
Ezra terdiam akui kesalahan angkuh pada materinya yang berlimpah. Berhubungan dengan bintang top seakan menjadi kepuasan bisa cicipi tubuh orang top. Ezra tak sadar bahaya penyakit menanti bagi orang suka gonta ganti pasangan hubungan intim.
Ezra terduduk lesu mulai menyesal cuma sayang sudah terlambat. Poni telah berlari jauh tak tak tahu rimba.
"Aku nginap sini ya bang! Besok pagi aku segera balik. Abang tidur saja!"
"Kau tidur saja! Jangan lupa sering hubungi Poni. Mana tahu ponselnya aktif."
Ruben tertawa sedih. Otak Ezra sudah tak berfungsi baik. Kalau Ezra kena blokir otomatis Ruben kena imbas. Adeeva kan tahu Ezra dan Ruben satu paket. Di blokir ya harus sekalian.
"Besok aku akan coba hubungi dia pakai nomor baru. Mana tahu dia angkat."
Ezra menepuk jidat mengapa tidak ingat coba hubungi Adeeva pakai nomor lain. Satu kena blokir yang lain pasti masuk. Inilah akibat terlalu panik sampai yang paling sederhana dia lupakan.
"Aku punya nomor lain. Tolong ambil ponselku yang lain!" kata Ezra semangat.
"Yaelah bang! Ini tengah malam. Mungkin saja si Poni sudah tertidur pulas. Tak enak kita mengganggu dia pada jam tengah malam begini. Besok saja kita teleponi dia."
Semangat Ezra yang menggebu-gebu kontan surut setelah mendengar penjelasan Ruben. Apa yang dikatakan Ruben tidak salah sedikitpun. Tengah malam begini mungkin Adeeva sudah tertidur pulas dibawa ke alam mimpi.
Tak ada cara lain selain menunggu fajar menyingsing baru bisa menghubungi Adeeva. Menanti fajar menyingsing merupakan siksaan bagi Ezra yang dirundung oleh rasa sesal tak berkesudahan.
Di sudut kota Jawa dua gadis muda terbangun karena bunyi alarm ponsel. Tempat tinggal Akbar agak jauh dari pemukiman penduduk maka suara adzan subuh tidak terdengar. Adeeva sudah prediksi takkan dengar suara adzan dari mesjid maka setel alarm untuk sholat subuh. Keduanya laksana salah satu rukun Islam dengan hati bersih. Semua yang baik berawal dari niat bersih.
Seusai sholat keduanya turun ke bawah untuk pantau keadaan rumah apa sudah ada yang bangun. Rumah masih sepi bahkan lampu taman belum dimatikan.
Adeeva dan Nunik segan untuk buka pintu. Padahal kedua cewek ini ingin olahraga ringan lemaskan otot. Terutama Adeeva yang sudah cukup lama tidak latihan taekwondo. Otot-otot menjadi kaku lama tidak diajak bergerak. Pas ada tempat sejuk untuk lakukan olahraga ringan cocok untuk lemaskan seluruh badan.
"Gimana nih?" bisik Nunik segan buka pintu. Salah-salah dipikir mau kabur bawa barang berharga dari rumah ini.
"Tidur lagi?" olok Adeeva menyindir Nunik. Anak ini kan tukang tidur. Bangun kalau matahari sudah capek bersinar. Coba kalau Akbar tahu sifat buruk Nunik ini. Cowok itu pasti akan lakukan tendangan 12 pas.
"Kita keluar saja! Kita lari sepanjang rumah saja! Tunggu yang empunya rumah bangun mungkin sudah senja."
"Tumben hari ini waras. Biasa kamu yang suka molor sampai matahari tenggelam."
"Sialan lhu! Kukutuk lhu jadi bini ikan paus selamanya!"
"Kutukan orang stress tak didengar Allah!" Adeeva melelet lidah ejek Nunik.
"Lhu yang stress. Punya suami penjahat kelamin. Kalau gua sih belajar jadi dukun sunat! Kusunat sosis busuk sampai tidak tersisa."
