SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-157


__ADS_3

"Mama..." ucapnya dengan mata berbinar. Sebuah laptop impiannya kini berada didepan matanya.


"Ya... Bukankah ini yang kamu inginkan sejak lama?" jawab Ningrum.


"Makasih, Ma..!" ia mengulangi ucapannya. Lalu mengangkat laptop tersebut dari dalam kotak kado.


Ningrum menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang.


****


Malam menjelma, tampak langit menggelap memperlihatkan keangkuhannya.


Luccy masih sibuk didalam kamarnya dan berseluncur diberbagai applikasi untuk menemukan ide dalam mengasah hobby-nya yang diturunkan oleh Ningrum.


Tanpa terasa, sudah pukul 8 malam, dan tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan salon. Ningrum melihat dari tirai jendela, dan tampak beberapa anak perempuan turun dari mobil menuju salon.


Ningrum memperhatikan semua apa yang di lakukan oleh para remaja perempuan itu.


Lalu tampak mereka menghubungi seseorang. Tak berselang lama, tampak Luccy ke kuar dari salon menemui mereka dan terlibat perbincangan.


Sesaat kemudian, terdengar ketukan dipintu kamarnya, dan ia yakin jika itu adalah Luccy.


Ningrum beranjak dari ranjangnya, kemudian ia membuka pintu kamar dan tampak berdiri Luccy didepan pintu sedang menatapnya canggung.


"Emmm.. Ma.. Luccy boleh keluar sebentar sama temen-temen buat ngerayain keberhasilan kami, di cafe 'A'. Janji gak lama!" pinta Luccy.


Ningrum mengerutkan keningnya. Ada firasat tidak enak terhadap para ke empat remaja tersebut. Namun melihat wajah Luccy yang tampak begitu ingin pergi bersama temannya, membuatnya tak tega. Lagi pula bersama teman wanita, Ningrum berfikir tak masalah.


Ia kemudian menganggukkan kepalanya. "Jangan terlalu lama, dan ingat, pastikan phonselmu selalu aktif," ucap Ningrum menegaskan.


"Makasih, Ma.." ucap Luccy tampak ceria.


Ningrum menganggukkan kepalanya, ia seperti tak rela melepaskan puterinya, meskipun hanya sebentar.


Setelah berpamitan, Luccy setengah berlari menuruni anak tangga dan bergabung bersama ke empat sahabatnya itu.


Ningrum terus mengamati mobil terus, tak lupa ia mencatat nomor plat mobil yang membawa puterinya, sebagai untuk berjaga-jaga.


Mobil melaju membelah jalanan kota. Luccy tampak sumringah, sebab ini malam yang sangat special, sebab untuk pertama kalinya ia pergi bersama teman sekolah dan seusianya. Karena selama ini, ia selalu pergi bersama teman-temannya.


"Makasih ya buat kalian, udah baik banget buat rayain ini semua," ucap Luccy berbinar.


"Tentu, dong.. Masa iya kita gak respon dan support ada sisiwi berbakat seperti kamu," ucap Dessy dengan nada yang sedikit terdengar aneh, dan ketiga sahabat lainnya menganggukkan kepala serta mengedipkan mata mereka.


Lucch melihat cafe 'A' yang disebutkan mereka saat menjemputnya telah terlewati.


Luccy mengerutkan keningnya. "Dess.. Itu cafenya sudah terlewati, kenapa kita tidak singgah?" ucap Luccy sembari memandangi cafe yang disebutnya barusan.


Keempatnya tertawa licik. "Idiiih.. Yang anak rumahan, ma-inmu kurang jauh. Lagipula siapa yang mau bawa kamu ke cafe buat rayain keberhasilanmu, ya, ampuuun.. Pede banget nih-anak!" ucak Tiwi sembari terkekeh.


Luccy mengerutkan keningnya."M-maksud kalian apa? Bukankah temen-temen yang lain juga menunggu disana? Itu yang kalian katakan padaku?!" ucap Luccy semakin merasakan sesuatu yang sangat menakutkan.

__ADS_1


"Makanya, ma-in itu jangan dibawah ketiak mamamu saja. Sekali-kali, nongki bareng kita-kita, biar kamu tahu gimana rasanya," ucap Tini sembari tertawa mengejek Luccy yang mulai tampak ketakutan.


