
Adeeva masih menatap penuh kebencian pada Ezra. Belum terlintas di kepala beri maaf pada laki ini bahkan secuwilpun. Laki ini tak pantas dapat maaf begitu mudah. Jangan pikir sudah bantu Adeeva pulang jumpa Oma dia sudah dimaafkan. Ngak usah mimpi muluk.
Ezra melepaskan seat belt melakukan gerakan meregangkan badan memancing lirikan mata Adeeva. Ingin sekali Adeeva hajar Ezra agar tahu bahwa uang tak bisa beli cinta.
"Mau minum?" tawar Ezra sok perhatian.
"Sianida ada?" cibir Adeeva.
Ezra tertawa dengar nada tak bersahabat Adeeva. Minta sianida mau racuni siapa? Apa Adeeva mau bunuh diri dibawa pulang oleh Ezra. Gadis belum rela dekatan dengan lelaki tak hargai wanita.
"Kau masih muda... kok mau mati?"
Adeeva melempar tatapan sinis ke arah lelaki itu. Ntah kenapa Adeeva belum terima permintaan maaf Ezra walau dia ngaku salah. Adeeva tetap jijik pada lelaki umbar nafsu. Pikir punya torpedo boleh serang sasaran sesuka hati. Adeeva akan buat senjata pamungkas hancurkan torpedo tak punya mata. Asal meluncur ke mana-mana.
"Cis...siapa lagi mau mati? Aku waras belum gila. Sianida itu untuk bapak. Sudah tua menumpuk dosa. Lebih baik mati saja!" kata Adeeva tajam.
"Kejam amat nih istri! Masak suami seganteng ini disuruh mati. Habis dong generasi Dilangit. Atau gini saja. Kau lahirkan penerus Dilangit dulu baru aku bersedia mati." kata Ezra ringan yakin Adeeva akan tersentuh hati mau penuhi permintaannya.
"Bapak pikir aku ini orang tolol? Manusia model bapak lidah terpahat tukang bohong. Setan demit pun ogah percaya pada bapak. Apa lagi aku?"
"Adeeva...bagaimana kau baru maafkan aku?" kini Ezra merendahkan nada suara biar Adeeva ada rasa iba. Apapun cara Ezra harus dapat maaf dari Adeeva tanpa korbankan pernikahan mereka.
"Bapak akan dapat maaf tulus dari aku bila ceraikan aku. Aku tak bisa hidup bersama orang tak bisa hargai wanita. Mungkin bapak tak punya adik perempuan maka tak tahu bagaimana rasa bila adik kita dilecehkan. Ibu dari bapak juga wanita. Jadi hargai sedikit wanita. Wanita bukan hanya tempat buang nafsu bapak. Jangan anggap wanita itu kloset penampung kotoran. Tanpa wanita hari ini bapak tak ada di sini." Adeeva kasih kuliah gratis untuk buka mata Ezra kalau wanita itu bukan mainan.
Kalimat Adeeva membuat Ezra termenung. Selama ini wanita yang dia jumpa hanya peduli isi dompetnya. Mana ada ketulusan. Maka itu Ezra tidak bisa hargai mereka. Mereka yang buat Ezra anggap mereka seperti mainan. Dibeli buat dimainkan. Kalau bosan tinggal beli yang baru.
"Apa aku salah bila wanita itu yang menyodorkan diri?"
"Iya mereka memang salah tapi bapak harus tahu bahwa tidak semua orang menyodorkan diri padamu. Bapak sudah punya keluarga mengapa masih ladeni wanita model itu? Bangga ya punya banyak uang bisa beli lusinan wanita." sekak Adeeva tak mau kalah.
Kabin pesawat yang seharusnya tenang menjadi ajang pertengkaran pasangan suami isteri ini. Pramugari ingin beri makanan dan minuman jadi takut. Mereka tak berani mendekat menyuguhkan makanan dan minuman. Cuma mereka sangat iri pada nasib Adeeva yang berhasil memikat sang bos kaya raya ini. Mereka tentu bayangkan bagaimana kalau mereka berada di posisi Adeeva tentu saja akan dengan menerima Ezra dengan senang hati. Peduli amat dengan siapa lelaki itu mau berhubungan yang penting mereka mendapat kedudukan dan harta melimpah.
