SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 59


__ADS_3

Ningrum terbangun dari tidurnya. Ia mendapati Bima sedang tertidur pulas di sisi kirinya. Ningrum beranjak dari ranjang dan membersihkan dirinya.


Setelah menyalin pakaiannya, Ia segera turun ke lantai dasar untuk sarapan.


Ningrum hanya membuat telur ceplok untuk sarapannya dan dengan sambal saos pedas saja. Ia sangat malas untuk membuat sarapan lebih, karena sampai saat ini Masih belum dapat berdamai dengan hatinya yang terus diliputi rasa galau.


Saat Ningrum selesai sarapan, tampak Bima turun dari lantai dua dan menuju ke dapur.


"Pagi, cantik?" sapa Bima semanis mungkin dan seromantis mungkin.


Ningrum tampak memutar bola matanya malas, tak ada tanggapan yang berarti keluar dari mulutnya.


"Sarapan untuk Mas mana, Sayang?" ucap Bima yang mencoba menyapa Ningrum meski terus didiamkan.


Ningrum beranjak bangkit dari duduknya, lalu membuat telur ceplok dan juga segelas teh manis, dan menyodorkannya ke pada Bima tanpa biacara apapun.


"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa sewot mulu, sih?" ucap Bima yang meraih piring berisi teor ceplok dan menyendokkan nasi putih yang berada dihadapannya.


Ningrum menghela nafasnya dengan berat, rasanya begitu sesak dan membuatnya sulit bernafas.


"Apakah, Mas kenal dengan mbak Raini?" tanya Ningrum sembari menyeruput teh manisnya.


Seketika Bima terbatuk mendengar nama pemilik kantin itu disebut. Ia tiba-tiba tersedak, dan meraih minumnya.


"Bagaimana Kamu dapat mengenalnya?" tanya Bima yang kini merasa penasaran dan menatap Ningrum penuh selidik.


Ningrum memasang wajah masam "Tidak perlu tau dari mana aku mengenalnya, namun apa masalah, Mas dengannya?" tanya Ningrum yang kini merasakan ingin segera meledakkan amarahnya, namun coba Ia tahan.


"Hanya masalah kecil saja, tidak perlu difikirkan" jawab Bima santai.


Ningrum mengerutkan keningnya, Ia tak mengerti dengan sikap Bima yang mengapa dapat begitu santainya dalam menanggapi setiap hutangnya.

__ADS_1


"Sekecil apa?" tanya Ningrum dengan nada yang mulai ketus.


Bima menghentikan suapannya. Lalu menatap tajam pada Ningrum. "Mas sedang makan, bisa gak bahas ini nanti?" ucap Bima dengan nada yang mulai tinggi.


Seketika Ningrum merasa tersinggung dan mencoba beranjak dari duduknya, sepertinya bertanya dengan Bima sama halnya bertanya dengan orang tidak waras yang tidak memiliki fikiran.


Melihat Ningrum beranjak dari duduknya, membuat Bima merasa kesal. "Sebenarnya apa yang kamu dapatkan informasi dari Mbak Raini?" tanya Bima dengan nada kesal.


Ningrum menatap dengan tatapan sangat penuh amarah "Dia mengatakan jika Mas memiliki hutamg rokok dan juga hutang makan yang sudah menggunung.. Bahkan Mas tidak berniat mencicilnya..!!" ungkap Ningrum dengan nada kesal.


Bima menyunggingkan senyum sinis.


"Itu karena dia saja yang terlalu berlebihan. Kan Mas sudah katakan jika akan membayarnya nanti jiak proyek Mas sudah kelar" ucap Bima dengan penuh amarah.


Ningrum mengerutkan keningnya "Ok.. Baiklah..!! Tetapi kali ini Aku tidak ingin ikut campur masalah hutang piutang yang kamu ciptakan, Mas.. Aku lelah untuk terus menutupi setiap hutang yang kamu ciptakan!" jawab Ningrum dengan nafasnya yang tersengal karena terlalu banyak menahan setiap permasalahan yang terus menerus datang.


"Oh, Ya.. Satu lagi, tolong katakan pada Ibu, jika membutuhkan uang, tolong jangan menemuiku, tapi mintalah kepada kalian sebagai anak-anaknya, karena itu bukan tanggungjawabku..!!" ucap Ningrum yang tampaknya sangat begitu tertekan.


