
Satria percepat waktu ajak Adeeva tinggalkan kedai kopi mengerikan itu. Ada sesuatu tak beres dengan kedai kopi ini. Satria menduga ada hal misteri tersimpan di kedai ini. Jual beli cinta tepatnya sarang penjaja cinta.
Adeeva tidak cocok berada di tempat demikian. Satria bayar minuman kopi lalu ajak Adeeva tinggalkan kedai itu. Satria bukan orang tolol tak bisa baca situasi. Adeeva sudah tampak gerah berada di tempat tak tepat. Jalan terbaik adalah ajak si gadis balik ke tempat mobil Adeeva sedang ngadat.
"Maaf telah bikin kamu tak nyaman!" ujar Satria di sela berjalan ke tempat mobil Adeeva di parkir.
"Tak apa mas! Kita juga tak tahu ada tempat demikian."
Satria mengangguk. Dia memang tak tahu kedai kopi itu tempat persinggahan para hidung belang. Jalan paling tepat adalah ajak Adeeva pergi dari situ. Untunglah begitu mereka tiba di sana rekan Satria juga sudah balik bawa bahan bakar dan montir.
Tanpa banyak prosedur montir itu memeriksa mobil Adeeva setelah diisi bahan bakar bensin. Untunglah semua berjalan lancar. Begitu bahan bakar diisi montir hidupkan mobil langsung hidup tanpa kendala. Adeeva bersorak gembira bisa melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Kemerdekaan yang diidamkan segera berada di bawah genggaman tangan.
Satria dan rekannya tersenyum tatkala lihat kebahagiaan Adeeva. Jiwa muda Adeeva muncrat sana sini membuat Satria maklumi keteledoran gadis muda ini lupa isi bahan bakar minyak dalam tangki mobil. Adeeva termasuk gadis sembrono cari penyakit sendiri.
"Well...mau jalan sendiri atau bareng?" tanya Satria juga berniat tinggalkan tempat kejadian.
"Bareng deh mas! Oya...berapa duit beli bahan bakar tadi?" Adeeva mengeluarkan dompet dari tas mungil yang bergantung di pundak.
"Tak usah...anggap bonus dari aku atas pertolonganmu tempo hari! Ayok kita berangkat! Kau nyetir atau aku yang bawa mobilmu?"
"Jangan mas! Itu beli pakai duit bukan dari daun pisang! Duit itu susah dicari. Aku bakal kepikiran bila hutang duit. Ntar rezeki aku seret bila hutang orang. Ayo dong berapa mas?" Satria menatap temannya minta pendapat. Temannya itu mengangguk tanda ikuti saja permintaan Adeeva.
"Dua puluh ribu saja kok!" ujar Satria tak mau Adeeva terbebani. Satria terbuka mata kalau gadis di depannya bukan gadis matre suka poroti harta cowok. Gadis model gini sudah langka. Yang ada kuras kantong cowok sampai kering.
Mata indah Adeeva terbelalak heran kok ada bahan bakar semurah gitu. Satu jerigen cuma dua puluh ribu. Emang stasiun bahan bakar lagi sale atau korting?
"Kok murah amat?"
"Kebetulan kami ada kartu diskon kalau sering isi di situ. Tadi aku pakai kartu itu." sahut rekan Satria cairkan keheranan Adeeva.
Adeeva angguk-angguk polos persis ayam ngantuk. Percaya tak percaya tapi harus percaya.
"Gitu ya! Ini uangnya! Terima kasih untuk hari ini. Kelak aku akan balas jasa baik mas. Kita berangkat yok! Hari sudah panas." ajak Adeeva tak sabar ingin cepat tiba. Perutnya mulai berdendang lagu sedih. Lagu sedih meratapi nasib perut kosong.
"Boleh minta nomor kontak kamu?" tanya Satria tak mau siakan kesempatan mengenal Adeeva lebih jauh.
Kali ini Adeeva tidak pelit bagi nomor kontak. Satria sudah perlihatkan sikap lelaki sejati. Tidak berbuat di luar batas kesopanan. Bagi kontak juga tak jadi masalah. Ini kedua kali mereka jumpa artinya mereka ditakdirkan jadi teman.
