
Bima akhirnya berhasil merayu Ningrum untuk membelikannya mobil baru.
Ningrum sudah mengabari Ayahnya jika Ia berniat untuk menjual kebun kelapa sawitnya sebanyak dua hektar.
"Apa..?? Kamu ingin menjualnya dua hektar?" tanya Ayah Ningrum tak percaya.
"Iya, Yah.. Ningrum ingin memperbesar usaha salon dan juga jasa decor untuk pelaminan, Yah.." ucap Ningrum berbohong.
Pria tua itu terdengar mendenguskan nafasnya dengan nafas berat "Baiklah.. Ayah akan tawarkan nanti untuk menjualnya. Namun pesan ayah, jangan terbiasa menjual barang jika tidak terlalu penting, karena akan bernasib sial" ujar Ayah Ningrum memberikan nasehat.
"iya, Yah.. Ini yang terakhir kali Ningrum menjual tanah, Yah" jawab Ningrum merasa bersalah. Sebenarnya Ia merasa berat untuk menjual tanah tersebut. Namun karena Ia tak tega melihat Bima tak memiliki kendaraan untuk bekerja, akhirnya dia mengalah dan berharap Bima akan lebih giat lagi bekerja.
"Sabar dulu, Mas.. Sebab menjual tanah tidak semudah menjual emas yang satu hari langsung dapat" ucap Ningrum memberitahu kepada Bima.
Seketika wajah pria itu tampak sumringah, akhinya Ia dapat juga memiliki mobil baru, masa iya sebagai pemborong naik motor ke lokasi kerja.
"Makasih ya, Sayang.. Kamu memang istri yang dapat diandalkan" puji Bima kepada Ningrum, sembari mengecup punggung tangan sang Wanita.
Ningrum hanya membalas senyum penuh bahagia saat Bima memperlakukannya dengan begitu sangat mesra.
"Mas mau pulang, mau istirahat, kamu mau ikut pulang atau nanti Mas jemput lagi?" tanya Bima dengan nada yang sangat begitu membuat Ningrum terasa melayang.
"Ningrum masih ada pekerjaan, sebab 2 hari lagi pernikahan Andini akan digelar, maka itu Ningrum harus memilah pakaian yang terbaik untuk sahabatku"
"Baiklah.. Kira-kira jam berapa Mas akan jemput kamu?" Tanya Bima sok perhatian.
Ningrum terdiam sejenak "Habis Isya saja deh" jawab Ningrum.
"Ok, Sayang.. Mas puluang dulu, Ya" Ucap Bkma, sembari memyesap lembut bibir wanita itu untuk menutupi setiap kemunafikannya.
Ningrum tersipu saat menerima semua keromantisan yang diberikan oleh Bima.
Kemudian Bima melangkah keluar dari ruang kerja Ningrum. Saat akan menapaki anak tangga, Ia bertemu dengan Jenny, lalu Ia membisikkan sesuatu kepada Jenny yang membuat wanita itu tersenyum sumringah dan Bima mengedipkan matanya sembari melangkah pergi.
Bima melajukan mobil yang dikemudikannya dan menuju pulang. Sesampainya dirumah, Ia melepaskan pakaiannya dan berbaring ditepian ranjang. Ia mengirimkan pesan kepada seseorang dan kemudian tersenyum dengan sangat bahagia.
Ternyata mendapatkan segala apa yang diinginkannya itu sangatlah mudah. Ningrum adalah sumber ATM-nya yang harus tetap mendapatkan service agar semua keiinginannya terkabulkan.
__ADS_1
Suara ketukan dipintu kamar terdengar dengan sangat jelas.
"Masuk.."
Lalu pintu kamar dibuka, tampak kepala seorang gadis menyembul dibalik pintu, lalu dengan cepat masuk kedalam kamar dan menguncinya.
"Pak.. Apakah tidak akan ketahuan oleh Ibu Ningrum nantinya?" ucap Jenny dengan was-was.
"Tenang saja, Ningrum habis isya baru pulang, kita masih sempat bercinta selama dua jam" ucap Bima meyakinkan.
Akhirnya Jenny bernafas lega.
Tanpa dipinta oleh Bima, Jenny melucuti pakaiannya sendiri dan menyerahkannya kepada suami majikannya tersebut.
"Kamu memang paling bisa membuat saya candu" ucap Bima yang kemudian menyergap tubuh Jenny yang tanpa sehelai benangpun.