"Aku bukan mengungkit, tetapi apa yang sudah kamu berikan padaku selama pernikahan kita? Mengapa aku yang selalu harus berkorban, sedangkan kamu belum memberikan nafkah kepadaku selama pernikahan kita..!!" ucap Ningrum dengan nada yang mulai meninggi.


Seketika Bima melemparkan piring keramik yang diapakainya untuk sarapan. Lalu dengan emosi yang kini sedang menguasainya, Ia melayangkan sebuah tamparan diwajah Ningrum, dan..


Plaaaaak..


Ningrum tersentak dan merasa kaget, wajahnya panas terkena tamparan dari Bima, Ia memegang pipinya yang memerah dan terdapat bekas telapak tangan diwajah Ningrum yang begitu kontras dengan kulitnya yang putih.


Dan tanpa bicara apapun, Ningrum berlalu pergi meninggalkan rumah dan meraih dompet beserta kunci mobilnya, lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju salon.


Sesampainya di salon, Ia bergegas membuka pintu salon dan menaiki lantai dua menuju ruang kerjanya dan memasukinya dengan hati penuh luka.


Ia mengunci pintu dan tak ingin bertemu dengan siapapun saat ini.

__ADS_1


Ia mengurung dirinya diruang kerjanya, dan Ia membantingkan tubuhnya di sofa dengan hati rasa yang begitu sakit.


Sepuluh tahun Ia menjalani pernikahannya dengan Riffky, belum pernah mantan suaminya itu menamparnya, apalagi berkata kasar.


Sedangkan Bima yang hanya baru sekian bulan sudah menghancurkan barang-barang dirumahnya dan kini menamparnya. Ini sangat tidak dapat bisa ditolerirnya.


Air matanya terus mengalir tanpa henti, Ia menangis sesenggukan, dan Ia merasa sangat begitu rapuh.


Saat bersamaan, phonselnya berdering. Satu panggilan masuk dari satu nama 'Andy'.


Ningrum mengangkatnya, entah mengapa Ia begitu ingin mencurahkan segala kesedihannya dengan pria itu, meski hanya lewat sebuah phonsel.


"Hallo.." ucap Andy dengan suara yang begitu lembut, membuat hati Ningrum sedikit merasakan sebuah kesejukan mengalir direlung hatinya.


Ningrum hanya tersedu dan sesenggukan, membuat Andy mengubah panggilan suara menjadi Vedeo call.


Tampak dalam panggilan vedeo itu wajah Ningrum yang masih memerah bekas sebuah tamparan yang sangat keras. Tanpa dijelaskan oleh Ningrum, pria itu juga sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Pria itu menggunakan ibu jarinya mengusap layar phonselnya, seolah sedang menghapus air mata yang kini begitu deras mengalir dari sudut mata Ningrum.


Selama berkomunikasi, baru kali Andy melakukan panggilan Vedeo, entah getaran apa yang Ia rasakan sehingga mencoba menghubungi Ningrum, seolah Ia sedang merasakan kegundahan hati wanita tersebut.


"Menangislah, jika itu membuatmu merasa lega" ucap Andy dengan begitu sangat lembut dan tenang.


Ningrum semakin tersedu, Ia tidak tahu mengapa pria itu begitu sangat perhatian padanya, dan tidak pernah menuntut balasan apapun.


Setelah tangisan Ningrum mereda, Ia menatap wajah itu dengan begitu sendu "Maukah kau menikah denganku? Tetapi putuskan tali pernikahanmu dengannya, Aku tidak akan pernah membuatmu mengeluarkan air mata kesedihan" ucap Andy bersungguh.


Pernyataan barusan membuat Ningrum semakin dilema dan tak dapat mengatakan sepatah katapun.


"Kamu telah salah memilih sandaran hati, andai saja kamu saat itu mau menuruti perkataanku untuk menemuiku di Kalimantan, hal ini tidak akan terjadi. Namun semua berbalik padamu, jika kamu ingin bertahan dalam kepatahatianmu, bertahanlah.. Namun jika kamu tidak sanggup lagi, maka lepaskanlah, dan Aku siap menerimamu dalam kondisi apapun" ucap Andy dengan penuh ketulusan hatinya.

__ADS_1


Ningrum semakin tersedu dan hatinya kian bertambah sakit.


__ADS_2