Adeeva bagi nomor ponselnya pada Satria. Satria tersenyum puas menyimpan kontak Adeeva. Rencana selanjutnya adalah hidupkan kunci kontak melanjutkan perjalanan sampai tujuan.
Adeeva duluan melajukan mobil membelah jalan aspal. Satria dan rekannya tertawa lihat cara Adeeva bawa mobil. Tangan terampil di atas stiur cuma tak paham soal isi dalam mesin. Hanya tahu bawa mobil.
"Gadis cantik penuh energi. Dari mana kau kenal dia?" tanya rekanan Satria menyusul Adeeva yang sudah melayang meninggalkan Satria.
"Di B..sewaktu incar bandar narkoba. Diganggu oleh antek gembong dibantu oleh Adeeva. Dia hajar gembong itu tanpa ampun. Sekali tinjunya bicara bonyok si gembong. Gadis lucu menyenangkan."
"Jangan bilang jatuh cinta pada pandangan pertama ya!"
"Apaan sih? Baru saja kenal kok jatuh cinta. Yok nyusul! Dia sudah hilang dari pandangan."
Mobil Adeeva sudah hilang dari radar mata kedua orang ini. Satria hanya berdoa semoga gadis itu selamat sampai tujuan. Masih banyak waktu untuk mengenal dia lebih dekat. Sekarang mereka pun mempunyai tugas yang harus diselesaikan.
Adeeva melarikan mobilnya dengan kencang agar cepat sampai ke tempat tujuan. Dia sudah terlambat hampir 1 jam gara-gara lupa isi bahan bakar minyak. Adeeva harus tiba tepat waktu agar dapat mendapat kemerdekaan yang diidamkan.
__ADS_1
Hampir mendekati kota ponsel adeeva berdering. Gadis ini melirik ke arah layar melihat siapa yang mengganggu konsentrasi nyetir dia. Nama ikan paus membuat adeeva mendesis agak kesal. Ngapain mengganggu orang di saat perlu cepat tiba di tempat.
Adeeva pasang headset untuk terima telepon Ezra. Jujur Adeeva tak suka Ezra terlalu campur urusan pribadinya. Dia sudah minta libur dari kantor artinya dia tidak abaikan tugas kantor.
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam... kau di mana? Katanya sudah dekat kok belum sampai?"
"Mobil mogok... kesalahan teknis!" kilah Adeeva tak mau jujur lupa isi bahan bakar. Adeeva tak mau tampak tolol di depan bos Songongnya.
"Mobil rongsokan bawa petaka. Syukur masih bisa diperbaiki! Gimana kalau rusak tak bisa jalan lagi? Nginap di jalan?"
Adeeva menelan air ludah lewati kerongkongan agar adem. Adeeva ingin balas amarah Ezra namun ditahan. Berbahaya emosi dalam kondisi nyetir.
"Pak..ini harta aku satu-satunya. Aku bukan orang kaya jadi aku harus terima keadaan sekarang. Orang baik takkan ditinggal Tuhan. Buktinya mobil aku baik saja. Aku sudah dekat kota. Terima kasih perhatian bapak. Besok aku akan balik kantor sesuai janji. Tidak bolos kok!"
"Kau memang paling susah diatur! Apakah besok kamu akan pulang dengan mobil rongsokan ini lagi?"
"Ya iyalah! Emang aku rampok bank beli mobil baru? Atau bapak mau ke rampok biar bisa beli mobil seharga berember-ember."
"Aku bisa pinjami kamu mobil atau kau pindah tugas di kantor pusat."
"Duanya ditolak... Aku terlanjur jatuh cinta pada kantor cabang. Cinta aku tidak gampang berpindah lokasi karena cintaku Cinta sejati." kata Adeeva pede tak goyah ditawari fasilitas mewah. Adeeva bukan mengejar kemewahan melainkan kenyamanan bersama timnya yang dulu. Kalau ada Eva mau dia bisa meminta mobil baru daripada Abahnya. Tapi itu bukan gaya Adeeva menyusahkan orang tua.
