
Ezra harus cari jalan agar Adeeva bersedia mengeluarkan buku hak kepemilikan kenderaan. Kalau beli baru ini akan memberatkan perusahaan. Ezra berharap Adeeva murah hati punya rasa simpatik pada rivalnya. Adeeva telah muncul sebagai pemenang maka dia tidak perlu iri kepada perempuan-perempuan itu lagi.
"Oya ..ada perubahan pada pertambangan?" tanya Ezra teringat sudah lama tidak mendapat berita tentang tambang mereka.
"Ini yang ingin ku laporkan! Ada rekanan dari Jepang minta kontrak segera direalisasi padahal aku tak merasa ada janji dengan rekanan dari Jepang. Aku merasa ada yang tak beres."
"Berikan data orang itu. Biar aku langsung cek sendiri. Aku rasa ini permainan Om Jul."
"Musang tua itu? Sekarang dia bisa apa? Aku akan telusuri kontrak apa itu? Aku pergi dulu untuk selesaikan soal selir-selir kadaluarsa milikmu!"
"Urus sebaiknya. Pastikan mereka hidup layak."
"Kenapa tidak tampung saja kalau kuatir nasib mereka. Satu hari bisa gilir satu. Kujamin satu bulan bapak tak bisa jalan lagi. Tulang keropos akibat forsir tenaga tiap malam."
"Kalau gitu kamu ambil saja semuanya. Kau pasti akan hidup bak raja tanpa tahta."
"Ogah...penuh kuman penyakit!" selesai berkata demikian Ruben segera angkat kaki sebelum Ezra menambah tugasnya.
Ezra baru bisa senyum lega. Masalah sulit yang di berikan Bu Humaira tuntas sudah. Sampai matipun Ezra takkan berani main mata dengan para kaum hawa lagi. Bukan sedikit kesulitan dia dapatkan dari para wanita itu.
Ezra masih harus selidiki penculikan Adeeva. Di benak Ezra mencurigai Rani dan Ika. Hanya kedua wanita itu punya dendam pribadi dengan Adeeva. Tujuan mereka bukanlah Ezra melainkan istri mudanya.
Ezra terpaksa minta tolong pada Don temannya pemilik bar yang punya jaringan luas. Don pasti akan bantu dia cari dalang penculikan Adeeva.
Ezra hubungi temannya itu walaupun tahu belum tentu diangkat. Don tidur di siang hari dan beraktifitas di malam hari. Singkatnya kehidupan dan seperti seekor kalong. Siang tidur malam melek.
Berkali-kali Ezra telepon baru diangkat Don. Suara bantal Don jelas sekali bergema di gendang telinga Ezra. Bagaimana Don punya isteri? Siapa mau sama lelaki model kelelawar tanpa sayap.
"Halo...vampir mana ganggu tidur orang?"
"Ngaku orang? Kurasa kau lebih cocok disebut drakula. Aku ada tugas untukmu."
"Seabad tak jumpa datang-datang ngasih tugas. Tugas apa? Jaga asisten pribadimu yang songong?"
"Selama seabad banyak sekali kejadian terjadi. Kabar baik pertama adalah aku sudah talak semua perempuan di rumah. Kabar baik kedua penerus Dilangit segera lahir ke dunia."
"Wow..." Don kontan hilang rasa ngantuk dengar muncul generasi baru Dilangit. Semoga bukan model Ezra.
"Siapa? Rani? Sonya atau ada perempuan istimewa lain?" buru Don tak sabar ingin tahu siapa wanita beruntung hamil anak Ezra.
"Asisten aku juga isteri aku!"
"What? Gadis songong itu bini kamu?"
"Kupikir kau sudah tahu dia itu isteri keenam aku. Aku sudah nikahi dia secara resmi dan sekarang dia nyonya bos Dilangit."
