Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Rekrut Supono


__ADS_3

Ezra hanya tertawa kecil tanggapi ancaman Adeeva. Ezra sudah bertekad takkan jajan di luar lagi. Pelajaran berharga sudah dia kantongi. Bikin ulah lagi sama saja sedang gali kuburan tanam jasad sendiri.


Keduanya tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Adeeva kembali pantau gerakan keluarga Pak Jul. Adeeva mau tahu apa yang akan dilakukan anak-anak pak Jul terhadap Ezra dan dirinya.


Inilah untungnya kalau paham teknologi kekinian. Berkat otak licin Adeeva semua rencana jahat keluarga pak Jul bisa diatasi.


Ponsel Adeeva yang berada di atas meja kerja Ezra menjerit-jerit minta perhatian. Ezra melirik nama yang tertera di layar untuk melihat siapa yang menelepon istrinya. Sekarang Ezra sangat proteksi siapa yang menghubungi istrinya.


"Sayang...ada Nunik tuh!" Ezra mengambil ponsel Adeeva angsurkan ke wanita muda itu. Adeeva menerima tanpa melihat ke arah Ezra. Matanya masih tertuju pada layar laptop berisi hasil sadapan. Adeeva belum bicara tentang hasil sadapan keburu Nunik telepon.


"Assalamualaikum say..."


"Waalaikumsalam...sudah di sini?"


"Sudah.. aku berat ke rumahmu tapi Umi mengatakan kalau kamu sudah berangkat ke kantor. Maka itu kami datang ke kantormu tetapi ditahan di depan pintu tak diizinkan masuk. Kirim regu penyelamat untuk selamatkan kami agar bisa naik ke ruang kerjamu!"


"Ya ampun bestie! Datang kok main detektif. Bilang kek biar ku bentang karpet merah sambut bidadari slebew."


"Kedengarannya perhatian tapi slebew nya kurang manis di kuping."


"Gula kali.."


"Kau mau berapa lama tahan aku di depan pintu kantor. Mau tunggu aku tumbuh jadi tanaman hias?"


Adeeva tak heran dengar protes Nunik. Kapan dia akan belajar jadi tukang protes berpendidikan?


"Segera...tunggu ya!" Adeeva tampak gembira dengar temannya akrabnya mau datang. Ini merupakan kabar baik. Teman-teman baik adeva sudah berada di sampingnya yakni Desi dan Nunik. Adeeva sudah punya teman ngobrol di kala susah.


Ezra perhatikan Adeeva sibuk meneleponi satpam di bawah untuk antar Nunik ke kantornya. Adeeva tak sabaran ingin melepaskan rasa kangen kepada temannya itu.


"Nunik mau datang?" tanya Ezra.


"Sudah datang tapi ditahan satpam. Kok mereka langsung tahan tanpa tanya dulu?"


"Aku sudah perintahkan satpam tahan semua tamu yang ingin jumpa kamu. Aku tak mau ada orang berniat jahat padamu."


Adeeva tak salahkan Ezra beri perintah demikian karena adanya penculikan terhadap Adeeva. Kini mereka harus lindungi dia makhluk mungil dalam perut Adeeva.


"Terima kasih Hubby! Sebentar lagi Nunik akan naik. Bolehkah kami pergi makan di luar?"


"Boleh tapi aku harus ikut. Aku tak mau terjadi sesuatu padamu." ujar Ezra tegas tak mau dibantah.


"Iya..." lebih baik tiarap ketimbang tidak diijinkan kumpul bareng Nunik. Adeeva penasaran Nunik datang dengan siapa? Sendiri atau bawa sebakul anggota.


Tidak sampai sepuluh menit pintu ruangan Ezra diketok dari luar. Tanpa melihat siapa orangnya Adeeva langsung sahut.


"Masuk!!"


Nunik yang ceria nyelonong masuk diikuti dua sosok lelaki yang sangat dikenal Adeeva.


"Mas Akbar dan Supono???" seru Adeeva senang lihat kehadiran juragan sapi dan ajudan si nyiur melambai.


Supono melambai sedikit ngondek. Kedua orang itu juga senang jumpa Adeeva. Mereka pernah lalui hari-hari indah di peternakan. Banyak kenangan tercipta di waktu singkat itu.


