Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Adeeva Terjebak


__ADS_3

Sebagai anak buah Adeeva mana berani bertanya. Tunggu bos pulang urus makan malam maka tugas Adeeva berakhir untuk malam ini. Besok entah kisah apa pula harus dia lakoni. Jadi pemain utama atau hanya jadi figuran.


Ezra keluar dari kamar dengan rambut basah. Wajahnya tidak sekusut tadi. Mungkin telah kena setrika dalam kamar. Itu bukan urusan Adeeva. Anak gadis ini sudah tak sabar ingin tidur saking ngantuknya. Dari tadi dia tahan agar jangan tertidur selagi dinas.


"Makan malam pak?" tawar Adeeva seraya matikan TV pakai remote. Benda berlayar lebar itu kontan menghitam.


"Iya...kau masak racun?"


Adeeva berkacak pinggang tak terima dicurigai bosnya.


"Racun bukan dimasak pak tapi disuntikkan ke darah bapak. Bapak mau aku masuk penjara ngasih ide ini? Kalau bapak mau bunuh diri ngak usah libatkan aku! Aku masih muda ogah habiskan waktu di penjara. Sana gersang..."


Ezra tersenyum simpul merasa lucu lihat gaya garang Adeeva. Jumpa gadis ini kepala lebih plong kena ocehan tak masuk akal.


"Siapa bilang aku mau bunuh diri? Kita belum menikah mana boleh mati. Kau masih berhutang padaku!"


"Aku lapar..." Adeeva berlari kecil tinggalkan Ezra sebelum topik pernikahan mencuat lagi. Adeeva berusaha hindari percakapan tentang hal memalukan ini, si bos selalu ingatkan dia tragedi sosis.


Adeeva menghidangkan makanan di atas meja plus nasi hangat. Malam begini tak baik makan makanan dingin. Merusak lambung.


Ezra menyusul ke meja makan sambil pantau makanan apa dihidangkan gadis ini. Dilihat dari gaya Adeeva jamin tak becus pegang peralatan dapur. Orangnya kasar tak ada feminim kayak cewek lain. Berantem mungkin jadi keahlian Adeeva.


Dugaan Ezra meleset. Hidangan di meja lumayan menggoda mata. Tertata rapi di piring cuma rasanya belum bisa di beri nilai. Dari penampilan dan warna masakan sudah oke namun cita rasa masih jadi pertanyaan.


"Silahkan pak! Masakan Aspri super keren." Adeeva promosi masakannya tanpa malu.


Ezra menarik kursi menempatkan bokong di tempatnya. Hidung Ezra mengendus hidangan di meja cium apa makanan ini layak di makan. Baunya sedap.


"Silahkan pak!" Adeeva menyendok nasi ke piring Ezra. Adeeva lebih mirip isteri kecil melayani suami makan ketimbang jadi Aspri. Mana ada Aspri menyendok nasi untuk bos.


Adeeva menyendok nasi ke piring sendiri tanpa sungkan. Tak ada keraguan Adeeva makan satu meja dengan bos. Ini dalam rumah apa yang harus malu. Di restoran tempat umum Ezra tidak keberatan satu meja dengannya.


Adeeva memulai makan setelah baca bismillah. Ezra juga mengambil ikan hasil olahan Adeeva. Rasanya lumayan enak tidak pedas. Adeeva beda dengan penampilan, ternyata masih ada tersisa sisi feminim anak ini.


"Dari mana belajar masak?"


"Dari Nainai (nenek). Nainai itu mamanya umi. Aku kan lama tinggal sama Nainai di Singapore."


"Iya kau lulusan Singapura! Kukira kau hanya bisa berantem." ujar Ezra sambil memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Bapak jangan asyik-asyiknya bilang aku suka berantem! Aku kelahi demi bela perusahaan. Apa bapak senang lihat satpam dibully orang? Aku nggak kan biarkan temanku di jahatin!"


"Membela nggak mesti berkelahi toh!"


"Haiya bapak nggak lihat mereka duluan buka serangan! Aku ini berjiwa pedagang kaki lima. Ada yang jual pasti kubeli."


