
Ketiga sahabat itu masih tertawa dengan segala kelakarnya, sehinga Ningrum sedikit melupakan semua beban hidupnya.
Seaat Yamink menatap Ningrum.
"Mbak.."
"Ya.." ucap Ningrum menghentikan tawanya dan menatap sejenak pada Yamink yang kini tampaknya mulai serius kembali.
"Bagaimana kalau Pak Gibran mengajak ke jenjang yang lebih serius?" tanya Yamink tiba-tiba yang membuat Andini dan Ningrum saling pandang.
Seketika Rendy yang sedari tadi asyik menonton film actiom di sebuah aplikasi mulai menurunkan volume medianya dan sedikit mencuri dengar nama Gibran disebut.
Sebab diperusahaan tempat mereka mengais rezeki, Gibran salah satu karyawan yang memiliki jabatan lumayan mumpuni, karena penandatangan BA untuk pencairan dana proyek melalui dirinya.
Ningrum terdiam. Ia juga menyadari jika Gibran menaruh perhatian padanya. Namun Ia masih trauma untuk melangkah terlalu jauh.
"Aku baru saja bercerai, Kang.. Masa iya harus secepat menikah lagi, apa kata irang-orang dan keluargaku? Mereka akan melihatku sebagai wanita yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga dan selalu gagal, hingga mereka mempersalahkanku sebagai wanita yang egois" jawab Ningrum lirih.
"Lalu bagaimana dengan Bima yang saat ini juga sudah menikah lagi dan bahkan saat sebelum surat perceraian keluar dari pengadilan. Hidup itu kita yang jalani, dan jangan terperangkap pada masa lalu. Ingat, Mbak.. Kita butuh pasangan itu bukan hanya sebatas tentang hubungan ranjang, namun ada tempat berbagi masalah dan juga keluh kesah kita" ucap Yamink.
Ningrum menghela nafasnya dengan berat "Lalu bagaimana jika pernikahan itu hanya menambah masalah? Pernikahanku dengan Bima sebagai contoh menjadi sumber masalah yang tidak ada habisnya" keluh Ningrum.
Yamink mencoba memahami apa yang dikatakan oleh sahabatnya "Terkadang kita bertemu dengan orang yang salah, sebelum mendapatkan orang yang tempat, agar kita terlatih untuk merasakan segala cobaan yang datang dikemudian hari" jawab Yamink.
"Namun saya juga tidak dapat memaksa, namun setidaknya menjadi bahan pertimbangan buat, Mbak. Sebab saya juga mengenal karakter dari Gibran seperti apa. Ia seorang pria yang penyabar dan type setia" Yamink menimpali ucapannya dan mencoba meyakinkan hati sahabatnya.
Andini hanya diam saja. Sebab Ia mengenal Gibran hanya sekilas saja, dan itupun saat pria itu menghadiri acara syukuran pindahan rumahnya waktu itu.
Ningrum tersenyum miris. Ya.. Mungkin Ia tahu jika Gibran adalah pria yang tulus, namun tidak untuk saat ini, Ia masih ingin menikmati kesendiriannya.
Sesaat phonsel Ningrum berdering, lalu Ia melihat satu panggilan masuk dari Luccy. Ia mengegser tombol hijau dan mengangkatnya.
"Ya.. Hallo" ucap Ningrum dengan nada lembut, karena Ia tahu itu adalah nomor Luccy.
"Hallo, Ningrum.. Maaf aku mengganggu waktumu, hanya saja aku tidak tahu lagi jarus melakukan apa" ucap suara parau dari seberang telefon dan yang pastinya itu bukan Luccy, melainkan Gibran.
__ADS_1
"Ya.. Ada masalah apa?" tanya Ningrum penasaran.
"Luccy demam tinggi dan Aku sudah membawanya ke rumah sakit, Ia terus mengigau memanggil namamu, dan dokter menyarankan untuk memberitahumu, kungkin saja dapat meredakan igaunnya" Gibran menjelaskan.
Ningrum terperangah dan membolakan matanya "Dirumah sakit mana kamu membawanya?" tanya Ningrum dengan penuh kekhawatiran.
Gibran menyebutkan salah satu rumah sakit yang dimaksudnya.
"Baiklah.. Aku segera ke sana" jawab Ningrum tanpa berfikir panjang.
Andini dan Yamink mengerutkan keningnya.