"Ayo duduk! Oya kenalkan ini Pak Ezra bos kami."


Akbar dan Supono menyalami Ezra yang sudah berdiri. Salam khas lelaki dewasa.


"Aku Ezra Dilangit suami Adeeva Dilangit." Ezra pertegas statusnya biar kedua laki itu tidak punya niat lain pada Adeeva.

__ADS_1


"Oh iya..." sahut Akbar tenang. Akbar sudah dengar kisah Ezra dan Adeeva dari Nunik. Dalam bayangan Akbar suami Adeeva itu kejam seperti tuan Takur dalam cerita film India.


Ternyata bayangan itu jauh berbeda. Ezra tampak baik jauh dari kesan sombong.


Nunik tidak terlalu peduli pada percakapan antara para cowok. Dia lebih fokus pada Adeeva yang tampak sedikit subur. Adeeva yang ramping akan segera tinggal kenangan.


"Kau kok kayak drum?" Nunik memaksa Adeeva berdiri mau lihat postur tubuh sahabatnya lebih teliti.


"Tanggung say! Kenapa ngak bilang mirip badak?" Adeeva tampak kesal dibilang kegemukan. Itu hal tabu buat wanita.


"Hehehehe...tampak bahenol say! Gimana keponakan aku? Sudah bisa apa? Kurasa bisa panggil Tante cantik!"


Adeeva tak dapat tahan tawa dengar gurauan Nunik. Anak itu memang bisa menyenangkan orang. Adeeva takkan pernah bosan bila ada Nunik.


"Pintar semuanya kok! Malah mau ikut turnamen taekwondo antar klub."


Ketiga cowok yang simak obrolan dua wanita songong ini ikut sumbang tawa. Kelucuan dua wanita ini tak pernah pudar walau waktu telah berganti.


"Kapan mau balik ke Jawa?" tanya Ezra mulai ngobrol dengan Akbar.


"Mungkin akan lama. Ada sedikit masalah keluarga." sahut Akbar agak muram.


"Siapa yang urus peternakan kamu?"


Nunik memalingkan wajah ke arah Akbar mau tahu laki itu jawab apa? Akbar hanya garang di luar tapi aslinya pengecut menurut Nunik. Tubuh segede Rambo tapi nyali hello Kitty.


"Aduh mas! Jujur saja! Peternakan dikuasai oleh bapaknya. Yang punya peternakan mas Akbar tapi bapaknya sok berkuasa. Mas Akbar ngalah berikan peternakan pada bapaknya." Nunik nyerocos kesal karena Akbar tak mau ribut.


"Bukan gitu Nunik! Aku kasihan ibu diteror oleh ayah."


"Apa kau pikir setelah kau berikan peternakan dia akan baik pada ibu? Ngak juga kan?"


Akbar termenung tak tahu harus jawab apa. Dia serahkan peternakan pada adiknya untuk dikelola untuk sementara waktu karena dia hindari bentrok dengan ayah sendiri.


"Dulu sewaktu bercerai ayah memang ada beri sedikit uang pada ibu. Dengan uang itu kami berdua kembangkan peternakan hingga sekarang. Ayah juga punya peternakan tapi anaknya suka hambur uang lalu bangkrut. Ayah katakan peternakan aku uang dari dia maka dia tuntut balik."


Ezra melongo tak percaya masih ada orang tua model ayahnya si Akbar. memberi sedikit uang tetapi ingin meraup setinggi gunung. Logika dari mana itu?


"Kurasa mas Akbar salah kalau menyerahkan peternakan kepada mereka. peternakan mereka cukup besar tetapi bangkrut. Ini artinya sama saja Mas Akbar ingin menghancurkan peternakkan sendiri. Punyaan sendiri saja mereka tidak hargai apalagi punya Mas Akbar. Kurasa tak sampai setahun sapinya tinggal nama." tutur Adeeva keluarkan pendapat. Apa yang dikatakan oleh Adeeva sangat masuk akal. Saudara tiri Akbar pasti tidak akan segan-segan menghambur semua isi peternakan Akbar.


