
Luccy sudah tampak mulai membaik, mungkin satu hari lagi sudah diperbolehkan untuk pulang. Gibran harus bekerja pagi ini karena banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya.
Namun gadis itu masih menahan Ningrum agar tak meninggalkannya. "Maafkan Aku karena telah merepotkanmu" ucap Gibran sungkan.
"Tak mengapa, aku akan menjaganya untuk hari ini, sebab esok aku ada urusan pekerjaan.." jawab Ningrum dengan tenang.
Gibran tersenyum datar, dan berpamitan untuk berangkat bekerja.
Setelah kepergian Gibran, Ningrum mulai merawat Luccy dari sarapan, obat dan lainnya. Semua yang dilakukan oleh Ningrum membuat Luccy semakin menginginkan Ningrum menjadi mamanya.
Lama Ia menantikan sosok wanita yang membuat hatinya begitu nyaman m, dan kini Ia menemukannya.
Sementara itu, Bima masih merasakan ngilu dikakinya yang terkilir karena terjatuh kemarin. Ia berjalan dengan sangat tertatih, lalu menuju teras untuk memanaskan mesin motor maticnya dan Ia memaksakan diri untuk datang ke proyek sebab Ia harus mengantarkan surat penawaran kerja tersebut kepada Gibran, dan Ia mendapat informasi dari Group WA jika Gibran hari ini sudah masuk kerja.
"Nora.. Buatkan dulu abang kopi, hari ini abang mau ke proyek buat memasukkan surat penawaran kerja" ucap Bima yang duduk di kursi plastik depan terasnya.
"Ya.." sahut Nora datar dan tak berselang lama membawa segelas kopi creamer dan meletakkannya diatas meja.
"Lama kali penandatangannannya, Bang? Emang siapa sih yang masih ditunggu?" tanya Nora kesal. Sebab dengan tertundanya penandatangan tersebut membuat Bima akan semakin lama dirumah, dan pengeluaran akan terus bertambah tanpa pemasukan.
"Gibran, Katanya anaknya sakit, makanya Ia mengambil cuti" jawab Gibran sembari menyeruput kopinya.
"Haah?! Pak Gibran yang malam itu bersama mantan istri kamu itu kan, Bang? Jangan-jangan si Ningrum itu yang pengaruhi Pak Gibran agar tidak masuk kerja dan membuat pekerjaan kamu terbengkalai!" ucap Nora kesal.
Bima menghela nafasnya dengan berat, lalu menghabiskan kopinya dan beranjak dari kursinya, lalu menuju ke motor dan berangkat meninggalkan rumah kontrakannya.
Nora mendengus kesal dan masuk kedalam rumah. Lalu Ia membuka layar phonselnya dan mengunggah sebuah postingan 'Kalau udah mantan itu ya tempatnya ditong sampah!! Jangan lagi ikut campur urusan kehidupannya, apalagi sampai menghasut seseorang untuk menghadang rezeki mantan!' tulis Nora dengan emot penuh amarah.
Seketika unggahannya itu mendapat banyak ragam komentar yang positif dan juga negatif. Nora semakin terus kebabalasan membalasnya dan secara hampir terang-terangan menyindir seseorang.
__ADS_1
Karena akun media sosial Nora bersifat publik, maka unggahannya dapat dilihat oleh siapa saja. Lalu tanpa sengaja Ningrum yang sedang menggunakan akun media sosialnya melihat unggahan Nora yang menggunakan foto profil dirinya dan Bima dengan begitu mesranya.
Ningrum mengerutkan keningnya. "Siapa yang dimaksudnya? Menghalangi rezeki siapa?" Ningrum berguman lirih.
Ningrum menggelengkan kepalanya dan menggulir layar phonselnya untuk tidak melihat postingan tersebut.
Sesaat Luccy terbangun dan menatapnya "Tan.." ucapnya lirih.
Ningrum menoleh ke arahnya dan tersenyum "Mau apa, Sayang?" tanya Ningrum dengan lembut.
"Minum, Tante" jawab Luccy, lalu Ningrum menganggukkan kepalanya dan meraih botol air mineral dan membantu Luccy untuk duduk bersandar dan meminum airnya.
Ditempat lain, Bima berjalan tertatih dan, kakinya masih sangat sakit dan Ia harus berjalan sejauh 200 meter dari parkiran menuju ruang CEO karena lokasi perusahaan yang sangat luas.
Bima berhenti sejenak di halte, rasa sakit dikakinya sangat ngilu dan membuat wajahnya memerah.
