
Adeeva tutup mulut tak bercanda lagi karena Akbar sudah mendekat disusul Supono Rambo imitasi. Bercanda dengan Nunik merupakan kenikmatan sendiri bisa lupakan segala keruwetan kota. Adeeva sudah tak sempat pikir bagaimana keadaan Ezra. Siapa menanam dia yang akan menuai. Orang rakus biar mati kekenyangan.
"Kalian hebat...masih muda!" puji Akbar tak bisa sembunyikan nafas tersengal-sengal berlari kejar dua cewek full energi. Supono lebih parah. Nafas tinggal satu-satu sewaktu tiba di tempat Adeeva cs. Baju cowok imitasi itu basah kuyup seperti habis diguyur hujan lokal.
"Perlu bantuan oksigen?" olok Nunik goda Supono. Nunik lupa kalau tadi dia juga sama dengan Supono. Sehat sedikit mulai sombong.
"Ini akibat dimakan usia!" ujar Supono tak malu akui sudah tua.
"Sadar juga sudah uzur! Sudah pesan tempat di alam sana?" gurau Nunik tidak takut Supono marah. Cowok gemulai biasa jaim tak sembarangan kobar hawa panas sembur api. Malu dong ketahuan pemarah sama idola hati.
"Dulu pernah coba booking tapi belum ada tempat kosong! Ya antri." sahut Supono imbangi kekonyolan Nunik. Ini yang disukai Nunik ada teman baru bukan pengumbar amarah.
"Oh...tertib banget rela antri! Semoga dapat tempat VVIP ya!"
Akbar dan Adeeva tertawa renyah mulai terjadi percikan persahabatan menyambung visi misi perjodohan antara gadis konyol dan juragan sapi. Adeeva masih penasaran seberapa banyak sapi Akbar sampai dijuluki juragan sapi.
"Berhubung di sini banyak orang jompo maka kita jalan santai saja! Tak ada nafas buatan maka harus jaga jangan sampai tewas." usul Nunik tetap bercanda.
"Emang kita ini tampak tua banget ya?" tanya Akbar mulai minder asyik digoda Nunik sebagai laki tua.
Nunik meneliti Akbar menaksir umur laki itu. Belum terlalu tua cuma stamina kurang tokcer. Diajak lari pagi jatuhkan tersengal-sengal.
"Nggak tua amat sih tapi kurang energi. Minum susu kuda biar kuat. Kurasa kelebihan susu sapi maka hilang tenaga. Over dosis!"
Akbar tertawa makin kencang jumpa gadis sekonyol Nunik. Selama ini Akbar lalui hari tanpa gelak tawa bersama ibu dan teman macho berjiwa hello Kitty. Profil Akbar di ponsel Akbar juga hasil kreasi Supono.
Tawa Akbar yang sudah lama hilang perlahan timbul karena dapat teman lucu. Hati Akbar terhibur oleh ulah Nunik pelawak tanpa panggung.
Keempat orang ini berjalan santai karena bangunan peternakan telah tampak dari jauh. Peternakan cukup besar menampung cukup banyak binatang penghasil daging dan susu itu. Bau khas sapi terbawa ke hidung kedua cewek yang belum terbiasa cium bau aneh tersebut. Dari jauh baunya cukup mengganggu hidung. Gimana kalau sudah dekat nanti.
Akbar melihat Adeeva menggosok hidung terganggu oleh bau kurang ramah di hidung. Nunik masih mending belum gitu terpengaruh oleh bau kotoran sapi terbawa angin. Dari sini Akbar bisa menilai Nunik lebih cocok jadi isteri juragan sapi.
Makin mendekat baunya makin sengit di cuping hidung. Akbar mengajak kedua cewek itu masuk ke kantor untuk ambil masker sebelum terjun ke lokasi lihat kumpulan sapi aneka model. Sekilas dapat dilihat kalau sapi piaraan Akbar bukan sapi abal-abal. Mungkin Beratus-ratus ekor keliaran di sekitar bangunan dan sebagian telah lepas di padang rumput.
