SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-103


__ADS_3

Ningrum beranjak dari duduknya dan menuju sofa. Ia meraih satu bungkus makan malam yang dibeli oleh Gibran. Satu boks paket ayam komplit cepat saji menjadi makan malamnya.


Ia menyuapkan makan malam itu dengan perlahan, meskipun hatinya penuh debaran yang sangat menggebu.


Luccy perlahan mengantuk karena pengaruh obat tersebut, dan tak lagi mampu menahan kantuknya.


"Mengapa Kamu meberikan harapan yang begitu tinggi untuk Luccy? apakah kamu menyanggupinya karena terpaksa atau kamu benar tulus untuk menjadi Mama sambungnya?" ucap Gibran ditengah suapannya.


Ningrum terhenyak. Berarti benar dugaannya jika Gibran mendengar percakapannya dengan Luccy.


Ningrum menatap bingung pada Gibran. Namun Ia sendiri tidak mampu harus menjawab apa.


"Apakah Kamu serius untuk menjadi mama bagi Luccy? Jika benar, Aku akan segera meminta kepada orangtuamu untuk memberikan restu pernikahan kita" ucap Gibran dengan serius.


Debaran dihati Ningrum semakin kencang. Ia bingung harus mengiyakan atau menolaknya.


Disatu sisi Ia merasa begitu dekat dengan Luccy dan sudah berjanji untuk memenuhi permintaan gadis kecil itu. Namun disisi lain, Ningrum merasa belum siap untuk menikah lagi. Ia malu dengan keluarganya jika harus menikah dan cerai lagi. Ini bukan rekor yang harus dibanggakan, Ia merasa ini sangat memalukan.


"Aku malu menghadapi keluargaku. Aku tidak ingin digelar tukang kawin-cerai" ucap Ningrum sembari merundukkan kepalanya.


Gibran sudah menyelesaikan makan malamnya dan mencuci tangannya.


"Aku akan membuang semua tudingan dan image buruk yang mereka sematkan kepadamu. Aku akan berjanji menjadi pendampingmu yang benar memberikan kebahagiaan untukmu kelak!" jawab Gibran dengan penuh penegasan.


"Bagaimana jika nantinya aku tak bisa memberikanmu keturunan? Akankah Kau juga mencampakkanku seperti mereka dan bahkan menghinaku?" tanya Ningrum dengan cepat.


"Anak adalah sebuah titipan dan amanah dari sang Rabb. Ia lenih mengetahui yang mana terbaik bagi hamba-Nya dengan memberikan keturunan kepada kita sebagai cobaan. Jika diberi keturunan ya Alhamdulillah, jika tidak ya terima ini sebagai takdir hidup" ucap Gibran.


Ningrum menghela nafasnya, dan menyelesaikan suapannya, lalu membersihkan sisa makan malam mereka.

__ADS_1


"Beri aku waktu untuk memikirkannya, dan ini sangat tidak mudah bagiku, karena aku sudah dua kali mengalami kegagalan" nawab Ningrum, sembari membawa sisa makan malam dan membuangnya ke ting sampah yang tersedia.


Setelah selesai, Ia duduk di sofa dan masih mencoba merenungi apa yang dikatakannoleh Gibran.


"Tidurlah, itu masih ada ranjang khusus untuk keluarga, dan saya akan tidur di sofa" ucap Gibran, lalu menarik selimutnya dan mencoba untuk tidur.


Sedangkan Ningrum menuju ranjang kosong, lalu menggesernya mendekati ranjang Luccy agar nantinya mendengar jika Luccy meminta sesuatu. dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.


Sementara itu, Bima mengerang kesakitan karena pergelangan kakinya terkilir akibat terjatuh dari lantai 4 saat menuruni anak tangga sore tadi.


"Nora.. Ambilkan dulu minyak urut dan tolong urutkan kaki, Abang..!!" pinta Bima kepada Nora yang saat itu sedang memainkan phonselnya


"Sebentarlah, Bang.. Aku masih balas komentar netizen. Mereka mengkomentari motor baru kita" jawab Nora dengan santainya, sedangkan Bima sudah meringis kesakitan.


"Kamu ini, pentingin komentar netizen daripada Aku, buruan!!" ucap Bima sedikit kesal.


Nora menoleh kearah Bima dengan tatapan kesal karena Bima sudah berani Meninggikan suaranya.


