
Bu Humaira membenarkan analisa Renata. Kalau Ezra tidak memasang mata-mata di rumah mereka maka lelaki itu takkan tahu semua yang terjadi di dalam istananya. Sekarang persoalannya siapa yang menjadi mata-matanya si Ezra.
"Sekarang apa yang harus kulakukan dengan baik ini?" Renata tampak cukup panik karena kandungannya akan membesar dari hari ke hari.
"Kurasa lebih baik kamu menyingkir ke satu tempat sampai melahirkan. Atau kamu pulang ke rumah orang tuamu di kampung. Mereka kan tahu kamu sudah menikah dan katakan saja Ini anak suamimu. Kamu ingin melahirkan di kampung." Bu Humaira membeli solusi agar Renata menyingkir untuk sementara.
"Ibu gila ya! Orang tua aku pasti akan bertanya ke mana si Hakim itu? Mana ada suami membiarkan istri pulang ke kampung sendirian. Mumpung ini baru 2 bulan lebih baik kita gugurkan saja!"
"Renata... kita sudah cukup berdosa apa kamu ingin menambah dosa itu? Anak itu tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Kamu lahirkan saja dan aku yang akan merawatnya. Anak itu akan tetap di sini menjadi pewaris dari Dilangit."
Renata tertawa sinis melihat Humaira masih bermimpi ingin kuasai kerajaan Dilangit. Mimpi mereka bukanlah mimpi indah melainkan mimpi buruk berkepanjangan.
"Maaf Bu! Aku tak mau lagi menjadi budak anda. Aku ingin hidup tenang bersama lelaki yang akan mendampingi aku kelak. Aku tak mau anak ini menjadi kerikil sandung di hari tua aku. Aku sudah ambil keputusan menggugurkannya." selesai berkata demikian Renata langsung bangkit meninggalkan Bu Humaira yang termenung sendirian.
Bu Humaira cukup syok mendengar keputusan Renata. Bagaimanapun anak di dalam kandungan Renata adalah anak adiknya.
Renata sendiri bersiap-siap untuk pindah dari istananya Ezra. Tak ada guna dia masih bertahan di tempat yang bukan miliknya. Lebih baik keluar mencari kehidupan baru.
Dorce juga bersiap-siap pindah karena Renata telah ambil keputusan meninggalkan istana mewah ini. Tak lama lagi istana mewah ini akan segera menjadi tempat yang sangat sunyi dihuni oleh dua wanita paro baya. Andai kata Bu Yuni meninggalkan istana ini maka tinggalah Bu Humaira sendirian bersama dengan para pembantu. Istana yang semula penuh dengan hiruk pikuk kemewahan para selir-selir Ezra kini mulai membisu.
Hari berlalu cepat tanpa terasa sudah seminggu Supono dan Akbar berada di kota J. Waktunya mereka kembali ke kota mereka untuk lanjutkan hidup.
Supono akhirnya bersedia bekerja di kantor Ezra ganti posisi Ruben yang naik pangkat jadi wakil Adeeva. Namun Supono minta ijin pulang ke kampung untuk kabari ibunya serta atur tempat tinggal ibunya. Supono lebih suka kalau ibunya bersedia ikut ke kota.
Supono serahkan keputusan kepada ibunya untuk ikut dengannya atau tetap berada di kota kecil tempat tinggal mereka. Akbar meminta ibunya Supono tinggal bersama ibunya untuk menjadi teman ngobrol. Tetapi semua masih tergantung pada keputusan ibunya Supono.
Nunik tidak ikut lagi karena harus belajar bekerja di kantor papanya. Satria tak mungkin meneruskan usaha papanya karena terikat pada janji tugas. Nunik satu-satunya penerus yang bisa diandalkan saat ini.
Adeeva dan Ezra saling bahu membahu kembangkan perusahaan. Sementara Ruben membantu dari samping. Mereka bertiga jadi tonggak kebangkitan Dilangit. Semakin hari keadaan Dilangit makin membaik.