Adeeva bersyukur Akbar sangat pengertian tahu kebutuhan para cewek. Adeeva dan Nunik belum terbiasa dengan hewan piaraan Akbar. Perlu waktu untuk adaptasi dengan hewan penghasil dollar untuk Akbar.
Akbar mengajak ketiga temannya menuju ke bangunan di mana adanya kumpulan sapi penghasil daging. Adeeva dan Nunik agak geli lewati kumpulan sapi yang melenguh sendiri ntah senang jumpa bakal majikan atau tak suka terima kehadiran orang baru dianggap rampas perhatian Akbar dari mereka. Sapi cemburu?
"Kurang suka baunya ya?" tanya Akbar menyadari Adeeva dan Nunik ngeri-ngeri sedap lalui sapi yang bertingkah seenak perut. Ada yang kibas ekor, mengeluarkan suara emuh nada tinggi bahkan ada yang menendang tanpa alasan.
Adeeva tak mau jadi orang munafik pura-pura betah dengan lingkungan ini. Adeeva yakin ini bukan dunianya. Biarlah Nunik biasakan diri dengan kehidupan calon suaminya. Jadi isteri juragan sapi.
Mereka berjalan terus lewati bangunan sarat dengan sapi menuju ke hamparan pada rumput di mana sebagian sapi sedang mengisi perut sarapan pagi.
Di sini lebih nyaman dibanding dalam bangunan penuh sapi. Nunik merentangkan tangan rasakan kebebasan berada di alam terbuka. Matahari masih bersinar dengan ramah tak menyakiti kulit.
Akbar biarkan Adeeva dan Nunik nikmati udara bersih di kampung. Silahkan nikmati sepuasnya tak dipungut bayaran. Akbar menyibukkan diri cek kondisi sapi yang telah siap dikirim ke pelanggan. Beberapa karyawan menyibukkan diri dengan tugas masing-masing. Ada yang isi air minum, ada yang bersihkan kandang sapi supaya jauh dari kuman penyakit. Peternakan yang terurus baik. Aset Akbar tentu bukan sedikit dengan ternak melimpah ruah. Boleh dibilang Akbar juragan tajir. Masih muda sudah punya pencaharian bagus.
__ADS_1
Adeeva duduk di atas rumput perhatikan sapi-sapi keliaran di hamparan rumput hijau. Apa sapi bisa kenyang hanya mengandalkan rumput liar? Apa tak ada pakan lain selain rumput.
"Apa mereka kenyang sama seupil rumput?" tanya Adeeva pada Nunik.
"Tunggu aku wa si sapi tanya bagaimana menu mereka!" Nunik mengeluarkan ponsel seolah memang ingin chatting dengan para sapi. Adeeva mencolek kepala Nunik jengkel anak ini tak pernah serius.
"Yang serius bestie! Sapinya sehat-sehat apa cuma andalkan rumput?"
"Mana kita tahu? Tanya dong pada pakarnya! Suasana sini lumayan enak tapi membosankan. Sehari dua hari masih ok tapi kalau keterusan aku bisa jadi manusia fosil. Jujur aku tak betah kalau lama bertapa di sini." Nunik ikutan duduk di samping Adeeva tak peduli celana bisa basah kena sisa embun malam.
"Lalu?" Adeeva menoleh tatap wajah Nunik dari samping.
"Ntah...Akbar cukup menarik untuk dijadikan pendamping! Masih banyak harus dipertimbangkan untuk hidup di daerah gersang ini."
"Gersang dengkulmu! Begini hijau kamu bilang gersang. Signal otakmu tak berfungsi baik lagi. Coba upgrade biar cas dikit!"
"Bukan gersang tandus tapi gersang hiburan. Masa tiap hari ngobrol dengan sapi. Pagi jumpa sapi dan malam jumpa bapak sapi. Sapi melulu membosankan."
"Aku sih betah! Otak terasa plong di sini. Kita coba bertahan sampai di mana kesabaran kita menjadi pertapa nyasar."