"Lalu apa yang harus kulakukan?" Akbar tak segan minta pendapat Adeeva. Akbar selalu kagumi sepak terjang Adeeva. Laki ini sangat mengagumi Adeeva.


"Mas Akbar tetap kelola peternakan sendiri. Sebagai anak mas Akbar wajib nafkahi ayah sendiri bila sudah renta. Jadi saran aku mas Akbar beri saja uang belanja pada ayah. Saudara mas Akbar biarlah cari sendiri. Mereka masih muda mempunyai kaki dan tangan bisa usaha sendiri."


Nunik tepuk tangan sangat setuju dengan saran dari Adeeva. Saran ini sangat manusiawi karena Akbar tidak menelantarkan ayahnya. Akbar tetap bertanggung jawab pada ayahnya sebagai seorang anak.


"Setuju...itu saran spektakuler! Lusa kita balik ke sana. Kita tetap lanjutkan kelola peternakan kamu. Aku akan tanam saham biar lebih gede lagi." seru Nunik semangat. Dari awal nonik tidak setuju Akbar menyerahkan peternakan kepada ayahnya. Buntutnya yang menguasai peternakan pastilah saudara Akbar yang tak punya akal sehat itu.


"Aku juga bilang begitu! Bagusnya memang Akbar sendiri yang melanjutkan menjaga peternakan. Sayang sekali usaha yang telah dibangun bertahun-tahun hancur dalam tempo sangat singkat. Kalau saja aku bisa berbuat sesuatu untuk membantu Akbar, tentu saja aku akan lakukan dengan senang hati." Supono ikut memberi semangat kepada Akbar untuk tetap mengawal peternakan.


Kini Akbar menjadi bimbang untuk melepaskan peternakan kepada Pak Siswoyo. Sayang sekali kalau peternakan yang telah dia bangun bertahun-tahun harus bangkrut seperti kepunyaan Pak Siswoyo.


"Aku akan pertimbangkan saran kalian. Aku sangat bingung hadapi situasi demikian."


Tak ada yang memaksa Akbar untuk segera ambil keputusan seketika. Biarlah lelaki itu pertimbangkan semuanya sendirian. Semua sudah beri masukkan tetapi yang menentukan tetap Akbar.


"Mas Supono sendiri gimana? Ibu dan eyang sehat?" tanya Adeeva beralih pada nasib Rambo kw sepuluh itu.


"Ya gini saja! Puas apa adanya?"

__ADS_1


"Mas ini kan sarjana masa puas gitu saja. Kenapa tidak usaha cari kerja lain?"


"Ibu sudah tua. Aku tidak tega ninggalin ibu sendirian di rumah."


Anak berbakti satunya lagi. Akbar dan Supono sama saja sangat sayang pada orang tua.


"Gimana kalau kerja di sini saja? Kau bisa jemput ibu tinggal di sini bersama kamu. Jika perlu sekalian dengan eyang. Kami di sini sedang membutuhkan manusia yang punya sumber daya." Adeeva menawarkan pekerjaan kepada Supono. Mungkin bekerja di kota akan membangkitkan gairah hidup Supono untuk tampil lebih maju.


"Coba saja mas Supono! Di sini janjikan masa depan lebih cerah. Aku dukung Mas Supono bila bekerja di perusahaannya Adeeva."


"Coba saja Pono! Biarlah ibumu tinggal bersama kami sementara kamu beradaptasi di sini! Aku akan menjaga ibumu sama seperti menjaga Ibu aku. Dan lagi kurasa Ibu pasti akan senang mendapat teman ngobrol." Akbar ikut mendukung Supono untuk bekerja di kantornya Adeeva.


Kini giliran Supono bimbang mengambil keputusan untuk berkarir di kota J. Tawaran Adeeva memang menggiurkan namun Supono tetap ingin minta pendapat ibunya.


"Aku akan minta ijin dulu pada ibu."


Ezra melihat sisi lain dari keluarga yang terbentuk dari gumpalan hati tulus. Tidak seperti keluarganya yang penuh kemunafikan. Mengaku seorang ibu tetapi belakangnya mencelakai hidup anaknya.