Tak berselang lama, mereka tiba didepan sebuah club malam. Luccy merasakan sesuatu yang sangat tidak enak, dan ia tidak ingin masuk kedalamnya.


"Kalian saja yang masuk, aku mau pulang!" Luccy menolak ajakan mereka. Ternyata apa yang dikatakan oleh Ningrum benar adanya. Jangan terlalu percaya pada orang lain, sisakan sedikit untuk berhati-hati.


"Heei, Kau harus masuk ke dalam, atau kau tidak mau ini?" ancam Tika dengan senjata tajam berbentuk pisau pramuka ke area perut Luccy.


Gadis itu terperangah. Ia tidak menyangka, jika kepergiannya malam ini yang dikatakan ingin merayakan ke suksesannya justru membawa petaka.


Luccy ketakutan, dan dengan tepaksa ia turun dari mobil.


"Ingat, jangan membantah, atau pisau ini akan merobek perut dan wajahmu yang sok cantik itu.!" ucap Tika dengan nada penuh ancaman.


Tubuh Luccy bergetar menahan rasa takut, ia teringat akan Ningrum, andai saja ia tadi tetap didalam kamar dan beselancar diberbagai applikasi melalui laptop yang dihadiahkan oleh Ningrum, maka hal seperti ini tidak akan terjadi.


Luccy berjalan dengan lemah ia harus dapat melarikan diri dari sekapan para sahabat berhati iblis.


Saat memasuki ruang club, terdengar suara dentuman musik yang dibawakan oleh seorang Dj wanita yang berpakain sangat minim.


Rok yang sangat pendek sejengkal diatas lutut, pakaian tanpa lengan, dan lebih mirip dikatakan kembem. Lalu menampilkan segala ke molekan tubuhnya tanpa ada rasa malu.


Suara riuh para pengunjung diskotik yang begitu sangat memekakkan telinga berbaur dengan musik yang sangat membuat tak nyaman.


Aroma alkohol yang begitu sangat kuat menjadi pengharum ruangan yang tercium dimanapun kaki melangkah.


Luccy merasakan kaki sangat lemah saat ia mulai memasuki ruangan sesuai arahan dari para remaja tersebut


Tampak Dessy telah menyulutkan sebatang rokok dan menyesapnya begitu dalam. Ia berjalan bagaikan seorang pemimpin dalam dunia kegelapan dan penuh kemaksiatan.


Dessy membuka cardigennya yang sedari tadi dipakainya saat berusaha menjemputnya dari salon. Pakaiannya tak jauh beda dengan DJ wanita ìtu, dan sudah kehabisan model dan juga bahan.


Tak hanya Dessy, namun Tika, Tiwi, dan dan Tina juga sama, mengenakan pakaian yang sangat minim dan menampilkan aurat mereka..


"Mama..." rintih Luccy dalam hatinya.


Deeeegh..


Hati Ningrum merasa gusar, ia merasa tak tenang dengan apa yang sekarang bergelayut didalam hatinya.


Karena Luccy yang terlalu lugu dan polos, maka dengan mudah mereka menekannya.


Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang sangat menuju sebuah lorong. Tampak beberapa orang berwara-wiri dari lorong tersebut.


Lalu mereka melewati ruangan-ruangan yang dihuni oleh beberapa orang didalamnya.


Kemudian Dessy memasuki satu ruangan dan diikuti oleh Tika-Tini-Tiwi dan Luccy yang berada didalam ancaman mereka.


Luccy dikejutkan oleh pemandangan yang sangat menjijikkan, dimana ada beberapa teman lainnya yang berbeda kelas dalam ruangan itu dimana perempuan dan laki-laki berbaur menjadi satu dengan berbagai aktifitas.


Botol-botil minuman keras tampak berjejer diatas meja dan botol kosong berserakan dilantai. Begitu juga dengan alat penghisab narkotika yang tampak begitu mudahnya mereka memakai dengan bebas sebebas bebasnya.

__ADS_1


Lutut Luccy terasa gemetar. Mereka yang sudah dalam kondisi sakau dan juga mabuk, menatap sinis pada Luccy.


"Hellooo... Mengapa anak manja ini bisa ada disini?" ujar Briyan yang sudah terpengaruh oleh minuman berakohol.


Tika mendorong punggung Luccy kedepan, hingga hampir membuat Luccy tersungkur.