Siang hari itu agak panas di luar namun tidak terasa dalam kantor karena kantor full AC. Panas atau dingin tidak terlalu pengaruh pada karyawan Dilangit.
Bumil muda merasa ngantuk akibat pengaruh janin yang makin gede. Adeeva terngantuk-ngantuk di kursi malas yang disediakan Ezra.
Ezra tersenyum melihat wanitanya kembali pada kebiasaan lama suka ngantuk bila siang telah tiba. Sebelum menikah Adeeva selalu begitu. Untunglah bosnya Judika yang pengertian.
Ezra hampiri Adeeva beri kecupan sayang di kepala Adeeva. Ezra tak tahu sampai kapan Adeeva akan menyiksanya. Sampai detik ini Adeeva tak ijinkan Ezra menyentuhnya. Ezra tak tahu sampai kapan Adeeva baru mau menyerahkan diri padanya.
Adeeva terbangun kena sentuhan Ezra. Adeeva menatap suaminya dengan tatapan sebening kaca. Mata itu berkilat kena sinar matahari dari jendela kaca.
Ezra terpana melihat satu pemandangan lain. Adeeva seperti seorang bidadari nyasar ke bumi goda kaum hawa. Sudah berbulan bersama Adeeva baru kali ini Ezra melihat kecantikan Adeeva menyembul di tengah hari.
"Hubby..." Adeeva membuyarkan keterpesonaan Ezra.
"Eh sayang...ngantuk ya?" Ezra mengusap kepala Adeeva gunakan segenap kelembutan.
"Iya...makin hari makin malas." keluh Adeeva.
"Ayo tidur di kamar aku! Aku temani." Ezra membantu Adeeva bangun dari kursi malas. Bentuk tubuh Adeeva yang ramping mulai tinggal kenangan. Perutnya mulai buncit walau belum setinggi gunung Semeru.
"Isshhh...mau mesum ya? Ini kantor pak!"
Ezra tetap bimbing Adeeva ke kamar istirahat. Mulut Adeeva menolak namun kaki mau juga diajak istirahat di tempat semestinya. Tentu lebih nyaman bisa rebahkan badan.
Ezra menghidupkan lampu biar terang. Kamar itu agak lembab karena kurang ventilasi udara. Kamar itu nyaris tertutup karena kamar itu hanyalah ruang tambahan.
Ezra hidupkan AC supaya ada perputaran udara dalam ruang itu. Adeeva tak segan jatuhkan tubuh ke kasur. Ezra kaget lihat betapa kasarnya Adeeva hempaskan diri ke atas kasur.
"Sayang... hati-hati dong!"
__ADS_1
Adeeva tertawa kecil mengejek calon Abah baru. Ezra terlalu protektif terhadap pertumbuhan anaknya.
"Mereka aman dalam perutku. Oya hubby! Besok kita sudah harus kontrol ke dokter kandungan. Hubby ada waktu?"
Ezra duduk di samping Adeeva menyamping seraya mengelus perut Adeeva.
"Sesibuk apapun aku akan tetap temani kamu. Aku tak percaya pada orang lain kawal kamu. Tidurlah! Aku akan jaga kamu."
"Tak usah dijaga! Hubby kembali kerja saja. Nanti bangunkan aku ya!" Adeeva mendorong pantat Ezra agar menjauh. Ezra tidak bergeming walaupun Adeeva kerahkan semua tenaga.
"Aku akan pergi setelah kamu tidur."
"Terserah!" Adeeva membalikkan tubuh ke samping lelah telentang.
Ezra ikut rebahkan diri di sisi Adeeva tak peduli wanita ini menolaknya. Ezra ingin rasakan bau harum tubuh Adeeva yang dia rindukan dari kecil. Kelak anak mereka lahir harus pakai bedak yang sama biar harum mereka seragam.
Ezra memeluk Adeeva dari samping untuk ikut berlayar dalam mimpi Adeeva. Keduanya tidur siang bersama tanpa ada acara cumbu rayu. Murni tidur siang.