"Berhubung kamu sangat berbakat menjadi seorang dukun sunat maka tugas Ini kuserahkan kepadamu. Yang semangat ya sis!" Adeeva menepuk bahu Nunik bak seorang guru memberi tugas pada muridnya.
"Ogah...lhu aja yang urus laki mesum lhu! Aku ogah berurusan sama laki penebar benih sejagat raya. Sekarang balik tidur atau olahraga!" Nunik beri dua pilihan pada Adeeva. Nunik sih berharap bisa lanjut bermimpi sampai tengah hari.
"Olahraga...sudah lama tidak rilex begini! Manalagi udaranya bersih. Ayok kita keluar!" Adeeva beri kode keluar dari rumah.
Belum sempat kedua cewek ini membuka pintu dari arah lain terdengar suara langkah kaki berat. Nunik menduga itu derap langkah seorang cowok karena berat.
Reflek Adeeva dan Nunik menoleh ke arah suara melihat siapa yang datang. Seorang cowok berbadan mirip Hercules berjalan di keremangan menuju ke arah mereka.
Nunik terpesona mengira yang datang itu adalah pahlawan dalam mitos Yunani hampiri mereka. kalau memang lelaki itu bukan pecinta sesama jenis mungkin Nunik akan menaruh sejuta harapan kepada Akbar.
"Selamat pagi nona nona cantik." sapa Akbar dengan suara bass yang bikin Nunik tergila-gila.
"Pagi mas! Bangun pagi juga ya!" balas Nunik dengan gaya sedikit genit.
__ADS_1
Adeeva menduga kalau temannya itu mempunyai rasa kepada Akbar. Betul kata orang tua tak kenal maka tak sayang. Sudah kenal maka menjadi kesayangan.
"Kan sudah subuh. Mau ke mana pagi buta begini?"
"Apa kami boleh lari pagi? Udara sini bersih dan sejuk. Kami ingin berlari pagi lemaskan otot kaku." tanya Nunik harap dapat respon baik.
Akbar tertawa kecil mempersilakan kedua gadis ini melakukan apa yang mereka inginkan. Berlari pagi di sepanjang jalan dekat rumah mereka merupakan kegiatan yang sangat positif. Tentu saja Akbar mendukung 100%.
"Ayok kita bareng! Aku juga lari pagi setiap hari. Di sini alat fitness lengkap. Kalau mau treadmill, angkat berat dan beberapa jenis alat lain ada semua."
"Wah..pantas tubuhnya bagus! Ternyata pencinta olahraga! Ayok kita kejar angin!" seru Nunik makin semangat. Rasa ngantuk yang tadinya datang mulai pudar akibat support dari juragan sapi yang Nunik anggap memalukan.
Akbar membuka pintu beri jalan pada Adeeva dan Nunik berjalan ke depan. Adeeva duluan keluar disambut hembusan angin dingin menyegarkan pikiran. Cewek ini mengisi paru-paru dengan udara bersih sebanyaknya agar terbebas dari rasa benci racuni organ tubuh.
Adeeva lakukan pemanasan gerakan tubuh kiri kanan dengan lentur. Akbar bukan orang bodoh tak tahu kalau kedua gadis ini adalah pencinta olahraga. Dari gerakan mereka yang lentur tahu kalau kedua anak itu sering latihan. Latihan apa Akbar belum tahu.
"Ayok kita lari ke rumah Supono ajak dia lari pagi!" usul Akbar berlari ke depan tinggalkan Adeeva dan Nunik.
Nunik kontan lemas ingat siapa Supono. Nama asli nama cowok, tubuh juga asli cowok tapi jiwa asli cewek. Mengapa Akbar sangat perhatian pada Supono. Gelagat mencurigakan.
"Cari si tulang lunak!" bisik Nunik pelan dekat Adeeva.
"Jangan suudzon dulu! Mungkin cuma gaya doang! Nanti kita buktikan tulangnya tulang ikan atau tulang dinosaurus." Adeeva juga berbisik agar tak didengar Akbar.
Akbar berlari santai melewati beberapa orang yang menyapa dengan ramah dalam bahasa daerah setempat.