"Terserah kamulah! Begitu sampai di kota kamu harus menghubungi aku."
"Siap pak! Assalamualaikum." Adeeva cepat-cepat mematikan ponsel sebelum disahutin oleh Ezra lagi.
Perhatian Adeeva kembali berpusat pada jalan yang mulai macet. Berapa jam lagi harus melawan kemacetan abadi ini. Tiada hari tanpa macet.
Setengah jam terjebak macet baru dapat jalan beberapa meter. Alamat malam baru tiba di istana suaminya. Acara sidang pasti sudah dimulai. Bisa berantakan rencana Adeeva menuju ke hari merdeka.
Ponsel berbunyi lagi. Adeeva mendecak kesal karena di layar nama ikan paus tampak jelas. Kalau Ezra ada di depan mata pasti sudah Adeeva hadiahkan bogem mentah. Usil amat urus hidup orang.
"Assalamualaikum... pakde.. apa lagi? Kelebihan pulsa ya! Krang kring terus..."
"Kau di mana? Berselingkuh ya!"
Adeeva merasa perutnya mual dituduh selingkuh. Selingkuh sama siapa. Siapa yang berselingkuh sekarang ini? Jelas Adeeva selingkuhi suami bangkotan. Menipu suami kawin dengan orang lain.
"Iya aku selingkuh... puas?"
"Kau...aktifkan Videocall! Aku mau lihat tampang orang yang kau anggap lebih baik!" seru Ezra marah. Doyan amat umbar emosi. Pantas jidat tak pernah mulus. Kusut melulu kelewat suka buang hawa panas.
Adeeva aktifkan Videocall biar laki songong itu tidak ribut dengan pikiran negatif. Wajah Ezra muncul di layar dengan mata merah. Adeeva anggap Ezra keturunan vampire yang matanya selalu merah akibat keseringan isap darah.
"Putar ponsel kamu. Mana selingkuhan kamu?"
"Yaelah bos...siapa lagi mau aku? Bapak kan sudah bilang aku jelek tak mirip cewek. Nih.. aku selingkuh dengan macet!" Adeeva arahkan ponsel ke jalan yang berjubel antrian mobil.
"Besok kamu juga tak bisa keluar dari situ!"
"Lha...aku harus gimana? Sayap yang kupesan belum siap maka harus sabar merayap begini. Bos ada solusi?"
__ADS_1
"Ada...kau tinggalkan mobilmu lalu kujemput pakai helikopter!"
"Edan .. bentar lagi juga terbebas! Mobil di depan mulai melaju kok! Bapak tenang saja! Aku takkan lari dari tugas. Besok pasti balik kerja."
"Kita harus jumpa! Kau kan isteri aku! Mungkin di perutmu ada bayi aku!"
"Amit-amit jangan sampai deh! Habis masa depan aku jaga anak kecil. Dengar suara nangisnya saja hatiku ngilu. Bapak nggak usah takuti aku! Bayi itu tidak ada."
"Kau Tuhan bisa atur kelahiran seorang anak? Pokoknya jaga diri. Kita akan segera jumpa."
"Terserah!" ketus Adeeva jengkel pada Ezra si raja tirani. Suka main paksa kehendak. Adeeva apes banget jumpa bos demikian kejam.
Tanpa salam Adeeva tutup ponsel. Saking kesal Adeeva matikan ponsel secara total.
Mobil mulai bergerak lebih lancar setelah bertahan cukup lama di tempat. Adeeva mengucapkan puji syukur terbebas dari kemacetan sadis. Tak pandang kaya miskin. Semua harus tunduk pada si macet.
Sebelum senja Adeeva tiba di istana Dilangit. Pintu gerbang selebar truk siap menelan mobil Adeeva bila masuk ke dalam. Lama Adeeva berhenti di depan pintu gerbang tanpa ada keinginan balik ke istana ini. Namun demi kebebasan dia harus siap terima cacian dari suaminya nanti. Sebelumnya masuk ke pintu pagar Adeeva sulap diri sendiri dengan busana muslim yang sudah dia sediakan dari rumah. Tinggal kenakan baju gamis dan pasang penutup kepala serta niqab agar kembali jadi isteri Hakim yang alim.