Baru saja Ezra terlelap terdengar suara ponsel menjerit panjang. Ezra ingin abaikan namun takut ada perihal penting pula.
Ezra membuka layar ponsel cari tahu siapa yang telepon. Ezra mengernyit alis setalah lihat siapa telepon. Ezra segera bangkit bawa ponselnya keluar agar tak ganggu tidur Adeeva.
"Halo... assalamualaikum! Ada apa?"
"Mama mau kabarkan kalau Renata sudah meninggal dunia tadi pagi."
"Innalillahi...kok bisa? Bukankah dia baik saja waktu pindah?"
"Mama yang salah Kim! Dia aborsi dan terjadi pendarahan."
"Ya Allah...apa yang kalian lakukan? Apa kalian tak tahu betapa bahayanya lakukan hal itu?"
"Andaikata kau mau tanggung jawab maka Renata takkan nekat."
"Kim...sekarang hidup om kamu sangat sengsara! Kau bantulah biaya pengobatannya!"
"Aku sudah menanggung semua biaya perawatan beliau. Mama mau minta apa lagi?" tanya Ezra gusar.
"Maksud mama biaya ke Tiongkok."
"Ma... apa Mama pikir harta mereka cuma seupil? Om Jul masih banyak menyimpan harta berupa aset lahan dan rumah-rumah mewah. Itu semua berasal dari uang perusahaan. kalau aku mau telusuri maka semua akan disita oleh perusahaan."
"Kenapa kamu bisa menduga begitu?"
"Bukan menduga tetapi fakta. apa Mama kira aku tinggal diam keluarga Om Jul asik mencuri harta dari keluarga Dilangit? Mama tahu semuanya tapi pura-pura tidak tahu."
"Kim.. Mama mohon kepada kamu agar berbaik hati sedikit. Ika si bodoh ditipu oleh pacarnya sampai ratusan milyar. Katanya mau buka PH untuk produksi film dan sinetron. Ternyata si Kenzo membawa lari semua uang si Ika."
Ezra bukannya iba tapi mencibir. Uang setan pasti kembali ke setan. Keluarga Pak Jul akan merasakan karma yang telah dia tanam dari dulu. Satu persatu hartanya akan terkuras habis.
"Mama tenang saja! Aset mereka masih banyak. Tak perlu terlalu pikiran. Renata dikebumikan di mana?"
"Keluarganya meminta agar Renata dikebumikan di kampungnya. Maka itu jenazah telah dikirim melalui ambulans."
Ezra kasihani nasib Renata yang menjadi bidak dari Bu Humaira. Akhirnya dipaksa sampai tidak mampu melangkah lagi dan mati di tempat. Secara tak langsung Bu Humaira yang mengatur kematian Renata.
"Sekarang mama sadar tidak bahwa semua yang Mama lakukan itu adalah salah. Apa Mama mau pergi menjenguk Renata?"
"Iya... Renata itu satu kampung dengan Mama. Mama berencana menetap di kampung saja. Mama sudah tidak sanggup tinggal sendirian di rumah yang sangat besar ini. Katanya si Yuni akan pindah juga. Apa kau sudah tahu hal ini?"
__ADS_1
"Sudah... Bu Yuni sudah mengatakannya jauh hari sebelum banyak kemelut di keluarga kita. Dia ingin hidup bahagia di luar tanpa menanggung beban kesepian. Kapan Mama akan berangkat ke kampung? Apa perlu diantar sampai ke tempat?"
"Tidak perlu... Mama cuma ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali. Selanjutnya Mama akan hidup damai di kampung tak ingin ikut campur dalam kehidupan kamu lagi."
"Baiklah! Sore nanti aku akan datang. Aku akan bawa Adeeva. Mama jangan pojokkan dia ya! Adeeva sedang hamil muda. Kuharap mama bijak terhadap ibu hamil."
"Adeeva hamil? Anakmu?"