Wanita-wanita beginilah yang mendidik Ezra menjadi seorang lelaki jahat. Ezra tidak dapat disalahkan 100% karena wanita-wanita nakal ini yang menyodorkan diri. Kuncinya Ezra tidak memiliki moral dan iman yang kuat.
"Baik...aku akan berubah asal kau jangan tinggalkan aku. Kau didik aku agar tahu kasih sayang tulus. Aku bersumpah akan setia kepadamu."
"Sumpah pemuda? Sumpah Palapa? Aku tak percaya semua sumpah orang mesum. Mata ijo lihat wanita."
Ezra menghela nafas mengapa susah banget taklukan Adeeva. Yang lain cukup diberi satu kartu unlimited pasti akan bungkam. Ezra mau ngapain juga tidak masalah.
"Beri aku kesempatan buktikan aku juga bisa setia. Aku bersedia lakukan apapun asal kau tetap di sampingku!"
Adeeva memutar kepala menatap Ezra dengan licik. Uang yang bikin laki ini sombong maka harus dimiskinkan. Kalau sudah tak punya apa-apa apa dia masih bisa angkuh merasa jadi dewa di langit?
"Bapak yakin bisa penuhi tuntutan aku?" tanya Adeeva mulai susun rencana bikin hidup Ezra sengsara. Laki ini pasti akan minta ampun dan memilih ceraikan Adeeva.
__ADS_1
"Apapun asal jangan cerai!"
Adeeva tersenyum manis. Dalam benak Adeeva telah dapat ide akan buat Ezra ceraikan dia secara suka rela. Adeeva tak perlu mengemis cerai dari Ezra. Laki itu akan ceraikan Adeeva secara automatis.
"Baik...aku minta jadi CEO perusahaanmu dan semua harta kamu dialihkan ke namaku. Semua tanpa kecuali dan pangkat bapak akan aku atur sesuai keinginan aku! Gimana terima?"
Ezra melongo mendengar syarat yang sangat luar biasa ini. Adeeva betul kejam tak punya perasaan. Yang lain cukup nikmati kulit harta Ezra. Adeeva minta luar dalam bahkan sampai ke inti jantung.
Ezra bukan tak tahu kalau cewek ini sengaja mempersulit dia demi kata cerai. Adeeva bukan orang gila harta mana mungkin kemaruk kalau bukan ingin buat Ezra tak punya jalan mundur. Tepat berdiri di gang buntu.
Adeeva tersenyum penuh kemenangan sukses buat Ezra tak berkutik. Laki itu mana rela biarkan semua harta jatuh ke tangannya. Jalan satu-satunya adalah ceraikan Adeeva.
"Tak bisa bukan? Nah aku punya jalan kedua untuk bapak. Kirim talak dua juta kepada aku! Untuk selanjutnya bapak bisa hidup bagai orang nudis tak tahu aturan. Bukankah kita semua senang berada di jalur masing-masing?"
"Aku setuju..." jawab Ezra dengan berat hati.
"Hoorree... akhirnya aku bebas! Nanti bapak ucapkan talak satu milyar di hadapan Abah ya! Sudah kuduga bapak ini orang bijaksana. Terima kasih sudah bersedia bebaskan aku dari pernikahan konyol ini. Bapak memang orang baik." Adeeva melompat kegirangan lupa dia berada di atas langit.
Ezra meringis sedih lihat betapa bahagianya Adeeva pikir akan segera bebas dari Ezra. Sudah Ezra duga anak ini sengaja persulit dia agar Ezra keluarkan kata sakti supaya Adeeva kembali bebas.
"Aku bilang aku setuju alihkan seluruh harta kepadamu!"
Adeeva langsung terdiam dengar kegilaan Ezra pertahankan dia. Apa laki ini tidak salah berikan seluruh harta demi seorang gadis muda? Apa mungkin kuping Adeeva ke masukan udara sampai full tank tak jelas lagi dengar bicara orang.
