melihat dunia.
__ADS_1