
Latif dan Syarifah akhirnya sampai juga dikediaman Ningrum pada pukul 6 sore.
Saat memasuki salon Ningrum, hatinya merasa sangat sakit sekali. Bagaimana tidak, rumah mewah milik Ningrum hilang begitu saja saat bersama Bima suami kedua puterinya.
Pria itu telah benar-benar menjadi toxcid dalam kehidupan puteri tercintanya.
Dan Ia juga berfikir jika waktu itu Ningrum menjual kebun sawitnya juga karena pria tak berguna tersebut.
Namun setidaknya perceraian Ningrum dengan Bima lebih cepat lebih baik sebelum harta Ningrum terkuras habis dan Allah sudah memperlihatkan siapa Bima sebenarnya.
Wanita berusia senja itu melangkah masuk ke dalam salon dan begitu juga Latif-suaminya yang mengikuti langkahnya.
"Ibu, Ayah" sapa Ningrum dari balik ruang tunggu seluas 6mx6m yang sengaja Ia buat untuk acara keluarga dan sebaginya.
Ningrum menghampiri keduanya dan menyalimnya, lalu membawa ke dua orangtuanya duduk di sofa.
kamar tamu ada dilantai dua berdekatan dengan kaamrnya, namun tidak mungkin Ia langsung membawa kedua orangtuanya naik ke lantai dua karena pastinya mereka masih lelah dalam perjalanan dan usia mereka yang sangat perku pertimbangan untuk menapaki anak tangga.
Ningrum menyeduh dua gelas teh manis dan juga camilan untuk kedua orangtuanya.
"Bu, Ayah.. Minum dulu teh hangatnya, biar badannya segar, ntar mandi dikamar mandi dekat dapur, mau naik ke atas pasti sangat lelah" ucap Ningrum dengan lembut.
Keduanya menganggukkan kepalanya dan menyeruput teh manis serta menyelupkan creckers keju kedalam gelas teh manis mereka dan mengunyahnya.
"Ningrum tingal bentar Ya, Bu.. Mau cari makan malam. Ayah dan Ibu istiragmhat saja dulu" Ucap Ningrum sembari menyambar kunci mobilnya dan bernajak pergi.
Syarifah menatap punggung puterinya yang menuju keluar salon dan mengemudikan mobilnya.
Pandangannya nanar, dan air matanya tanpa teeasa meangalir begitu saja. Latif meraih sapu tangannya. Lalu menyeka air mata sang istri yang jatuh berderai dengan tanpa bisa Ia cegah.
"Sudahlah, Bu.. Ini sudah takdir anak kita, mau bagaimana lagi? Kita tak bisa menolak apa yang sudah menjadi ketentuan takdir dari Allah" ucap Lafif mencoba menguatkan hati Istrinya.
"Mengapa nasib anak kita sangat begitu memprihatinkan ya, Pak?" ucap Syarifah lirih san penuh kepedihan. Ia menatap semua ruangan salon anaknya yang kini disulap menjadi tempat tinggalnya juga.
__ADS_1
"Lihatlah rumah ini.. Dulu ini tempat usaha Ningrum dan kini harus digabung menjadi tempat tinggalnya juga. Rumah semewah itu harus raib begitu saja ditangan lelaki tidak berguna itu" ucap Syarifah dengan tersedu.
Latif membelelai lembut punggung istrinya. Ia tahu jika Istrinya sangat terguncang saat mengetahui rumah Ningrum terjual dan pelakunya adalah Bima, mantan suami ke dua puterinya.
"Mungkin sudah begitu jalannya, Bu.. Allah akan ganti dengan yang lebih baik dan bagi si pelaku dzhalim suatu saat juga akan mendapatkan balasan dari apa yang sudah diperbuatnya. Allah itu tidak tidur, Bu.. Dia melihat semua apa yang dikerjakan hamba-Nya" ucap Latif memberikan pencerahan hati pada istrinya.
Syarifah menyandarkan kepalanya dipundak suaminya yang saat ini menjadi sandaran bagi hatinya yang sangat rapuh.
"Semoga ini pernikahan terakhir Ningrum dan mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya serta keturunan yang diimpikannya.
"Aamiin.." jawab Latif.
Lalu Syarifah menyeka air matanya dengan tangannya yang mulai tampak keriput.