"Tentu saja. Mama akan segera jadi Oma. Bersikaplah seperti Oma yang menyayangi cucunya!"
"Alhamdulillah..akhirnya kamu punya keturunan! Mama mengira kamu ada masalah dengan alat reproduksi kamu maka Mama minta Renata hamil. Ya Tuhan memang tidak mengizinkan orang jahat berjalan paling depan. Mama tunggu kalian. Mama takkan persulit Adeeva. Kejadian beruntun membuat stamina Mama langsung anjlok."
"Syukurlah kalau mama bisa pikir sehat. Adeeva itu anak lugu tidak punya niat jahat pada kita. Dia juga tidak suka padaku waktu pertama menikah. Seiring waktu aku tergila padanya. Buang jauh pikiran mama kalau Adeeva seperti wanita di rumah."
Ezra mendengar helaan nafas Bu Humaira. Ezra tidak tahu itu helaan nafas menyesal atau kesal tidak berhasil singkirkan Adeeva. Adeeva makin kuat berdiri di samping Ezra. Badai apapun tidak akan menerpa Adeeva jauh daripada Ezra.
"Mama tahu... cepatlah pulang! Mama di sini tunggu kamu."
"Iya ma.. assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam.."
Ezra meletakkan ponsel di meja kerja ingat nasib Renata. Ezra heran mengapa Renata nekat membunuh anak sendiri? Apa karena tidak ada yang bertanggung jawab terhadap anak ini?
Ezra tak tahu apa dia ikut berdosa biarkan Renata meregang nyawa karena tak mau akui anak itu. Tapi itu bukanlah tanggung jawab Ezra. Apapun adanya Ezra sedikit syok Renata telah meninggal dunia.
Adeeva tak boleh tahu hal ini. Wanita muda itu pasti kaget bila tahu rivalnya telah duluan menghadap Yang Maha Kuasa. Ini sangat bahayakan kandungan Adeeva.
Pikir punya pikir Ezra angkat ponsel lagi teleponi Bu Humaira. Ezra harus duluan bergerak sebelum kecolongan.
"Halo.. assalamualaikum."
"Hakim??? Ada apa lagi?"
"Begini ma...kuharap mama jangan bahas Renata di depan Adeeva. Dia sedang hamil, aku takut dia syok."
"Baiklah! Mama lagi bingung sekali Hakim. Kenapa semua jadi begini berantakan? Mama baru dapat kabar Ika stress berat gara-gara kena tipu."
"Maksud mama?"
"Ika butuh psikiater untuk tangani kejiwaan dia. Ika sangat terguncang ditipu oleh Kenzo."
"Ya Allah...cobaan apa lagi,?"
"Inilah karma buat kami! Sepertinya Mama tidak bisa pulang ke kampung saat ini. Mama harus dampingi Ika untuk berobat."
"Aku tidak mengusir mama.. Terserah mama mau tinggal di mana karena itu adalah rumah Mama juga. Aku akan segera meminta orang untuk merenovasi rumah itu agar suasananya menjadi lebih nyaman. Apa pendapat mama?"
"Yang bagus di kamu saja Hakim. Mama merasa kok sangat tua."
Secara diam-diam Ezra sangat prihatin dengan kondisi keluarga Bu Humaira. Satu persatu mereka mendapat masalah. Inilah akibat kalau bermain curang di belakang layar.
"Ma... kita harus percaya pada Tuhan bahwa itu hanyalah cobaan sementara! Tidak lama lagi kita akan bahagia sesuai dengan porsi masing-masing."
"Amin... Mama tunggu kalian!"
"Iya ma...yang sabar ya! Kita harus petik pelajaran dari kesalahan kita."
"Kau banyak berubah nak! Ini pasti berkat Adeeva ya?"
__ADS_1
"Iya....aku banyak belajar ilmu agama dari keluarga Adeeva. Mereka memang keluarga baik."
"Mama turut senang kamu sudah temukan harapan kamu. Nanti jumpa lagi."