"Apa dia tidak terlalu muda untuk mu. Dia itu badannya gede tapi akalnya masih anak-anak. Kau ingat kejadian di bar yang sebabkan kamu buta? Waktu kuminta jemput kamu dia mau lempar kamu ke laut. Aku takjub ada orang berani berbuat gitu pada kamu."
Ezra tak heran lagi pada kenakalan Adeeva. Hanya Adeeva yang berani berbuat semena-mena pada Ezra.
"Aku sudah biasa bertengkar dengannya. Setiap kalimat yang muncul dari mulutnya tak pernah manis. Aku sudah kenyang dibully olehnya."
"Lalu mau pamer dapat daun muda? Ejek aku sebagai drakula lansia?" terdengar suara sewot Don.
"Telan petasan ya? Dengar sobat! Semalam ada tiga begundal mau culik Adeeva. Kau tahu sifat Adeeva tidak menyerah. Dia hajar penculik itu sebabkan dia pendarahan. Sekarang dia dirawat. Tugasmu cari dalang penculikan ini! Begundal itu ngaku culik karena uang. Aku tak percaya. Coba kau telusuri dari kantor polisi. Aku curiga Rani ataupun Ika."
"Ika? Siapa itu?"
"Anak Om Jul yang baru kupecat. Banyak kali peristiwa terjadi beberapa waktu ini. cerita di sini rasanya akan bertele-tele. Nanti suatu saat kita bercerita secara langsung. Sekarang kamu tolong cari tahu dalang penculikan Adeeva."
__ADS_1
"Adeeva ya? Jauh lebih baik dari Poni. Aku suka pada anak itu. Lucu dan berani. Kau hebat bisa taklukkan anak itu. Kupikir hanya Hercules dari mitologi Yunani baru bisa taklukan dia."
Ezra tertawa dengar Don menyanjung Adeeva setinggi langit. Ezra sangat bangga memiliki Adeeva sebagai istri. Sudah pintar perkasa pula.
"Aku wakili Adeeva ucapkan terima kasih. Kutunggu kabar darimu."
"Ok...nanti aku akan jenguk Poni kecil kamu. Salam ya."
"Ya ..terima kasih bro!"
"Sama-sama."
Ezra menutup sambungan jarak jauh. Lelaki ini menetap dekat-dekat barang di tangannya entah ingin menghubungi siapa lagi. Ezra sedang berpikir apakah dia harus menghubungi Rani untuk memancing wanita itu mengeluarkan bocoran tentang penculikan ini. Sebelum bertindak Ezra harus berpikir mata-mata karena Rani termasuk wanita Yang licik.
Ezra meletakkan ponselnya masih kaji apa yang harus dia lakukan. Untuk sementara ini Ezra masih harus susun rencana matang sebelum melangkah. Terpeleset sedikit bakal bawa akibat fatal.
Kita tinggalkan Ezra di kantor Dilangit. Kita coba melongok ke rumah sakit pantau kondisi bumil jagoan. Dalam kondisi hamil masih berani hajar penjahat. Itulah Adeeva sang jagoan.
Umi dan Abah dengan setianya menunggu Adeeva dirawat di rumah sakit. Pasangan suami istri itu tanpa lebih nyaman bisa menjaga anak mereka secara langsung. Abah berdzikir di dalam kamar mendoakan kesembuhan adeeva serta janin janinnya di dalam perut. Sedangkan Umi tiduran di atas ranjang kecil khusus untuk penjaga pasien.
Adeeva sendiri tiduran di ranjang tempat dia dirawat. Sesungguhnya Adeeva sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Namun tanpa izin dokter serta Ezra tak mungkinlah diam kabur dari rumah sakit. Kini Adeeva tidak bisa berbuat sesuka hati karena ada dua sosok calon manusia yang harus dilindungi.
Suara dering telepon memecahkan keheningan di ruang rawat Adeeva. Suara itu berisik membangunkan Adeeva dari tidur ayamnya.
Adeeva mencari bunyi ponsel siapa. batalkan wanita ini berputar-putar jatuh di atas meja kecil tempat menaruh obat dan minuman.
