
Bima dan juga Ibunya sudah tiba dikantor polisi. Keduanya membawa uang tebusan yang diminta agar kasus yang menimpa Yudi tidak diproses.
Dan dengan uang yang diberikan oleh Ningrum, akhirnya Yudi dapat terbebas dari jerat hukum tersebut.
Lalu Bima dan Ibunya Sumi membawa Yudi pulang kerumah, dan menceramahi Yudi agar tak lagi melakukan pekerjaan tersebut.
Yudi hanya menganggukkan kepalanya saja, namun saat ini akal dan fikirannya menerawang jauh kepada Ningrum yang saat begitu sangat royalnya mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menebusnya saja.
Tampaknya Yudi sedang memikirkan sesuatu, dan itu sudah ada dalam rencananya.
Sesampainya dirumah mereka yang semipermanen, Sumi masuk kerumahnya dan melihat Adi sedang memasak didapur dan meski itu hanya memasak mie instan.
"Bima.. Kamu ajak kedua adik kamu kerja bersama kamu, biar jadi orang bener dan gak buat susah ibu terus" omel Sumi, sembari meraih piring plastik dari rak piring dan menyendok mie instan yang dimasak oleh Adi.
Sumi menyuapkan mie instan kemulutnya, rasa kesalnya kepada Yudi masih tampak terlihat jelas dimatanya, sebab Yudi bukan kali ini saja melakukan kesalahan yang membuatnya harus menguras uangnya, bahkan Ia pernah menggadaikan rumahnya ke Bank hanya untuk menebus Yudi dari tahanan.
"Sudah aku usahakan, Bu.. Mungkin dua hari lagi akan masuk kerja" jawab Bima yang ikut menyendokkan mie instan kedalam piring dan menyuapkannya, sebab Ia juga lapar dan belum sempat sarapan saat ibunya pagi-pagi sekali sudah datang kerumah Ningrum meminta uang untuk menebus Yudi.
Sumi masih terus menyuapkan makanannya, dan saat bersamaan, Wage suaminya yang merupakan ayah dari keemapat anaknya itu keluar dari kamar dan baru saja bangun tidur.
"Kamu lagi, Kang.. Cari kerjaan kenapa, jam segini baru bangun, kalian ini memang gak ada yang bisa diandalkan" Sumi kembali mengomel saat melihat suaminya Wage baru bangun tidur saat mentari sudah sangat tinggi.
Wage mengusap kedua matanya, omelan Sumi yang setiap pagi Ia dengar bagaikan hanya angin lalu saja, sebab Ia tak lagi merasa terkejut akan setiap omelan sang istri yang terus saja terdengar
"Ngapain juga capek-capek kerja, Bu.. Sekarang kita kan punya menantu kaya, kalau kurang apa-apa tinggal minta saja" jawab Wage dengan santainya, dan mengambil piring lalu ikut menyendokkannya ke piringa dan memakannya tanpa merasa beban apapun.
Sementara itu, Sumi melirik suaminya dan dengan cepat menghabiskan makanannya, lalu beranjak dari tempatnya, sebab baginya meladeni suaminya hanya membuatnya semakin kesal saja.
Bima berpamitan pulang kepada ibunya. Ia pergi ke perusahaan, sebab Ia harus mengurus proyek yang sedang diambilnya, dan beberapa syarat yang harus dipenuhi agar proyeknya berjalan sesuai dengan aturan perusahaan yang berlaku.
__ADS_1
Sesampainya diperusahaan tersebut, Ia melihat Rendy sudah terlebih dahulu berada diruang CEO dan menyelesaikan urusannya.
"Gimana urusannmu? Sudah selesai?" tanya Bima penasaran.
Rendy menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum simpul "Ya.. Alhamdulillah.. Tinggal pengerjaannya saja, dan besok sudah dapat dimulai" jawab Rendy dengan santai.
Bima hanya menganggukkan kepalanya "Oh.. Begitu, baguslah" ucap Bima datar.
Rendy beranjak dari ruang CEO dan memilih untuk pergi, sebab masih ada yang harus dikerjakannya.
"Aku duluan.." ucap Rendy dan tak ingin berlama-lama untuk mengobrol, lalu dengan segera membawa semua berkasnya dan ingin menemui beberapa pekerja proyeknya yang mana esok akan mulai bekerja.
Sementara itu, Ningrum sudah sampai disalonnya, dan sebenarnya Ia masih merasa sangat sedikit tidak rela dengan uangnya yang melayang begitu saja pagi ini dan dengan sia-sia.
