Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Kumpulan Selir


__ADS_3

Adeeva harus kuat mental menjadi pengasuh bayi paus yang gede. Untung Adeeva punya sedikit pegangan boleh berduaan dengan Ezra. Secara hukum dia adalah isteri sah Ezra. Intip tubuh indah Ezra tidaklah dosa.


Adeeva bawa Ezra sampai ke dalam kamar mandi lalu hendak keluar biarkan Ezra lepaskan hajat. Bersatu dalam satu ruang bikin Adeeva merasa malu sendiri.


Ezra meraba-raba mencari kloset untuk buang air seni yang berada di ujung torpedo kenyal. Gayanya persis orang buta tulen. Jamin Adeeva tak pernah sangka sedang dibodohi Ezra.


Adeeva tak tega biarkan Ezra meraba sana sini. Salah-salah tersandung jatuh lagi. Sudah buta mata ntar patah tulang pula. Tugas Adeeva makin berat rawat paus penyakitan. Adeeva berbaik hati antar Ezra sampai ke depan kloset.


Kini tinggal Ezra buka resleting celana keluarkan sosis ajaib yang tak bisa dimakan. Adeeva mundur keluar malu disuruh pelototi lelaki dewasa buang kotoran.


"Jangan pergi! Siapa ambil air untuk cuci burung ajaib aku?" Ezra mulai gunakan akal licik paksa Adeeva lebih akrab dengan segala milik pribadinya.


"Selangnya ada di samping bapak kok! Tinggal semprot!"


"Kau mau tambah kerja? Kalau aku semprot kena celana gimana? Kau mau gantiin celana aku?"


"Maunya tadi tak usah masak bubur. Masak goreng burung baru cocok. Burung tak tahu diri! Nyusahin orang!" omel Adeeva geram dipaksa harus berada di sekitar laki ini untuk saksikan tayangan live orang buang hajat.


Ezra tersenyum senang bisa balas semua rasa kesal pada gadis ini. Dibodohi selama dua bulan, lantas dihina lewat kata-kata tajam. Hati puas telah balas sedikit kelakuan konyol gadis ini.


"Mana selang semprot?" kata Ezra setelah selesaikan hajat. Laki ini sengaja biarkan burung ajaibnya berada di luar celana agar gadis ini bisa saksikan betapa kokoh burung ajaib milik Ezra.


Adeeva menutup mata berikan selang semprot pada laki ini. Adeeva mana mau disuruh basuh si anu sang bos. Bisa kaku semua jari kena radiasi burung tak bernyawa itu.


Ezra tak memaksa menerima selang itu lalu semprotkan ke bagian yang baru melepaskan kotoran. Setelah itu Ezra serahkan kembali semprotan pada Adeeva. Tanpa sengaja Ezra mencet kran semprot ke arah Adeeva sampai seluruh tubuh gadis ini basah kuyup. Adeeva berteriak marah tapi Ezra makin menjadi arahkan kepala kran semprot ke wajah Adeeva.


Adeeva gunakan kedua tangan menahan serangan air semprotan cukup kencang. Ezra pura-pura panik dengar teriakan Adeeva.


"Woi gila...matikan krannya!" seru Adeeva merebut kran dari tangan Ezra.


"Oh...sori..." Ezra berakting tak sadar telah sirami Adeeva. Kini gadis itu basah kuyup. Tubuhnya yang indah tercetak di balik kaos oblong warna putih bersih. Kalau bukan berakting buta Ezra sudah terkam Adeeva bawa dia ke tempat empuk untuk salurkan gairah yang naik ke ubun.


"Dasar paus bodoh! Ayok cepat keluar! Ngerepotin orang saja." Adeeva lap wajahnya dengan kedua tangan. Ekor mata Adeeva ingin belah Ezra jadi dua bahkan sepuluh kalau bisa. Sayang laki itu sedang di atas angin berkat akting buta dia.