Adeeva dan Nunik berlari tak kalah santai imbangi Akbar. Soal stamina mungkin Akbar tidak sebaik Adeeva karena gadis ini sangat pandai kontrol nafas akibat latihan di bawah bimbingan bang Juan.
Mereka lewati jembatan panjang tibalah di rumah Supono. Lelaki itu sudah menunggu di depan pintu rumah. Laki itu berseru riang jumpa Akbar persis seorang gadis menanti kehadiran pujaan hati.
"Akbar...selamat pagi!" teriak Supono kegirangan menyambut Akbar.
Adeeva tak sabar mau lihat Supono bergaya anak gadis jumpa pujaan hati. Tangannya sudah tak sabar ingin menyeret Supono keliling kampung seratus kali biar jempol kaki copot satu persatu.
Untunglah kedua lelaki itu tidak lakukan gerakan pancing emosi Adeeva. Adeeva sudah geregetan ingin mencambak rambut Supono agar sadar dia seorang cowok. Tidak pantas bergaya seperti seorang cewek sedang kasmaran.
Adeeva ajak Nunik lanjut berlari tanpa peduli pada Akbar dan Supono. Kali ini Adeeva ajak Nunik berlari lebih cepat untuk test sampai di mana kehebatan jiwa kedua cowok itu.
Akbar tersenyum lihat kedua cewek sudah meninggalkan mereka berdua. Supono salut juga pada stamina kedua anak itu. Pikir cewek gemulai nyatanya cewek perkasa.
"Jangan kalah sama cewek bro! Ayok pompa semangat! Sanggup lari sampai ke peternakan?"
"Jangan dong! Capek! Apa dua cewek mu bisa?"
"Kok dua? Satu saja kali. Coba kau rayu satunya biar tidak jomblo terusan!"
"Aku takut ditolak lagi! Biarlah jomblo! Kan ada kamu temani aku jadi jomblo akut!"
"Tuh jodohku sudah datang! Anaknya cukup asyik. Kuakui temannya lebih cantik tapi aku tak mau kecewakan ibu."
"Yang kawin kamu atau ibumu? Kalau suka kejar."
"Kita lihat saja! Waktu kita masih panjang. Kita lalui dulu tahap penjajakan baru kita lihat bagaimana tingkah laku anak itu."
Supono angguk setuju kata Akbar. Mereka baru saja jumpa belum tentu bisa cocok. Adeeva dan Nunik adalah gadis kota yang belum tentu mau tinggal di daerah terpencil begini. Peternakan Akbar minus dari keramaian kota. Tidak semua gadis bersedia tinggal di daerah yang sangat sepi ini. Apalagi kedua cewek itu produk kota besar yang selalu melihat hingar-bingar kota.
"Wah...stamina bagus! Lihat mereka berlari seperti energinya tak habis-habisnya." Supono menunjukkan Adeeva dan Nunik berlari sambil bercanda. Tak ada tampak mereka kepayahan berlari cepat.
__ADS_1
"Mereka masih muda! Kita ini yang mulai menua. Woi...nona! Belok kiri!" teriak Akbar arahkan Adeeva dan Nunik menuju ke peternakan keluarga. Akbar mau tunjukkan pada Nunik kalau dia bukan pengangguran. Kalau Nunik bersedia hidup dengannya takkan kelaparan.
"Disuruh belok kiri!" ujar Adeeva menyenggol pantat Nunik agar stop lari lurus ke depan.
"Mau ke mana? Di bawa ke semak-semak lalu diperkosa?"
Adeeva colek kepala Nunik yang penuh imajinasi kotor. Anak ini tidak pernah berpikir waras tentang orang lain yang ada hanya bikin kesal orang.
"Kamu pikir mereka bisa menyentuh kita? Kalau mereka nakal maka akan ku kebiri menjadi Kasim."
Nunik terkekeh dengar keinginan Adeeva yang lebih konyol daripada pemikirannya. Enak aja mau ke biri anak orang. Bisa nangis darah ibunya si Akbar itu. Kalau Supono mungkin memang itu harapannya ingin menjadi wanita tulen.