"Aku sih no! Yang menarik cuma pemilik sapi selebihnya boring." Nunik kontan tumpah isi hati tak cocok tinggal di tempat terpencil. Nunik terbiasa hidup di rimba keramaian kota. Tinggal di desa menyiksa batin.
"Aku menyerah!" Nunik angkat tangan melambai menyerah seperti acara di televisi. Acara menyerempet mistik menakuti insan. bernyali seupil.
"Jangan gitu dong! Yang kamu kawini orang bukan tempat tinggalnya. Kau bisa liburan ke kota seminggu sekali. Kurasa Akbar mampu biayai kamu pulang pergi setiap Minggu. Dari kotoran sapi saja bisa tutupi biaya perjalananmu!"
"Siapa mau kotoran sapi? Mau diekspor ke luar negeri?"
"Sebenarnya Akbar cocok untukmu. Kurelakan dia untukmu. Dia terlahir untukmu."
Adeeva tak mau tanggapi kegilaan temannya. Tak ada niat sedikitpun jalin hubungan dengan lelaki manapun mengingat kasus dengan Ezra belum usai. Adeeva akan plong bila mereka telah pisah secara resmi. Adeeva tak perlu main petak umpet dengan lelaki gila wanita itu lagi. Kaya materi tapi miskin moral.
"Aku istirahat dari cowok dulu. Bukankah aku masih ada stok polisi ganteng?"
Nunik menepuk jidat nyaris melupakan abangnya sendiri. Dia sudah ingin jodohkan Adeeva dengan abangnya jauh hari sebelum Adeeva kesandung kemelut dengan Ezra.
"Kau benar...aku hampir lupa pada bang Satria. Kita harus segera cabut dari sini sebelum Akbar baper. Kasihan dia kalau mengharap pada aku. Kulihat dia itu anak baik. Seorang cowok yang sayang pada ibu pasti lelaki baik."
"Terserah kamu. Kalau aku sih maunya tinggal di sini sampai Ezra melupakan aku!"
"Gila...gimana kalau sepuluh tahun dia tak bisa lupakan elu? Kita jadi fosil di sini dong! Ogah ach..." Nunik merengut tak tertarik untuk tinggal lebih lama di peternakan Akbar. Lelaki tidak kekurangan apapun untuk dijadikan imam cuma Nunik tidak tahan tiap hari menghitung berapa banyak rumput tumbuh di peternakan Akbar. Bisa botak kepala Nunik menghitung rumput sampai tua.
Adeeva memaklumi perasaan Nunik tak mau habiskan sepanjang waktu jadi isteri juragan sapi. Akbar pantas dijuluki juragan sapi karena sapinya memang banyak. Harta kekayaan Akbar lumayan banyak namun Nunik bukan pandang Akbar dari harta tapi kenyamanan berumah tangga.
"Lalu apa mau kamu? Kamu yang ajak ke sini dan kamu juga yang mau pergi. Aku sih nggak masalah pergi dari sini. Paling kabur ke Singapura kampung umi."
Nunik mengetuk jari di pipi pikir jalan terbaik untuk mereka. Nunik mau ke sini karena ingin bantu sahabatnya kabur dari Ezra. Malah Nunik sendiri yang tidak betah berada di tempat agak jauh dari keramaian kota.
__ADS_1
Belum sempat Nunik dapat ide tampak Akbar dan Supono berlari kencang menuju ke bangunan kandang lain. Dari jauh Adeeva dan Nunik bisa lihat kalau kedua lelaki berbadan tegap itu tergesa-gesa ke kandang sapi.
Adeeva mencolek Nunik untuk ikut melihat apa yang terjadi. Adeeva dan Nunik tak buang waktu ikut berlari ke kandang sapi Akbar.
Nunik dan Adeeva terpana melihat sapi segede gajah berjejeran di kandang dengan rapi. Tampaknya sapi-sapi ini tidak bisa dibawa ke padang rumput untuk ikut makan rumput.
Akbar dan beberapa pekerja sedang kerubuti dua ekor sapi segede gajah yang tampak kurang sehat. Dari mulut sapi besar itu mengeluarkan busa berwarna putih. Mata sapi itu lesu warna merah. Kondisinya sangat memprihatinkan.
