SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-117


__ADS_3

Ningrum sudah mengirimkan sopir untuk menjemput ayah dan ibunya dikampung halaman.


Ia akan mempersiapkan sambutan kedatangan Gibran esok lusa yang mana sekaligus pernikahannya. Tidak dirayakan secara besar-besaran, hanya keluarga inti dan juga teman karib saja.


Pak Latif dan Bu syarifah yang merupakan orangtua Ningrum sudah bersiap menanti mobil yang akan menjemput mereka.


Meskipun ini sangat berat, karena banyak keluarga yang tidak diundang dan beribu pertanyaan mencecar keduanya, namun mereka mencoba tenang.


Bahkan ada keluarga yang mencibir jika Ningrum emang doyan kawin dan gonta-ganti suami. Meskipun menyakitkan mendengar cibiran dari para kuarga lainnya, namun Latif dan juga Syarifah mencoba bersabar dan tidak menanggapi ocehan mereka. Keduanya hanya dapat berdoa dan berharap jika ini adalah pernikahan terakhir Ningrum dan Ia menemukan kebahagiaannya dalam menjalani biduk rumah tangganya dan menemukan orang yang tepat.


"Jadi Abang sama kakak mau menghadiri pernikahan Ningrum?? Kenapa mendadak sekali? Ntar cerai lagi, kawin lagi" cibir Wati adik dari Syarifah, yang merupakan bibi Ningrum.


Syarifah hanya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum miris menghadapi cibiran Wati yang terasa menyayat hati. Bagaimanapun Ningrum adalah anaknya, dan Ia akan terluka jika ada orang lain mencibir anaknya dengan kata-kata kasar dan terkesan merendahkan.


"Doakan saja yang terbaik, dan kamu juga belum tahu nasib anak perempuan kedepannya seperti apa, maka jangan menghujat kehidupan orang lain" jawab Syarifah dengan setenang mungkin.


"Kakak ini, Ya.. Dikasih tau malah ngeyel, makanya dibilangin itu Ningrum, jangan kerjanya kawin cerai, kawin cerai mulu" ucap Wati bertambah sengit.


Syarifah menarik nafasnya dengan dalam dan menghelanya dengan kasar, lalu mencoba mengabaikan ucapan Wati, sehingga membuat adik perempuannya itu kesal sendiri dan memilih pergi.


Pukul 8 pagi, sopir sudah datang menjemput karena berangkat dari kota pada malam hari.


Setelah sarapan, mandi dan beristirahat selama satu jam, akhirbmnya sopir membawa kedua orangtua Ningrum kembali ke kota.


Sementara itu, Gibran yang sudah tidak memiliki orangtua membawa kerabat terdekatnya dan pengacara sebagai pembuka untuk menyambung lidah dalam acara Lamaran sekaligus pernikahan yang diselenggaran dalam satu acara saja.


Gibran sudah mengurus surat penikahan mereka sehingga sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.


Lagipula tidak perlu untuk menunggu waktu lama dalam menghalalkan niat baiknya, sebab mereka sudah tidak muda lagi.


Ningrum sudah menerima uang lamaran sebagian untuk membuat chateringan dan sebagainya.


Dan ternyata gaun yang dipesan kepada Yamink selesai bersamaan dan sisa penbayaranya telah dilunasi oleh Gibran dan akan digunakan untuk hari pernikahan mereka nantinya.

__ADS_1


Luccy belum mengetahui hal ini, namun gaun untuknya sudah dipesan dan sebagai kejutan.


Baik Ningrum dan Gibran kini sama-sama sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.


Yamink datang membawa pesanan gaun yang waktu itu dipesannya. "Mbak.. Ini gaunnya, sudah selesai. Pasti Mbaknya cantik pakai ini" ucap Yamink memuji sahabatnya.


Ningrum tersenyum mendengar ucapan sahabatnya "Oh, Ya? Marketing kamu memang hebat, Kang.. Hahaha" ucap Ningrum sembari tertawa renyah.


"Jangan lupa datang lusa, Ya.. Awas kalau gak datang" ucap Ningrum dengan nada ancaman dan juga canda.


Yamink mengangkat dua jempolnya "Aman itu, Mbak.. Insya Allah saya usahakan datang" jawab Yamink dengan penuh keyakinan.