"Apa maksud bapak?" tanya Adeeva masih belum yakin omongan Ezra.
Andai Ezra katakan kalimat sebelum ketangkap basah mungkin Adeeva akan anggap kalimat ini so sweet tapi di saat ini kalimat Ezra seperti kunci pembuka pintu penjara kurung Adeeva seumur hidup.
"Pak...itu uangnya sangat banyak lho! Bapak akan jatuh miskin lho! Tak ada orang mau dekati bapak lagi. Semua peri bergincu tebal akan terbang jauh." Adeeva ingatkan Ezra akibat serahkan tampuk pimpinan kepada Adeeva. Ezra tak punya apa-apa lagi.
"Tak masalah asal bersamamu! Jadi ob di kantor juga tak soal. Semua gaji aku tetap kuberikan kepadamu."
Giliran Adeeva merasa jutaan kutu kerubuti kepalanya. Gatal semua. Ini ada orang gila baru. Demi seorang cewek rela kehilangan harta triliunan. Apa Adeeva demikian berharga bagi Ezra.
"Dasar orang gila!" rutuk Adeeva habis akal hadapi raja bucin kelas kakap.
"Iya..aku tergila padamu!" ujar Ezra kalem bikin Adeeva gagal paham.
Adeeva mendecak marah tak mau bicara dengan Ezra lagi. Rencananya Gatot alias gagal total. Pikir dengan menyulitkan Ezra dari harta laki itu akan menyerah. Di luar dugaan Adeeva laki itu pilih hilang harta daripada hilang Adeeva. Apa Adeeva demikian berharga buat Ezra.
Adeeva tak boleh tersentuh pada Ezra. Dia harus keraskan hati buat hari Ezra jadi kelabu sampai laki itu menyerah. Adeeva mau lihat sampai di mana kesabaran Ezra pada dirinya.
"Ok...kita sudah deal. Seluruh aset Dilangit dialihkan ke aku dan roda pimpinan di bawah kendali aku. Aku mau pecat siapa dan angkat siapa terserah aku ya!"
"Kalau pimpinan susah pindah tangan otomatis semua kendali di bawah tanganmu. Terserah kamu mau gimana! Aku tak bisa ikut campur lagi." Ezra sedikitpun tidak gundah Adeeva ambil.alih perusahaan. Laki ini pasrah mau diapakan oleh Adeeva. Yang penting dia bisa bersama bayinya. Itu saja harapan laki ini.
__ADS_1
Keduanya tiba di bandara langsung dijemput oleh Ruben. Di mata Ruben cewek itu agak kurusan dan agak layu. Apa pengaruh kebejatan Ezra? Ruben tak bisa jawab karena hanya Ezra dan Adeeva yang tahu apa terjadi antara mereka. Kini Ruben tak berani mengharap Adeeva lagi. Tampaknya Ezra tidak main-main perjuangkan Adeeva jadi milik pribadi.
Mereka langsung ke rumah sakit setelah mendarat. Kelihatannya keluarga Adeeva banyak tergantung pada Ezra. Terbukti semuanya diatur oleh Ezra. Dari kamar hingga dokter semua diurus oleh Ezra.
Ezra cari muka biar mertuanya tidak ngotot minta dia ceraikan Adeeva. Abah ngotot ingin Ezra tinggalkan Adeeva. Abah tak rela anak kesayangan dia punya suami penjahat kelamin.
Kondisi Oma telah lewati masa kritis namun belum boleh lengah. Setiap saat kondisi buruk bisa datang. Yang penting harus bisa menjaga perasaan Oma tetap stabil.
Adeeva memeluk Uminya erat-erat melepaskan rindu setelah cukup lama tidak jumpa. Adeeva juga memeluk Abah untuk minta maaf tak bisa jadi anak berbakti. Pintarnya cuma bikin orang tua kuatir.
Adeeva sudah bosan menyalahkan kedua orang tuanya antar dia pada Ezra. Anggap saja ini takdir jumpa lelaki bejat. Adeeva berjanji akan bikin hidup Ezra sengsara. Jamin minta ampun.