Adeeva sudah siapkan headset wireless agar tidak dengar makian raja Dilangit. Mau caci apa terserah yang penting bebas.
Adeeva berdoa minta lindungan dari Yang Maha Kuasa barulah dia bunyikan klakson agar didengar satpam yang berjumlah tiga orang. Salah satu satpam langsung kenali mobil butut Adeeva. Nyonya muda mereka yang punya langkah seribu. Satu hari jadi nyonya langsung kabur.
Pintu gerbang raksasa terbuka perlahan secara otomatis ijinkan mobil Adeeva masuk ke dalam. Mungkin mobil Adeeva satunya mobil paling jelek di antara mobil keluarga Dilangit. Mobil antar jemput pelayan saja harganya berapa kali lipat dari harga mobil Adeeva.
Adeeva tidak singgah di rumah induk Dilangit untuk hindari pertanyaan ibu suri yang kurang ramah. Adeeva tak jelas lihat ibu mertuanya dulu berkat kesaktian kacamata Oma Uyut. Malam ini Adeeva akan jumpai seluruh penghuni kerajaan Dilangit termasuk suaminya.
Adeeva teleponi Tuti agar sambut dia di rumah Cendana. Adeeva ingin persiapkan diri sebaik mungkin sebelum jumpa keluarga inti suaminya. Hanya kata talak diminta Adeeva. Adeeva takkan minta satu senpun dari suaminya. Orang memang dia yang salah kacangin suami.
Mobil Adeeva berhenti di halaman rumah kayu yang klasik. Bau kayu cendana langsung membayangi hidung gadis ini. Harum abadi takkan punah di makan waktu.
Adeeva menurunkan tas jinjing ke depan pintu rumah menanti kehadiran Tuti. Kunci rumah berada di tangan Tuti selaku asisten Adeeva.
Dari jauh Adeeva melihat Tuti dan Wakno alias Kiano berlari hampiri Adeeva. Kedua asisten Adeeva senang lihat majikan mereka balik setelah sekian lama raib tanpa kabar.
Adeeva tersenyum senang melihat semangat kedua anak muda itu. Rindu juga pada keluguan kedua asistennya.
"Nona Adeeva...selamat datang!" seru Tuti memeluk Adeeva riang. Mungkin hanya Adeeva satu-satunya nyonya di situ bersedia di peluk pembantu. Yang lain sombong ke langit sesuai dengan marga pemilik rumah.
"Ayok masuk!" Adeeva merangkul Tuti untuk masuk ke dalam rumah. Tuti masukkan kunci ke pintu rumah agar Nyonya bisa pindah ke dalam.
Kiano menyambut tas Adeeva sebagai pengabdian pelayan setia.
Rumah tetap bersih dan harum. Semua seperti sebelum ditinggalkan Adeeva. Kiano masuk ke dapur ambil air minum untuk majikannya. Tuti membawa tas Adeeva ke dalam kamar. Masing-masing berusaha menyenangkan majikan yang sudah lama tidak pulang.
Adeeva membuka penutup wajah untuk basahi kerongkongan dengan air mineral dari Kiano. Lega rasanya tiba tepat waktu sebelum waktu sidang.
"Nona mau mandi atau perlu sesuatu?" tanya Tuti sopan sadar siapa adanya Adeeva.
"Duduk sebentar dulu! Gimana kalian berdua? Betah?"
"Betah non! Sehari-hari hanya urus rumah ini. Oya...uang belanja dari tuan besar masih banyak. Disimpan oleh Kiano!" lapor Tuti dengan segala kejujuran orang kampung.
"Setiap bulan kita dapat jatah belanja dua puluh juta. Dua bulan artinya sudah ada empat puluh juta. Kami berdua ada belanja untuk makan kami sekitar empat juta selama dua bulan jadi sisanya masih tiga puluh enam juta." Kiano turunkan perincian tanpa tambah kurang.
__ADS_1
"Siapa yang beri uang itu?"
"Ada pengurus rumah tangga sini." sahut Kiano sopan.