"Aku larang kamu bermain kasar lagi! Kamu ini anak perempuan, kerjanya berantem melulu! Gimana cara orang melihatmu?"


"Ya pakai mata! Bapak makan dulu. Tak baik selagi makan banyak ngobrol. Kata orang tua itu tabu."

__ADS_1


Ezra termakan omongan Adeeva memilih tutup mulut. Keduanya melanjutkan makan hingga perut berisi full. Adeeva kekenyangan sampai malas bergerak. Rasa ngantuk makin kuat merajai otak Adeeva. Rasanya ingin segera daratkan tubuh ke ranjang. Cuma sayang masih ada sedikit tugas dapur harus dibereskan.


Adeeva dengan sigap bereskan meja lalu cuci semua peralatan makan sampai betul-betul bersih. Berakhirnya tugas malam ini sebagai Aspri siaga. Waktunya memanjakan mata di ranjang.


Adeeva melihat Ezra duduk di ruang tamu mengganti Adeeva nonton TV. Cuma yang ditonton bukan acara hiburan melainkan laporan saham serta valuta asing.


"Pak...aku tidur ya!"


"Apa kau tidak jadi berfoto untuk kirim ke suamimu?" tanya Ezra tanpa pindah mata dari layar tv.


Adeeva terhenyak nyaris lupakan misi utama. Ini moments paling vital harus terlaksana agar terbebas dari pernikahan tak sehat.


"Oh iya pak! Aku lupa...kita harus berfoto secepatnya! Aku ambil ponsel dulu di kamar!" Adeeva berlari kecil menuju ke kamarnya untuk sementara.


Ezra melirik bayangan Adeeva melesat seperti anak panah terlepas dari busur. Gesit mencapai tujuan. Benar-benar gadis energik. Penuh semangat menantang badai kehidupan. Bagaimana reaksi anak ini bila tahu bos dan suami orangnya sama. Takluk atau ngajak Ezra duel hidup mati.


Adeeva kembali ke hadapan Ezra sambil acung ponsel kelas menengah. Bukan ponsel mahal punya fitur mumpuni. Di istananya para isteri gonta ganti ponsel ikuti perkembangan jaman. Yang satu ini patut dapat apresiasi.


"Kau tunggu di kamar aku! Selesai nonton ini aku akan datang bantu kamu."


"Kenapa harus dalam kamar?" Adeeva mengusap wajah keberatan masuk kamar lelaki lain bukan muhrim.


"Apa kau pikir kita berfoto di ruang tamu gini bisa menyakinkan orang tua itu? Dia bisa isteri banyak pasti punya pengalaman mumpuni. Terserah kamu! Aku kan hanya bantu kamu."


Adeeva menimbang Untung rugi masuk kamar Ezra. Tidak masuk berarti kesempatan lepas dari kakek bangkotan kandas, masuk berarti masuk kandang macan. Duanya pilihan buruk. Pikiran Adeeva ombang ambing diterpa keraguan. Mana yang harus diutamakan. Kebebasan atau nilai moral.


Adeeva menarik nafas panjang dari hidung lalu keluarkan dari mulut.


"Terserah!" sahut Ezra cuek.


Adeeva melangkah ke arah kamar Ezra dengan sedikit ragu. Ini pertama kali Adeeva masuk kamar laki selain kamar Farhan dan kamar papanya. Kamar suami sendiri Adeeva tak pernah intip. Sekarang malah masuk ke kamar suami orang. Demi kebebasan Adeeva pertaruhkan beban moral.


Kamar Ezra sejuk tak banyak perabotan. Hanya satu ranjang super mewah jadi barang andalan di kamar itu. Ternyata Ezra sama sederhananya dengan Adeeva. Kurang suka kamar disesaki barang ngak penting.


Adeeva duduk di atas kasur Ezra yang nyaman. Gadis ini sedang mengira berapa harga kasur lateks ini. Berapa juta keluar dari kocek laki itu? Rumah persinggahan ditata sedemikian bagus, gimanalah rumah tuan tajir ini! Mungkin tempat tidurnya berlapis emas.