Ezra mematung seolah tak bersalah padahal laki itu sedang menikmati tubuh indah Adeeva dalam balutan kaos basah. Belum pernah Ezra lihat tubuh wanita demikian sempurna. Maunya Adeeva dibawa ke cat walk jadi peragawati. Semuanya menunjang kecuali sifat kasarnya.


"Sialan..." desah Adeeva membuka kaos basah di depan hidung Ezra. Gadis ini tak merasa terancam karena dia telanjang bulat pun Ezra tak punya kesempatan sidak tubuhnya yang tanpa lemak.


Adeeva memeras kaos yang basah hingga agak kering. Gadis ini tak tahu betapa menderitanya Ezra menahan nafsu. Pemandangan langka dan nyata terpapang di depan mata namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia orang buta. Orang buta kan tak bisa melihat. Itulah karma bagi penipu. Punya barang langka nan antik tapi tak bisa disentuh. Salah sedikit dia bisa jadi perkedel goreng. Lumer dihajar Adeeva.


Ezra pura-pura mencari Adeeva ulurkan kedua tangan ke depan meraba apa yang bisa diraba.


Adeeva merasa bahaya sedang mengancam dirinya segera berkelit hindari tangan panjang Ezra. Gadis ini ogah kena hipnotis kedua kali. Dulu dia hampir menyerah pada Ezra. Adeeva takkan silap untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Woi paus cabul... sudah buta jangan belagu! Mau kukirim ke lautan lepas?" ancam Adeeva mengenakan bajunya lagi. Ini lebih baik daripada basah kuyup.


"Apa salah aku? Aku kan tak lihat apa-apa! Makanya kubilang aku belum mandiri. Kamu sebagai Aspri dan isteri harusnya layani suami dengan baik. Apa kau belum pernah lihat aku telanjang? Sudah berkali-kali. Bahkan kita sudah pernah naik ke bulan. Mungkin kau lupa itu."


Adeeva tersipu malu ingat dia dan Ezra pernah sangat dekat namun berhubungan intim Adeeva belum merasakan. Ntah itu karangan Ezra atau memang dia teledor.


"Ayok keluar! Tidur...kalau bisa tidur panjang sekalian!" omel Adeeva menyeret Ezra dengan kasar. Hilang sudah sikap lembut nona macho ini. Salah Ezra pancing kuda poni yang sudah jinak. Kini berubah kasar.


"Mati dong!"


"Kalau bapak mau ya silahkan!" sungut Adeeva dengan nada tak manis.


Ezra patuh diseret secara paksa oleh Adeeva. Puas hati laki ini telah mainkan Adeeva. Hiburan gratis menyenangkan hati. Ini lebih menarik daripada melihat wanita nakal meliuk di pub.


"Tidur... Nanti Kubangunkan kalau sudah waktu makan! Jangan membantah atau kukasih racun!" ancam Adeeva makin tak ramah. Gadis jelas sedang naik darah akibat keisengan Ezra.


"Iya isteri sayang..." sahut Ezra patuh.


"Cis...paus cabul!" gumam Adeeva jelas terdengar oleh Ezra. Laki ini hanya bisa tersenyum tipis. Asyik juga jadi orang sakit dilayani cantik dan panas. Ezra tahu Adeeva tak mungkin sakiti dia. Tampang doang keras tapi isi dalam lumer seperti vla lembut.


Adeeva balik ke kamar ganti pakaian. Tambah satu pakaian kotor harus dicuci gara paus nakal. Adeeva bukan orang suka main air sempatkan diri berdiri lama di mesin cuci. Memasak masih boleh tapi kalau harus mencucikan banyak pakaian bukanlah kesenangan. Tapi penyiksaan.


Adeeva bergegas kembali ke dapur melanjutkan masak bubur yang telah dia matikan api. Untuk dapatkan bibir ke lezat haruslah masak sampai cukup lunak. Tak ada tersisa butiran beras.


Adeeva tinggalkan kompor bergerak ke pintu lihat siapa tamu yang datang. Siapapun yang datang tetaplah tamu bos yang harus dia hormati. Di sini Adeeva hanya bertugas merawat Ezra bukan campuri urusan pribadi laki itu.