Tak berselang lama, Ningrum kembali dengan membawa 3 boks makanan untu makan malam mereka dan meletakkannya di atas meja sofa.
"Bu, Ayah.. Mandilah dahulu, sebentar lagi waktu Maghrib akan tiba" ucap Ningrum.
Lalu Ia membawa ibunya menuju kamar mandi belakang dan memperlihatkan letak kamar mandi yang akan digunakan.
******
Suasana di kediaman Ningrum tampak ramai. Hari ini adalah hari lamaran sekaligus pernikahannya, mungkin terkesan aneh, namun keduanya tidak ingin repot untuk untum dua kali mengadakan acara karena kondisi mereka yang sama-sama sibuk.
Latif dan Syarifah sudah memakai gamis couple dan Latif dengan baju koko nya yang senada dengan Syarifah berwarna peach.
Sedangkan Ningrum menggunakan gaun terbaru yang kemarin dibelinya dari Yamink.
Nuansa kalem mewarnai acara resepsi hari ini. Sedangkan Kuccy yang telah menggunakan gaun senada berwarna Saleem merasa bingung karena Ia dirias dengan secantik mungkin.
"Pa. Kita mau kemana??" Tanya Luccy dengan perasaan bingung sembari melihat sang Papa yang juga mengenakan pakaian senada dengannya layaknya seorang pengantin.
"Nanti kamu juga akan tau apa yang akan lihat. Papa punya kejutan untuk kamu" ucap Gibran dengan senyum penuh misteri dan membuat sang gadis kecilnya semakin penasaran.
__ADS_1
Mobil sudah dihias dengan bunga dan akan membawa ke kediaman Ningrum. Luccy semakin penasaran dan hanya mengikuti kemana mobil itu membawanya.
Sementara itu, Ningrum sudah dirias dengan secantik mungkin oleh Sary dan dengan gaunnya yang tampak indah menambah ke anggunannya.
Yamink san istrinya sudah hadir, begitu juga Andini dan Rendy beserta kerabat dan terdekat lainnya sudah tampak hadir.
Wali hakim sudah hadir dan menunggu kedatangan Gibran bersama rombongannya.
Lima buah mobil saling beriringan dan berhenti didepan Salon Ningrum yang kini sudah disulap menjadi tempat resepsi.
Luccy semakin penasaran dengan apa yang dilihatnya.
Saat Ia turun dari mobil dan melihat banyak orang sedang menatap ke datangan mereka membuat Luccy semakin bingung.
Dan ketika Ia melihat Ningrum dirias dan menggunakan gaun pengantin yang begitu indah, seketika Ia terperangah. Ini bagaikan mimpi, jika Papanya akan memberikan kejutan yang indah untuknya.
Tanpa memperdulikan siapapun, Ia berlari mengejar Ningrum dan memeluk tubuh ramping wanita dihadapannya.
"Tante? Tante mau jadi mama buat Luccy?" tanya gadis itu dengan penasaran sembari menengadahkan kepalanya menatap pada Ningrum.
Ningrum menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis penuh kebahagiaan.
Namun Syarifah merasa sangat bingung, sebab Ia baru melihat calon menantunya hari ini dan siapa sangka jika calonnya seorang duda beranak satu.
Syarifah menatap pada Latif suaminya yang juga masih bingung. Ningrum tidak mengatakan jika calon suaminya memiliki seorang puteri yang akan memasuki kehidupan baru Ningrum.
"Ayo.. Salim.. Itu opa sama oma" ucap Ningrum kepada Luccy. Gadis itu menoleh ke arah Syarifah dan Latif yang duduk di kursi pelaminan dan sedang menatapnya.
Luccy menghampiri kedua pasangan senja itu dan menyalimnya.
"Assallammualaikum, Opa, Oma?" sapanya sembari mengecup punggung tangan Sayarifah dan Latif secara bergantian dengan senyum manisnya.
"Waalaikum salam" jawab Sayarifah dan Latif secara bersamaan.
__ADS_1
Latif menyapu lembut ujung kepala Luccy dan membuat gadis kecil memeluk tubuh senja tersebut.
Perlakuan Luccy membuat Latif merasakan jika gadis kecil itu menerima Luccy sebagai Mama sambungnya.