Sementara itu, Ningrum berusaha menyelesaikan bukket dan juga parcel yang akan dibawa sebagai hadiah untuk acara pernikahan dari mempelai pria yang akan diserahkan kepada Andini.
Melihat seserahan tersebut beriis barang-barang yang sedikit mewah membuat Ningrum merasakan ikut senang saat melihat sahabatnya mendapatkan pasangan yang begitu sangat perhatian.
Disisi lain, Bima dan Jenny sedang menjemput puncak surgawinya.
Keduanya berpelukan setelah menemukan apa yang mereka inginkan.
"Pak.. Kenapa sih Bapak tidak ingin buang didalam?" tanya Jenny penasaran.
Bima menghembuskan nafasnya "Agar kamu tidak hamil. Kan gak mungkin nanti anak kamu lahir tanpa Nasab" jawab Bima dengan alasannya.
Jenny menganggukkan kepalanya.
"Tapi bapak peRkasa dan membuat Jenny serasa melayang dan selalu merindukan, Bapak"Ucap Jenny tanpa sungkan.
Bima merasa bangga jika ada yang memujinya dengan segala pesona ranjangnya.
"Benarkah.. Ningrum juga mengatakan hal yang sama"
Seketika suara dering panggilan masuk di phonselnya.. "Ningrum.. Guman Bima lirih, lalu meminta Jenny diam dan Ia mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Ya..ada apa, Sayang?" tanya Bima dengan suara lembut.
"Mas sedang ngapain?" Tanya Ningrum
"Ketiduran, Cantikku.. Adaapa sayang? " tanya Bima selembut mungkin.
"Tadi Ayah nelfon kasih kabar baik, Mas.. Sudah ada yang membeli kebun sawitnya, dan uangnya sudah ditranfer Ayah.. Besok pagi kita pergi ke showroom untuk membelinya" ucap Ningrum .
Seketika mata Bima membola " Benarkah, Sayang? Mas sudah gak sabar menunggu esok" ucap Bima yang rasanya ingin berjingkrak saja.
"Iya, Sayang.. Sudah dulu, ya.. Ningrum mau lanjutkan kerjaan dulu" ucapnya mengakhiri panggilan telefonnya.
Setelah panggilan berakhir. Bima merasa sangat senang sekali Ia bahkan seolah tak sabar untuk menanti esok hari.
Jenny menatap Bima dengan penasaran.
"Ada apa, Pak. Tampaknya seneng banget?" ucap Jenny penasaran.
Bima menatap pada Jenny "Besok Ningrum akan membelikan untuk saya mobil baru" jawab Bima yang masih terus tersenyum sumringah.
Jenny terperangah "Waah.. Hebat dong, Bapak bisa moroti Bu Ningrum dengan sangat mudahnya" ucap Jenny merasa salut.
Bima tersenyum bangga "Siapa dulu, dong saya..? Bima tidak pernah ditolak, dan semua yang Bima inginkan akan selalu terwujud "Jawab Bima merasa hebat.
Jenny ikut senang mendengar Bima akan dibelikan mobil baru, sebab tanpa secara langsung Ia juga akan ikut merasakan naik mobil tersebut, karena nantinya Bima akan selalu mengajaknya bercinta ditempat-tempat yang menurutnya sangat nyaman.
"Ya, sudah.. Lebih baik kamu kembali ke salon lagi, sebelum Ningrum mencari kamu" titah Bima kepada Jenny.
Jenny menganggukkan kepalanya dan memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai, lalu memakainya dan beranjak pergi dari kamar tersebut.
Jenny kembali ke salon. Sari mengomel saat melihat kemunculan Jenny "Kemana saja, sih..apa gak tau pelanggan banyak yang sudah ngantrai? " omel Sari sembari menujuk kearah antrian.
"Iya.. Maaf, perutku tadi sangat sakit, Aku keliling mencari apotik untuk obat diareku" jawab Jenny.
Jenny segera mengambil satu pelanngan yang mengantri dan mulai bekerja.
Sari mencoba menerima alasan yang diberikan oleh Jenny kepadanya.
__ADS_1
"Ya, sudah..lain kali kalau mau keluar kasih tahu dulu biar gak kebingungan aku cariin kamu, phonsel pakai dimatinn segala" omel Sari dengan nada yang pelan dan mulai mereda emosinya.
Jenny menganggukkan kepalanya, lalu melakukan spa untuk seorang wanita.