Setelah menyelesaikan segala urusannya, Yamink berpamitan karena ingkn mengantar pesanan lainnya.


"Saya pamit ya, Mbak.. Mau antar pesanan yang lainnya" ucap Yamink sembari mengemasi barang-barangnya.


"Iya, Kang.. Sukses dan laris manis, Ya" doa Ningrum tulus.


"Aamiin.. Doa yang sama, dan semoga ini menjadi pernikahan terakhir bahagia dunia akhirat dan hingga ke Jannah, Aamin. Allahumma aamiin.." ucap Yamink dengan semangat, lalu beranjak pergi.


Gibran masih berada di ruangan kantornya. Ia masih tetap bekerja dan sesekali menghubungi Ningrum sebagai bentuk komunikasinya.


Sesaat Bima memasuki ruangannya dan meminta untuk penandatanganan memulai pekerjaannya yang akan dimulai pagi ini.


Gibran memberikan tanda tangan tersebut. Dan saat Bima beranjak dari ruangnya, Ia memanggil pria itu "Pak, Bima.. Saya ingin menyampaikan undangan kepada anda" ucap Gibran dan menghentikan langkah pria itu.


Bima menoleh ke arah Gibran "Undangan apa ya, Pak? tanya Bima penasaran.


"Lusa saya akan menikah, dan harap datang menghadirinya" ucap Gibran dengan tatapan yang penuh arti.


"Oh.. Iya.. Digedung mana?" tanya Bima semakin penasaran.


"Disalon Ningrum" jawab Gibran dengan tatapan datar.

__ADS_1


Seketika wajah Bima berubah dan menatapnya dengan wajah yang tampak penuh cibiran "Oh.. Ya saya akan datang" jawab Bima dan berlalu pergi dengan senyum sinis.


Bima menghela nafasnya dan merasa jika Gibran hanyalah mendapatkan sesuatu yamg bekas mikiknya.


Namun Ia tak terima jika yang didapatkan Ningrum adalah seorang CEO, seharusnya yang dibawah dirinya biar Ia tidak merasa di saingi begitu.


Apalagi Bima setelah menikahi Nora kini merasa sangat kesulitan ekonomi dan Nora juga sudah tidak bekerja lagi sehingga ekonomi mereka harus benar dikontrol.


Bima melangkah dengan langkah yang tersengal. Sebab ia harus dan berusaha sendirian. Dari mengurus berkas dan kini harus kembali fitter untuk melanjutkan pekerjaaannya.


Ia terkenang saat bersama Ningrum hidupnya penuh kemewahan dan mendapatkan apapun yang Ia mau.


Bersama dengan Nora, Ia harus banyak mengeluarkan uang dan bernasib sial karena sudah beberapa kali kehilanagan uang bahkan motor baru dari penjualan penjualan rumah Ningrum yang diam-diam dijualnya dan tiba-tiba dibegal pada malam itu hingga Ia mengalami luka


Bima berjalan menuju plant 4 tempat proyeknya sedang akan dikerjaakn. Sebelum memuju plant-4,


Bima menuju kantin untuk membeli sarapan karena Ia belum sarapan.


Sesampainya dikantin, ternyata kantin sebelah tutup dan membuat Bima mau tak mau harus memasuki Kantin mbak Raini yang pastinya akan ribut mulu jika bertemu.


"Mbak, Nasi soto satu porsi" ucap Bima ke pada pelayan kantin.


Mbak Raini menoleh ke arah Bima dan Ia masih berada di meja kasir "Eh, Mas Bima.! Jangan nge-bon lagi, sebab saya tidak mengutangkan apapun buat kontraktor, Ya!" Mbak Raini mengingtkab Bima.


Seketika wajah Bima memerah mendengar ucapan Mbak Raini.


"Iya, Mbak.. Saya bayar.. Takut banget jadi orang!!" ucap Bima tak senang.


"Ya.. iyalah.. Soalnya Mas Bima kalau bayar terlalu lama. Ntar ditagih marah!!" balas Mbak Raini dengan tak mau kalaah .


Bima mendengus kesal, lalu pesanannya datang dan Ia menyantabnya dengan meradang.


Dengan buru-buru Ia menghabiskan sarapannya dan membayarnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kantin.

__ADS_1


Mbak raini mencebikkan bibirnya melihat wajah ketus Bima.


__ADS_2