Adeeva berkhayal bagaimana sosok isteri Ezra. Apa secantik bintang film yang seliweran di layar kaca? Tak mungkinlah wanita biasa tanpa kelebihan. Laki itu mana mungkin tampil tanpa ditemani wanita wah!


Dalam cerita seorang bos kaya selalu ada wanita super mewah berdiri di samping. Kadang bukan cuma satu, bisa dua atau tiga. Adeeva bukan kelas untuk Ezra. Tak ada sesuatu yang bisa ditampilkan Adeeva sebagai Aspri bos. Berpakaian selalu kemeja dan celana panjang. Kapan terakhir pakai rok Adeeva sendiri sudah lupa.


Capek menunggu Ezra, Adeeva mencoba empuknya kasur Ezra. Gadis ini merebahkan diri di atas ranjang dengan kaki masih bergelantungan di pinggir kasur. Hanya tubuh atas Adeeva berada di atas ranjang.


Saking nyaman juga ngantuk Adeeva tertidur di kasur Ezra. Gadis ini lupa dia berada di kamar siapa. Tanda bahaya SOS luput dari ingatan saking ngantuk.


Satu jam kemudian Ezra masuk kamar melihat pemandangan menggoda hasrat seorang lelaki. Sesosok tubuh terbaring di atas kasurnya tertidur lelap.


Sangat sesuai dengan harapan Ezra. Adeeva naik ke ranjangnya. Ezra makin punya alasan paksa Adeeva tanda tangani surat nikah.


Ezra mengangkat kaki Adeeva ke atas ranjang sehingga gadis itu tidur sempurna di atas kasur. Ezra tidak henti sampai di situ untuk jerat anak ini. Gadis keras kepala macam Adeeva susah dilawan pakai logika. Kekonyolan Adeeva harus dilawan kekonyolan juga.

__ADS_1


Gerakan selanjutnya Ezra membuka kancing baju Adeeva seluruhnya sehingga tampak dadanya terbuka. Lalu Ezra selimuti Adeeva sebatas dada. Setelahnya Ezra buka pakaiannya atas dan menyelinap dalam selimut. Sekilas mereka seperti pasangan suami isteri baru selesai lakukan olahraga di ranjang.


Ezra tidak buang waktu ambil foto seolah mereka pasangan intim. Tidak tanggung-tanggung Ezra melekatkan bibir ke pipi Adeeva supaya adegan tampak lebih hidup. Ezra menjepret beberapa gaya termasuk paksa Adeeva cium pipinya.


Gadis yang hanyut dalam mimpi tak tahu samasekali sedang main sinetron tanpa produser. Yang ada hanya sutradara arahkan gerakan sesuai keinginan sutradara.


Puas permainkan Adeeva, Ezra memeluk isteri mudanya sama-sama tidur menyongsong fajar. Bagaimana reaksi Adeeva esok hari terserah bagaimana Tuhan yang atur. Ezra sudah siap terima semua resiko dimaki Adeeva.


Adeeva terbangun dari tidur berusaha mengumpulkan ingatan apa yang terjadi. Gadis ini kaget ada sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya.


Adeeva menoleh ke samping lihat ada cowok tidur seranjang dengannya.


"Aaahhhh..." jerit Adeeva sekuat tenaga.


Ezra tersentak bangun lalu mendekap mulut gadis itu supaya berhenti berteriak. Menjerit di pagi buta bisa membuat satu apartemen geger.


Adeeva melawan tidak terima diperlakukan senonoh oleh Ezra. Bagaimana mereka bisa seranjang? Adeeva meloncat bangun setelah lepas dari cengkeraman Ezra. Baju Adeeva yang berantakan tidak terkancing bikin gadis ini makin malu. Apa tidak cukup tragedi sosis. Kini apa lagi?


"Apa yang bapak lakukan?" Adeeva menutup dadanya dari mata nakal Ezra.


"Kamu yang naik ke ranjang aku! Aku bisa apa? Aku suruh kamu tunggu kamu malah main tidur di sini. Siapa salah?" jawab Ezra santai menyibak selimut. Dada bidang tanpa lemak meracuni mata gadis ini. Kalau berada di ruang latihan taekwondo Adeeva tidak akan malu. Tapi ini dalam kamar seorang lelaki. Apa kata cicak di dinding?