Tak berselang lama, tampak Anton melintasinya, lalu menghentikan sejenak mobilnya "Heei..!Bim.. Gimana surat penawaranmu? Modal yang ku berikan itu harus berputar" ucap Anton mengingatkan.
Bima menghelakan nafasnya. "Sabaralah, Bos.. Ini juga lagi diurus!" jawab Bima dengan datar, sembari menahan sakit dipergelangan kakinya.
"Okelah.. Jangan sampai Kau mengingkari perjanjian 100/25%" ucap Anton mengingatkan.
Bima mendenguskan nafasnya dengan berat dan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Anton mengemudikan mobilnya dan meninggalkan Bima menuju lokasi proyeknya yang berada diujung pelabuhan.
Setelah kepergian Anton, Ia mencoba menghitung jumlah sisa uangnya. Ia sudah memakainya untuk membeli motor 35 juta, Nora 20 juta dan sisanya masih ada 45 juta lagi.
Namun masih merasa bingung karena pekerjanya belum ada yang terlihat masuk untuk mengerjakan sisa proyek yang belum selesai. Jika Ia merekrut pekerja lagi, maka Ia harus mengurus badge kembali kepada pekerjanya dan setiap satu bagde dikenakan biaya 500 ribu sebab menggunakan system barcode untuk dapat membuka portal memasuki pintu gerbang.
__ADS_1
Jika 10 pekerja, maka Ia sudah menghabiskan 5 juta hanya untuk sebuah badge saja.
Bima mencoba menghubungi helver, welder, dan juga Fitter yang pernah bekerja padanya. Namun tampaknya mereka sengaja memblokir nomornya.
Bima merasa frustasi, sebab sisa proyek yang masih terbengkalai akan membuat mengahalangi penawaran kerjanya saat ini.
Bima tak dapat menghubungi mereka, dan Ia juga bingung untuk mencari pekerja dalam sekejab, dan ini akan membuatnya semakin merasa sulit.
Ia beranjak bangkit menuju ruang CEO yang masih berjarak 50 meter lagi dari tempatnya beristirahat.
Rasanya Ia ingin terbang saja agar cepat sampai ke ruangan tersebut, sebab setiap kali Ia menggerakkan kakinya, maka rasanya seakan ngilu keseluruh tubuhnya.
Akhirnya Ia sampai juga di ruangan CEO dan tampak Gibran masih sibuk membaca setiap penawaran dari kontraktor lainnya.
Gibran menghampiri mejanya dan duduk dikursi yang disediakan. Ia menyodorkan berkas penawaran kerja dengan segala rincian material yang sudah dirancangnya.
Gibran menoleh padanya, dan meraih berkas tersebut. Ada banyak berkas yang harus ditelitinya hati ini, dan ini akan menyita waktunya.
"Tunggu dua hari lagi baru bisa saya berikan tanda tangannya, sebab banyak pengajuan yang lebih dahulu masuk dan harus saya dahulukan" ucap Gibran memberitahu. Sebab Ia harus memeriksa satu persatu berkas yang ada.
Gibran mengerutkan keningnya "A-apa? Dua hari lagi? Apakah tidak bisa hari ini? Saya sudah menunggu dua hari saat Bapak tidak masuk kantor, dan ini harus menunggu dua hari lagi? Apakah ada yang sengaja mempengaruhi Bapak untuk mengahalangi pekerjaan saya?" Ucap Bima kesal.
Seketika Gibran merasa tersinggung "Maksud Kamu, Apa??" tanya Gibran mulai tak senang.
Bima tersenyum sinis "Apa Bapak kira saya tidak tahu? Jila Bapak mendekati mantan saya, dan pastinya mantan saya itu dendam dengan saya dan mempengaruhi Bapak untuk mengahalangi pekerjaan saya" sindir Bima.
Gibran menatap tajam "Ternyata otak kamu selain me-sum , tetapi juga kotor, Ya? Mengapa kamu menyangkut pautkannya kepada Ningrum? Sedangkan Ia menyebut namamu saja sudah tidak sudi! Dia bukan manusia licik seperti kamu! Jika kamu tidak senang, silahkan ambil kembali surat penawaran kamu, dan cari proyek diperusahaan lain.." ucap Gibran penuh penekanan.
Bima tersentak kaget, lalu mencoba mengontrol diirinya "Baiklah.. Saya akan tunggu dua hari lagi!" jawab Bima, lalu beranjak pergi dari ruangan Gibran dengan langkah terseok.
__ADS_1