Namun Ia tidak berdaya saat melihat tatapan Bima kepadanya, Ia selalu tak dapat menolaknya.
Saat Jenny melintasinya, Ia mencium aroma parfum Jenny, dan aroma itu mengingatkan pada sesuatu, Ia seperti pernah menciumnya, tetapi entah dimana.
Saat Ia ingin menggali memorynya, namun tiba-tiba phonselnya berdering dan ternyata itu panggilan masuk dari Yamink sahabatnya yang baru saja menjadi pengantin baru dan kini sudah kembali bekerja untuk mengantarkan orderan Ningrum berupa alat-alat kecantikan yang dipesannya.
"Eh, Kang.. Pengantin baru sudah kerja saja" ucap Ningrum dengan nada bercanda.
"Mau gimana lagi, Mbak.. tidak ada yang gantiin, dan ini juga demi persahabatan kita juga" jawab Yamink dari seberang telefon.
Ningrum tertawa renyah "Ya sudah, aku tunggu disalon ya" ucap Ningrum sembari menutup panggilan telefonnya.
Lalu Ningrum naik kelantai atas dan memasuki ruang kerjanya. Ia mulai mengerjakan orderan hantaran lamaran pernikahan dari seorang rekan bisnisnya.
Tak berselang lama, phonselnya kembali berdering, Ia meraihnya dan mengira itu adalah Yamink, namun Ia salah menduganya, ternyata itu adalah Andy, pria masa lalunya saat masih duduk dibangku kuliah.
__ADS_1
"Andy.. Hai, apa kabar?" tanya Ningrum dengan ramah.
Terdengar suara helaan nafas dari pria diseberang sana, dan Ia terdiam dalam keheningan. Ningrum merasa heran dengam sikap Andy yang tampak tak biasanya.
"Selamat, Ya.. Atas pernikahan kamu" ucapnya dengan setenang mungkin.
Ningrum terdiam, apakah pernikahannya layak mendapat ucapan selamat saat Ia masih merasa dilema dalam kehidupan rumah tangganya yang terkesan sangat dramatis.
"Makasih, Ya" jawab Ningrum lirih.
Ia tak tahu harus mengatakan apa kepada pria itu, Ia pernah diminta untuk menikah dengan pria masa lalunya, namun karena Andy terlalu jauh di luar pulau sana, hal itu yang membuatnya begitu sangat bimbang dalam menentukan sikapnya, sehingga Ia harus memilih untuk menerima lamaran Bima yang datang dalam hidupnya hanya dalam waktu satu bulan saja.
"Apakah Aku tidak serius dimatamu?" ucap Andy dengan nada yang terdengar sangat begitu miris.
Ningrum menghela nafasnya, Ia tidak tahu harus mengatakan apa, sebab Ia juga tidak menyangka dengan pernikahannya yang kini begitu mendadak saja.
Bahkan Ia sendiri bagaikan bermimpi telah menikah dengan seorang Bima Anggara.
"Aku hanya ragu.. Pulau itu terlalu jauh, andai saja kamu yang datang, pasti aku akan menerimamu" ucap Ningrum dengan lirih.
Suasana kembali hening, dan keduanya saling bungkam. Ningrum masih merasa bingung dengan sikap Andy, yang mana Ia sudah dua kali ini menikah, namun pria itu tetap dalam kesendiriannya dan sibuk dengan pekerjaan, sehingga hanya menganggap Ia satu-satunya wanita didunia ini. Begitu sulitkah bagi seorang Andy yang memiliki kekayaan berlimpah dengan tubuh kekarnya untuk mendapatkan wanita idamannya?
Atau seorang Andy telah terjebak dalam cinta yang terlalu dalam dimasa lalu mereka.
"Sudahlah.. Nanti Aku kirim uang jajan untuk kamu" ucapnya lirih, lalu tanpa permisi memutuskan panggilan telefon mereka sebelum Ningrum dapat menjawabnya.
Dalam hitungan detik, pesan masuk dari sebuah nomor Bank masuk kedalam phonselnya, dan tertera saldo masuk kerekeningnya sebesar 15 juta rupiah. Saat Ningrum ingin menghubungi nomor Andy, tetapi nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Ningrum merasa bingung dengan semua yang terjadi pada dirinya, Ia bagaiakan dilema yang berkepanjangan.
__ADS_1