"Kita sudah melakukan apa?" tanya Adeeva dengan suara bergetar.


"Lha...apa yang dilakukan bila ada sepasang manusia beda jenis satu ranjang? Pikir sendiri!"


"Kau..." Adeeva bergetar tak sanggup berpikir waras lagi. Betapa rendah harganya berani berbuat asusila dengan majikan sendiri. Adeeva tak tahu harus marah pada siapa. Merasa dijebak atau kebodohan sendiri masuk perangkap orang kaya.


"Kau harus bertanggung jawab padaku! Kemarin melecehkan sekarang naik ke ranjang aku. Apa aku harus melaporkan kamu melakukan tindakan tak menyenangkan pada bos?"


"Aku yang rugi. Apa kata suami aku nanti segelnya terbuka?" kata Adeeva hampir menangis.


"Aku kan mau jadi suamimu jadi tak masalah aku orang pertama buka segel mu. Kita menikah untuk menjaga keamanan saja. Siapa tahu kau hamil nanti. Artinya anak kita bukan anak haram." Ezra mengiring opini seolah antara mereka ada kontak badan.


"Bapak omong gampang! Aku ini manusia punya akal sehat. Aku ini masih isteri manusia purba produk jaman kerajaan Majapahit. Walau dia tua berkeriput toh suami aku. Aku tak boleh berkhianat. Bapak ini teganya lakukan pelecehan padaku!" Kini Adeeva benaran menangis. Gadis mana tidak sedih harus kehilangan mahkota secara gaib. Tidur sebentar tahu-tahu sudah tidak perawan.


Sebenarnya Ezra kasihan pada Adeeva termakan opini hasil settingan. Ezra tidak menyentuh Adeeva lebih jauh selain mengecup pipi gadis itu. Namun untuk membawa gadis itu kembali pada orang berhak Ezra harus jadi si raja tega.


"Gini saja! Kamu kirim foto kita pada suami jompo kamu. Dia pasti akan ceraikan kamu. Kita menikah secara hukum tanpa ijab kabul. Gimana? Ini untuk melindungi kamu tuntutan suamimu kelak. Aku hanya ingin membantu." ujar Ezra sungguhan biar Adeeva melunak.


"Apa boleh gitu? Apa kita tak berdosa melakukan hal terlarang?"


"Dosa dong maka itu kita harus lakukan sesuatu perkecil dosa kita. Aku akan minta pengacara aku urus semuanya. Ok?"


"Tapi.." Adeeva masih bimbang menerima tawaran Ezra. Betapa konyol hidup Adeeva. Dia menikah dengan kakek bangkotan demi orang tua dan kini menikah lagi dengan bos karena menjaga nama baik dan perkecil dosa. Ada apa dengan perjalanan hidup Adeeva. Tidak terlibat percintaan namun soal asmara ribet banget.


"Sudah... sekarang kau pergi mandi! Kita ke kantor. Oya..jangan lupa mandi wajib ya!" kata Ezra buat Adeeva ingin amblas ke bumi. Berapa jauh kalau mau amblas ke bumi. Mereka berada di lantai enam, masih ada lima lantai harus dilewati. Belum amblas ke bumi sudah bonyok duluan.


Adeeva ngeloyor keluar dari kamar Ezra dengan muka merah padam. Betapa malu Adeeva jadi sparing partner bos di ranjang. Apa Ezra akan mengira Adeeva sengaja menggoda dia? Masuk ke dalam hidup Ezra yang kaya untuk hidup senang.

__ADS_1


Adeeva harus peringati diri sendiri jauhi Ezra. Dia tak boleh jatuh lagi dalam kebodohan. Cukup sekali berbuat dosa. Tak boleh ada dua kali. Adeeva harus mengandalkan diri sendiri mencapai cita-cita menjadi sarjana lulusan S3.


Beban moral jauh lebih berat daripada beban tubuh. Moral masuk ke pikiran sedang beban bahasa tubuh bisa di alas dengan gerakan, lebih jauh gunakan kekerasan.


__ADS_2