"Siapa yang sakit, Mbak?" tanya Andini dan juga Yamink bersamaan. Mereka merasa penasaran sebab mereka tahu dikota ini Ningrum tidak memiliki sanak saudara.
"Luccy, puterinya Gibran sudah sakit demam beberapa hari yang lalu dan sekarang demamnya semakin tinggi. Aku kerumah sakit dulu, ya!" ucap Ningrum terlihat panik dan bergegas meninggalkan sahabatnya.
Andini dan juga Yamink merasa kebingungan melihat sikap Ningrum yang tak biasa. Bukankah tadi Ia terlihat benar-benar menolak Gibran, namu mengapa setelah mendengar anaknya sakit tetapi justru merasa khawatir dan begitu paniknya.
Ningrum mengemudikan mobilnya meninggalkan kediaman Andini dan melaju kencang menuju rumah sakit.
Andini meraih kursi kosong disisi Rendy dan Yamink juga duduk dikursi kosong lainya.
"Aneh banget ya Mbak Ningrum? Bukannya dia jelas-jelas tadi nolak yang namanya pak Gibran? Tapi kenapa justru panik saat dengar anak pria yang ditolaknya itu sakit? Apakah sebelumnya Mbak Ningrum menjalin hubungan dekat dengan puterinya?" ucap Andini penasaran.
"Mungkin kali ya.? Mudah-mudahan saja hati Mbak Ningrum luluh melalui puterinya Pak Gibran.
Rendy berpura-pura tak mendengar percakapan Andini dan juga Yamink, sebab matanya masih fokus ke layar phonselnya, meskipun telinganya sedikit nyambung pada pergosipan ke dua orang sahabat tersebut.
"Mudah-mudahan juga Mbak Ningrum menemukan jodoh yang benar-benar tulus mencintainya.. Aamiin" Andini menimpali.
"Aamiin.. Ya sudah, aku pamit dulu ya, Ndin.. Mau lanjut kerja" ucap Yamink berpamitan.
Andini menganggukkan kepalanya.
"Bang.. Pamit ya.." ucap Yamink kepada Rendy yang sedari tadi hanya menonton film tanpa perduli dengan obrolan istri dan sahabatnya.
__ADS_1
"Oh, Iya.. Hati-hati dijalan, ya" jawab Rendy.
Lalu Yamink beranjak dari duduknya dan mengemudikan motornya lalu meninggalkan kediaman Andini.
Andini menghela nafasnya dan merasa sedikit lega jika benar Ningrum menemukan pria yang tepat dan dapat memberikan kehidupan yang membuatnya menemukan kebahagian yang selama ini masih tersembunyi.
"Mas.."
"Hemm.." jawab Rendy.
"Apakah masih ada didunia ini sisa pria yang penyabar dan mencintai dengan tulus?" tanya Andini lirih.
"Ada, contohnya, Mas" jawab Rendy yang beranjak bangkit dan mematikan phonselnya, lalu menggendong Andini dari kursi teras.
"Mas.. Apaan sih, malu dilihatin orang" omel Andini yang mencoba memukul gemas dada suaminya.
Rendy beranjak masuk dan mengunci pintu depan rumah, lalu membawa Andini ke dalam kamar dan tak memperdulikan ocehan istrinya.
Sementara itu, Ningrum sudah sampai didepan rumah sakit, lalu memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju ruangan tempat dimana Luccy dirawat.
Sesampainya diruangan tersebut, Ningrum mengetuk pintu, dan terdengar suara derap langkah kaki seseorang menuju pintu dan membukanya.
Tampak berdiri diambang pintu Gibran dengan wajah cemas dan Ningrum menerobos masuk.
Ia melihat Luccy terbaring lemah diatas ranjang pasien. Suhu tubuhnya begitu sangat tinggi saat Ningrum menyentuh kening gadis kecil itu dengan punggung tangannya.
"Luccy.. Kamu harus sembuh, Sayang" ucap Ningrum dengan penuh ke khawatiran.
Gadis itu masih mengigau menyebut nama Ningrum. Lalu Ningrum meraih jemari gadis kecil yang terpasang jarum infus.
Ia mengecup lembut punggung tangan Luccy dan membelai ujung kepala gadis kecil itu.
Sesaat Luccy mengerjapkan kedua matanya, lalu membuka matanya yang terasa berat.
"Tante.." ucapnya dengan lirih, dan berharap apa yang dilihatnya itu bukanlah sebuah ilusi semata.
__ADS_1