Bima terdiam, dan menatap Nora dengan senyum tipis "Tidak, Sayang.. Abang, hanya minta tolong, urutkan dulu kaki abang ini sakit" jawab Bima melunak.


Nora memasang wajah masam, lalu beranjak dari ranjangnya dan mengambil minyak urut, lalu mengurut kaki Bima dengan menggerutu.


Beberap menit kemudian "Sudahlah, capek.!! Aku juga lagi hamil, dan gak bisa terlalu capek!" omel Nora, lalu beranjak ke ranjangnya dan kembali membalas komentar orang yang mengomentari unggahan motor barunya.


Bima meringis kesakitan, dan akhirnya Ia menghubungi tukang pijat untuk mengurut kakinya.


Tak berselang lama, tukang urut yang dipesannya datang, dan mulai mengurut kakinya, tampak pergelangan kakinya membiru karena terbentur tangga yang terbuat dari besi.


"Sepertinya cukup parah, sebaiknya dua hari ini istirahat dirumah dulu, jangan terlalu banyak bergerak, karena bisa membuatnya bertambah bengkak" ucap tukang urut tersebut.

__ADS_1


Bima menganggukkan kepalanya, namun Ia teringat jika surat penawaran kerjanya belum ditanda tangani dan ini akan membuat pekerjaannya tertunda, namun Ia juga bingung harus berbuat apa.


Jika Ia memaksakan untuk berjalan, maka kakinya akan bertambah parah, namun jika dua hari dirumah, maka pekerjaannya akan mengalami hambatan.


Tukang urut itu berpamitan setelah selesai mengurut kaki Bima. Setelah diurut kakinya masih terasa sakit, karena semuanya butuh proses.


"Dik, tolong ambilkan Abang air minum, haus kali abang.." pinta Bima. Namun Nora tak jua mendengarkannya, dan dengan terpaksa akhirnya Bima beringsut dengan cara mengesot menuju dapur. Sepertinya Bima sedang menuai segala apa yang diperbuatnya pada masa istrinya terdahulu.


Ibarat pepatah, siapa menabur angin, maka siap untuk menuai badai. Dan gambaran itu sangatlah sesuai untuk Bima yang mana selalu berbuat dzhalim pada istri-istrinya.


Bima meringis kesakitan, dan mencoba berdiri meraih bibir meja makan dan berdiri dengan rasa ngilu pada kakinya. Lalu Ia mencapai meja dan berdiri dengan sempoyangan.


Setelah berhasil duduk dikursi, Ia meraih gelas dan menuangkan air dari teko ke dalam gelas dan meneguknya.


Nafasnya tersengal dan Ia merasakan jika Nora tak memperdulikannya dan hanya perduli dengan uangnya saja, namun Ia tak berani membantah apapun yang diucapkan oleh Nora kepadanya.


Sesaat Nora beranjak dari ranjangnya, dan menuju meja makan. Ia melihat Bima sudah duduk disana dengan menggunakan kain sarung.


Nora menyingkap tudung saji dan hanya menemukan dua butir telur ceplok dengan irisan cabai dan bawang.


Ia meraih piring kosong dan menyantabjya tanpa bertanya kepada Bima apakah sudah makan atau belum.


Bahkan sembari makan-pun Ia tak lepas dari phonselnya dan sibuk dengan membalas komentar pada setiap unggahannya. Apalagi dengan uang yang baru dipostingnya beberapa waktu lalu.


Ia merasa paling sosialita dan hidup penuh kemewahan, meskipun Ia tidak tahu jika uang yang didapat Bima adalah hadil meminjam dari orang yang entah kapan akan dibayarnya.


Setelah selesai makan, Nora meletakkan piring kotornya diatas meja begitu saja, dan kembali le ranjang untuk terus eksis di akun media sosialnya.


Bima mendenguskan nafasnya dengan berat, kemudian menyendokkan nasi ke wadah piring sisa Nora, karena Ia tidak sampai untuk mencapao rak piring. Lalu Ia makan dengan hati yang nelangsa.

__ADS_1


Terdengar Nora terkadang tertawa cekikikan karena membaca balasan komentar orang-orang yang ada unggahannya. Sedangkan untuk suaminya, Ia tak perduli sedikitpun.


__ADS_2