"Kami akan menunggu kamu mengambil keputusan. Aku percaya pada pilihan Adeeva. Kalau kau ingin kerja di sini maka aku akan mengangkat kamu menjadi asisten pribadi aku menggantikan Ruben yang telah diangkat menjadi wakil aku. Pikirkan itu baik-baik!" ujar Ezra perkuat tawaran Adeeva.


Ezra memang sedang membutuhkan seorang asisten yang bisa diadakan dan jujur. Ezra telah menemukan kandidat yang pas untuk menggantikan posisi Ruben. Supono bergaul dengan Adeeva maka segalanya akan dipermudah kan.


Supono makin bimbang karena bos besar perusahaan telah beri signal akan pekerjakan dia. Supono memang ingin mengubah nasib di kota besar.


"Terima kasih pak Ezra. Aku akan minta izin kepada Ibu dulu. Kalau memang diizinkan aku akan segera melamar di perusahaan ini."


"Tak perlu melamar lagi kamu cuma lengkapi CV kamu agar ditindaklanjuti." Ezra membuka pintu belakang bagi Supono untuk mulus maju menjadi karyawan di perusahaan Ezra.


"Terima kasih kepercayaan pak Ezra. Aku akan beri jawaban besok." sahut Supono makin pede melenggang menjadi karyawan di perusahaan Ezra.


Adeeva tepuk tangan senang Supono mau mencoba walaupun keputusan tetap berada di tangan ibunya Supono. Semoga ibunya supono pengertian memberi peluang pada anaknya untuk tampil lebih maju.


"Ok...gimana kalau kita pergi makan siang? Aku yang traktir." usul Adeeva sok kaya. Dengan posisinya sebagai seorang CEO kaya raya traktir teman makan siang tentu bukan hal sulit.


"Ok...jangan warteg ya! Jangan pikir aku tak tahu akal licik kamu."


Adeeva terkekeh geli tetap dikenang sebagai manusia pelit. Ezra tak heran kalau Nunik omong begitu. Dia sendiri di bawa Adeeva makan di warteg.


"Kamu yang pilih."


"Gitu dong! Aku pingin makan makanan vegetarian. Sangat baik untuk ibu hamil. Kau harus jaga pola makan biar bayimu sehat." Nunik nyerocos sok tahu.


"Keponakan kamu itu rame maka aku harus makan banyak untuk beri gizi pada mereka."


Nunik sedang kaji omongan Adeeva. Keponakan rame artinya anak Adeeva lebih dari satu. Kembar berapa? Masa sekali cetak muncul hasil ganda. Mesin printer canggih nih.


"Kembar ya? Setengah lusin atau selusin?" tanya Nunik hati-hati.


"Cuma dua. Mesin cetak masih sedikit jadul. Cuma sanggup hasilkan dua. Mungkin harus si servise agar bisa cetak satu kodi."


Ketiga cowok dalam ruangan pusing dengar candaan dua wanita lucu ini. Mereka berdua sangat cocok jadi teman karena kelucuan mereka nyambung.


Ezra tak biarkan Adeeva dan Nunik jadikan bayinya jadi bahan candaan. Mereka belum lahir sudah jadi topik candaan. Gimana kalau sudah lahir kelak.


"Ayo kita berangkat! Nanti terjebak macet." Ezra bangkit perlihatkan postur tubuh tinggi kekar. Ezra sedikit kurus akibat dirundung banyak masalah.


"Ok.." Nunik tidak segan paling duluan ikut Ezra. Gadis ini berjalan santai di dekat Ezra.


Adeeva meraih tas kecilnya ikut dari belakang disusul Akbar dan Supono.

__ADS_1


Sesampai di luar Ezra sengaja menunggu Adeeva agar jalan di sampingnya. Ezra takkan beri peluang pada laki manapun bergenit ria dengan Adeeva.


Akbar bisa saksikan betapa Ezra sangat melindungi Adeeva. Prasangka buruk pada laki ini sedikit terkikis. Akbar memang kagum pada Adeeva bahkan menyimpan rasa suka. Namun setelah tahu Adeeva adalah isteri sah Ezra semua peluang tertutup rapat. Nunik juga bukan pilihan buruk cuma anak itu tidak secerdas Adeeva.


__ADS_2