Umi meneliti keadaan anaknya. Sudah agak hitam dan kurus. Wajah cantik Adeeva sedikit dekil gara berpikiran. Sejelek apapun anaknya tetap cantik di mata Umi.
"Kau kurus nak!" bisik Umi dengan suara tertahan. Tertahan oleh Isak tangis yang tidak keluar dari kerongkongan.
"Eva lagi diet. Ini kan nggak jaman orang gendut. Umi juga kurusan. Abah pelit ngasih uang belanja ya?" gurau Adeeva bikin Abah masam.
Ruang rawat VVIP Oma terasa nyaman tanpa kehadiran pasien lain. Cuma ada keluarga si pasien saja. Oma masih tidur di bawah pengaruh obat penenang. Dokter sengaja buat Oma tidur agar tidak teringat apapun.
Ezra iri lihat keakraban Adeeva dengan keluarganya. Mereka tampak saling menyayangi dengan tulus. Sedangkan dirinya hanya ada keluarga penuh kepalsuan. Orang yang seharusnya lindungi dia justru sedang menyusun rencana habisin dia demi harta.
Ezra tidak masalah harta dialihkan ke Adeeva. Ini justru akan bantu dia depak para benalu dalam rumah dan perusahaan. Ezra tak punya apa-apa lagi. Para selir mau dikasih apa. Seukuran gaji yang diberi oleh Adeeva nanti. Ezra siap dimiskinkan oleh Adeeva untuk tuntaskan prahara dalam keluarga Dilangit.
"Abahmu selalu beri uang lebih cuma Umi teringat pada anak Umi satu-satunya bernasib kurang mujur." kata Umi melirik Ezra. Laki itu menunduk tak berani menantang bola mata agak kecil itu. Ezra memang pengacau ciptakan penderitaan Adeeva.
"Umi tenang saja! Nanti Eva akan jadi kuat dan jadi super woman. Eva sikat lelaki cabul." Adeeva pura-pura riang agar Uminya hilang rasa was-was.
"Huusss...omong apa itu? Sekarang kamu pulang istirahat. Nanti malam ada Farhan dan Deswita akan jaga Oma kalian. Kamu tampak pucat nak!"
"Eva mau tunggu Oma sadar dulu baru pergi. Eva juga kangen pada Oma. Rindu pada kelucuan Oma."
"Baiklah! Kau istirahat di sofa saja. Oya nak Ezra...Adeeva sudah selamat sampai di sini. Kami ucapkan terima kasih telah jemput Adeeva. Kalau nak Ezra masih banyak kerja di kantor silahkan saja!" Umi mengusir Ezra dengan halus sekali. Ternyata Umi juga mulai tak suka pada Ezra.
"Aku kawani Adeeva jaga Oma. Adeeva adalah tanggung jawab aku. Semua yang menyangkut Adeeva termasuk urusan aku. Dan lagi aku akan pensiun urus perusahaan. Sudah ada CEO baru di perusahaan." ujar Ezra kalem bikin Abah dan Umi terkesima.
"Maksudmu perusahaan kamu telah dijual?" Abah masih linglung belum ngerti apa maksud omongan Ezra.
"Tidak jual tapi sudah diambil alih oleh Nyonya Dilangit."
"Diambil alih oleh mama kamu ya? Apa dia mampu kelola satu perusahaan sangat besar? Bukankah perusahaan kalian bergerak sampai ke luar negeri?"
"Bukan diambil oleh mama aku tapi isteri aku. Aku sudah serahkan perusahaan pada isteri aku yakin Adeeva Dilangit."
Abah dan Umi melongo buka mulut lebar saking kaget. Adeeva yang konyol ambil alih satu perusahaan raksasa. Apa anak itu sanggup handel satu perusahaan sebesar Dilangit? Adeeva mana ngerti berbisnis? Takutnya malah jatuhkan nilai saham perusahaan.
__ADS_1
"Eva? Kau ancam nak Ezra?" tanya Abah kurang senang bila Adeeva gunakan cara tak terpuji kuasai harta Ezra. Mereka bukan orang kaya tapi juga tak perlu rampas harta orang.
"Bukan...jangan salah paham! Ini semua ide aku."