"Ponsel Eva Abah! Boleh minta tolong lihat siapa yang telepon? tanya Adeeva dengan sopan pada abahnya. Memang terlihat kurang sopan meminta sang Abah mengambilkan ponselnya tapi Adeeva tak berdaya tak bisa turun dari ranjang berjalan ke arah meja kecil itu.
Abah hentikan dzikir mengambil ponselnya dengan ikhlas. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pasien pendarahan.
"Dari Ezra..." Abah menyerahkan ponsel pada Adeeva setelah lihat siapa yang telepon.
Abah ikut senang saksikan Adeeva gembira mendapat telepon dari suami.
"Assalamualaikum..." sapa Adeeva semangat.
"Waalaikumsalam sayang. Gimana? Sudah enakan?"
"Sudah...pingin pulang!" kata Adeeva manja. Adeeva tak ubah seperti bumil lain ingin bermanja pada suami. Apalagi suaminya Ezra yang dulu terkenal sangar.
"Jangan dulu! Kita tunggu apa kata dokter! Sebentar lagi aku ke sana. Pingin makan apa?"
"Es cendol yang banyak gula aren."
"Ok...Oya...ada satu hal harus kamu ketahui! Aku sudah ceraikan semua wanita di istana. Kelimanya sudah selesai. Kau senang?"
"Kok bisa?" seru Adeeva terperanjat dapat berita aktual ini. Tiada badai tiada angin Ezra ceraikan semua selir kebanggaan dia. Apa yang telepon ini benaran Ezra? Adeeva kok jadi ragu.
"Adeeva ..dari dulu kau tahu aku tak suka pada mereka. Itu kan kerja mama."
"Kasihan juga ya!"
Ezra tak sangka Adeeva bukannya bahagia jadi isteri tunggal. Anak ini malah kasihan pada selir-selir di rumah. Apakah karena Adeeva tidak cinta padanya baru tidak merasa cemburu. Ezra ingin Adeeva cemburu pada semua wanita di sekitarnya. Ezra mau tahu isi hati anak ini.
"Lebih kasihan lagi mereka terkurung dalam ketidak pastian. Kini mereka bebas lanjutkan hidup bersama orang yang mereka cintai."
"Bapak ada kasih pegangan bukan?"
"Tentu saja. Aku tidak sekejam yang kamu bayangkan. Cuma aku ingin minta izin kepadamu untuk memberikan mobil yang mereka pakai sekarang ini. Semua surat tanda kepemilikan ada di tanganmu. Apakah kamu bersedia memberi surat itu kepada mereka?"
__ADS_1
Adeeva tak tahu harus jawab apa. Sebenarnya itu bukan kuasa Adeeva. Ezra yang berhak menentukan apa yang harus diberikan kepada selir-selir itu. Sedikitpun Adeeva tidak tertarik pada harta Ezra yang telah berada di tangannya. Suatu saat Adeeva pasti akan mengembalikan semuanya kepada Ezra.
"Terserah bapak! Yang penting bapak harus adil pada mereka terutama Renata. Dia sedang hamil dan orang yang hamili dia sedang sekarat. Kepada siapa dia akan bergantung?"
Ezra cukup terharu pada sikap toleransi Adeeva. Di saat begini dia masih memikirkan masa depan Renata. Ezra tak tahu hati Adeeva terbuat dari apa. Anak ini terlalu baik hati walaupun sifatnya sangat keras. Adeeva hanya kejam kepada orang-orang yang berhati busuk.
"Terima kasih...aku akan adil pada mereka. Kau istirahat. Nanti aku datang."
"Semua surat masih di brankas! Aku tak mengubah semua sandi. Bapak silahkan ambil apa yang perlu! Cuma sisakan sedikit untuk kedua anakku."
"Hei nona...masak anak kamu? Hak aku mana?"