Adeeva dan Nunik pilih berhenti menunggu dua cowok kekar itu datang dekati mereka. Keduanya tak ingin salah jalan karena ini bukan daerah jajahan mereka.
Kedua cowok itu tampak mulai capek Nafas terdengar lebih kasar dari sebelum main kejar-kejaran dengan dua gadis ini.
Adeeva tak ngerti bagaimana keduanya bisa berlatih sampai kekar sedangkan nafas pendek. Biasa orang pengagum olahraga berat nafasnya juga cukup bagus. Ini baru diajak lari cepat sudah mau anfal.
Nunik dan Adeeva masih segar belum ada tanda-tanda kelelahan. Mereka sudah sering disuruh lari keliling lapangan maka berlari bukan hal baru. Ini untuk membantu olah nafas biar punya daya tahan lebih mumpuni.
Adeeva cibir kondisi Supono sangat buruk. Menang badan berotot doang. Stamina payah.
"Ya ampun kalian ini! Tiap hari makan apa kok tidak lelah?" tanya Akbar salut pada kedua gadis ini.
"Kami ini karnivora. Pemakan segalanya!" sahut Nunik bikin Akbar tertawa.
"Manusia dimakan juga?"
"Tergantung kondisi. Jika perlu kita embat juga. Ini mau bawa kita ke mana?"
"Ke peternakan sapi. Kalian bisa lihat sapi-sapi di keluarkan dari kandang! Tak jauh kok! Paling seribu meter!" Akbar sengaja bilang jarak agak jauh mau tahu apa reaksi kedua gadis ini. Menyerah atau lanjut lari sampai ke tujuan.
"Come on! Belok lalu lurus kan?"
"Ya..."
Nunik dan Adeeva duluan bergerak berlari cepat tak kenal lelah. Supono dan Akbar terbengong tak sangka kedua cewek itu menyambut baik tantangan lari ke peternakan. Pikir keduanya akan menyerah minta pulang.
"Mereka pasti sanggup! Akunya yang tak sanggup. Sampai di peternakan nafas berhenti." keluh Supono mau menyerah. Anak pencinta seni bela diri dilawan.
"Aduh bro masak kalah sama cewek! Malu tuh sama badan! Semangat!" Akbar ambil ancang-ancang berlari nyusul kedua cewek yang makin bayangan mereka.
Akbar sudah duluan berlari tinggalkan Supono masih ragu lanjutkan persaingan lawan daun muda. Takut pingsan di jalan makin bikin malu. Tapi Akbar sudah duluan lari menjauh membuat Supono mau tak mau harus menyusul.
Adeeva masih kuat sedangkan Nunik mulai kelelahan karena stamina tidak sebagus Adeeva. Adeeva atlet kesayangan bang Juan mana bisa dilawan. Tiap hari kena latihan keras dari bang Juan. Dari jiwa sampai sifat Adeeva jadi keras. Andai ada yang lebih keras dari Adeeva pasti akan ketemu batu.
Adeeva jangan dilawan dengan kekerasan. Semakin lembut orang terhadap cewek ini dia akan lebih lembut seratus kali. Coba kalau dikasari, Adeeva seribu kali akan lebih kasar.
"Woi Poni...tunggu aku! Kasih nafas buatan dong!" Nunik berhenti menunduk kedua tangan bertumpu pada lutut tanda menyerah.
"Tunggu juragan lhu datang! Dikasih nafas sapi." Adeeva berhenti menanti Nunik atur nafas agar kembali stabil. Keringat bercucuran di kening gadis konyol ini tanda sudah sangat lelah.
"Tega amat lhu! Cewek secantik gue dapat nafas sapi. Nafas bau jengkol kenapa?" jawab Nunik di sela waktu jeda.
"Kalau gitu cari juragan jengkol. Kita segera cabut keliling cari juragan jengkol!"
"Lalu juragan sapi mau di ke manakan? Kita packing kirim ke Ukraina jadi sasaran bom?"
__ADS_1
"Sadis amat nih bocah! Calon suami mau dijadikan sasaran bom atom! Jadi janda sebelum dinikahi."
"Kan lhu yang mulai. Tuh juragan sapi sudah datang! Jangan banyak mulut ya!"