Adeeva terpana melihat deretan wanita yang dia kenal. Aneka wewangian berasal dari tubuh wanita-wanita itu bikin hidung pedas. Baunya jadi tak karuan akibat campur baur.


Adeeva tentu saja kenal mereka cuma mereka yang tak kenal Adeeva. Mereka tak tahu orang di depan mata mereka adalah isteri Ezra di deretan bungsu.


"Kau siapa?" tanya Dorce yang lebih ramah.


"Aku asisten pak Alvan.. silahkan masuk!"


Adeeva pinggirkan badan biar pasukan Ezra berpindah ke dalam. Satu persatu wanita berdandan super mewah itu nyelonong masuk dengan kepala tengah ke atas. Mungkin mau tahu berapa ekor cicak di rumah Ezra ini. Naga-naga bawa angin bau busuk. Adeeva harus tutup kuping agar tidak terpancing umbar emosi.


"Mana suami aku yang sangat menyedihkan itu?" tanya Renata sok sedih. Mereka masih berdiri berharap Ezra atau Adeeva berinisiatif suruh mereka duduk.


"Bapak sedang istirahat. Silahkan duduk ibu-ibu! Coba kulihat apa bapak bisa ditemui." Adeeva menyuruh para selir dari kerajaan Dilangit ambil tempat masing-masing. Terserah mereka mau duduk di mana yang penting tidak bikin ulah.


"Dasar apa kau larang kami temui suami kami? Aku mau masuk sendiri." Farah bukannya duduk seperti yang lain tapi paksa mau sok perhatian.


Adeeva menekan dada sebelum menjawab. Turunkan emosi adalah tugas utama saat ini. Semoga para selir Ezra tak bikin tensi darah Adeeva melonjak drastis.

__ADS_1


"Bu...aku ini hanya jalankan tugas! Jangan paksa aku melanggar amanah pak Ezra. Aku ini pegawai profesional bukan orang yang ulurkan tangan menadah bantuan. Silahkan duduk atau silahkan tunggu di luar!" Adeeva berkata datar namun bernada mengancam.


"Hei...hebat kau ya! Kau tahu siapa aku? Aku ini isteri kesayangan Mas Hakim!"


"Lalu? Apa ada pengaruh buat aku? Aku ini bekerja untuk pak Ezra bukan kerja dengan isteri pak Ezra. Mau tunggu atau keluar? Aku hanya melaksanakan tugas aku!"


Farah terdiam tak berani membantah lagi. Mereka tahu orang yang bisa tinggal satu atap dengan Ezra pasti orang pilihan. Laki itu tidak sembarangan ajak orang masuk rumah dia apalagi kamar.


Adeeva melempar tatapan tak. bersahabat pada kumpulan selir gila harta itu. Soal nama mereka sudah jelas tak punya posisi baik. Mana ada wanita bangga jadi simpanan bos kaya. Sekaya apapun laki mereka julukan diberikan tetap wanita simpanan.


Adeeva segera masuk ke kamar Ezra beri laporan kalau para pengerat sudah tiba. Apa yang harus dia lakukan pada wanita-wanita itu. Suruh pergi atau biarkan layani pak Ezra yang buta.


"Pak...sudah dengar kicauan burung gagak bapak?" sindir Adeeva begitu lihat Ezra duduk termenung masih di posisi setelah ditinggalkan Adeeva. Laki itu tidak bergeming sedikitpun dari gaya awal.


Ini membuat Adeeva makin percaya bosnya ini memang kehilangan cahaya terang.


"Bawa aku keluar! Aku tak mau mereka masuk ke kamar pribadi aku!" Ezra mengulurkan tangan minta disambut oleh Adeeva. Adeeva tak punya pilihan selain patuh bawa Ezra jumpa para pengerat itu.


Dengan hati-hati Adeeva iringi Ezra keluar. Akting Ezra makin bagus, sangat hayati peran orang buta. Kalau ada kisah sedih lelaki buta Ezra boleh casting audisi maju jadi calon bintang film.