Tika menyimpan pisaunya, kemudian melangkah bergabung dengan yang lainnya. "Kalau kamu mau, malam ini ku berikan padamu!" ucap Tika seenaknya, seolah Luccy adalah barang yang dapat diberikan kepada siapapun.


Luccy menggelengkan kepalanya. Ia ingin segera pergi dari ruangan itu, ia menyesali telah pergi bersama mereka yang dianggapnya teman.


Luccy berjalan mundur, ia ingin menyelinap pergi. Saat ia memutar tubuhnya, alangkah terkejutnya ia saat Briyan-Tina dan Tiwi berada tepat dihadapannya.


"Mau kemana? Apakah kamu fikir kamu dapat pergi begitu saja dari sini? Tidak, Luccy... Sebelum kamu menikmati minuman ini!" ucap Tiwi dengan wajah garang dan nada penuh penekanan. Ia memaksa Luccy untuk meminum minuman berakohol.


Saat Luccy mengatupkan mulutnya, Tina mencengkram rahang Luccy, lalu memaksa meminumkannya kepada gadis polos yang sudah sangat ketakutan itu.


Dibantu Tiwi, akhirnya Tina berhasik memasukkan minuman berakohol itu ke mulut Luccy. Mereka tertawa melihat Luccy yang tampak sempoyongan karena kepalanya sangat pusing.


Zat Alkohol itu mulai tampak bekerja dalam darahnya. Pandangan Luccy sudah mulai tidak lagi terang, namun tampak membayang dan semakin tak terkendali.


Dessy tersenyum mencibir. Ia sangat jijik melihat Luccy, sebab gadis itu telah membuat siswa paling populer mendekatinya, dan ia tidak suka, sebab Dessy menyukai siswa tersebut dan sedang berusaha untuk mendapatkannya.


Melihat Luccy menjadi bulan-bulanan teman-teman satu gennk-nya, Dessy merasa kekesalannya terbalaskan.


"Rasain kamu, Luccy. Makanya jangan sok kecakepan, karena sudah berani membuat Arlan tertarik padamu. Apa kamu fikir karena.kamu cantik dapat seenaknya menyaingiku?!" guman Dessy dengan sinis.


Brayin menarik tubuh linglung Luccy dalam dekapannya. Ia mulai mencumbu Luccy dihadapan seluruh teman-temannya, dan yang paling mengerikan, mereka merekamnya.


Mereka tampak tertawa dengan begitu bangga karena telah berhasil melakukan pembullyan terhadap gadis yang terlihat sudah sangat mengenaskan itu.


"Rasain kamu, Luccy..!" Dessy meneguk minumannya dengan santai sembari menatap Luccy seolah sedang menonton penderitaan gadis itu.


Dalam kesadarannya yang mulai tampak hilang, ia masih mengingat wajah Ningrum. "Mama," gumannya lirih.


Pandangannya kian menggelap, dan ia tidak lagi dapat melihat apapun.


Buuugh...


Sebuah pukulan mengenai punggung Brayin dengan sangat kuat, lalu semuanya tercengang menatap apa yang terjadi dihadapan mereka.


Seseorang dengan membawa sebuah tongkat bisbol, menangkap tubuh Luccy yang sudah limbung, lalu berdiri dengan tegak, dan menatap semuanya.


Tatapannya penuh amarah dan kebencian. Ingin rasanya ia melu-matkan mereka yang telah berani menyentuh Luccy dan melakukan pembullyan.


Sosok itu juga menendang anak laki-laki yang sedang merekam kejadian tersebut, lalu menangkap phonsel tersebut sebelum mendarat dilantai.


Tak berselang lama, tampak para polisi datang melalukan penggerebekan dan mereka tidak dapat berkutik untuk melarikan diri. Semua barang bukti penggunaan narkotika dan juga rekaman menjadi bukti untuk membawa mereka menikmati ganjaran yang sesungguhnya.


Para remaja itu tak dapat melawan lagi, sebab para aparat membawa laras panjang yang siap membuat mereka ketakutan.


Mereka akhirnya digiring, dan parahnya disaku celana Brayin terdapat beberapa paket sabu yang siap edar. Apakah begitu rusaknya moral anak bangsa yang menganut Hedonisme?

__ADS_1


Mereka akhirbya dibawa menggunakan mobil patroli, beserta para pengunjung lainnya yang kedapatan membawa dan menggunakan narkotika.


__ADS_2