"Sapinya kenapa mas?" tanya Nunik tak berani berdiri terlalu dekat dengan sapi yang tampak mulai sekarat.
"Kayaknya termakan sesuatu tidak pas. Semalam masih tak apa kok pagi ini mendadak sakit. Kedua sapi ini sudah dipesan orang untuk pesta besar di kota." kata Akbar lesu.
"Lalu kita harus gimana?" tanya Nunik panik?
"Lagi cari air kelapa muda untuk bersihkan perutnya dulu."
Adeeva perhatikan tempat makan kedua sapi ini agak basah sedangkan tempat lain kering. Cewek ini segera periksa mengapa ini bisa terjadi? Tempat makannya basah dan pas pula yang mau dibeli orang adalah kedua sapi sakit. Di dunia ini tak ada kebetulan serentak.
Adeeva mencium rumput tempat kedua sapi lalu cium rumput di tempat sapi lain. Aromanya berbeda. Tempat sapi sakit sedikit berbau menyengat seperti bau pestisida sedang di tempat lain bau rumput segar.
"Ini seperti ada sabotase! Coba kalian cium rumput sapi sakit. Kayak bau pestisida ataupun sejenis cairan karbol pembasmi kuman." ujar Adeeva menarik perhatian semuanya.
Semua bergegas periksa apa yang dikatakan oleh Adeeva. Bau rumputnya memang agak menyengat tidak seperti bau rumput biasanya. Akbar meneliti dan menemukan memang ada keanehan dengan rumput kedua sapi yang sakit ini. Tetapi siapa yang tega melakukan kejahatan ini meracuni sapi-sapinya. Di peternakan tidak ada orang luar selain orang-orang pekerja yang tinggal di sekitar kandang sapi.
"Siapa yang bertugas memberi makan sapi-sapi ini?" tanya Adeeva muncul jiwa detektifnya. Hitung-hitung asah otak di waktu liburan ini.
Dua pekerja maju ke depan tidak merasa bersalah atas kejadian ini. Adeeva meneliti rona muka keduanya berharap menemukan ekspresi janggal.
"Apa kalian melihat sesuatu yang aneh dengan rumput ini?" tanya Adeeva mulai interogasi.
"Tidak...semua kami beri porsi sama. Kalau memang rumput beracun mengapa cuma dua yang kena. Seharusnya semuanya dong!" jawab pegawai pemberi makan sapi.
Akbar dan Supono sibuk urus sapi yang kena racun yang belum jelas asal dari mana. Mereka harus menyelamatkan sapi-sapi tersebut sebelum tewas. Biasa sapi termakan racun akan cepat mati. Akbar yang lebih ngerti soal sapi segera tangani sapinya sebelum dijemput malaikat perhewanan.
Salah satu pegawai segera panggil dokter hewan untuk bantu sapi itu. Adeeva dan Nunik dapat job baru sebagai detektif tanpa bayaran. Keduanya senang dapat permainan baru sebagai agen pencari fakta.
"Ada keanehan sewaktu kalian kasih makan?" tanya Nunik keliling dua pria berwajah lugu itu.
"Tidak...semua makan! Ini kami mau beri air minum tampak sapinya mengeluarkan busa di mulut." kawan salah satu diantara dua.
"Selain kalian siapa berada di sekitar kandang?"
"Ada beberapa...ada yang bersihkan kandang sambil siram sapi biar bersih. Itu tugas rutin setiap pagi. Biasa juga gitu." jawab yang satunya lagi.
"Apa pernah terjadi begini?" tanya Adeeva makin tertarik pecahkan misteri ini.
"Pernah...tahun lalu sewaktu orang mau beli banyak sapi untuk hari raya Aidul Adha. Itu sapi Bali yang kena. Ada hampir lima puluh ekor tapi tidak mati semua."
__ADS_1
Adeeva manggut-manggut maklum ini ada sabotase dari dalam. Kalau orang lain tak masuk peternakan tentu saja salah satu pegawai Akbar pembelot.
"Ya sudah. Kami akan pantau selanjutnya."