Baru keluar selangkah kelima wanita itu langsung bangkit tak percaya suami mereka benaran telah kehilangan kegagahan lelaki sejati. Mata elang yang biasa akan memancarkan sinar membunuh kini redup tanpa cahaya.


Adeeva tak tahu apa isi otak wanita-wanita itu. Bersorak gembira atau bersedih suami kebanggaan kini tak berdaya akibat kecelakaan. Adeeva tak open bagaimana mereka berpikir. Tujuannya hanya lindungi Ezra dari kenakalan para selir.


Adeeva ambil kursi lain untuk Ezra karena sofa telah full oleh para tamu. Laki itu belum tentu mau disandingkan di samping para selir.


"Mas Hakim...kok jadi gini? Apa tidak lebih baik pulang ke rumah? Aku akan merawat mas sampai sembuh! Kita akan cari dokter ternama dari luar negeri." ujar Renata dibarengi Isak tangis. Tangis lebay caper.


"Renata betul mas! Sudah begini lebih baik pulang ke rumah. Kami akan giliran layani mas. Kami takkan tinggalkan mas di kala susah begini! Suka duka kita lalui bersama." Timpal Michelle ikutan berduka. Atas tetesan cairan bening meleleh di pipi. Wanita itu memang pasang mimik wajah sedih.


"Tak perlu...aku mau tenang di sini! Ada asisten aku urus aku! Kalian cukup urus diri kalian saja! Kalian mau berhemat itu sudah bantu aku! Aku masih berkomitmen pada tawaran bebaskan kalian memilih hidup bebas dengan sekian tunjangan. Aku tak mungkin hidup dengan sekumpulan wanita yang tak kukenal." ujar Ezra dingin. Raut wajah Ezra datar tanpa perlihatkan apa isi hati. Adeeva diam saja tak berani menyahut. Adeeva juga ingin hidup bebas tanpa tekanan.


"Aduh mas! Mau kenal kami maka harus tinggal bersama kami. Ini mas Hakim tak pernah pulang lihat kami! Kami ini isteri baik dan setia. Percayalah! Kami janji akan servis mas dengan baik." Soledad ikut ambil suara.


"Setia? Kau yakin itu? Baik.. aku mau isteri baik tak pernah berhubungan dengan laki lain. Aku menikahi kalian dengan status gadis. Aku tuntut kegadisan kalian. Berani?"


Tak ada yang berani menyahut. Adeeva bersorak dalam hati Ezra beri pelajaran berharga pada wanita itu agar tahu mana yang pantas jadi isteri Ezra Hakim Dilangit.


"Well...tak ada yang berani menyahut? Aku bukan orang bodoh tak tahu apa kerja kalian di belakang aku. Aku cuma tak mau kecewakan mama buang kalian ke tempat sampah. Dan lagi aku bukan ATM berjalan kalian lagi. Sudah tahu kartu kalian diblokir bukan? Aku bukan kejam tapi harus menata hidup aku agar tak hancur oleh kalian. Gunakan uang aku biayai laki muda! Foya-foya dengan berondong. Kalian pikir aku buta? Ya sekarang aku buta tapi aku sudah melihat tingkah kalian dengan jelas." Ezra keluarkan taring dan kuku runcing siap habisin mangsa yang telah tak berdaya.


"Tapi kami ini wanita butuh kehangatan." desis Farah.


"Kehangatan? Itu yang bikin aku jijik pada kalian. Seorang isteri lempar baju di hadapan laki lain dengan alasan klasik. Kalian dari awal sudah bukan barang bersegel maka aku tak mau menyentuh bekas orang. Kalian tahu kenapa aku beri posisi pada Adeeva? Karena dia itu perawan asli." kata Ezra tanpa menoleh ke arah Adeeva.

__ADS_1


Hati Adeeva tercekat. Kalau Ezra tahu dia masih perawan artinya laki itu memang telah mengambil mahkota Adeeva.


__ADS_2