"Lho yang hamil siapa? Aku kan? Makanya mereka itu milik aku. Kalau Bapak mau hamil sendiri saja. Jangankan kembar dua kembar selusin juga boleh!" olok Adeeva menggelitik kuping Ezra.
Di sana Ezra tak dapat tahan tawa. Ada saja kelucuan Adeeva pancing kegembiraan.
"Nona... yang nyetrum kamu itu siapa? Emang tanpa aku kamu bisa hamil?"
"Bisa dong! Bayi tabung. Cuma kebetulan ini bukan bayi tabung. Ini bayi hasil kecelakaan."
"Huusss omong apa itu? Capek ngomong sama kamu. Aku tutup dulu ya! Selesai kerja nanti aku segera ke rumah sakit."
"Ok. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Adeeva tersenyum merasa terhibur ngobrol sebentar dengan Ezra. Adeeva berpikir ulang tentang kabar Ezra menceraikan semua selirnya. Lelaki itu telah membuktikan janjinya akan menyingkirkan selir-selir yang menghabiskan banyak dana. Mestinya memang lebih baik begini perempuan-perempuan Itu bisa menikmati hidup normal tanpa harus bersandiwara lagi.
Ntah kenapa hati Adeeva mendadak terasa sunyi. Adeeva merasa hidup seorang diri di dunia ini. Tak ada temani seiring sejalan.
Seharusnya Adeeva bahagia namun kok merasa ada sesuatu yang raib dari hati. Apa sudah biasa dengar isteri Ezra ramai sehingga merasa kosong ditinggal jadi isteri satunya.
"Eva ..ada apa?" tanya Abah yang nyimak dari tadi.
"Ezra sudah ceraikan semua isterinya!" lirih Adeeva pelan.
"Termasuk kamu? Gila ya tuh anak!" seru Abah berang.
"Isshhh Abah ini! Bukan gitu! Ezra lakukan ini untuk Eva. Dia telah talak semua selirnya untuk menyenangkan Eva. Eva jadi satu-satunya isteri Ezra."
Abah bertepuk tangan girang seakan ini adalah kabar paling indah seumur hidupnya. Ezra menjadi lelaki sejati bisa melindungi anak isteri.
Umi yang sedang tertidur terbangun karena suara berisik Abah. Wanita berhijab itu cepat-cepat turun dari ranjang hampiri Abah.
"Ada apa bah?" Umi tampak panik. Umi pikir terjadi sesuatu pada Adeeva soalnya biasa Abah jarang besar suara bila tidak marah besar.
"Umi... doa kita telah didengar Allah! Ezra telah ceraikan semua isterinya."
"Ezra ceraikan semua isterinya? Lalu gimana nasib si jabang bayi?" Umi terperangah ingat nasib Adeeva dan bayinya. Umi seperti Abah salah sangka pada Ezra. Talak semua isteri termasuk Adeeva.
"Nasib apa? Eva jadi isteri satunya buat Ezra. Ezra tidak poligami lagi." seru Abah semangat.
Umi tersenyum bak mentari pagi bersinar cerah. Sinar lembut menyesap dalam kalbu. Umi tak bisa sembunyikan rasa bahagia akhirnya Adeeva memenangkan hati Ezra. Untung saja Abah telah cabut gugatan cerai. Kalau tidak tak lama lagi Adeeva akan jadi janda dengan sepasang anak.
"Ya Allah akhirnya anakku bahagia! Sudah kasih tahu Oma kau masuk rumah sakit?"
"Tak usah...nanti dia susah hati. Aku sengaja tidak kasih tahu supaya orang tua itu tidak kuatir. Nanti setelah Eva sehat kita kasih tahu dia akan jadi uyut."
Adeeva sekeluarga larut dalam rasa bahagia tak terhingga. Lima liku hubungan Ezra dan Adeeva mulai berjalan lurus. Tak ada rintangan halangi kebersamaan mereka lagi. Allah telah tunjukkan ridho nya pada Adeeva.
__ADS_1